Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 September 2015

Hello Again!

Astaga. Lagi-lagi saya lupa dengan 'rumah' ini. Sudah terlalu lama mebiarkan berandanya berdebu, juga sudah lama membiarkan isinya usang tak bertambah, hehe. Janji-janji palsu ya akan menulis minimal sekali setiap pekan. Hari ini pun tergerak untuk membuka lagi karena ingin mengintip cerita terbaru persiapan pernikahan Imon. Baiklah, waktu berlalu dengan sangat cepat. Begitu juga sudah banyak sekian cerita yang terlewat. Untuk beberapa saat ke depan, akan ada banyak cerita yang terlalu mencengangkan. 

Juni, Juli, Agustus, September.
Genap 4 bulan ya, tidak update terbaru! cerita rafting baru part 1, padahal ada cerita Coban Rondo, kebun apel dalam Malang part 2, Tawangmangu, PopCon Asia di Jakarta Agustus lalu, hingga Weekend Bandung feat Supri dan Muti. 

Selain deretan trip-trip di atas yang belum sempat dituliskan semuanya, saat ini saya sedang menuju sebuah perjalanan besar dalam hidup. Sebuah kejutan yang datang di hampir penghujung tahun yang bisa jadi adalah kado dari Allah setelah berbagai hal yang membuat saya jatuh-bangun di awal tahun.
Sebuah akhir sekaligus awal yang..emm..besar. Yang meskipun begitu belum mampu membuat saya bangkit dari ke malas gerak-an ini, haha!

Ah, masih bisa menggunakan alasan lelah memikirkan Kelas Inspirasi ;p (Ohiya, ada juga hajat besar Kelas Inspirasi Madiun #3 yang baru saja selesai minggu lalu). Ternyata ketika diabsen banyak halo yang terjadi ya selama 4 bulan terakhir. Dan sepertinya tahun ini adalah tahun turning point saya banget. 

Dalam perjalanan yang saya lalui belakangan, surat Ar-Rahman selalu membuat saya berhenti sejenak. Allah Maha Baik. Dia menyertai saya dalam setiap fase naik turun yang saya lalui. Saya masih mengingat betapa suara saya bergetar pagi itu ketikan melantunkan Ar-Rahman, juga bagaimana saya dipertemukan kembali dengan surat ini dalam momen-momen penting yang membutuhkan suntikan kekuatan lebih. 

Kali berikutnya, saya akan menunggu dalam waktu bagaimanakah Allah mempertemukan saya kembali dengan Ar-Rahman. 

Halo, sampai bertemu kembali dalam persiapan menuju babak baru. :)

Minggu, 21 Juni 2015

Weekend Trip: Rafting di Akhir Pekan (1)

Tanggal merah berderet di bulan Mei sudah menjadi incaran dan topik bahasan sejak lama. Tapi manusia hanya bisa berencana. Dari 4 hari total hari libur (plus hari kejepit), akhirnya tetap saja perginya pas weekend. Lagipula, anggaran jalan-jalan sudah terkikis oleh beberapa liburan mendadak di bulan-bulan sebelumnya. Liburan jarak pendek, ke Malang menjadi pilihan yang tidak kalah menyenangkan!

Setelah beberapa  kali galau menentukan itinerary, akhirnya liburan kali ini Malang menjadi tujuan liburan. Ada apa di Malang? sebelum-sebelumnya saya tidak terlalu tertarik sebenarnya dengan Malang, tapi beberapa waktu yang lalu saya sempat mendapatkan info dari seorang teman kalau ada spot rafting yang sedang naik daun. 

Yak Rafting! sudah sejak tingkat 3 saya ingin sekali menjajal rafting, sampai ditempel pakai sticky notes di cermin. Tahunya baru terwujud sekarang, yang notabene 4 tahun kemudian. Sempat mencari-cari info rafting di Mojokerto (Obech rafting), di Magelang (Ello Rafting) juga, tapi setelah ditimbang-timbang yang paling memungkinkan dituju adalah yang di Malang (Kasembon Rafting). Selain jaraknya tidak terlalu jauh, di Kasembon, Kabupaten Malang yang paling barat, mepet banget dengan Kediri, Malang juga menawarkan penginapan gratis a.k.a rumah Niken kalau kepepet malas pulang. Tapi sebenarnya, kami berencana untuk camping di Coban Rondo untuk melewatkan Sabtu malam, anak hits banget nggak sih, haha.

Sekitar satu minggu sebelumnya saya sudah memesan dan membayar uang muka untuk jaga-jaga karena kebetulan bertepatan dengan long weekend. Biaya untuk rafting per orangnya 175.000, dengan fasilitas peralatan rafting, asuransi dan makan siang. Asiknya Kasembon Rafting ini adalah sistemnya cukup fleksibel, booking via CP, dan di hari -H tinggal tunjukkan bukti transfer. Tidak ada minimal orang pula, pengurangan jumlah peserta juga tidak masalah. Hal ini sangat melegakan karena awalnya saya booking untuk 6 tapi ternyata yang bisa berangkat hanya 4 orang. Saya kira pelunasan harus dilakukan untuk 6 orang eh ternyata tidak, kami hanya perlu membayar sejumlah yang bisa datang. 

Jarak tempuh Madiun-Kasembon sekitar 3 jam dengan mobil pri badi, nyetir santai tentunya. Sekitar jam 06.30 kami sudah masuk Kasembon dengan perut keroncongan. Karena jadwal rafting masih pukul 08.30, maka kami menyempatkan diri untuk sarapan terlebih dahulu. Selesai mengisi perut, kami meluncur ke basecamp Kasembon Rafting. Jangan bingung mencari basecamp ini ya, sesuai banget kok sama peta yang dicantumkan di Website, ada Indomaret di kanan jalan (dari arah Kediri), belok kanan dan ikuti jalan. Nantinya di setiap belokan akan ada penunjuk jalan lagi. Jalannya memang masuk ke areal persawahan, dan akhirnya kami di sambut oleh gapura Selamat Datang di Kasembon Rafting setelah menyusuri jalanan selama sekitar 10 menit. (Bersambung)

***

In Memoriam, Kadek Andana


Saya sedang membaca baik-baik petunjuk metode pengumpulan data alumni tracer di Whats*App, tentang jika ada yang DO, mengundurkan diri, atau meninggal maka silahkan ditandai. Ah, tidak ada yang perlu ditandai, kami lulus lengkap sesuai daftar absen. Semuanya baik-baik saja hingga saya menggulirkan mouse dan menemukan nama Kadek Andana.

Hati saya berdesir sesaat. Sampai sekarang rasanya masih tidak percaya dengan kepergian Kadek, rasanya seperti mimpi. Ya, Kadek adalah satu teman sekelas saya semasa kuliah. Kadek adalah seseorang yang memiliki kredit baik: Ramah, rajin, ringan membantu, murah senyum, punya adik cantik yang bahkan jadi presiden KM dan hobi beraktivitas di luar ruangan. 

Beberapa bulan lalu Kadek menikahi Alma, yang baru sekali saya temui di studio TA semasa rajin mengerjakan di studio dulu. Keduanya sama-sama mencintai kegiatan luar lapangan, sebut saja mendaki. Beberapa saat sebelum gempa Nepal terjadi, Kadek juga sempat nongol di grup Whats*App dengan riang gembira.

Beberapa lama kemudian, saya mengetahui kabar pendakian Kadek ke Himalaya melalui Facebook di jejaring sosial. Wow, bulan madu nih ceritanya..mendaki Himalaya, super anti-mainstream. Di Facebook pula, Kadek menyampaikan bahwa ia memulai pendakian melalui Nepal. Nepal, negara yang masuk wishlist kunjungan saya suatu hari nanti, makin..jawdropping.

Hingga kabar bencana gempa dengan kekuatan 7.9 SR memporak-porandakan Nepal bulan Mei lalu membuat kami semua terkejut. Grup WhatsApp, Line, ribut. Facebook gempar.

Bagaimana dengan Kadek dan Alma? Apakah keduanya selamat? 

Saya hanya mengikuti perkembangan pencarian tim evakuasi dari media online dan televisi. Alumni melakukan penggalangan dana untuk memberangkatkan tim pencarian ke Nepal. Hari berganti, minggu berganti hingga bahkan bulan berganti. Laman Facebook Kadek dipenuhi dengan doa-doa agar mereka selamat. Ibu Kadek, Lundi Farida masih bersikukuh bahwa Kadek baik-baik saja hanya tidak mendapatkan akses untuk menghubungi keluarga maupun kolega. Penyisiran dilakukan, harapan terus disemai hingga ditemukan KTP atas nama Alma di Langtang Village yang telah luluh lantak oleh tim SAR asal Spanyol. Setelah itu, kabar terakhir yang saya dengar adalah Sang ibu, telah mengikhlaskan putra tercintanya. 

Kabar terakhir yang saya baca di Facebook adalah sebuah komunitas menggelar penyelenggaraan shalat jenazah ghaib untuk Kadek dan Alma. Dan grup kami pun berhenti membicarakan Kadek selain mengiring doa dalam hening. Ah Kadek dan Alma, siapa yang menyangka kalian berdua akan pergi secepat ini?

Semoga Allah mengampuni dosa keduanya dan memberikan tempat yang terbaik. Dan jika keduanya hingga saat ini masih selamat, semoga segera ditemukan dan dapat berkumpul kembali dengan keluarga.

In memoriam, Kadek dan Alma.


