Tampilkan postingan dengan label don't blame me :). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label don't blame me :). Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Mei 2015

Mendaki Piknik: Gunung Prau Wonosobo

Mengenali jalan yang harus dilalui ketika bepergian jauh itu nggak asik. Saya tahu pasti ketika jam 3 baru sampai Ngawi, Wonosobo masih nun jauh entah di mana. Hujan terlalu setia menemani dengan debit maksimalnya. Tengah malam, kami akhirnya tiba di pelataran parkir super ajaib. Selamat datang di Dieng.

Jadi ceritanya saya tetiba pengen nulis karena tadi siang habis diceritain mbak Euryka, seorang teman di KI Madiun yang desember kemarin habis muncak ke Semeru. Gilanya lagi, itu pendakian pertamanya brur, Semeru! yang bayanginnya saja saya merinding disko, pengen sih, pengen..mana ada yang selalu pamer-pamerin pulak itu semeru cakep banget. Hih, ntar deh ya..suatu hari nanti..

Lanjut ke cerita pendakian gunung Prau, dengan persiapan lari pagi ala kadarnya karena sempat nggak fit, akhirnya kesampaian juga acara weekend ceria ke Wonosobo. Perkenalkan anggota perjalanan kali ini: Saya, Imon, Niken, Zainul, Rijal, Mas Firman dan Yuni. Tiga terakhir yang saya sebut tentu saja kenalan baru yang baru hari ini saya temui. Nggak masalah, lanjut!

Malam sudah berubah menjadi super dingin ketika kami keluar dari mobil. Kami menyiapkan perlengkapan dan segera menuju pos pemberangkatan. Pos ini kabarnya sudah berpindah tempat setelah sempat ada perbaikan, yang semula di depan kantor desa, sekarang berpindah agak ke dalam. Tapi selow, banyak banget yang bisa ditanyain, nggak akan nyasar, pasti ketemu kok. Dari pos tersebut, kami mendapatkan peta jalur pendakian yang menginformasikan posisi pos pertama kedua dan seterusnya. Yasudahlah ya, rombongan kami segera berangkat karena sudah mulai dini hari, rencana membuat tenda pun sudah batal sejak beberapa jam lalu. Lha mau bikin tenda buat apa? masak sarapan?

Kami mengambil jalur Patak Banteng, yang terkenal sulit tetapi memiliki waktu tempuh lebih singkat dibandingkan jalur desa Dieng, yang memiliki medan landai tapi waktu tempuhnya sekitar 5 jam berjalan kaki. Baru saja berjalan beberapa langkah di kegelapan, tiba-tiba saja kami disambut dengan anak tangga yang membuat lutut gemetar. Baru juga 15 menit-an lah padahal..track menuju pos 1 rupanya memang intinya adalah anak tangga ini. Saya langsung ngos-ngosan, tapi masak iya mau langsung berhenti akhirnya saya sok asik sampai menemukan jalan yang kembali 'normal'. Setelah track tangga seribu tadi, kami disambut oleh pengecekan jumlah anggota dan himbauan untuk tidak meninggalkan sampah di gunung. 

Perjalanan kembali diteruskan ke pos 2 (Canggal Walangan). Kami melewati ladang. Asik lah ya lihat lampu-lampu. Sampai pada pos berikutnya, jalanan sudah mulai tidak bersahabat. Track semakin menanjak ditambah lagi bekas hujan membuat jalur semakin licin. Sepertinya di perjalanan menuju pos 2 ini Niken sempat berhenti karena pusing, begitu juga Mas Firman yang letih dan lemas. Akhirnya perbekalan dibongkar dan Zainul memasak air untuk membuat minuman hangat, setelah bistirahat sejenak perjalanan kembali dilanjutkan. 

