Tampilkan postingan dengan label Manusia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manusia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Februari 2015

Curhat Anak Petani

foto: http://kabupatenmadiun.blogspot.com/

Harga beras naik sekitar 30%, mari nanti kita lihat apakah harga gabah juga naik. Disitu para petani menggantungkan nasib. Menanti  penuh harap tiga bulan dari menyebar benih hingga menunggu bulirnya menguning.

Saya tumbuh dan besar sebagai cucu seorang petani, anak petani, hidup di lingkungan petani. Setiap pagi, membuka pintu depan rumah akan langsung terlihat hamparan hijau sejauh mata memandang. Juga ketika membuka pintu belakang, masih disambut hijau batang-batang padi yang tegak tapi merunduk. Ini rumah apa gubuk pak tani kok ditengah sawah? hehe, begitulah nyatanya.

Tiga kali dalam satu tahun, bapak ibu saya dipusingkan oleh masa tanam-semprot pupuk-menyiangi rumput-hingga panen. Mahalnya air yang amu tidak mau harus dibayar per jam untuk mengairi selama beberapa minggu sekali. Padahal rumah saya termasuk daerah yang cukup bagus air tanahnya, yang masih bisa mengalir deras meskipun disedot oleh beberapa mesin diesel sekaligus. Bagaimana yang didaerah sulit air? bisa tanam-panen tiga kali dalam satu tahun?

Tidak sampai di situ. Sekarang ini, mencari orang untuk mengerjakan sawah susah-susah gampang kata orang-orang. Ketika musim tanam, tenaga untuk menanam padi -tandur, istilahnya, sangat sulit dicari. Yang biasa tandur pasti kelarisan, akhirnya ya terpaksa impor tenaga dari daerah lain. Menggarap sawah memang tidak lagi hits bahkan di desa sekalipun. Kotor, berjibaku dengan lumpur, nggak keren, nggak intelek. Sadis? lha memang tampilan dan kenyataannya seperti itu. Yang intelek kebanyakan pindah ke kota, caru duit gede alasannya. Lah, nyari yang segede apa? yang paling lebar ya yang lima puluh ribuan itu to?

Tidak ingin menyalahkan pihak manapun. Memang mungkin belum saatnya saja petani berjaya. Pertanian beken disebut dan dimanfaatkan. Meskipun katanya Indonesia negara agraris tapi sepertinya percepatan, perkembangan di bidang pertanian belum terlihat secara nyata. Setahu saya, petani masih harus berjuang sendiri, ada sih KUD Tani yang saya belum tahu benar kalau yang petani kecil seperti bapak saya mendapat manfaat apa. Da perasaan mah, air, pupuk, upah tenaga juga dibayar sendiri. Kadang bapak saya juga 'nyemplung' sendiri, secara bapak saya ini memang dasarnya hobi nyawah. 

Ah kapan ya, pertanian mendapatkan giliran seperti sektor perikanan sekarang. Bu Semmenteri mulai bergerak mengamankan aset perairan. Ramai disebut di media, langkahnya tepat, menguntungkan para nelayan. Bagaimana Pak Menteri? kapan para petani ini mendapat giliran? Kenaikan harga beras yang sepagi tadi ramai dibahas di televisi apakah akan diikuti kenaikan harga gabah? Memang, petani bisa hidup dengan 'cukup'. Kalau kata bulik saya,"Lha memang adanya itu, ya dicukup-cukupkan", meskipun beliau juga sempat curhat betapa pusingnya memutar uang untuk bisa tetap tanam di musim berikutnya. 

Saya nulis begini memangnya mau apa sih? hmmm..curhat saja kali ya. Belum bisa mencari apalagi memberikan solusi. Tapi sepertinya kalau para lulusan institut pertanian itu diberi kesempatan untuk mengeksplorasi lahan dengan ilmunya hasilnya akan lebih baik? iya nggak sih? berapa banyak yang benar-benar berkiprah secara nyata untuk mengolah lahan pertanian? kalau takut kotor ya bagaimanalah caranya biar nggak kotor-kotor banget. Selain panca usaha tani, ada lagi kah terobosan yang bisa diaplikasikan?

Dan, saya tidak bisa menjawabnya sendiri.

*jangan serius-serius bacanya, saya nulisnya biasa aja sih :D

Selasa, 27 Januari 2015

Gunung dan Laut, Lagi!

Saya berjalan lambat-lambat di belakang Imon dan Ocha. Jojo masih berjalan pelan meniti turunan di belakang. Sembari menahan agar tidak terpeleset saya melangkah tertahan, melempar pandangan sekali lagi ke sisi jurang menganga. Warna hangus dan lumut di sepanjang jalan menjadi teman saya menyepi di tempat yang jauh dari sepi.

Akhir Minggu lalu, saya randomly terjebak dalam sebuah perjalanan mendadak ke Banyuwangi: Ijen dan Red Island. Berangkat dengan persiapan seadanya, tanpa itinerary dan budget plan yang jelas, Sabtu sore Saya bersama Imon dan Jojo turun tergesa di Setasiun Sepanjang. Langit sudah berubah pekat ketika kami tiba. Benar saja, hujan segera datang tak lama kemudian.