Senin, 18 Mei 2015

10 Hal yang Perlu Diingat Suatu Hari Nanti


Setiap perjalanan bagi saya memiliki ceritanya sendiri-sendiri. Repotnya, nyebelinnya, serunya, nyenenginya, pegel-pegelnya..semua berbeda. Dan masih dalam edisi perjalanan -yang sebentar lagi harus dihentikan sejenak dalam rangka melengkapi cerita hidup lainnya- maka kali ini saya ingin menuliskan hal-hal random yang dapat saya simpulkan selama perjalanan. Sepotong-dua potong kalimat yang perlu dicatat untuk diingat, atau untuk tidak dilakukan kembali.

1. Meninggalkan krim pereda nyeri ketika bepergian adalah benih penyesalan yang baru akan disadari di akhir hari, menjelang tidur di tempat asing.

Beneran deh, bawa aja kalau memang ada persediaan di rumah. Aktivitas outdoor yang kamu kira ringan-ringan kapas bisa berubah menjadi semacam olahraga kesiangan yang bikin pegal-pegal leher, pundak atau kaki. Dan kalau kamu kebagian shift nyetir, krim pereda nyeri pasti sangat..sangat membantu.

2. Coba lihat orang-orang yang naik Bianglala, wajahnya sumringah banget kan? padahal dia tahu bakal di puter, kadang di atas kadang di bawah. Hidup tuh gitu aja, simple, kaya orang naik Bianglala.

Sama banget kaya kehidupan manusia, kejayaan, kesedihan, kebahagiaan, dipergilirkan. Jadi buat apa suntuk mikirin masalah hidup. Toh, bersama kesulitan ada kemudahan.

3. Ketenangan itu sumbernya dari dalam diri. Nyari jauh-jauh ke gunung, ke laut atau ke air terjun juga nggak akan nemu kalau di dalam diri masih rusuh.

Udah mendaki capek-capek tapi nggak nikmat. Nyetir jauh-jauh cuman dapet capek. Berenang sampai gosong juga nggak gembira. Lari ke gunung atau laut nggak akan menyelesaikan masalah, jadi jangan jadikan acara piknik buat pelarian dari beban hidup. Hadapi dulu baru liburan jadi reward!

4. Perjalanan berjam-jam bisa jadi memang membosankan. Tapi bukankah saat itu pula muncul kesempatan untuk berbincang lebih lama? 

Perjalanan selama menuju destinasi adalah bonus waktu ngobrol yang kadang susah banget didapatkan. It ones of quality time beetwen friends or family, lho! Plis, buang gadget jauh-jauh kalau kamu nggak mau jadi super nggak asik.

5. Menambah koleksi foto wefie atau selfie bukan satu-satunya tujuan mulia untuk berperjalanan.

Simpan sebentar gadget kamu, stop online kalau nggak perlu-perlu banget. Take a deep breath, tebarkan pandangan, dengar suara sekeliling, hayati. Emang sih, seneng kalau lihat foto bagus-bagus selama perjalanan, dan melihatnya pasti bikin kangen kerena ingat semua cerita seru. Tapi, jangan sibuk sendiri ambil gambar tanpa sempat menikmati 'gambar' aslinya. Karena apa yang bisa ditangkap mata, nggak akan bisa semuanya tertangkap kamera.

6. Sabar itu nggak ada batasnya. Semakin bersabar, semakin mudah kok ngejalanin apapun.

Pesawat delay. Telat makan. Rencana gagal. Jalanan macet. Duit habis. Yang sabar..mau marah ke siapa? marah nggak akan menyelesaikan masalah. Better bicara baik-baik dan segera cari solusi.

7. Jawaban TERSERAH itu sama sekali nggak membantu.

Serius. Tapi emang sering males mikir sih ya. Jadi yasudah, jangan ngambek kalau hasil terserahnya nggak sesuai ekspektasi.

8. Coba sesekali mengambil inisiatif, dalam hal apapun.

Sesekali nggak ada salahnya buat memulai pembicaraan, memperkenalkan diri, atau sekedar nawarin cemilan. Karena kalau semua sama-sama gengsi dan jaim minta disapa duluan, yang ada kamu hanya akan ngobrol sama isi kepala, alias monolog. Ya gapapa sih kalau niatnya emang pengen kontemplasi.

9. Bertemu orang baru, tempat baru dan suasana baru itu semacam tantangan yang juga memerlukan taktik untuk menyikapinya.

Hal ini akan mengasah insting, meningkatkan skill adaptasi, dan menambah wawasan sosial-budaya kalau bisa dilakukan dengan tepat. Ada sih resiko tengsin, semisal sok-sokan ngajak ngobrol pakai bahasa Sunda tapi ternyata pas dijawab pakai full Sunda cuma bisa mlongo. Tapi serius, hal-hal baru itu meskipun agak bikin ketar-ketir sejatinya asyik buat dieksplor.

10. Sadari kondisi sendiri, jangan pernah memaksakan apa yang nggak bisa dipaksakan.

Jangan pernah lupa menganalisa dan mengenali kondisi diri biar nggak repot sendiri. Pantangan makan, bisa atau nggak bisa berenang, takut apa nggak sama ketinggian, tahan atau nggak sama dingin. Bilang kalau nggak bisa, karena bisa saja fatal akibatnya.

Hahaha, sedikit nggak penting sih tulisannya. Tapi, kadang kita menemukan banyak hal yang harus di hightlight, diingat-ingat, justru ketika kita berada di saat yang tak terduga. Semacam tiba-tiba merenung dan mendapat hikmah, atau juga nyeplos di tengah-tengah obrolan geje. Waktu-waktu seperti itu yang kadang bisa menjadi wake up alarm, jawaban dari langit atas pertanyaan yang berputar-putar di kepala.

Jadi, nggak ada salahnya kan menuliskan sebagian? mungkin akan ada lagi beberapa wangsit yang bisa ditulis setelah perjalanan atau kejadian selanjutnya.

"Tuhan memberikan jawaban atas setiap pertanyaan di waktu yang tepat, dengan cara yang tepat. Hanya saja manusia kadang tidak bisa membaca kalimat-Nya. Maka diperlukan tambahan waktu dan kesabaran, dalam perjalanan mencari jawaban"
***

Kamis, 07 Mei 2015

Mendaki Piknik (2) : Menuju Sunrise Camp

Rasa bosan mulai merayapi pikiran saya. Malam masih gelap, jalanan tanah masih becek. Sesekali keheningan terusik oleh langkah kaki rombongan lain yang seperti kami, berharap berjumpa matahari di puncak. Dan kami masih belum juga menemukan pos 4, sunrise camp. Boro-boro nge-camp, jam sudah menunjukkan hampir jam 3 pagi sedangkan tanjakan ini seperti tidak akan pernah usai.

Dari kesemua track yang sudah dilewati, memang track setelah pos 3 ini yang paling sulit. Tanjakan semakin tinggi, jalanan semakin sempit, gelap malam membuat jalan serasa tidak berujung. Saya berusaha tidak memikirkan kapan sampai, pun kaki saya sudah mulai terasa gempornya. Tiba-tiba saja, jalanan berubah menjadi seperti undakan. Seperti ada bambu yang disusun untuk menahan tanah. Jalanan yang semula dikelilingi pepohonan perlahan mulai menampakkan landscape kota Wonosobo di bawah dengan kerlip lampu di kejauhan. Rombongan lain semakin berdekatan satu sama lain. Tapi tentu saja ritme langkah kami sama-sama lambat. Rombongan semakin sering berhenti untuk sekedar menyambung nafas. Dari kejauhan kami mendengar keramaian. 

Bayangan tentang sunrise camp yang sudah dekat rupanya hanya praduga yang tak berdasar. Undakan demi undakan kami lewati dengan menyeret langkah. Rijal beberapa kali terdengar mempertanyakan apakah benar ini sudah dekat dengan sunrise camp. Tiba tiba saja, di bawah kilatan lampu senter saya menemukan sebentuk familiar berkilat diterpa temaram lampu. Gilig, basah, dan menjijikkan: cacing tanah! Ewwwwurghh, saya sudah menahan teriakan dan berusaha kalem agar tidak berlari atau loncat kemanapun. Yang saya takutkan terjadi, Niken hanya berkomentar dengan datar: "kamu pikir dari tadi nggak ada cacing?"

Perjalanan berlanjut, perlahan medan menjadi semakin datar. Kami sejenak berhenti dan mengedarkan pandangan. Rupanya sudah sampai di Sunrise Camp! Beberapa meter dari tempat kami berdiri, puluhan atau bahkan ratusan tenda warna-warni berjajar tak beraturan. Riuh rendah suara para pendaki yang masih terjaga bergema dari kejauhan. Rasanya saya ingin segera berlari dan menemukan tempat untuk rebahan sembari menunggu matahari terbit! Tapi ya menurut ngana..kami melintasi lokasi pendirian tenda yang katanya di malam akhir pekan seperti ini itu dipenuhi oleh sekitar 3000 pendaki. Tidak heran jika dalam tulisan yang saya temui tentang Gunung Prau, sering disebut seperti pasar malam. Berjalan melewati tali, dan pasak yang hanya menyisakan jalanan setapak. Kami menuju sebuah tanah yang terlihat lapang yang bersih dari tenda. 