Kami kembali berjalan beriringan sembari sesekali berbincang ringan. Jalanan gelap, apalagi saya tidak membawa senter karena rupanya senter kepala yang saya bawa tiba-tiba mati entah kenapa. Sejak tadi kami sudah aktif saling mengingatkan "jangan minggir-minggir' karena memang track berbatasan langsung dengan jurang. Karena kondisi yang gelap, kami juga tidak ada yang tahu pasti sedalam apa tebing yang menunggu di sisi kanan dan kiri. Enak-enak berjalan sambil mengobrol, tiba-tiba saja sesuatu terjadi. Dalam hitungan detik tubuh saya merosot ke bawah, "Sraak, brukk" Eh, ucap saya dalam hati, rupanya saya terperosok ke bawah, di bibir tebing! belum sempat panik sabil meraba-raba apa yang bisa saya jadikan pegangan, Niken, Zainul dan Mas Firman sudah terlebih dahulu berteriak untuk meminta saya mempertahankan posisi. Saya sempat bingung harus bagaimana, mencoba melompat tapi kok ya gagal, berat pak badan ditambah tas ransel isi cemilan. Akhirnya saya fokus ke instruksi: Diam aja di tempat. Oke, saya diam, trus apa? rupanya mas Firman dan Zainul kompak menarik badan saya ke atas, sedangkan imon membantu dengan penerangan. Yes, alhamdulillah, saya sudah sampai kembali ke jalan yang benar dengan celana dan baju belepotan tanah lempung. Terimakasih kakak-kakaak :D

Perjalanan kembali diteruskan. Pos 3 (Cacingan) yang kami tuju belum juga tampak. Rijal bersama Niken dan Yuni sudah jauh di depan meskipun sesekali berhenti untuk beristirahat. Jalanan semakin licin dan terjal. Beberapa kali kami dilewati atau melewati rombongan lain. Sempat untuk waktu yang lama kami sama sekali tidak bertemu dengan satu orang pun. Malam di tengah hutan, gelap, sepi, nggak berpikir ada dedemit sih udah untung saya, apalagi berpikir tentang cacing beneran -hororr. Saya melewati setiap tanjakan dengan berhati-hati. Sebisa mungkin memilih pijakan dan mengatur langkah, Ngos-ngosan, keringetan, dan kaki sudah mulai pegal tapi pos 3 belum juga terlihat. Zainul sih asik-asik aja loncat sana-sini, mas Firman terlihat sangat 'ngoyo' di belakang saya sembari mengikuti cahaya senter. Tapi di luar dugaan, tingkat ngos-ngosan ketika mendaki gunung Prau ini tidak sehebat ketika menyusuri tanjakan ijen. Perbedaan tersebut sangat dipengaruhi oleh keberadaan belerang, ijen yang merupakan gunung belerang memiliki tingkat oksigen yang jauh lebih tipis daripada Prau, sehingga lebih mudah menguras nafas.

Dijalur yang terjalnya membuat saya nggak habis pikir, tiba-tiba saya mendengar Imon berseru, "Ada talinya lhoo", wah, rupanya ada tali yang sengaja ditinggalkan untuk membantu pendaki. Bergiliran Yuni, Niken dan Imon melanjutkan ke atas. Giliran saya tiba, sebenarnya pikiran saya sudah nggak enak,  Iki tali kok posisine gak asik sih. Ah, yowislah..coba saja. Saya mencoba berpindah posisi agar bisa naik dengan pewe, berhasil, dan seharusnya saya melanjutkan mengayun langkah. Saya sempat berpikir sejenak  Ini talinya udah beneran lepas nggak sih? karena memang tadi sempat tersangkut di matras yang tergantung di sisi kiri ransel saya. Karena sudah males mikir, akhirnya saya melanjutkan mengangkat badan untuk mencari pijakan. "Bukk" yehh..saya terjatuh lagi. Benar saja, rupanya tali tambang tadi masih tersangkut di gulungan matras, mas Fajar reflek meneriaki saya agar berhati-hati, secara doi pas dibelakang saya banget, kalau sampai beneran terjadi, epic failed pasti.

Jalanan masih belum terlihat ujungnya. Rijal di depan mulai tidak yakin apakah jalur ini benar? belum lagi kami tidak bertemu satu rombongan pun selama beberapa lama. Kami istirahat sembari membongkar cemilan. Malam cerah, untung saja hujan sudah tidak lagi turun. Langit berbintang terhalang oleh dedaunan yang cukup lebat. Saya masih berusaha menikmati perjalanan, tapi pikiran saya tetap tentang puncak: Seperti apa, dan bagaimana rasanya berada di puncak. (Bersambung ah, ngantuk)