Perjalanan panjang kami tempuh menuju Banyuwangi. Kawah Ijen menjadi tujuan pertama malam ini. Sekitar pukul 02.00 WIB kami sampai di lokasi. Para om-om segera menyiapkan peralatan dan perbekalan, ohya, perkenalkan teman seperjalanan saya kali ini: Imon, Jojo, Ocha, Sarip, Zainul, Lingga, dan Rosip. Lima diantaranya baru saja saya temui sore itu. Perjalanan panjang kali ini dihabiskan dengan segerombolan om-om ajaib yang ternyata sama serunya dengan anggota kelas bunga, setipe dan sama nggak jelas nya dengan mereka! haha!

Perjalanan menuju puncak ijen ternyata lumayan juga. Saya yang memang sejak awal tidak menyiapkan sandal gunung harus ekstra hati-hati menahan keseimbangan agar tidak terpeleset. Untung saja malam itu cerah. Meskipun dengan terengah-engah dan berkali-kali hampir menyerah karena medan yang semakin sulit akhirnya kami berhasil sampai kawah pada pukul 04.00 WIB. 

Kami memandang blue fire dari kejauhan, sejujurnya saya tidak menemukan yang istimewa dari blue fire ini. Padahal saya sudah berkacamata, tapi masih terlihat blur dan ..entahlah, tidak semenarik ceritanya saja. Tapi ketika pagi tiba, seketika kami disuguhi pemandangan yang luar biasa! Subhanallah, kawah besar berwarna hijau diselimuti asap kuning belerang, dengan bayang-bayang siluet bukit di permukannya membuat saya menganga. Allah memang tidak pernah gagal dalam menjadikan kata indah dan luar biasa untuk saling menerangkan satu sama lain. 

Saya dan Imon memilih lebih dahulu untuk meninggalkan para om-om untuk melanjutkan perjalanan menuju kawah yang memang masih harus turun ke bawah lagi. Kami berdua kembali menyusuri jalanan yang tadinya gelap tetapi kini menyuguhkan pemandangan yang luar biasa indah. Di sepanjang jalur pendakian, rupanya lereng yang ditumbuhi lumut membujur panjang, berdampingan dengan jurang landai berpasir. Sedari tadi banyak para pengangkut belerang berlalu lalang sembari memikul dua buah keranjang penuh-penuh, bersimbah keringat, menantang bahaya mendaki dan menuruni jalanan sempit dan curam. Saya terpekur sesaat, sembari bertanya kepada Imon,

"Kenapa di tahun 2015 masih saja ada orang-orang dengan kondisi seperti itu ya Mon?"

"Terkadang mereka bukannya tidak memiliki pilihan, tapi mungkin karena hanya itulah pilihan terbaik yang mereka miliki,"

Obrolan siang tadi di kereta tentang kondisi sosial masyarakat di Indonesia bersama Jojo memang masih melekat di kepala saya. Tentang kesenjangan, tentang prinsip hidup dan pendangan terhadap materi dan ilmu. Bagaimana di zaman sekarang uang memiliki kendali penuh terhadap banyak hal, banyak orang. Bahkan di tempat seperti ini, yang jauh dari hiruk pikuk kota besar. Uang masih saja memaksa manusia melakukan apapun, bahkan menantang bahaya. 

Perjalanan menuruni Ijen memang tidak seberat ketika mendaki. Beberapa saya hampir terpeleset krikil dan pasir, untung saja tidak sampai terjatuh. Hampir tiba di ujung rute saya sesaat melamun, sembari memandang kedua punggung teman saya yang perlahan menjauh. Sudah satu tahun sejak terakhir kami berperjalanan bersama. Suatu saat nanti, tidak akan lagi semudah ini pergi begitu saja dengan ransel lalu mengarungi jalanan yang asing. 

Tapi bukankah memang perubahan adalah sebuah keniscayaan? kita tidak bisa menghindari perubahan, tapi bisa berkompromi dengannya bukan? 

Turun ke bawah dengan sedikit perasaan sendu. Ah, tapi rasa kantuk yang lebih dahsyat memaksa mood saya turun. Setelah beberapa kali berfoto saya bergegas menggelar ponco dan terlelap (sesaat) diantara obrolan Jojo, Ocha dan Imon. Ah sudahlah, saya tidak bisa lebih lama lagi menahan kedua mata untuk tidak tertutup.
***

Rupanya rasa kantuk yang mendera begitu mudah terkalahkan oleh lapar. Sambil memicingkan sebelah mata, saya mendapati Jojo mengelap lensa kamera, Imon dan Ocha juga sedang ngobrol ringan. Imon menawarkan sisa kue bekal kemarin siang melihat saya mencari-cari makanan. Maklum, semua sudah hapal kalau saya bisa 'rewel' banget kalau mulai lapar, haha. Disumpal sepotong brownies dan cemilan akhirnya saya bergabung bersama om-om yang mulai terbangun dan bersiap melanjutkan perjalanan. Red Island, kami datang!