Lokasi yang kami tuju ini rupanya memang spot untuk melihat sunrise. Disini para pendaki tidak diperbolehkan untuk menggelar ponco atau mendirikan tenda. Akhirnya saya bersama Imon dan Niken duduk di bawah semacam tugu sembari menanti subuh. Dingin udara pagi pegunungan membuat sekujur tubuh menggigil. Untung saja tidak lama, adzan subuh berkumandang. Kami bergegas melakukan sholat subuh secara berjamaah dan bergantian. Ini kali kedua, saya mendirikan sholat subuh di tanah terjal pegunungan. Suara Imon bergetar melantunkan surat pendek, dari kejauhan, terdengar suara imam jamaah yang lain membaca surat pendek dengan lantang dan indah. Ah, Subhanallah, Allahu Akbar. Saya terharu, 2565 mdpl yang apalah jika dibandingkan Mahameru. Tapi tetap saja, konon, di puncak gunung yang lebih dekat pada langit seseorang akan lebih bisa merasakan Kebesaran Tuhan. Disinilah saya pagi ini, dengan kaus dan celana bersimbah tanah, menyungkur sujud. (Bersambung)

Kamis, 23 April 2015

Bukan Travelogue: Menyusuri Tiga Gili

Kami berkumpul menikmati sepiring banana pancake dan segelas teh hangat di pelataran Baleku. Ransel-ransel sudah terpacking rapi. Hari ini hari terakhir kami berada di Pulau seribu masjid.

Tujuan terakhir sebelum pulang hari ini tentu saja adalah 3 gili: Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air. Seharusnya kami sudah harus check out dan meninggalkan penginapan pagi-pagi. Tapi setelah pembicaraan antara Fajar dan pemilik penginapan, kami diperkenankan untuk menggunakan satu kamar untuk menaruh seluruh barang dan untuk mandi sepulangnya dari tiga gili nanti. Setelah urusan titp menitip ini selesai, Fajar meminta kami bersiap di depan.

Rupanya di depan kejutan sudah menunggu. Bukannya Pak Imam yang siap sedia dengan travel, kami dikejutkan dengan sebuah mobil macho berwarna merah, tanpa atap. Awalnya saya kira hanya numpang parkir, dan Jojo ini ngapain pede banget udah stand by aja di jok depan? yang lebih mengejutkannya lagi, ternyata mobil itulah yang akan mengangkut kami semua menuju Senggigi! Man, 8 orang dalam sebuah mobil sejeni Jeep kecil itu sesuatu banget. Err..sebenarnya saya setngah kesenangan karena penasaran sih! ahaha.

Mobil melaju kencang di jalanan menurun yang ternyata berada tepat di tepi pantai Senggigi. Saya sih dari kemarin nggak nyadar, haha. Tidak lama kemudian kami sampai di pantai untuk menyeberang. Di Pantai ini, Fajar membeli makan siang dan menyewa snorkle dan fin. Setelah deal dengan salah satu pemilik kapal, kami segera berangkat menuju Gili Trawangan, destinasi pertama kami.

Perjalanan mengarungi laut sekitar dua jam kami tempuh sebelum akhirnya kapal berhenti di Gili Trawangan. Di luar bayangan saya tentang sebuah pulau sepi penghuni lengkap dengan spot snorkling cantik, Gili Trawangan ini lebih mirip dengan 'dunia lain'. Bagaimana tidak, pulau kecil ini dipenuhi dengan cafe, bar, diving center, lengkap dengan bule di segala penjuru pulau. Cottage-cottage cantik, musik yang berdentum-dentum membuat suasana semakin nggak Indonesia banget. Baiklah, ada ATM Mand*iri sih setidaknya, yang membuat Gili Trawangan masih terlihat Indonesia. Siang semakin panas, lagipula kami tidak bisa berlama lama. Saya bersama Niken, Imon, Supri dan Ocha menyewa sepeda untuk berkeliling sedangkan Ina dan Jojo menyusuri jalanan untuk berburu foto.

Sekitar 45 menit akhirnya kami menyudahi acara berkeliling. Saatnya kembali ke kapal yang..sama sekali tidak terlihat di tepian. Dari jauh kapal kami malah terlihat semakin menjauh. Kami kebingungan mengikuti arah kapal. Belum lagi gelombang di tepi laut cukup besar, berkali-kali kami harus meloncat dan mencari tempat yang lebih tinggi agar tidak terseret arus. Saya sendiri sudah hampir basah kuyup mengejar sandal yang hampir terbawa ombak. Kan nggak keren nanti saya nyeker di bandara kak..

Akhirnya setelah cukup lama terombang-ambing kapal berhasil menepi. Kami bergegas melanjutkan perjalana ke Gili Air. Ya, kami sepakat untuk tidak mampir ke Gili Meno karena waktu yang semakin sempit, jam 3 nanti kami harus segera bertolak ke bandara. Kapal segera mengarah menuju Gili air, dan kembali kesulitan menemukan tempat melempar jangkar. Ombak cukup besar, mendung mulai datang. Sepertinya bukan ide bagus untuk snorkling di saat seperti itu. Tapi bagaimanalah sudah di Gili Air masa nggak nyemplung?? Sikat lah gaaas!

Satu persatu kami mulai nyemplung. Benar saja, gelombang cukup besar dan sempat membuat saya gentar. Duh, berani nggak ya, setelah kemarin saya pun gagal snorkling mandiri. Supri sudah terlebih dahulu mengurungkan niat snorkling, tapi akhirnya saya nekat. Pokoknya harus snorkling di Gili Air! Saya mengikuti pergerakan Ina, entah kemana pokoknya saya ngikut. Kali ini saya sudah nggak nebeng, melainkan berenang sendiri karena pakai fin juga, hehe. Berkali-kali saya masih harus mengeluarkan air dari goggle, juga melakukan mask clearing. Pemandangan bawah lautnya juga belum tampak jelas. Akibat gelombang yang besar juga saya dan Ina malah memutuskan untuk menepi, disusul jojo dengan insiden tangan berdarah-darah.

Ada apa dengan insiden berdarah? rupanya Jojo tidak sadar terantuk besi di salah satu bagian kapal hingga terluka. Dan doi sama sekali tidak ssadar sampai melihat air disekitarnya memerah. Ocha yang memang paling jagoan berenang diantara kami bolak-balik ke kapal untuk mengambil hansaplast dan pelampung. Sementara itu saya nebeng Ocha juga untuk ikutan slulup-slulup ke tengah. Ocha mengkode saya, memastikan nggak akan jauh-jauh dan memberi isyarat untuk mengikuti arah berenangnya. Saya sempat was-was karena tadi ketika lewat bersama ini terdapat bagian yang cukup dalam, tapi ternyata di dekat situ terdapat rangka besi yang sengaja diletakkan untuk rumah ikan. Ocha menebar roti yang sengaja dibawa daaaan.....ikannya berdatangan! cantik-cantik, macem-macem, unyu-unyu! saya terpana sekaligus rempong karena berkali-kali harus mengeluarkan air dari masker. 

Acara slulup dilanjut hingga kembali ke dekat perahu di jangkar. Rupanya pemandangan di bawah perahu nggak kalah bagusnya! Nggak perlu jauh-jauh ke tepian, ikannya sudah banyak. Saya lanjut slulup sambil sesekali bergelantungan pada bagian kapal. Ocha yang masih membawa sisa roti kembali memancing ikan berdatangan. Rasanya saya nggak rela gitu mau mentas, masih pengen melihat ikan-ikan berenang. Maklum ya, justru di hari terakhir itu saya menikmati acara snorkling. Sebelum-sebelumnya saya nggak rilek blas. Tapi apa mau dikata, waktu juga yang memaksa kami untuk segera mengakhiri acara slulup.

Perjalanan pulang selama dua jam kembali kami tempuh dalam keadaan lapar, lelah, ngantuk dan lunglai. Untuk mengusir bosan bahkan saya sudah menyanyi-nyanyi random segala macam lagu dari S07 hingga Tanah Airku. Lumayan membunuh waktu sih, diselingi dengan obrolan ringan. Seperti biasa, Supri dan Ini memilih terlelap daripada nggeje bersama kami.
***

Kami kembali ke Senggigi sedikit terlambat. Akibatnya acara bersih-bersih dan makan siang harus dirapel dan dilaksanakan seefektif dan secepat mungkin. Setibanya di Baleku, kami langsung membagi giliran siapa yang makan dulu siapa yang mandi dulu. Semuanya dilakukan cepat, kilat dan rusuh. Sekitar pukul 15.30 akhirnya kami kembali berkumpul dan kembali memasukkan ransel yang bertambah berat ke dalam mobil. Setelah mengucapkan terimakasih kepada pemilik penginapan, kami diantar Pak Imam dan Fajar menuju bandara Lombok Praya. 

Perjalanan darat sekitar dua jam kami tempuh kembali. Pesawat rombongan madiun akan terbang pukul 18.00 WITA. Segera setelah sampai di bandara, Jojo segera bergegas mengambil tas dan mempersiapkan keperluan untuk check in. Setelah selesai dengan urusan bawaan, kami berpisah di ruang tunggu dengan dadah-dadah dan cipika-cipiki *yang cewe-cewe aja tentunya. Dan tepat sesuai jadwal, pesawat yang kami tumpangi tinggal landas, melintasi langit menuju Surabaya. (Selesai)

Gili Trawangan, rasa mancanegara (keliatan sepi karena memang cari spot yang sepi)
Slulup asik pakai fin dan pelampung

*Foto Piko, Niken. Dan memang nggak banyak foto karena habis energi. Di bandara pun nggak sempat foto barenga karena buru-buru.

Perjalanan memang selalu melelahkan. Tapi bukankah dengan menempuh perjalanan kita memaknai arti pulang? Bukankah dalam berperjalanan kita memberhentikan waktu untuk saling mendengar satu sama lain, melihat lebih lekat satu sama lain? 
Dan saya gagal move on dari segala hal tentang perjalanan. Tertambat pada lelah dan semangatnya, dalam hal baru dan asingnya. 
Sampai jumpa lagi di perjalanan berikutnya.