*Nggak ada foto di postingan ini, karena sepanjang perjalanan beneran deh saya nggak kepikiran buat foto-foto. Saya sebenernya nyari 'starry sky' tapi nggak nemu yang oke, dikepung tanah dan pohon, dipayungi rerimbunan daun. 
**Saya beneran sempat kepikiran "gimana kalau saya megang cacing", tapi bisa ditepis beberapa kali karena fokus tersita pada medan jalan yang licin.
*** Detail rute dari Madiun menuju Wonosobo tidak saya tulis karena panjang. Karena kami mengandalkan GPS, kami dilewatkan jalan alternatif. Sekedar informasi, jalan alternatif dari Madiun (belokannya sekitar daerah Sragen) menuju Wonosobo jalannya sempit dan bergelombang. Sehingga jalanan penuh dan perjalanan bukannya semakin singkat malah melambat. Saran saya, lewat jalur dalam kota saja lebih jelas petunjuk arahnya, dan jika ingin bertanya maka tanyalah kepada penduduk sekitar (dan jangan lupa meminta petunjuk pada Allah).

Sabtu, 17 Januari 2015

Baca, Baca, Baca!

Tahun lalu, menulis bagi saya adalah hal yang sangat berat untuk dilakukan. Kenapa? karena setahun belakangan saya nomaden, tidak memiliki kamar tetap yang bisa digunakan untuk menyepi. Sedangkan saya sama sekali tidak bisa menulis jika dalam kondisi ramai, rasanya nggak bisa lepas bebas. Padahal sebenarnya juga tidak ada yang mengintip sih..

Jadi setahun belakangan, saya menyebut diri saya sedang 'kehilangan kesaktian'. Tidak bisa menulis di Tumblr, apalagi di blog. Rasanya was-was dan khawatir, nanti kalau dibaca ini tulisan nyampah banget deh ya. Tapi tahun ini saya memutuskan untuk kembali menulis. Ah, biarkan saja orang berkata apa. Saya akan menulis, bahkan hal-hal yang random sekalipun.

Sebenarnya saat-saat ini, tidak ada kejadian berkesan apa gitu sih. Jadi untuk menulis seperti kehabisan bahan. Biasanya membaca merupakan jurus ampuh untuk memancing ide sehingga banyak ide bisa mengalir. Tapi beginilah, buku yang sedang saya baca inspiratif sebenarnya, sangat inspiratif malah. Tapi entah kenapa saya merasa topiknya agak berat, bahkan untuk mengikuti nya saja saya harus pelan-pelan. Efek lama tidak belajar juga berpengaruh mungkin ya. Ingin tahu buku apa yang saya anggap berat ini? Jangan tertawa kalau sebenarnya bukunya nggak 'seberat' itu. Saya sedang berusaha menikmati, 'Habis Galau Terbitlah Move On' karya J. Sumardianta. Bahkan tidak jarang saya harus mencari penjelasan tentang istilah-istilah bahasa indonesia dalam kbbi, atau sekedar wikipedia selama membacanya. 

J. Sumardianta memiliki kosa kata yang kaya, referensi cerita yang beragam, dan sumber yang luar biasa banyak pula. Beliau ini seorang pendidik, wajar memang ya seorang pendidik harus pandai, berwawasan luas, dan tepat sasaran. Tapi beliau agaknya 'di atas rata-rata'. Saya selalu senang dan kagum kepada orang-orang yang berwawasan luas, dan pada penulis yang 'berisi', bukan hanya menjual rangkaian kata indah tapi miskin makna. Terlebih humor seronok dangkal yang banyak beredar di pasaran.

Beberapa kali saya membaca buku, novel sih tepatnya, yang nggak jelas banget apa isinya. Ya memang buku murah, diskonan gitu, tapi saya tidak habis pikir kenapa ada penerbit yang mau menerbitkan. Ceritanya absurd, bahasanya saru, dan setelah selesai membaca pun, sepertinya saya malah kehilangan setengah akal karena jengkel. Kisah cinta memang menjadi topik yang tidak habis untuk ditulis, tapi ya mbok ya jangan gitu-gitu banget sih seperti di dunia ini tidak ada hal yang perlu diurus selain masalah cinta. 