Perjalanan menuju Red Island kami tempuh dengan susah payah. Lagi, ide perjalanan dari gunung ke laut dengan mengandalkan GPS memang tidak bisa diandalkan, haha! Kami berkali-kali bertanya dan mendapati rute dengan jalanan yang rusak parah. Gimana saya bisa lanjut tidur kalau mobilnya gerak-gerak kaya kora-kora macem ini, heeyyy?? akhirnya hanya bisa merem-merem nyender dengan badan berkali-kali terguncang, sembari becanda menghibur diri *melas.

Sudah hampir dua jam dan belum terlihat ada jalanan bagus dan meyakinkan. Saya sempat turun untuk numpang ke kamar mandi di salah satu rumah warga ketika Sarip berhenti untuk bertanya. Dan ketika kembali saya disambut oleh es potong dan cilok! hahahaha, ini om-om ngeborong jajan di depan rumah orang! Another random action yang kocak, saya sih bahagia saja menerima sepotong es dari Ocha dilanjut seplastik cilok, laparnya kakaaaa..belum sarapan padahal abis hiking.

Setelah selesai ngemil, perjalanan kembali dilanjutkan. Adegan sasar menyasar masih berlanjut hingga beberapa jam kemudian, Akhirnya menjelang tengah hari, kami menemukan sign system menuju lokasi dan sampai dengan bahagia tiada terkira *mulai alay ya bahasanya.

Pasir putih dan angin laut menyambut kami seketika. Aaahhhh..lautan! Saya selalu tidak bisa tidak cinta dengan pasir putih dan ombak. Dari kejauhan terlihat tenda berwarna merah dan kursi malas yang berjejer rapi. Lumayan ramai sih, maklum hari Minggu. Ocha, Jojo dan geng Om-om segera bergegas melepaskan alas kaki dan menghambur ke pantai, lalu rebahan manis di kursi malas. Saya dan Imon memisahkan diri untuk sesi foto-foto sembari menikmati pemandangan. Ini sih sebanding dengan perjalanan setengah hari tadi. Saya lupa pegal-pegal akibat terguncang di jok belakang sepanjang hari.

Acara standar sih ya di pantai, minum es kelapa muda, foto-foto, bermain air, capek, lalu pulang. Dan coba tebak takdir apa yang harus saya terima setelah ini? Menyetiri om-om tadi sepanjang jalan pulang, sekuatnya deh sampai mana. Hahahaha, saya sih ngakak miris, ujung-ujungnya saya nyopir lagi..Serius nih kalian? tanya saya lagi. Tapi muka Sarip sudah kucel ngantuk setengah mati, yamanalah saya tega. Serem juga kali dibonceng mas-mas yang ngantuk berat. Oke baiklah, lagipula mengemudi lebih menyenangkan daripada dikocok di jok belakang. Hari itu saya mendapatkan gelar sopir Pantura.

Menyusuri jalur Pantura di malam hari melenakan rupanya. Jalanan sepi dan gelap membuat saya tanpa sadar memacu kecepatan tinggi. Beberapa kali sempat diprotes "jangan ganas-ganas, Kooo!", juga sempat membuat dag-dig-dug karena gagal putar balik, nyasar di halaman rumah orang. Sampai malam saya ditemani Imon dan Rosip yang masih siaga di setiap persimpangan. Jam 21.00 dan saya menyerah, upaya duet, trio hingga choir acapella sudah tidak mempan. Saya mulai mengantuk. Permen dan cemilan sudah tidak membantu. Imon menggantikan saya segera setelah berhenti untuk mengisi bahan bakar di Situbondo.

Kami kembali melaju di jalanan antar kota. Jok belakang mulai sepi. Sudah sejak tadi Jojo menyalakan MP3 dari ponsel untuk menghalau rasa kantuk saya dan Imon. Kami mulai mencari-cari lagu apapun dan diulang berapa kalipun hanya agar tidak tercipta keheningan. Beberapa kali Ocha sempat mengecek dari belakang kami ngantuk apa tidak sampai akhirnya dia tertidur juga. Jojo bertahan sambil sesekali kehilangan kesadaran, tidur-bangun-tidur-bangun. Saya mulai kehilangan fokus, saya mulai meracau. Mengobrol setengah bermimpi, berusaha mempertahankan kesadaran. Imon dan saya sudah mulai mengeluh satu sama lain, ngantuk berat! 

Demi mengusir kantuk, saya bernyanyi keras-keras lagu apapun yang terlintas. Hening, lalu saya mendengar Imon memanggil, 'Ko," Iya Mon! siap, saya harus kembali terjaga sambil sesekali mengambilkan Imon camilan. Dan bagian paling epic adalah ketika saya randomly menyanyikan sepotong lirik dari Donna Donna, lagu soundtrack film Gie. Kok ternyata Zainul dan Jojo ikut menyahut, belakangan saya menyadari kalau mereka turut prihatin terhadap kami yang setengah mati menahan kantuk. Rosip masih siaga beberapa kali ketik kami hampir salah jalan.