Bukan Travelogue: Pink Beach dan Senja di Bukit Mandalika (2)

Perjalanan berlanjut setengah tergesa. Rencananya sore ini kami akan mengejar matahari terbenam dari sekitar wilayah Pantai Batu Payung. Obrolan cukup berat mengenai regulasi migas di tanah air membuat saya mati kutu. Ah, kali ini saya hanya akan membuang pandangan ke jalanan yang rupanya sudah dekat dengan pantai.

Terik matahari sore segera menyambut kami sesampainya di Pantai Batu Payung. Pasir putih dengan butiran hampir sebesar merica menggelitik kaki dan memperberat langkah. Ombak cukup besar mengayun-ngayun kapal yang akan membawa kami ke lokasi Batu Payung. Adalah Anton, kapten kapal yang akan membawa kami menuju pulau di tepian Samudera Hindia sana. Dan kisah ini akan diwarnai oleh sekilas cerita tentang Anton.

Anton meneriaki kami agar menyingsingkan celana dan melepas alas kaki. Kontur pasir memang menyulitkan kami untuk bergerak. Dengan sigap Anton menaikkan sandal-sandal, meminta kami segera naik ke kapal lalu melepas sauh. Anton mengambil alih kendali, ayahnya tampak mengurus permesinan di belakang. Bersama kakak perempuannya, Anton duduk di ujung buritan kapal, mengambil posisi santai memandang lautan lepas. Mungkin saja hal ini sudah ratusan kali dilakukannya, menyeberangkan wisatawan untuk melancong. Dan saya berfikir, anak-anak macam Anton ini apakah memiliki kehidupan lain? Pertanyaan saya semakin memudar diterpa angin bercampur air. Kapal meloncat-loncat mengarungi gelombang menuju pulau yang dipenuhi batuan raksasa.

Sekitar 15 menit kemudian Anton memberikan tanda pada ayahnya untuk mematikan mesin. Kami memang sudah sampai di sebuah pulau yang dipenuhi dengan tebing batu berukuran besar-besar. Kapal tidak bisa berhenti di tepian karena koral-koral di perairan dangkal. Kami terpaksa nyemplung ke perairan dengan baju bersih yang baru saja di ganti-nggak rela banget rasanya- berjalan berjingkat meniti batuan. Semua kerepotan itu terbayar lunas sejak dari tepi, berbagai macam hewan dan rumput laut beraneka warna begitu memanjakan mata. Batu dengan ukuran besar-besar kami lewati sepanjang perjalanan menuju letak batu payung yang ternyata adalah batu yang menjulang tinggi yang bayangannya bisa menjadi tempat berlindung, seperti payung. Tapi memang eksotis banget sih, kami berasusmsi mungkin saja dulunya batu ini adalah serupa tebing yang akhirnya terkikis ombak. Terlepas dari itu semua yang paling ajaib adalah, ada penjual es kelapa muda di tengah pulau batu yang harus dijangkau dengan perahu. 

Anton memberi kode pada temannya untuk menyiapkan kami beberapa butir kelapa muda. Rasanya sungguh bagai oase di siang yang terik dan silau. Kami bertujuh memang sudah mulai lelah dengan agenda selam menyelam sepagi tadi. Setelah puas berfoto dan menghabiskan air kelapa, akhirnya Anton membawa kami kembali ke daratan untuk melanjutkan perjalanan untuk mengejar matahari tenggelam..
***
Perjalanan diteruskan setelah perdebatan mengenai dari mana seharusnya kami menyaksikan matahari tenggelam. Ada dua pilihan spot, Bukit Mandalika yang hanya sekitar beberapa kilo dari Batu Payung atau satu lagi saya lupa apa namanya yang masih agak jauh lagi baik berkendaranya atau berjalan kakinya. Tentu saja kami semua memilih opsi Bukit Mandalika yang tidak perlu ada acara jalan kaki sekitar dua kilometernya -_-, capek hidup kami kaka..

Tanpa ada bayangan setinggi apa bukit ini, saya mengayun langkah dengan malas. Menapaki tanjakan yang puncaknya sudah hampir dipenuhi oleh bule-bule yang sedang hore-hore. Hari itu para penganut agama Hindu memang sedang melaksanakan ibadah Nyepi, jadi para bule dari Bali sepertinya banyak juga yang ngungsi ke Lombok.

Rupanya bukit Mandalika ini tidak seterjal dan setinggi yang saya bayangkan, ya saya bayanginnya mendaki Ijen sih ;p, lumayan lah..kami menemukan spot yang cukup longgar. Hari masih sore, dari kejauhan garis pantai terlihat berkilap seperti minyak. Sebenarnya dari sini kami tidak akan bisa melihat matahari benar-benar tenggelam karena di depan kami masih terdapat beberapa lapis bukit yang berderet. Meskipun begitu pemandangan ini tetap saja luar biasa indah. Kami duduk berjajar membentuk dua shaf dan mengisi waktu dengan kegiatan masing-masing. Imon, Niken dan Supri di barisan terdepan asyik berbincang, Jojo sibuk mengambil foto, dan saya awalnya asyik bengong. Entah siapa yang memulai, obrolan tentang matahari tenggelam mulai bergulir. Ohya, Fajar sudah mengajak kami untuk turun, padahal matahari belum benar-benar menghilang. Padahal saya ingin sekali menunggu hingga langit berubah gelap. Rupanya tidak hanya saya, Ocha juga demikian. Well, kami ingin melewatkan senja di puncak bukit ini, bukit Mandalika. 

Bagi saya pribadi senja selalu memberikan perasaan sentimentil. Kalau kata Ocha, perasaan sendu. Kalau kata saya, bertemu dengan senja seperti mengucapkan perpisahan pada kawan lama, sedih tapi ya mau bagaimana lagi. Lalu Jojo mengingatkan kembali sebuah kalimat dari Spongebob tentang senja: 

"Mengapa harus ada matahari tenggelam di hari yang cerah?"

Ya, kenapa. Bisik saya dalam hati.

"Karena akan ada malam penuh bintang yang tidak kalah indah",

itu katamu Ko, Jojo mengingatkan.

Ah, ya, benar. Memang benar, kalimat ini menggambarkan dengan baik, apa yang tidak akan pernah terucap di antara kami masing-masing. Dan kami pun akhirnya menuruni bukit Mandalika, tepat ketika matahari senja beranjak turun ke peraduan untuk mempersilakan langit ditemani bintang-bintang. 
Anton, tampak cool di atas buritan kapal
Yah, ketauan di foto langsung pose >.<
Batu Payung
Kapan lagi minum kelapa muda di tengah samudera?
Batu-batu besar nan cantik di sepanjang pulau
Menyaksikan matahari beranjak tenggelam dari bukit Mandalika

*Foto by Jojo, Piko

Rabu, 22 April 2015

Bukan Travelogue: Pink Beach dan Senja di Bukit Mandalika (1)

Hari ketiga. Pink beach menjadi salah satu destinasi yang ditunggu-tunggu selama kunjungan ke Lombok. Hari masih gelap ketka Fajar mengetuk pintu kamar kami satu persatu. Dingin segera menyergap, kami berangkat bahkan sebelum matahari muncul di ufuk timur.

Perjalanan menuju dermaga pemberangkatan ditempuh selama kurang lebih dua jam. Kami tiba dengan muka lusuh di sebuah pasar ikan yang begitu riuh. Di sana sini tumpukan ikan segar memanjakan mata, bahkan ada yang ukurannya luar biasa besar! Imon, Ina, Jojo dan Ocha sibuk menebak-nebak antara Cumi atau Sotong. Saya hanya mengedarkan pandangan ke sekitar. Pagi ini ramai sekali.

Setelah menunggu Fajar tawar menawar kapal, akhirnya kami berangkat menuju Pink Beach. Bekal nasi goreng yang tadi dibawa Fajar belum juga tersentuh. Bapak pemilik perahu yang menemani kami hari ini sangat baik. Sepanjang jalan beliau menerangkan pulau-pulau kecil yang kami lewati. Konon, di tengah kawasan tersebut terdapat sampungan listrik bawah air yang sangat panjang. Ah, sayang sekali saya sudah lupa nama-nama spesifiknya! Satu yang saya ingat adalah Pulau Pasir, yang memang berupa gundukan pasir jika air sedang surut. Sayangnya pagi itu air cukup tinggi sehingga permukaan Pulau Pasir hanya tampak sekitar 50 cm saja. 

Kami melanjutkan perjalanan, di tengah jalan beberapa kali Bapak pemilik perahu menunjukkan spot-spot potensial. Tapi dasar kami ini tipikal manusia-manusia tidak sabaran, akahirnya kami memilih untuk menuju spot snorkling utama. Ah lupakan namanya apa. Spot ini berada tidak jauh dari daratan kecil berpasir putih. Bapak pemilik perahu dengan sigap mengeluarkan semacam kasur air yang ternyata fungsinya adalah untuk...latihan snorkling! Supri yang memang sama sekali tidak sempat belajar berenang menepi untuk mengambil kelas latihan. Saya juga dengan senang hati nebeng kesana kemari karena memang ketika di lautan, massa tubuh terasa lebih ringan sehingga sedikit sulit untuk mempertahankan posisi.

Beberapa saat berpegangan di pelampung membuat kepercayaan diri saya naik. Dengan keyakinan mulai bisa mengendalikan pergerakan saya pun gaya banget melepas pelampung karena memang 'ngabot-ngaboti'. Untuk berenang jarak dekat, disambung dengan berpegangan pada perahu, saya ngider jarak dekat untuk menikmati pemandangan bawah air. Sampai akhirnya Ocha menawarkan untuk melihat lebih ke tengah untuk melihar ikan yang lebih beragam. Yuhuu! saya sih semangat 45, sembari ancang-ancang ambil nafas karena jaraknya cukup jauh.  Melihat saya hendak ke tengah tanpa pelampung, Niken sudah lebih dulu mengingatkan: "Kamu yakin nggak mau pakai pelampung?" saya mengangguk sambil nyengir dan mulai meluncur. 