Berbeda dengan 'penulis beneran', yang kalau membaca tulisannya kita mendapatkan sensasi yang lain. Gaya bahasanya akan sangat terasa berbeda. Kandungan informasi yang lebih bergizi juga sering didapat dari para penulis bagus. Karya favorit yang bisa membuat saya ternganga dan nagis bahagia, karena masih ada penulis yang se-oke ini adalah Supernova, Selimut Debu, Bumi Manusia, dan Negeri Para Bedebah. Saya pernah mencoba membaca karya penulis kawakan macam Buya Hamka dan N.H Dini, bahasanya bagus, ceritanya simple dan mengena. Tapi untuk yang N.H Dini ini temponya lambat. Mungkin karena yang saya baca adalah memoir. Ah, apalah saya ini berani mengomentari tulisan N.H Dini? coba, tulisan saya terlihat dibuat oleh 'orang yang membaca' tidak? *toyor kepala sendiri.


Rabu, 14 Januari 2015

Bicara Tentang Kematian

Terkadang kita lupa, bahwa dunia adalah fana. Kehidupan berjalan bersisian dengan kematian. Begitu juga dengan hari baik dan hari buruk, bagi saya sejatinya keduanya adalah sisi mata uang. Tergantung dari mana kita melihat. Keduanya ada, bersama, bukan saling menggantikan.

Saya nggak yakin lho sebenarnya mau nulis apa, ha!Tapi kan beberapa hari yang lalu saya berjanji akan kembali aktif blogging, menulis. Dan topiknya pun apa saja, terserah, nggak perlu berat, ringan-ringan kapas lah

Ohya, apakah saya sudah bercerita kalau saya sedang ikut les berenang? Tentu saja belum, wong blognya saja baru diupdate minggu lalu. (monolog)

Biarkan saya bercerita ya kalau begitu. Sudah lebih dari setengah tahun rasanya saya les berenang. Wuih, gaya ya, sudah jago dong sekarang, 6 bulan gitu? Sayang sekali, belum. Dan Maret semakin dekat, deg-degan nggak sih? saya nggak mau melewatkan pemandangan bawah lautnya 3 gili nanti, atau terpaksa 'nggandul' mas-mas tukang kapal, dan nggak punya foto underwater

Lupakan sebentar tentang foto underwater.

Sore tadi, sebelum 'berenang mandiri', (sebutan imon atas acara berenang sendiri karena pelatihnya tidak bisa hadir-red) saya mampir takziah ke rumah Bu Rina. Bu Rina inilah yang melatih kami berenang, dan sekarang sedang mendapat ujian dari Allah. Suaminya baru saja dipanggil Allah, dalam keadaan sehat. Meskipun dalam keadaan sehat, sebelumnya suami beliau memang sempat di rawat di Rumah Sakit karena penyakit diabetes. Tapi terlepas sakit atau tidak penyebabnya, bukankah kematian memang selalu datang tanpa memberi aba-aba? 

Mengapa kematian seolah olah menjadi hantu yang menakutkan bagi manusia hidup? bukankah setiap yang bernyawa akan merasakan mati? Tapi mengapa manusia diberikan insting untuk bertahan hidup? untuk berlari, menyelamatkan diri dari kematian?

Ah, saya bicara seolah-olah saya sudah siap mati. Apalah saya ini, setitik debu di alam semesta, yang bahkan untuk bangun di sepertiga malam terakhir pun enggan. Yang doa harian saja terpatah-patah luput dari hafalan. Yang mengaji saja, dengungnya kurang lama. Yang berenang di kolam satu meter saja takut tenggelam. Kontras, saya juga takut mati. 

Barusan, ibu saya mendapat telepon kalau om saya mengalami kecelakaan. Ibu panik di telepon, saya panik tapi tidak tahu harus ngapain. Saya ditinggalkan di rumah dan akhirnya membuka blog dan menulis, setelah lega mendapat kabar om saya baik-baik saja. Tadi, saya sholat isya' dengan pikiran ngglambyar kemana-mana, mengkhawatirkan kemungkinan terburuk. Alhamdulillah, situasi masih aman terkendali, om saya sehat, sesak dan muntah tetapi masih harus diobservasi lebih lanjut, khawatir luka dalam.

Lalu saya menyadari, kematian begitu dekat. Hidup berjalan beriringan dengan mati, mereka hanya menunggu kapan gilirannya tiba untuk bertukar shift. Keduanya siaga, saling menahan diri. 