Lewat tengah malam dan kami baru sampai Bondowoso. Ah entah berapa lama lagi saya harus menahan kantuk. Kami berdua masih saling bahu membahu melakukan apa saja agar tidak tertidur. Ngobrol ngalor ngidul, menyanyi tidak jelas, hingga akhirnya mulai masuk tol dalam kota menuju Bungurasih. Beberapa orang mulai terjaga mencari-cari uang kecil untuk membayar tol, lalu tertidur kembali. Imon semakin kehilangan fokus, berkali-kali bertanya, "Ada motor di depan??" dengan nada panik. Saya yang sedari tadi menjawab, kosong, salip, ambil kiri, jangan turun dari jalan seperti kernet Sumber Sla*met, sempat keki juga. Ini di jalan tol kaka Imon, mana ada motor??

Hampir pukul 01.30 dini hari akhirnya kami masuk pelataran parkir Bungurasih. Saya sudah tidak sabar turun dan segera membereskan barang di bagasi. Rencana pulang isya sudah gagal total, haha. Prediksi kami, subuh nanti baru akan sampai Madiun. Kami semua, kecuali Ocha harus bekerja pula hari ini *lemes. Setelah dadah-dadah dan bertukar ucapan terimakasih kami akhirnya berpisah. *Ohya, sebelumnya Sarip menawarkan untuk ikut trip lagi minggu depan ke Madura. Kali ini saya harus menahan diri, tidak Ko, ingat Maret. Masih perlu nabung lagi buat bekal, hahaha. 

Setelah sholat di pelataran mushola *moshola di Bungurasih tutup pukul 21.00 dan baru buka lagi pukul 03.00, kami bergegas mencari bus. Ocha sempat menengok dan bertanya, "mau makan dulu nggak?", karena sedari tadi saya heboh kelaparan, mencari-cari sisa roti kismis di mobil. Saya menggeleng ngantuk, kode "Nggak, langsung aja cabut deh,". Kami segera menuju Sumber Sla*met dan mencari tempat duduk. Sesaat kemudian saya berpamitan kepada mereka bertiga sembari mengucap salam, "Mon, Jo, Cha, duluan ya, Assalammu'alaikum". Akhirnya, saya bisa tidur dengan tenang.

Badan saya terguncang-guncang dan beberapa kali melorot akibat bus yang melaju kencang. Baru satu jam-an dan Imon berkata sudah sampai Kertosono. Wah, cepat, gumam saya sambil mengantuk. Saya melanjutkan tidur hingga kembali terbangun ketika kernet berteriak, "Madiun, Madiun..siap-siap." Saya berdiri dengan mata setengah terpejam membangunkan Jojo yang masih tertidur di depan. Akhrnya, jam 04.00 pagi, kami tiba di Terminal Purabaya, Madiun. Dadah-dadah pada Ocha yang masih melanjutkan perjalanan ke Maospati dan Jojo yang segera mencari ojek, lalu saya dan Imon menunggu di jemput di pintu depan. Tidak berapa lama kemudian, Ibu Imon datang menjemput. Kami berdua menghempaskan badan ke jok mobil, dan menuju rumah.

Saya sampai di rumah ketika adzan subuh sayup-sayup terdengar dari masjid. Bapak sedang mengeluarkan motor hendak ke masjid ketika saya turun dari mobil. Setelah mengucapkan terimakasih pada Ibu Imon saya bergegas masuk, melempar tas, ganti baju dan sholat subuh. Akhirnya sampai juga di kasur. Senin pagi, dan saya jatuh tertidur seperti orang pingsan sepanjang pagi. Perjalanan penuh ke-random-an ini berakhir bahagia.

Tulisan mengenai perjalanan ini juga ditulis oleh Imon di Banyuwangi: Ijen, Bayuwangi: Ijen Part 2 , dan Banyuwangi: Ijen Part 3 dalam versi lebih detail dan lebih panjang *dan konon masih bersambung.

Mendaki Ijen bersama Om-om
(Masih) Bersama om-om di Red Island
Setiap perjalanan menawarkan cerita yang berbeda. Menghadirkan sensasi yang berbeda. Laut dan gunung memang selalu berjauhan. Tapi bukan berarti tidak bisa dihampiri dalam satu waktu. Setelah Papandayan-Rancabuaya kini Ijen-Red Island. Dari kereta hingga bus kota, mulai topik sejarah nusantara hingga pertanyaan 'Kapan' dan 'Siapa'. Waktu akan terus berjalan, semakin cepat tanpa pernah melambat. Tak menawarkan penghapus tapi menjanjikan banyak lembar baru. Perjalanan memberikan makna terhadap banyak hal yang sering kita lupa. Tuhan menyelipkan banyak hal untuk membuat kita mengingat bahwa selalu ada campur tangan-Nya dalam setiap peristiwa. Juga dalam pertemuan dan perpisahan.

*Foto diambil dari Flickr Yohanda Mandala a.k.a Jojo (jokidz90)

***

Rabu, 14 Januari 2015

Bicara Tentang Kematian

Terkadang kita lupa, bahwa dunia adalah fana. Kehidupan berjalan bersisian dengan kematian. Begitu juga dengan hari baik dan hari buruk, bagi saya sejatinya keduanya adalah sisi mata uang. Tergantung dari mana kita melihat. Keduanya ada, bersama, bukan saling menggantikan.