Setengah grogi saya mengikuti Ocha yang berenang santai. Hingga beberapa menit kemudian saya merasakan air mulai merembus ke dalam goggle. Perihnya nek, juga akhirnya saya kehabisan nafas karena repot mengeluarkan air, pergerakan kacau daaan...saya mulai tenggelam. Untung saja Ocha masih siaga dan segera menangkap tangan saya. Akhirnya saya menyerah dan kembali memakai pelampung, hehe..dengan sesekali nebeng Ina akhirnya bisa juga menikmati pemandangan bawah laut! Kereeen! setidaknya kali ini saya lebih berhasil daripada sewaktu di Tidung dulu :D
***
Perjalanan kami ke Pink Beach kembali dilanjutkan. Rencananya makan siang nanti akan diisi dengan menu ikan bakar dan sari laut lain. Sampai di Pink Beach, hari sudah mulai siang. Fajar dan Bapak pemilik perahu segera mempersiapkan bahan makanan dan tungku pembakaran, Tak lama kemudian, terlihat Bapak pemilik perahu sudah sibuk memasak ikan dan Fajar kembali menyusul kami yang asik bermain pasir -yang warnanya beneran pink- dan air. 

Pink Beach adalah lokasi wisata yang masih cukup sepi meskipun ya nggak sepi-sepi banget. Sesuai dengan namanya, pantai ini memiliki pasir berwarna merah muda dengan butiran halus. Di sepanjang tepian pantai ombaknya cukup besar hingga merusak mainan pasir yang kami buat -yes, kami masinan pasir-. Serpihan batu karang juga dengan mudah ditemukan di sepanjang tepi pantai, kalau si Pipit ikut pasti dikarungin deh itu batunya, haha. 

Sepanjang siang kami melakukan hal-hal nggak penting di Pink Beach. Mulai dari membuat kue yang ceritanya mau difoto untuk Izul, tahan-tahanan dalam posisi duduk di pinggir pantai, hingga mengubur Ocha di pasir. Yang terakhir asli random banget, dan kami semua begitu semangat menimbun Ocha yang sudah terlebih dahulu dipaksa terlentang dengan pasir pantai disekujur tubuh. Beneran puas ketawa-tawa sampai lapar! Untung saja, tak lama kemudian Fajar menginstruksikan agar segera menepi. Ikan bakar untuk kami sudah hampir siap.

Asap pekat dari pembakaran berkali-kali menerpa wajah hingga membuat mata berair. Kami menunggu dengan kelaparan kapan jatah kami siap disantap. Bapak pemilik perahu sudah siap dengan setermos nasi. Ikan, cumi dan udang akhirnya dipindahkan ke piring. Kami dengan khidmat menyantap sari laut yang..yang..Enaknyaaaa...enak banget! Udangnya manis, cuminya gurih, ikannya..ya rasa ikan, hehe. Saya memang kurang suka ikan dengan ukuran besar, jadi yasudah skip ya, lanjut cumi segede gaban dan udang yang manis segar luar biasa.

Selesai makan, Fajar meminta kami untuk bergegas. Tujuan selanjutnya adalah Batu Payung. Hanya saja, jaraknya cukup jauh sehingga kami tidak boleh terlalu lama mengabiskan waktu untuk mandi sperti kemarin. Sepanjang jalan kami menyusun strategi untuk menghemat waktu. Salah satunya dengan sigap di kamar mandi, haha. Begitu bertemu dengan kamar mandi, saya bergegas membersihkan diri dan sholat. Cepat! hanya sekitar 30 menit rasanya dan kami bertuju sudah duduk manis lagi berada di mobil. Pak Imam segera melaju membawa kami menuju Batu Payung. (Bersambung)

Ini nih bapak pemilik perahu yang baik hatinya dan suka menolong :D

Dalam imajinasi kami ini adalah wedding cake yang unyu, untuk dear Izul

Pink Beach!

Karang di tepian pantai menuju Pink Beach

Masih sambungan dari karang di sepanjang jalur menuju Pink Beach

 *Foto oleh Niken Yusnita, karena pada hari itu hanya dia yang free willy membawa kamera sedangkan yang lain asik bermain air dan pasir.


Minggu, 12 April 2015

Bukan Travelogue: It's (Not) a Shopping Time!

Kami meninggalkan kenawa beriringan dengan ransel-ransel di punggung. Dari kejauhan tongkang sudah hendak merapat. Siang itu cerah sekali, sesampai di kayangan kami berusaha berteduh di bawah bayang-bayang gerbang selamat datang yang tentu saja hanya menjanjikan sedikit tempat. Air sedang mati, kami terpaksa menyeberang dengan baju basah melekat di sekujur tubuh. Nggak masalah, totalitas!

Kapal melaju konstan memecah gelombang. Fajar memilih tempat yang nyaman, dekat dengan mesin pendingin yang sangat menyelamatkan kami yabg kepanasan.  Barang-barang diturunkan, saya sendiri langsung menghempaskan diri ke kursi. Kantuk membuntuti saya sejak pagi, dari kemarin rasanya saya baru terlelap beberapa jam saja. Interior kapal yang kami tumpangi cukup nyaman. Di depan disediakan ruangan dengan jejeran matras untuk merebahkan badan. Kalau saja baju saya tidak basah, mungkin saya akan dengan suka cita menghempaskan tubuh di salah satunya. Perlahan mata saya terasa berat. Saya mencoba memejamkan mata tapi tidak berhasil juga, akhirnya di dalam kebosanan beberapa jam berlalu hingga kami tiba kembali ke Pototano. 

Destinasi pertama yang kami tuju adalah masjid. Tentu saja masjid yang tampak cukup besar dan memiliki beberapa kamar mandi mumpuni untuk membersihkan diri. Untung saja di Lombok, masjid banyak bertebaran, megah-megah pula. Tak lama kami mendapatkan sebuah masjid dan segera membongkar muatan. Buru-buru karena dikejar waktu kami harus mandi bergantian dengan kilat. Tapi ya sekilat-kilatnya orang yang nggak mandi dua hari ya gimana ya..apalagi cewe-cewe. Akhirnya baru jam setengah 3 kami melanjutkan perjalanan. Para lelaki sudah duduk manis menyambut kami dengan minuman dingin dan camilan. Terharu tumben banget pengertian *nangis bahagia.

Perjalanan berlanjut menuju kampung sasak. Pak Imam banyak bercerita soal adat dan budaya masyarakat setempat. Disinilah kain tenun khas lombok banyak dibuat. Konon, para anak gadis sasak harus bisa menenun sebagai syarat untuk bisa menikah. Ada lagi yang unik dengan adat masyarakat sasak: melarikan anak gadis sebagai isyarat peminangan. Bagi orangtua yang memiliki anak gadis, bukannya khawatir ketika anaknya tidak pulang tapi malah gembira. Karena hal itu pertanda anak gadis mereka akan segera dipinang. Da kalau di Jawa saya nggak pulang tanpa pamit??? Bisa dipecat saya jadi anak -,-.

Akhirnya kami tiba di salah satu tempat perajin kain tenun lombok. Disana kami ditunjukkan bagaimana benang ditenun satu persatu menjadi kain. Dipersilakan memakai baju adat dan berfoto bersama. Ini sesi yang paling seru! Haha, kami dibantu para pramuniaga berganti baju adat yang bercorak cantik. Saya sendiri mendapatkan kain dengan warna cerah: merah muda-peach, senang :D
Dan foto bersama dengan baju adat ini menjadi salah satu favorit saya ♡. Setelah puas berfoto, kami lanjut belanja -gaya banget ya. Di sini mahal-mahal sekali kainnya, tidak heran karena seluruh prosesnya manual. Fajar membeli dua helai kain tenun seperti syal panjang. Motifnya keren! Akhirnya setelah berunding sejenak, kami memutuskan untuk membeli kain lombok untuk izul. 

Puas berbelanja, kami melanjutkan perjalanan menuju penginapan. Ditengah jalan kami bertemu dengan rombongan semacam karnaval yang memanggul properti? -disebut apa ya sama orang 'normal'- berukuran besar dengan bentuk-bentuk yang menyeramkan. Pak Imam memberitahu namanya 'ogoh-ogoh'. Saat itu memang menjelang hari raya Nyepi, apakah acara tersebut merupakan salah satu rangkaian peringatan atau bukan saya tidak tahu.

Rupanya sebelum ke penginapan pak Imam mengajak kami ke pusat oleh-oleh. Bagi para pelancong, oleh-oleh menjadi buruan wajib yang harus dibeli, *tak terkecuali saya, hahaha. Sebenarnya saya nggak terlalu berniat membeli oleh-oleh, karena makanan di rumah saya selalu ngga laku -,-, kami semua hobi nggak makan. Tapi daripada tidak, saya akhirnya membeli satu kotak dodol rumput laut khas lombok, satu kantong kopi dan terasi. Rasa dodol rumput lautnya enak, tidak terlalu manis dan kenyal. Ringan untuk dijadikan camilan. Sedangkan kopi dan terasinya sampai sekarang belum dibuka! Haha. Sebenernya saya menunggu-nunggu kopinya, penasaran apa bedanya dengan kopi Jawa. Terakhir saya membeli kopi sebagai oleh-oleh adalah ketika ke Semarang, kopi Banaran. Rasa kopinya enak banget! meskipun sekarang sudah tidak membiasakan mengkonsumsi kopi, tapi tetap saja saya tidak bisa mengingkari kenikmatan pahit asam seduhan kopi. Ah, cukup bahasan tentang kopi ini.