Saya tentu saja tidak tahu kapan akan mendapatkan giliran. Takut mati? untuk sekarang, ya. Masih takut mati, jawabannya klise tapi tidak mengada-ada. Apa yang bisa saya bawa untuk perjalanan panjang menghadap Tuhan nantinya? Rapor hasil ujian kehidupan, hasil yang ditulis malaikat, ketahuan nanti kalau saya masih sering melamunkan hal remeh temeh macam: "Kapan gue ketemu jodoh?" bapak saya bahkan paranoia saya kenapa-napa sebelum sempat menikah lantas keluarga kami harus menghadapi kepunahan. Pupus, lenyap dari muka bumi.

Tapi bagaimanapun caranya, kita tidak bisa lari. Kematian bukan hanya urusan meninggalkan dunia. Tapi kematian meninggalkan jejak dalam orang-orang yang pernah berinteraksi dengan almarhum/almarhumah. Kisah manusia di alam dunia terputus dengan satu kata: Mati. Tapi ada tiga kata yang hidup selamanya: Amal, doa (anak shaleh/sholihah), dan Ilmu. Lalu seberapa banyak yang telah kita punya? 

Pertanyaan ini menohok ulu hati saya. 
Sekian.

Minggu, 11 Januari 2015

Selamat Ulang Tahun, Kita!

gambar: www.writeabout.com
Hari ini, tepat 4 tahun 'permainan' ini dimulai. Saya menyadari bahwa telah jatuh cinta terlalu dalam padanya. Pada setiap cerita yang kami temani, pada setiap momen spesial yang membersamai. Dan setiap ucapan terimakasih dan emoticon senyum setelah bungkusan-bungkusan itu tiba, sepertinya akan membuat saya gagal berpaling, selamanya.

Jika ditanya dari mana mulainya, semua ini dimulai dari sebuah tugas mata kuliah dengan beban 3 sks di tahun ke-3 perkuliahan. Dosen kami, Pak Susanto, memberikan sebuah  tugas besar dengan menantang kami membuat sebuah 'usaha' selama satu semester. Dan Taraaaa! jadilah ce.ri.ta!
Simpel ya? nggak seru? iya sih, awalnya meskipun saya sangat bersemangat sampai mengabaikan tugas besar 6 sks, tapi ce.ri.ta saat itu masih belum seru seperti sekarang. Dan karena kesibukan masing-masing, setelah menuntaskan laporan akhir semester ce.ri.ta sempat sirna dari muka bumi.

Tahun 2012 setelah saya lulus, keinginan untuk meneruskan ce.ri,ta kembali muncul. Upaya restruksturisasi dimulai. Hunting bahan, riset produk, pembuatan label, perumusan konsep ala-ala desainer kami terapkan. Maklum, sarjana desain anyaran, berusaha menerapkan ilmu yang didapat selama bangku kuliah serta masih idealis. Hasilnya, mentok di konsep tapi lambat berjalan. Rupanya kami terlalu banyak berpikir sehingga lupa mengeksekusi.

Masih di tahun yang sama, Allah memberikan sedikit ujian kepada saya. Sebuah kecelakaan minim drama menimpa ketika hendak menitipkan CV untuk melamar pekerjaan. Waktu itu saya sudah mendapatkan ultimatum dari kedua orang tua: kerja, atau pulang ke Madiun!

Patah kaki yang saya alami membuat semua aktivitas keluar rumah saya terpaksa berhenti. Dari situ, akhirnya kami mencoba mencari kesibukkan yang dapat dilakukan dari kamar kosan saja. Dan saya menemukan pekerjaan saya: menggambar. Niken, yang selalu dipenuhi ide dan dilengkapi dengan hobi 'nggrathil'-nya, membuat sample kartu ucapan untuk wisuda bersama sebuah plakat akrilik. Sejak saat itu, hampir satu minggu penuh kami bergadang hingga dini hari menyelesaikan pesanan. Tangan saya rasanya hingga kapalan dan nyeri karena terlalu banyak menggambar. Sejak saat itu, ce.ri,ta seperti terlahir kembali.

Awal kembalinya ce.ri.ta di akhir tahun 2012 memang belum cukup kuat untuk dijadikan alasan untuk kembali tidak mencari pekerjaan. Di akhir tahun 2012 pula, setelah badai kesibukan ce.ri,ta surut, saya menerima panggilan kerja dari sebuah perusahaan gift dan craft di Bandung. Wawancara dan testing berjalan mulus, seiring dengan kaki saya yang mulai pulih saya mendapatkan berita baik. Saya diterima menjadi seorang Desainer Produk, sesuai dengan bidang keilmuan yang saya tekuni dan tamatkan dengan hasil luar biasa.