Saya nggak yakin lho sebenarnya mau nulis apa, ha!Tapi kan beberapa hari yang lalu saya berjanji akan kembali aktif blogging, menulis. Dan topiknya pun apa saja, terserah, nggak perlu berat, ringan-ringan kapas lah

Ohya, apakah saya sudah bercerita kalau saya sedang ikut les berenang? Tentu saja belum, wong blognya saja baru diupdate minggu lalu. (monolog)

Biarkan saya bercerita ya kalau begitu. Sudah lebih dari setengah tahun rasanya saya les berenang. Wuih, gaya ya, sudah jago dong sekarang, 6 bulan gitu? Sayang sekali, belum. Dan Maret semakin dekat, deg-degan nggak sih? saya nggak mau melewatkan pemandangan bawah lautnya 3 gili nanti, atau terpaksa 'nggandul' mas-mas tukang kapal, dan nggak punya foto underwater

Lupakan sebentar tentang foto underwater.

Sore tadi, sebelum 'berenang mandiri', (sebutan imon atas acara berenang sendiri karena pelatihnya tidak bisa hadir-red) saya mampir takziah ke rumah Bu Rina. Bu Rina inilah yang melatih kami berenang, dan sekarang sedang mendapat ujian dari Allah. Suaminya baru saja dipanggil Allah, dalam keadaan sehat. Meskipun dalam keadaan sehat, sebelumnya suami beliau memang sempat di rawat di Rumah Sakit karena penyakit diabetes. Tapi terlepas sakit atau tidak penyebabnya, bukankah kematian memang selalu datang tanpa memberi aba-aba? 

Mengapa kematian seolah olah menjadi hantu yang menakutkan bagi manusia hidup? bukankah setiap yang bernyawa akan merasakan mati? Tapi mengapa manusia diberikan insting untuk bertahan hidup? untuk berlari, menyelamatkan diri dari kematian?

Ah, saya bicara seolah-olah saya sudah siap mati. Apalah saya ini, setitik debu di alam semesta, yang bahkan untuk bangun di sepertiga malam terakhir pun enggan. Yang doa harian saja terpatah-patah luput dari hafalan. Yang mengaji saja, dengungnya kurang lama. Yang berenang di kolam satu meter saja takut tenggelam. Kontras, saya juga takut mati. 

Barusan, ibu saya mendapat telepon kalau om saya mengalami kecelakaan. Ibu panik di telepon, saya panik tapi tidak tahu harus ngapain. Saya ditinggalkan di rumah dan akhirnya membuka blog dan menulis, setelah lega mendapat kabar om saya baik-baik saja. Tadi, saya sholat isya' dengan pikiran ngglambyar kemana-mana, mengkhawatirkan kemungkinan terburuk. Alhamdulillah, situasi masih aman terkendali, om saya sehat, sesak dan muntah tetapi masih harus diobservasi lebih lanjut, khawatir luka dalam.

Lalu saya menyadari, kematian begitu dekat. Hidup berjalan beriringan dengan mati, mereka hanya menunggu kapan gilirannya tiba untuk bertukar shift. Keduanya siaga, saling menahan diri. 

Saya tentu saja tidak tahu kapan akan mendapatkan giliran. Takut mati? untuk sekarang, ya. Masih takut mati, jawabannya klise tapi tidak mengada-ada. Apa yang bisa saya bawa untuk perjalanan panjang menghadap Tuhan nantinya? Rapor hasil ujian kehidupan, hasil yang ditulis malaikat, ketahuan nanti kalau saya masih sering melamunkan hal remeh temeh macam: "Kapan gue ketemu jodoh?" bapak saya bahkan paranoia saya kenapa-napa sebelum sempat menikah lantas keluarga kami harus menghadapi kepunahan. Pupus, lenyap dari muka bumi.

Tapi bagaimanapun caranya, kita tidak bisa lari. Kematian bukan hanya urusan meninggalkan dunia. Tapi kematian meninggalkan jejak dalam orang-orang yang pernah berinteraksi dengan almarhum/almarhumah. Kisah manusia di alam dunia terputus dengan satu kata: Mati. Tapi ada tiga kata yang hidup selamanya: Amal, doa (anak shaleh/sholihah), dan Ilmu. Lalu seberapa banyak yang telah kita punya? 

Pertanyaan ini menohok ulu hati saya. 
Sekian.