Pak Imam kembali memacu mobil melintasi perkotaan menuju lokasi penginapan yang ebrada di daerah Senggigi. Hari sudah gelap ketika lamat-lamat kami menemukan Baleku, tempat menginap kami selama dua hari ke depan. Setelah menurunkan bawaan dan memilih teman dan kamar *which is tas saya dan tas Niken dimasukkan dalam satu kamar oleh petugas penginapan-lagi-lagi* akhirnya kami segera membongkar apa yang harus dibongkar dan melakukan apa yang harus dilakukan. Selesai dengan urusan masing-masin, kami berkumpul di saung bambu yang terletak di tengah area penginapan. Hari yang melelahkan ini kami tutup setelah menikmati makan malam dan puas bermain gaple. Ah, dasar anak muda..(Bersambung)

Kain tenun lombok (penamaannya asal banget, lupa namanya apa -,-!)
Gadis Lombok yang sedang menenun benang

*Kali ini foto dokumentasi saya pribadi, huhuyyy!

Senin, 30 Maret 2015

Bukan Travelogue: Mengejar Matahari Terbit di Pulau Kenawa (3)


Dalam pelukan sujud di sebuah pulau di tengah lautan, aku menitipkan sebuah doa yang panjang. Agar kelak, Tuhan mengijinkan kita untuk kembali berperjalanan bersama. Mencari apa yang seharusnya kita temukan, dan merelakan apa yang harus kita tinggalkan. Selamat pagi, Pulau Kenawa.

Semburat merah saga sudah mulai terlihat di ufuk timur. Kami semua sudah terjaga sejak lama. Saya sendiri pagi ini akan melaksanakan misi pribadi saya: mengabadikan matahari terbit di Pulau Kenawa. Berbekal kamera handphone (nggak niat banget ya, padahal katanya misi besar-.-) karena tidak berhasil mendapat pinjaman kamera sedang kamera pocket saya rusak, saya bersiap menghadap ke timur. Kami semua duduk berjejer untuk menikmati matahari terbit.

Mendung hitam di ufuk timur rupanya tak kunjung bergeser. Saya dengan kamera seadanya kesulitan menangkap dengan jelas perubahan warna langit. Puluhan gambar saya jepret sejak tadi. Rasanya sudah sangat lama dan matahari belum juga beranjak naik. Ah, sepertinya, pagi ini saya tidak akan bisa menangkap matahari pagi dengan sempurna. Tapi berkat bantuan Jojo, akhirnya saya mendapatkan pemandangan matahari terbit yang sangat cantik di Pulau Kenawa! Pengen nangis rasanya lihat hasil foto Jojo, Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Langit gelap berubah warna menjadi merah, lalu disusul semburat kuning yang semakin lama berubah menjadi keemasan. Padang rumput perlahan menghijau diterpa cahaya pagi. Lautan berkilau cantik memantulkan nyala oranye seperti minyak. Awan berarak dari abu-abu hingga putih di ufuk timur, menyelimuti barisan gunung di kejauhan. Sepotong pemandangan pagi yang sempurna untuk dinikmati dari puncak bukit kecil.

Jika bisa, saya ingin memotongnya dan menjadikannya kartu pos, memasukkannya ke dalam saku seperti ulah Seno Gumira yang mencuri senja untuk Alina. Tapi ituk tidak mungkin saya lakukan bukan? saya hanya bisa menyimpannya rapat-rapat dalam ingatan, untuk kembali diceritakan suatu saat nanti.

Saatnya menjelajahi Pulau Kenawa! Niken, Imon dan Supri sudah terlebih dahulu menyusuri jalan setapak di bawah, menuju bukit yang lebih tinggi. Dari kejauhan tampak tubuh mereka yang semakin mengecil di antara rerumputan hijau yang tinggi. Saya, Jojo, Ina, Ocha dan Fajar menyusul menuju bukit yang sama. Jojo masih terus berburu foto landscape sedangkan saya dan Ina berjalan pelan ditinggalkan Ocha dan Fajar. Bukit di depan kami rupanya sangat curam, jalan setapaknya juga cukup licin meskipun sedikit berbatu. Saya yang hanya memakai sepatu plastik sempat gentar, tidak yakin bisa naik hingga ke puncak. Ina dan Jojo sudah lebih dahulu berhenti dan berbalik, tapi saya penasaran. Dengan ekstra hati-hati saya mendaki bukit dengan sesekali berpegangan pada akar rumput. Akhirnyaa, saya berhasil sampai ke atas meskipun dengan susah payah! dan pemandangan dari atas memang indah! dan selanjutnya saya pusing memikirkan bagaimana caranya turun dari sini.

Jalanan menurun semakin sulit dilalui, saya terpaksa ngesot menuruni bukit. Beberapa kali sempat terpeleset membuat saya semakin selektif memilih pijakan. Meskipun tidak selicin Ijen, tapi tetap saja kalau jatuh ini sakit pak, maka saya istiqomah untuk berjalan perlahan-campur ngesot-agar bisa sampai di bawah dengan selamat. Yay! berhasil juga turun dan saatnya mengeksplor perairan!

Kami berjalan beriringan dengan riang gembira, agenda pertama nyemplung di laut sejak tiba di Sumbawa nih! Fajar sudah menyiapkan beberapa goggle dan fin untuk kami. Saya mencari cari yang pas dan langsung nyebur ke lautan. Setelah beberapa saat nyemplung, saya agak kecewa karena ternyata tidak banyak yang bisa dilihat. Hanya ada ikan-ikan kecil, tidak tampak karang warna-warni. Sepertinya kami sedikit salah spot. Tapi yasudahlah, bagi kami yang setiap hari melihat motor berlalu lalang, bisa slulup di laut ramean kaya gini sudah sangat bahagia. Akhirnya kami hanya bermain-main air saja, hitung-hitung pemanasan. 

Matahari sudah semakin tinggi, Fajar mengkode kami agar segera kembali ke tenda untuk berkemas. Disela-sela merapikan tas dan peralatan, Fajar menyempatkan diri memasak sarapan dan milo hangat. Milonya, enak bangeeeet! Pasti ini efek kelaparan. Setelah sarapan, kami segera membongkar tenda, foto berkali-kali dalam berbagai pose lalu berjalan menuju dermaga untuk menunggu kapal. Kami berjalan menyusuri padang rumput yang terik, dari kejauhan tongkang penjemput kami sudah terlihat. Ransel-ransel segera dipindahkan, satu persatu kami melompat dari dermaga. Perlahan tapi pasti, kami meninggalkan Pulau Kenawa. (Bersambung)

Bersiap menyambut matahari terbit

Liburan!
Pulau Kenawa
*Foto oleh Yohanda Mandala, Flickr account: jokidz90, dan dokumentasi pribadi



Bukan Travelogue: Mengejar Matahari Terbit di Pulau Kenawa (2)



Setiap perjalanan memiliki ceritanya sendiri. Setiap pengembara memiliki tujuannya sendiri. Ada yang rindu akan kenangan masa silam, ada juga yang gegap gempita menyambut masa depan. Semua terangkum dalam sebuah perjalanan, yang hanya akan usai bersama masa.

Dua jam perjalanan laut menuju Pelabuhan Poto Tano mempertemukan saya dengan seorang ibu. Ah, sayang sekali saya melupakan nama beliau. Saya mendengar ceritanya dengan seksama. Mengenai Sumbawa di tahun 80-an, ketika Ia dan suaminya masih mengabdi sebagai pengajar di pulau yang seperti tak memiliki gairah hidup. Sang ibu bertanya-tanya, mengapa Sumbawa tidak memiliki greget untuk berkembang. Ia terheran-heran, padahal tanah subur, air berlimpah, hanya saja mereka terlalu nrimo katanya. Tidak mau berusaha lebih keras untuk menggali potensi. Hingga puluhan tahun berlalu, Sumbawa seperti terlindas zaman. Kini, laju perkembangannya tertinggal jauh oleh Lombok, tetangganya.

Saya yang memang belum pernah ke Sumbawa sebelumnya hanya ber-ooh ria mendengar cerita beliau. Beliau bertanya kami hendak kemana. Saya bercerita tentang Kenawa, sebuah pulau kosong yang kini sedang ramai menjadi tujuan wisata. Di akhir percakapan menjelang merapatnya kapal ke dermaga, beliau berpesan: "Selamat berlibur, dijaga ya aqidahnya" dan saya terbengong-bengong tidak tahu harus menjawab seperti apa. Ahhh..mungkin karena tadi saya bilang, kami bersama tiga orang lelaki di rombongan, dan akan menginap di pulau kosong! Oh, men..kita nggak akan ngapa-ngapain kok bu, selain ribut karena digigit nyamuk dan berburu foto Bima Sakti.