Tahun 2013 menjadi tahun kerja keras bagi saya. Menjadi anak baru di sebuah perusahaan yang sedang berkembang rupanya menyita banyak waktu. Saya harus banyak belajar untuk mengakselerasi skill, sembari tetap mengerjakan proyek-proyek ce.ri.ta. Berangkat jam 06.00 pagi dan pulang jam 18.00, disambung mengerjakan pesanan yang tak jarang hingga menjelang tengah malam. 6 hari dalam 1 minggu, menyisakan satu hari Minggu untuk rehat yang tak jarang terinterupsi pula. Seiring berjalannya waktu, beban pekerjaan kantor membuat saya lebih sering mengambil jam lembur. Jam istirahat sering pula saya gunakan untuk menyicil desain atau mengerjakan revisi. Melelahkan dan membebani memang, ibuk sempat beberapa kali menasehati agar menghentikan ce.ri.ta karena saya dan Niken sudah disibukkan dengan pekerjaan masing-masing.

Akhir bulan Agustus, sepertinya saya sudah berada pada titik jenuh. Perkembangan ce.ri,ta yang semakin baik membuat saya kehabisan energi. Ucapan ibu masih teringat, dan saya mulai mempertimbangakan untuk memilih. Perjalanan hampir satu jam menuju kantor setiap harinya memberikan waktu lebih bagi saya untuk berpikir dan menimbang. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mengajak Niken untuk pulang, dan berkonsentrasi penuh di ce.ri.ta. Seperti biasa, Niken tidak banyak berkomentar. Saya tahu, keputusan ini bukan keputusan ringan-ringan kapas (Tulisan terkait kegalauan tersebut bisa dibaca di sini). Pulang ke Madiun dan meninggalkan Bandung secepat ini bahkan sama sekali tidak terbayang sebelumnya. Pulang berarti terpisah secara fisik dari semua koneksi yang ada di Bandung. Pulang berarti harus mencari lagi sektor penunjang produksi ce.ri.ta. Pulang berarti menghadapi pertanyaan dari tetangga, kerabat, sanak keluarga: kenapa seorang lulusan institut terbaik bangsa masing ngganggur cantik di rumah? #eh. Dan akhirnya, kami berdua, Saya dan Niken tetap memilih pulang, meninggalkan Bandung tepat pada 31 Desember 2014. (Tulisan yang dibuat sebelum benar-benar pulang, ada di sini)

Di sinilah saya sekarang. Di kamar lama saya, ditemani segelas teh hangat di siang hari bolong buatan bapak saya yang me-restock es teh di freezer. Menikmati hari Minggu pada ulang tahun ke-4 ce.ri.ta.  4 tahun sudah rupanya sejak saya bersama Pipit, Niken dan Arum memulai dari Bandung, di depan pintu kamar kosan saya sembari berdepat nama apa yang cocok. 1 tahun 11 hari saya dan Niken meninggalkan Bandung, dengan memboyong serta ce.ri.ta. Ah, selamat ulang tahun, semoga nanti akan ada yang ke-25, ke 50, ke-100 dan seterusnya. Selamat ulang tahun untuk kita,
cerita kita baru saja dimulai...

Madiun, 11 Januari 2015


Jumat, 25 Oktober 2013

Suatu Hari Nanti

Bicara tentang cita-cita, jika dingat-ingat lagi rasanya cukup menggelikan. Dulu sekali, ketika masih kecil, jika ditanya tentang cita-cita saya akan menjawab: "Pengen jadi pedagang semangka", kenapa? karena saya sangat menggandrungi semangka saat itu. Setelah duduk di bangku sekolah, mulailah konsep cita-cita sedikit demi sedikit saya kenal. Masih ingat kan, waktu zaman SD dulu sedang sangat nge-trend buku diary lucu-lucu? Pilot, astronot, dokter, menjadi profesi yang paling sering di tulis di bagian biodata ketika mengisi diary baru seorang teman. Hingga ketika SMP dan SMA cita-cita secara spesifik tidak lagi bisa saya katakan. Apa yang saya inginkan di masa depan nanti? ingin jadi apa? sesaat menjadi pertanyaan yang kalau bisa sih dihindari jauh-jauh. Astronot, pilot, dokter menguap. Pikiran tentang jurusan apa yang harus diambil di PTN mendominasi kepala. Tidak ada lagi 'mau jadi apa' yang ada adalah 'masuk jurusan apa', 'universitas mana'. Saya tetap tidak bisa memutuskan sampai di akhir bangku SMA Hingga di awal semester terakhir saya memutuskan, saya akan masuk ke Fakultas Seni Rupa dan Desain, di Institut yang katanya Terbaik Bangsa.