Jumat, 01 November 2013

SPN #4: Melestarikan Umat di Muka Bumi

Bismillahirrahmaanirrahiim..
Akhirnya saya diberi kesempatan untuk menyicil janji untuk menuliskan ilmu yang diperoleh dalam Sekolah Pra-Nikah. Materi hari ini ssebenarnya merupakan materi pertemuan ke-4 meskipun kelas SPN baru terlaksana sebanyak 3 kali selama bulan Oktober. Agar tidak terlalu banyak yang terlupa maka saya akan menuliskan yang paling baru terlebih dahulu baru menyusulkan materi dari dua pertemuan sebelumnya. Semoga bermanfaat :)



“(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” [QS. Asy Syuro (42):11]

Salah satu tujuan penting yang tidak dapat ditinggalkan dalam membangun pernikahan adalah memperbanyak keturunan yang nantinya akan terus mengakkan agama di muka bumi. Sejak di bangku sekolah kita semua pasti sudah memahami adanya proses yang dilalui oleh makhluk hidup untuk menghasilkan keturunan. Manusia, yang didaulat menjadi khalifah di muka bumi pun demikian, secara alami memiliki naluri untuk melestarikan keturunan. Bagi sebagian orang, membicarakan seks seringkali masih dianggap tabu. Dalam pertemuan terakhir SPN, pemateri menjabarkan bahwa urusan hubungan suami istri tidak jarang menjadi akar permasalahan dalam rumah tangga. Oleh karena itu, sebenarnya hal ini tidak kalah penting juga untuk dipelajari dan dipahami.

Ah..sebenarnya saya agak bingung juga bagaimana menuliskan materi ini di blog. Terlepas dari berbagai penjelasan yang bersifa teknis, keberhasilan dalam hubungan antara suami istri sebenarnya tidak bisa lepas dari penerimaan dan pengertian antara satu sama lain. Seorang suami harus dapat mengerti kondisi istrinya, begitupun dengan istri. Kondisi di sini berarti luas, mulai dari kondisi fisiknya maupun psikisnya. Dengan begitu, terjadinya kesalah pahaman bisa dihindari dan kedua belah pihak tidak akan merasa dirugikan. Secara anatomi pria dan wanita memiliki anatomi yang berbeda. Fase-fase yang dicapai dalam hubungan seksual antara pria dan wanita pun berlangsung dalam titik dan durasi yang tidak sama. Berbeda dengan pria yang hanya mengalami puncak dalam durasi waktu sekitar lima menit, wanita cenderung lebih lama sebelum mencapai puncak dalam hubungan seksual. Oleh karena itu disunahkan untuk melakukan foreplay atau pemanasan terlebih dahulu, bahkan Rasul pun menganjurkan agar pria terlebih dahulu merayu wanita yang tidak lain adalah bagian dari foreplay tersebut.

Dijabarkan sedikit tentang pria yang dalam perjalanannya sebelum menikah menanggung keadaan harus menahan syahwatnya. Oleh karena itu, setelah menikah hasrat seksualnya begitu besar sehingga pemateri mengibaratkan seperti keran air yang terbuka pintunya. Dalam awal pernikahan tidak mengherankan jika pria memiliki hasrat seksual yang sangat besar bahkan tidak tertahankan. Berkaitan dengan hal tersebut, dianjurkan agar wanita tidak segera hamil sebelum hasrat tersebut reda.

Selanjutnya adalah sedikit mengenai kehamilan dan janin. Diterangkan bahwa sejak dalam kandungan janin telah memiliki ikatan yang kuat dengan ibu. Kondisi lingkungan yang buruk atau suasana hati yang buruk dapat berpengaruh langsung terhadap janin di dalam kandungan. Janin dapat merasakan apa yang ibu rasakan, maka jika kondisi mental sang ibu buruk janin akan stress bahkan mati. Sebaliknya jika kondisi ibu baik dan di dukung dengan lingkungan yang baik pula, janin akan tumbuh dengan baik. Yang paling penting untuk diketahui adalah, kondisi janin saat kehamilan rupanya sangat mempengaruhi pertumbuhan karakter. Jadi jika ibu terbiasa marah-marah ketika sedang mengandung maka karakter tersebut akan terbawa pada janin, sebaliknya jika janin dilatih untuk sabar dan selalu dalam kondisi positif kelak dia pun akan memiliki karakter positif.

Sebagai penutup kita harus kembali pada konsep awal bahwa pernikahan merupakan sarana yang diberikan Allah untuk menghindari zina, bahkan mengubah apa yang dilarang menjadi berpahala.Yang perlu diingat lagi adalah niat di awal, bahwa menikah merupakan salah satu upaya untuk menyempurnakan agama. Dengan begitu, kita akan bisa memahami bahwa setiap orang memang tidak sempuna. Namun karena ketidaksempurnaan itulah pria dan wanita dipersatukan. Perbedaan dan kekurangan satu sama lain tidak seharusnya menjadi sumber keretakan rumah tangga. Jika salah satu dari pasangan memiliki masalah, sudah seharusnya hal tersebut dipecahkan bersama.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat, dan mohon maaf jika tulisan ini lebih banyak tidak jelasnya daripada penjelasannya. Referensi lain mengenai materi ini dapat di buka di tumblr Kurniawan Gunadi yang juga telah menuliskan tentang materi SPN. Semoga bermanfaat :D

Kamis, 24 Oktober 2013

Es Pe En

Pict: http://www.confetti.co.uk
Ketika menemukan gambar ini, tagline-nya tiba-tiba terdengar begitu menarik "Countdown to  your wedding". Saya memang dengan sengaja ingin menuliskan terkait countdown to 'this things you-know-what" karena bagi angkatan saya, saat ini topik menikah dan pernikahan sedang sangat naik daun. 