Sekitar pukul 17.00 WITA kami tiba di Pelabuhan Poto Tano. Dari sini, kami harus menumpang sebuah perahu tongkang menuju Pulau Kenawa selama sekitar 15 menit. Hari sudah sore, sebentar lagi matahari tenggelam sedangkan kami masih harus membuat tenda. Sebuah jembatan kayu menyambut kami. Air laut biru jernih kehijauan diatas pasir coklat muda mengelilingi pulau yang sedang hijau-hijaunya. Kami bergegas menurunkan barang menuju dermaga dan mencari spot terbaik untuk mendirikan tenda. Akhirnya Fajar memilih  sebuah bukit kecil di tengah pulau, sempurna untuk melihat bintang. Meskipun sempat khawatir dinginnya padang rumput di malam hari, tapi sangat saya rekomendasikan deh bagi yang ingin camping dan mendapatkan pemandangan langit yang oke :D

Di tepi Pulau kenawa sebenarnya sudah banyak saung-saung yang bisa digunakan untuk menginap darurat. Memang kondisinya tidak terawat, tapi lumayan bagi para backpacker yang tidak membawa tenda. Kami yang sebenarnya sudah sangat terlambat karena insiden penundaan penerbangan harus berjuang keras membuat tenda di kegelapan magrib. Idealnya, kami sampai di Kenawa pagi hari agar sempat mengeksplore pulau. Tapi apa daya, nasib berkata lain. Setelah sekitar  satu jam merangkai kerangka dan pasak akhirnya tenda berdiri. Kami segera menggelar ponco untuk shalat. Ohya, selama di Kenawa, air bersih harus dibawa dari Poto Tano karena memang tidak ada kamar mandi atau sumber air tawar. Jadi kami harus hemat air untuk wudhu, minum, masak dan buang hajat.

Kenawa gelap total di malam hari. Hanya tampak kerlip lampu di kejauhan dari pulau-pulau seberang. Malam ini agak mendung, bintang hanya terlihat satu dua hingga sekitar pukul 21.00 WITA. Makan malam ala anak kosan, a.k.a mi instan rebus plus sosis s* nice menjadi pengganjal perut yang sedari tadi keroncongan. Diluar dugaan, angin sama sekali tidak bertiup, akibatnya nyamuk berlalu lalang di sekitar kami dan menggigiti pipi kurus saya. Gerah, nyamuk, dan pikiran mencekam membuat saya terjaga hampir sepanjang malam. 

Sekitar tengah malam, saya dan Imon terbangun karena gerah dan..dengkuran Supri! luar biasaaaa...Supri tidur sangat nyenyak dalam sleeping bag, meninggalkan kami yang glibak glibuk karena nyamuk. Saya dan Imon sempat bertukar posisi, hingga tak lama kemudian tenda cewek kembali senyap. Saya masih terjaga dengan perut lapar, mi rebus topping s* nice? huh, mana cukup..
Tiba-tiba saya mendapati Jojo men set up kamera, yay! saatnya berburu Bimasakti!

Saya krauk-krauk makan oreo memperhatikan Jojo menjepret-jepret langit dalam gelap. Sesekali mengintip hasilnya di layar display, dan Waooooow! Subhanallaaahh!! langit yang memang semakin penuh bintang di tengah malam tertangkap cantik oleh kamera. Galaksi Bima Sakti meskipun belum sempurna bisa tertangkap kamera, jadilah saya, Jojo dan Ocha -yang akhirnya ikut terbangun karena keributan saya dan Jojo- foto-foto ceria dengan berlatar belakang Bima Sakti. Perjuangan banget ini fotonya, harus menahan pose selama puluhan detik. Berkat keahlian setting Jojo, dan kesabaran Ocha dalam berhitung akhirnyaaa, terpotretlah kami bersama The Milky Way! Ah, saya selalu tidak bisa move on dari langit, apalagi yang penuh bintang!

Capek foto-foto akhirnya saya mencoba tidur. Masih dengan oreo di genggaman, saya berbaring menatap langit malam. Terdengar suara-suara aneh di sekitar tenda, mungkin saja serangga. Tepatnya saya memaksa diri saya percaya itu serangga biasa, karena kami semua lupa tidak membawa garam untuk menghalau ular. Saya mulai berpikir bagaimana kalau tiba-tiba ada perampok, yang menghabisi kami semua ditengah malam? atau binatang buas? Selain nggak bisa lari kemana-mana, teriak pun nggak akan ada yang dengar, ini pulau tak berpenghuni saudara-saudaara! Untung saja kekhawatiran saya terhenti setelah suapan oreo terakhir tandas. Saya jatuh tertidur hingga dibangunkan oleh kegaduhan yang sama, Jojo, dan kameranya yang kali ini bersama Niken, menjelang adzan subuh yang sayup-sayup terdengar dari kejauhan.

Bima Sakti tertangkap sempurna oleh kamera Jojo sekitar pukul 03.30 WITA tadi, bergegas saya bergabung dengan Jojo-Niken untuk melihat hasil jepretan Jojo. Tak lama kemudian semua orang terbangun dan bergabung menikmati Gugusan Bima Sakti. Langit Kenawa pagi itu sangat indah! Meskipun bintangnya masih kalah dengan yang saya lihat di langit Garut, tapi menyaksikan bintang bersama mereka tentu saja sebuah kesempatan luar biasa. Subuh yang syahdu di sebuah pulau di tengah lautan, sebentar lagi saya akan bersiap menjemput pagi. Menyaksikan matahari terbit di Pulau Kenawa. (Bersambung)

Pelabuhan Poto Tano yang lengang
Gerbang Pulau Kenawa
Dermaga di Pulau Kenawa, warna pasir dan air lautnya 'ngawe -ngawe'
Bintang di Langit Pulau Kenawa pukul 00.00 WITA
Kapan lagi foto di bawah bintang kelap kelip! bersama potograper dan asisten pencet flash
Galaksi Bima Sakti tertangkap sempurna pada pukul 03.30 WITA

*Foto-foto langit diambil dan diedit oleh Yohanda Mandala, Flickr account : jokidz90

Sabtu, 28 Maret 2015

Bukan Travelogue: Mengejar Matahari Terbit di Pulau Kenawa (1)



Kabar penundaan kembali keberangkatan pesawat di grup membuat saya kembali merapatkan selimut. Di grup yang lain, Niken mengajukan usul untuk berangkat esok subuh karena pesawat kami baru akan berangkat pukul 09.30 WIB. Tapi pembicaraan berakhir lain, kami memutuskan berangkat malam itu juga menyusuri jalanan bersama gerimis menuju Surabaya.

Seperti yang sudah direncankan, malam itu saya bertugas menyetir sepanjang Madiun-Surabaya. Dengan riang saya memacu gas yang semula tersendat melaju kencang di jalanan antar kota. Hujan sejak sore tadi tak kunjung reda, memunculkan kilat menemani perjalanan kami. Di malam hari, jalanan memang relatif sepi dari kendaraan pribadi. Namun bukan berarti jalanan lengang begitu saja, truk-truk besar bergantian menyalip sedan ceper kami. Sempat berhenti di beberapa pom bensin, kami memasuki Sidoarjo sekitar tengah malam. Jalanan yang gelap dan penuh genangan air membuat saya harus ekstra waspada. Mobil yang kami tumpangi sudah berkali kali terguncang melindas lubang menganga. Sekitar pukul 02.00 dini hari kami memasuki pelataran parkir D3 Mesin ITS untuk menjemput Bima, adik Jojo yang besok pagi akan mengantarkan kami ke bandara.

Dini hari akhirnya kami sampai di kosan Bima, adik Jojo yang sekian lama baru saya temui kembali. Agak kaget sih karena profilnya jauhhh berbeda dengan Jojo. Bima ini kurus, gondrong, khas mas-mas teknik yang garang, tapi wajahnya di mata saya tetap saja adik-adik! haha. Skip cerita tentang Bima, kembali pada nasib kami trio kwek-kwek yang harus rela tidur di mobil hingga subuh. Selepas subuh di masjid terdekat rombongan bergegas melaju, agaknya perut keroncongan kami harus diisi terlebih dahulu. 

Setengah porsi nasi kuning saya tandaskan. Hah? setengah?? iya! haha, masih ya dalam rangka kontrol berat badan saya mengurangi asupan karbohidrat termasuk nasi. Karena masih belum masuk inti utama liburan jadi acara diet ini masih berlaku dong. Nanti, ketika sampai di Lombok, dadah babai deh ya dieeet! Perjalanan kami lanjutkan hingga Bandara Juanda. Masih tersisa sekitar 3.5 jam menuju jadwal keberangkatan kami. Check in dan seluruh rangkaian pemeriksaan yang singkat menyisakan banyak waktu bagi kami untuk luntang-lantung. Jojo dan Niken sempat melanjutkan tidur, saya dan Imon menuntaskan jatah harian ODOJ kami di ruang tunggu sebelum akhirnya kami bergantian cuci muka dan merapikan diri di toilet. Kami menerima kabar bahwa rombongan dari Jakarta sudah terbang pada pukul 07.00 WIB. Heuu, jam 7 kita masih lula di ruang tunggu, ucek mata sambil nguap ngantuk berat.

Setelah penantian yang melelahkan #tsahhh...akhirnya pesawat siap terbang! Ini pengalaman pertama saya naik pesawat lho, jadi agak nerves gimana gitu, haha. Norak ya, tapi ya bagaimanalah..saya berjalan dibelakang Jojo agar tidak tertinggal. Sampai di dalam kabin peswat, saya masih sibuk mencermati sana-sini. Prosedur keamanan standar, sabuk pengaman, pelampung, saya amati dengan antusias. Hingga akhirnya pesawat tinggal landas dan saya..mulai mengantuk! haha.

Satu jam berikutnya kami mendarat di Praya dengan selamat. Rombongan Jakarta yang sudah sejak pagi menunggu sudah mengirimkan berbagai macam komentar di grup. Segera Jojo mengabarkan kedatangan dan meminta informasi lokasi keberadaan mereka. Seharusnya, Fajar, pemandu perjalanan kami selama 4 hari ke depan sudah tiba dan menjemput mereka. Tapi sayang, Fajar yang berangkat dari Bali juga terlambat datang! hahaha, ya nasiiib.