Menjadi desainer selalu saya pikir adalah pilihan yang menyenangkan. Dengan tekad bulat dan kekerasan kepala yang luar biasa, saya memilih untuk berada di sini. Meskipun dari awal tujuan di kepala saya adalah ingin memiliki offset, percetakan. Yang bisa mencetak buku-buku dengan cover lucu, yang selalu ketika disebut oleh bapak saya terdengar tidak bergengsi, "pengen punya offset cetak undangan". Saya selalu dongkol dalam hati dan memilih menghindar jika obrolan tentang offset itu diangkat ke permukaan. Dan nyatanya, kini saya tertarik juga untuk nyemplung di usaha percetakan undangan, meskipun bukan dalam skala industri.

Dan suatu hari nanti itu telah menjadi hari ini. Saya yang sekarang adalah seorang desainer produk di perusahaan di bidang art-craft. Meskipun begitu, saya selalu saja segan menyebut diri seorang desainer. Dan hari ini, saya selalu saja kesulitan menjelaskan pada orang-orang yang bertanya apa pekerjaan saya, apa yang saya kerjakan. Masih sedikit orang yang bisa mengerti bahwa profesi tidak hanya menjadi dokter, insinyur, guru, maupun pilot. Apalagi desainer yang tidak hanya mendesain iklan, poster, iklan, film, kereta api, interior, mobil dan pesawat. Ada desainer yang mendesain art-craft, craft, kerajinan. Barang-barang kecil yang masih saja dianggap sebelah mata, tidak disadari keberadaannya. Saya desainer art-craft, yang selalu dibilang orang pekerjaan mudah dan ditanyai, "mengapa tidak mendesain yang lebih hebat seperti mobil atau kereta?". Jawabannya mudah, "Saya tidak suka,", dan apakah berarti pekerjaan saya ini tidak penting di muka bumi? bukankah Allah menyukai keindahan? dan desianer menciptakan keindahan dan kemudahan. Biarpun hanya lewat sebiji plakat, sebuah kotak, ini adalah salah satu jenis profesi.

Terlepas dari tentang hanya desainer, ada lagi yang tentang hanya perajin. Jika suatu hari nanti saya berpindah hati menjadi seorang perajin, apakah pula hal ini menjadi sesuatu yang sangat disayangkan? Mungkin bagi beberapa orang. Bagi saya menjadi perajin adalah menjadi seorang yang rajin *yah.., hehe. Akan sangat seru sepertinya menjadi seorang perajin. Dan demi untuk mengawinkan hobi kumpul-kumpul saya yang selama ini jarang terealisasi, sepertinya akan menjadi hal yang luar biasa menyenangkan. Satu lagi cita-cita saya setelah kini berusia kepala dua, sederhana saja, crafty days di kota kelahiran. Craft comunity, crafty days, entrepreneur community, bersama para teman-teman di sana nantinya, saya akan mengejar cita-cita menjadi designpreneur, istilah yang jika tidak ada ini harus diada-adakan, hehe. Dikepala saja bertumpukan ide-ide seru tentang hal ini, meskipun pasti dalam pelaksanaannya tidak aka sedikit halang-rintang. Tapi apa asyiknya jalanan tol lurus mulus tanpa belokan? insyaAllah apapun akan bisa jika berusaha.

Suatu hari nanti, di hari minggu yang cerah. Crafty days itu akan ada, bersama saya, bersama kita. Kita membuat, kita mendesain, kita berkumpul, kita berbagi, kita bercerita. Yah, dari pada nonton FTV kan ibu-ibuuu..yuk ah mari kita buat saja ini crafty days. Boleh jika dberi kesempatan saya menjadi ketua panitia, catet, amini ya malaikat :).