Bagaimanapun, hal tersebut sangat berdampak pada kehidupan pribadi maupun sosial seseorang di usia 20-an. Saya sendiri saat ini sedang berada di-awal-menengah- usia 20-an, dengan berbagai pertanyaan "Sudah punya pacar belum?", "Kapan dikenalin pacarnya ke kita?", hingga "Kapan menikah?" yang santer dimana-mana. Sebelum akhirnya ada yang bertanya, "Mau nggak, nikah sama aku?" #tsaaahhhh..saya merasa sangat perlu untuk mengambil ancang-ancang menuju pernikahan. 

Akhirnya, dalam rangka mempersiapkan keberhasilan menuju pernikahan yang entah kapan tiba masanya, daripada galau tak berujung mari kita bersiap. Saya memilih memulai dengan mempelajari teorinya dulu. Pernikahan adalah sebuah awal perjalanan, bukan akhir muara. Di dalamnya setengah iman yang digenapkan oleh ijab qabul diuji keteguhannya. Ia adalah sebuah perjanjian suci, yang menghalalkan apa yang sebelumnya haram bahkan menjadikannya ibadah yang mulia. Nah, untuk itu bekal sangat perlu dicari dan dipersiapkan. Sebelum bekal jodohnya diberikan sama Allah, yasudah cari bekal ilmunya dulu, hehe. Mulai bulan Oktober ini saya telah memantapkan niat untuk mengikuti Sekolah Pra-Nikah. Bukannya saya sudah mau menikah bulan depan atau dua bulan depan, tapi ya siapa tahu Allah kapan akan mempertemukan? 

Dalam rangka membagi ilmu dan memantapkannya di kepala, tulisan mengenai Sekolah Pra-Nikah (SPN) InsyaAllah akan diposting agar ilmunya tidak hanya mandeg di buku catatan dan pikiran saya. Sebelumnya sudah ada beberapa teman yang juga menuliskan tentang hal yang sama di SPN angkatan sebelumnya, insyaAllah nanti di link-kan agar bisa menjadi referensi.  Semoga Allah memberikan kelancaran dan menjauhkan dari rasa malas untuk menuliskan tentang SPN di sini.

Sabtu, 25 Mei 2013

Manja


Hari ini, kalender rupanya berwarna merah. Bukan lagi kejutan karena memang sudah sejak lama sengaja diingat-ingat. Satu minggu terakhir, ah tidak..sepertinya satu bulan terakhir alhamdulillah didera kesibukan yang rasanya tidak bertepi. Lelah?lelah sekali, hingga tanpa sadar membuat sesumbar berbagai reward apa yang harus diberikan pada diri sendiri atas aksi 'jungkir balik' belakangan.

Semudah itu rupanya untuk menjadi lelah. Lelah terhadap rutinitas dunia, lelah dengan kondisi yang menjemukan, lelah membimbing diri sendiri. Belakangan, di dalam deraan kesibukan, rupanya keluhan terlalu mudah diratapkan. Mengeluh betapa 'sibuk' nya satu hari duduk-sampai-capek di kantor juga 'sibuk' memanajeri mata yang melek-sampai-burem di depan komputer, yang bukan saja pedas bukan main tapi juga mengantuk bukan main. Mengeluh betapa sedikit-nya jatah "me-time" yang tersisa sembari diam-diam mengutuki berbagai macam orang dan keperluan yang tidak sudi meninggalkan kesunyian di kamar.  Mengeluh betapa waktu begitu cepat bergulir tanpa mampu menikmatinya, bahkan untuk sekedar tidur siang. Wah, panjang juga rupanya daftar keluhan ini.

Sampai di tengah siang bolong, sembari duduk merosot di kursi tulisan seorang sahabat  menampar pipi saya. Sakitnya di hati, tertohok antara malu dan. .malu lagi. Betapa sang sahabat, yang hidupnya didedikasikan untuk umat masih mampu menuliskan dengan semangat betapa nikmatnya mengurus banyak hal. Kepentingan jamaah, umat, misi dakwah, yang diprinsipkan menjadi lebih utama dari 'nafsu' pribadi menjadi spirit booster yang luar biasa. Beliau hampir tidak memiliki waktu bagi dirinya untuk sekedar menikmati waktu luang, "teringat ada banyak hal yang harus diselesaikan. ." tulisnya. Betapa luar biasa? bagaimana bisa? Seketika, di kepala muncul berbagai kelebat pikiran dan pertanyaan:
Jika yang seperti ini saja, yang selalu disibukkan oleh urusan jamaah, tanpa peduli siang-malam,liburan atau tidak libur. Selalu dan selalu memikirkan umat, pekerjaan mulia yang begitu mendasar dari seorang manusia saja, tidak kenal dengan kata lelah. Lantas, dapat hak prerogatif dari mana seorang manusia sok sibuk-pengejar eksistensi semu-penuh sesumbar hedonisme dunia ini mengeluh pada pada Tuhannya?