Dengan ransel besar di punggung masing-masing, kami bergegas menuju pintu keluar dan mencari rombongan Jakarta. Dari jauh saya melihat Ocha, Ina dan Supri seperti pengungsian sok kece. Duduk di antara barang berserakan sambil foto-foto selfie, membuat mereka mudah ditemukan, hahaha. Untung saja, tak lama Fajar mengabarkan telah sampai di Bandara. Sekitar pukul 11.30 kami bertolak menuju destinasi pertama: Restoran. Kami semua mulai lapar.

Kuliner lombok pertama kami adalah nasi ayam. Saya lupa namanya nasi apa, yang jelas ada ayam suwir berbumbu pedas, ayam goreng, kering tempe dan sambal. Saya yang tidak bisa makan pedas langsung sigap mencicip ayam bumbu untuk cek level kepedasan: Pedaaaas! mundur teratur, nggak bisa makan ayam bumbunya *nangis nelangsa.

Setelah makan, perjalanan dilanjutkan menuju Pelabuhan Kayangan yang terletak di Desa Kayangan, Labuhan Lombok, Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur. Pelabuhan ini berjarak sekitar 2 jam perjalanan dari Bandara Lombok Praya. Sepanjang jalan, kami tentu saja sibuk melepas rindu dengan ngobrol ngalor ngidul, maklum terakhir kami bertemu full team adalah ketika Idul Fitri kemarin. Mobil yang semula ramai perlahan sepi karena beberapa akhirnya mulai tertidur. Imon berkali-kali takjub membenarkan bahwa Lombok memang pulau dengan 1000 masjid. Memang, masjid begitu mudah ditemui sejak tadi. Tidak hanya banyak, ukurannya juga besar dan megah! Konon, bagi masyarakat lombok Masjid adalah lambang kebanggan. Maka tidak heran kalau semuanya besar dan indah-indah. Pemandangan kiri-kanan mulai berganti. Langit siang meredup karena mendung, kami sempat khawatir malam ini turun hujan. Maklum saja, acara malam ini adalah camping di Pulau Kenawa, apa jadinya jika hujan deras mengguyur? bisa gagal total saudara-saudaraa...

Pegunungan membujur di sisi kiri kanan sepanjang perjalanan menuju Kayangan. Ada satu buah bukit yang mencuri perhatian kami. Bentuknya seperti tumpeng, lancip, satu gundukan, berwarna hijau gelap. Sepanjang perjalanan, Jojo, Ocha, Imon dan Niken bertukar cerita hingga mengarang cerita mengenai bukit tersebut. Tidak terasa, setelah obrolan absurd (yang akan selalu absurd apapun topiknya) tersebut berakhir akhirnya kami sampai di Pelabuhan Kayangan. Dari sinilah kami menumpang kapal feri menuju pelabuhan Poto Tano yang terletak di Sumbawa Barat.

Sesampainya di Kayangan, Pak Imam dengan sigap membantu kami menurunkan barang. Sleeping bag, tenda dan perlengkapan camping kami bagi rata sesuai kemampuan. Tas keril supri yang besarnya lebay kebagian menampung tambahan beban 2 sleeping bag yang akhirnya dibawa oleh Ocha -setelah adu mulut sebentar tentang siapa yang harusnya membawa keril segede gaban itu-. Dipandu Fajar, kami beriringan menuju dermaga menuju kapal yang sudah menunggu. Fajar membawa kami ke lantai 2 yang cukup sepi sehingga bisa memilih tempat duduk. Ransel-ransel telah diturunkan, saya segera mengambil posisi di tepi dinding kapal untuk melihat lautan.

Udara laut menerpa wajah saya, ahh..akhirnya hari ini tiba! Perairan biru gelap yang sayangnya dipenuhi oleh sampah mengambang perlahan tersibak memunculkan buih. Saya menghayati dalam diam hamparan biru di depan mata sambil sesekali berbincang kecil bersama Ina, Imon atau Supri. Jojo asik mengambil gambar kami dan lautan tentu saja. Di barisan kursi depan sana, Fajar yang tampaknya mulai bosan bergabung bersama awak kapal berkaraoke ria. Sejenak, saya membiarkan diri saya terhanyut dalam pikiran kemana-mana. Laut, saya beberapa kali menerawang mencoba menembus birunya yang semakin pekat. Laut selalu membuat saya lebih rileks sekaligus gelisah, sebuah kombinasi yang aneh bukan? apalagi perjalanan kali ini bersama mereka. Seharusnya perjalanan ini akan sangat luar biasa.. (Bersambung)

Di atas kapal Feri menuju Poto Tano


*Foto oleh Yohanda Mandala, Flickr account: jokidz90, our amazing photographer, hurrayyy!!! :D

Jumat, 27 Maret 2015

Bukan Travelogue: Piknik!

 Ransel-ransel sudah tertumpuk di bagasi belakang. Hujan tak kunjung reda masih ditemani kilat petir. Tersendat-sendat saya menginjak pedal gas. Kami berangkat, menuntaskan pertengkaran beberapa bulan terakhir, menunaikan janji perjalanan menuju timur: Lombok!

OKTOBER 2014

Mari kita mundur sebentar, kembali ke titik mula semua kehebohan ini dimulai. Awalnya, Saya, Niken, Imon dan Jojo yang selanjutnya akan disebut dengan geng Madiun berencana untuk trip ke Banyuwangi. Idealnya, rombongan kecil kami akan lebih mudah ditangani dan direalisasikan hingga entah karena apa..rencana perjalanan bocor ke telinga geng kelas bunga. Rencana seketika berubah, jumlah peserta bertambah. Destinasi dialihkan. Lombok, kami memilih satu pulau. 2015 adalah waktu yang sama-sama kami sepakati untuk berperjalan bersama.

DESEMBER 2015

Banyak hal terjadi dalam jeda hingga Desember 2014. Mulai dari perubahan destinasi hingga tanggal yang tiba-tiba berubah. Tidak cukup sampai disitu, kenaikan harga BBM di akhir tahun juga sempat meresahkan. Kami belum mendapatkan kepastian dari agen hingga awal tahun dikarenakan harga-harga yang belum stabil. Tapi yang paling absurd adalah kami sudah mebooking 8 tiket pesawat PP: 3 Jakarta-Lombok dan 5 Surabaya-Lombok. Tidak ada kata mundur untuk liburan kali ini.

JANUARI 2015

Wacana untuk berperjalanan selalu menimbulkan sensasi berbeda. Kami menunggu dan menunggu dalam kesibukan masing-masing. Seperti nunggu jodoh deh rasanya, haha. Saya Niken Imon intensif berlatih berenang karena tidak mau melewatkan pemandangan bawah air nantinya. Waktu seperti berjalan lambat-lambat. Tahu banget kalau kami sedang menunggu-nunggu bulan Maret. Ya, akhirnya di awal tahun kami mulai memastikan satu persatu bagian dari perjalanan ini. Tiket bertanggal 19 Maret, juga agen perjalanan untuk 4 hari 3 malam. Tinggal printilan kecil lah nantinya yang harus diurus mendekati hari-H. Untungnya, Sebuah trip mendadak ke Banyuwangi mampu mengalihkan perhatian saya. Meskipun tidak ke Baluran, agenda ke Banyuwangi malah lebih dahulu tercapai!  (Klik di sini untuk tulisan tentang perjalanan singkat ke Banyuwangi)

MARET 2015

Bulan Maret dibuka dengan sebuah kabar mengejutkan: Etis, salah satu peserta piknik salah memprediksi jatah cuti. Kehebohan kembali terjadi karena seluruh biaya perjalanan sudah lunas dibayarkan. Pilihannya sama-sama sulit, mencari pengganti dalam waktu beberapa minggu saja, atau merelakan tiket dan biaya perjalanan hangus. Hingga H-7, upaya lobi untuk mendapatkan cuti masih saja gagal. Begitu pula dengan pencarian pengganti, tidak membuahkan hasil. Dengan berat hati, Etis memilih untuk tidak ikut dalam perjalanan, pertaruhannya karir.

Tahu apa yang lebih mengejutan di bulan Maret? H-2 perjalanan, Ocha menerima pesan singkat dari maskapai penerbangan yang nantinya kami tumpangi bahwa penerbangan dari Surabaya menuju Lombok akan mengalami keterlambatan. Telatnya nggak tanggung-tanggung, dari jadwal semula pukul 07.00 WIB, ditunda hingga pukul 15.30! Nggak jadi liburan pak kalau gini caranya sih *Nangis panik.

Kehebohan kembali terjadi, upaya pembatalan, dan keterangan kemungkinan refund tiket masih simpang siur. Hawa di grup seketika panas karena Jojo dan Imon panik. Saya yang masih disibukkan dengan deadline yang harus tuntas sebelum berangkat tidak sempat ikut bingung. Yang jelas, akhirnya kami memesan tiket baru *Sigh. Berat pak hidup ini, mau liburan aja ribet.

18 MARET 2015, D-DAY

Saya sengaja pulang lebih awal karena sangat mengantuk. Nanti malam, saya akan menjajal rute Madiun-Surabaya secara penuh tanpa disubstitusi. Jujur saya sangat menanti-nanti malam ini! haha, nggak penting sih misinya..tapi saya kepengin banget nyetir Madiun-Surabaya. Kami berencana untuk berangkat jam 20.00 WIB setelah Jojo menyelesaikan pekerjaannya. Hujan masih saja tidak berhenti sejak sore, menemani saya yang masih berusaha merem tapi gagal. Hingga kabar di grup kembali membuat saya lemes: Pesawat kembali mengalami penundaan keberangkatan. Ahhh...seketika pengen krubutan slimut dan tidur sampai pagi. (Bersambung)