Oh, tidak juga sekedar mengeluh. Bahkan juga merengek lewat doa-doa kilat selepas sholat yang jiwanya terbagi. Merengekkan dunia dan isinya, mengeja keinginan yang boro-boro menyangkut umat. Betapa memalukannya, yang mengeluh lelah hanya karena seminggu terakhir kurang tidur karena -proyek-entah-apa dan sumpah-demi-apa-itu. Betapa memalukannya, yang mengeluh karena satu dua tanggal merah terinterupsi acara silaturahmi, yang mengeluhkan dua jam halaqah untuk peningkatan kualitas diri. Betapa egoisnya diri ini sebagai seorang manusia? Betapa manjanya? menuntut dan terus menuntut pada Sang Pencipta tanpa terlebih dulu melaksanakan kewajiban.
Ah, iya terlalu manja. Sedikit saja diberi kesibukan mengeluh. Sedikit saja diberi tanggung jawab melenguh. Takut menanggung resiko lah, tidak mau ambil pusing lah, dan entah berapa juta alasan lagi yang akan dilontarkan. Tapi sebenarnya hanya satu: Manja. Badan yang tidak lagi dinavigasi oleh jiwa yang sehat ini harus segera direvitalisasi! bergerak, bergerak, bergerak! bukan hanya badan tapi juga pikiran. Bukan sekedar lari pagi melainkan kontribusi. Tersedia banyak pintu untuk menuju perbaikan diri, juga dari aksi 'sok manja' ini. 

Bukankah pula Tuhan telah berjanji takkan menguji di luar kesanggupan seorang manusia? menjadi manja hanya akan mematahkan langkah menjadi seorang yang lebih luar biasa.  Jadi, jangan cuma meminta dimudahkan saja, jangan manja!


Kamis, 11 April 2013

Manusia: Perempuan

picture: www.ourvoice.org
Kartini. Dimana namanya diabadikan dalam sebuah hari perayaan. Emansipasi, persamaan derajad, bergaung hingga puluhan tahun sekalipun Kartini telah tiada. Akankah Kartini, jika Ia kini masih ada, menangis atau tesenyum menang melihat para perempuan setelah ditinggalkannya?

Emansipasi. Pembebasan dari perbudakan, persamaan hak di berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dalam konteksnya sebagai seorang pahlawan bagi kaum perempuan, Kartini menyadari betapa kaum perempuan pada masanya tak lebih dari makhluk rendah yang dipandang sebelah mata. Lantas jika Kartini telah berupaya membebaskan para perempuan, akankah kini para perempuan benar-benar telah terlepas dari penjajahan? apakah para perempuan yang diperjuangkannya kini memaknai dengan bijaksana kebebasan yang Kartini dapatkan berpuluh tahun silam itu?

Tidak hendak menggugat perjuangan Kartini. Tapi apakah Kartini menyangsikan peran dan tugas perempuan sebagai seorang istri, seorang ibu? Apakah lantas Kartini merelakan dirinya dieksploitasi zaman, menghambakan diri dalam kejayaan masanya, pada tuan penjajah yang kini disebut modernitas? 

Perempuan. Sayangnya betapa banyak dari jumlahnya yang konon diciptaka lebih banyak dari lelaki menyadari kedudukan dan kehormatannya. Yang sadar siapa dirinya, untuk apa dia ada dan diciptakan sebagai perempuan. Untuk menjadi pemimpin bangsakah? Untuk menjadi komoditas dibalik topeng keindahankah? Atau justru menjadi objek yang menyerahkan diri untuk dieksploitasi?

Perempuan, dengan kekuatannya yang tidak disangsikan dan persamaan derajadnya yang juga diagungkan dalam kitab suci, seringkali lupa akan siapa dirinya. Lupa betapa berbahayanya kekuatan yang Ia miliki, lupa akan betapapun kuatnya Ia adalah porselen rapuh, lupa bahwa dalam segala bentuk aturan yang hanya tampak sebagai kekangan merupakan upaya penyelamatan akan dirinya?

Lantas apakah Kartini akan bangga atas penafsiran emansipasi yang diperjuangkannya berubah menjadi sebuah arogansi dan pengagungan terhadap kata 'perempuan' itu sendiri? Benarkah perempuan seperti kini yang diinginkan oleh Kartini? Perempuan yang tidak mampu menghormati dirinya sendiri dengan alasan kebebasan, perempuan yang merusak dirinya sendiri karena alasan kesetaraan antara dirinya dan lelaki. Perempuan yang merasa paling berhak dibenarkan dan diagungkan tanpa merasa sadar ada perbedaan hakiki yang mengistimewakannya dari makhluk bernama lelaki.

Kesetaraan yang tidak serta merta setara, yang jarang ditelaah dengan sempurna apa maknanya. Digunjing, dicaci, dicurangi demi mendapatkan makna kesetaraan yang entah tepat untuk siapa. Perempuan dan emasnipasinya. perempuan dengan segala anggapan kesetaraannya. Sedang kini, dimana kalian berpijak wahai para perempuan?