Sabtu, 25 Mei 2013

Manja


Hari ini, kalender rupanya berwarna merah. Bukan lagi kejutan karena memang sudah sejak lama sengaja diingat-ingat. Satu minggu terakhir, ah tidak..sepertinya satu bulan terakhir alhamdulillah didera kesibukan yang rasanya tidak bertepi. Lelah?lelah sekali, hingga tanpa sadar membuat sesumbar berbagai reward apa yang harus diberikan pada diri sendiri atas aksi 'jungkir balik' belakangan.

Semudah itu rupanya untuk menjadi lelah. Lelah terhadap rutinitas dunia, lelah dengan kondisi yang menjemukan, lelah membimbing diri sendiri. Belakangan, di dalam deraan kesibukan, rupanya keluhan terlalu mudah diratapkan. Mengeluh betapa 'sibuk' nya satu hari duduk-sampai-capek di kantor juga 'sibuk' memanajeri mata yang melek-sampai-burem di depan komputer, yang bukan saja pedas bukan main tapi juga mengantuk bukan main. Mengeluh betapa sedikit-nya jatah "me-time" yang tersisa sembari diam-diam mengutuki berbagai macam orang dan keperluan yang tidak sudi meninggalkan kesunyian di kamar.  Mengeluh betapa waktu begitu cepat bergulir tanpa mampu menikmatinya, bahkan untuk sekedar tidur siang. Wah, panjang juga rupanya daftar keluhan ini.

Sampai di tengah siang bolong, sembari duduk merosot di kursi tulisan seorang sahabat  menampar pipi saya. Sakitnya di hati, tertohok antara malu dan. .malu lagi. Betapa sang sahabat, yang hidupnya didedikasikan untuk umat masih mampu menuliskan dengan semangat betapa nikmatnya mengurus banyak hal. Kepentingan jamaah, umat, misi dakwah, yang diprinsipkan menjadi lebih utama dari 'nafsu' pribadi menjadi spirit booster yang luar biasa. Beliau hampir tidak memiliki waktu bagi dirinya untuk sekedar menikmati waktu luang, "teringat ada banyak hal yang harus diselesaikan. ." tulisnya. Betapa luar biasa? bagaimana bisa? Seketika, di kepala muncul berbagai kelebat pikiran dan pertanyaan:
Jika yang seperti ini saja, yang selalu disibukkan oleh urusan jamaah, tanpa peduli siang-malam,liburan atau tidak libur. Selalu dan selalu memikirkan umat, pekerjaan mulia yang begitu mendasar dari seorang manusia saja, tidak kenal dengan kata lelah. Lantas, dapat hak prerogatif dari mana seorang manusia sok sibuk-pengejar eksistensi semu-penuh sesumbar hedonisme dunia ini mengeluh pada pada Tuhannya?


Oh, tidak juga sekedar mengeluh. Bahkan juga merengek lewat doa-doa kilat selepas sholat yang jiwanya terbagi. Merengekkan dunia dan isinya, mengeja keinginan yang boro-boro menyangkut umat. Betapa memalukannya, yang mengeluh lelah hanya karena seminggu terakhir kurang tidur karena -proyek-entah-apa dan sumpah-demi-apa-itu. Betapa memalukannya, yang mengeluh karena satu dua tanggal merah terinterupsi acara silaturahmi, yang mengeluhkan dua jam halaqah untuk peningkatan kualitas diri. Betapa egoisnya diri ini sebagai seorang manusia? Betapa manjanya? menuntut dan terus menuntut pada Sang Pencipta tanpa terlebih dulu melaksanakan kewajiban.
Ah, iya terlalu manja. Sedikit saja diberi kesibukan mengeluh. Sedikit saja diberi tanggung jawab melenguh. Takut menanggung resiko lah, tidak mau ambil pusing lah, dan entah berapa juta alasan lagi yang akan dilontarkan. Tapi sebenarnya hanya satu: Manja. Badan yang tidak lagi dinavigasi oleh jiwa yang sehat ini harus segera direvitalisasi! bergerak, bergerak, bergerak! bukan hanya badan tapi juga pikiran. Bukan sekedar lari pagi melainkan kontribusi. Tersedia banyak pintu untuk menuju perbaikan diri, juga dari aksi 'sok manja' ini. 

Bukankah pula Tuhan telah berjanji takkan menguji di luar kesanggupan seorang manusia? menjadi manja hanya akan mematahkan langkah menjadi seorang yang lebih luar biasa.  Jadi, jangan cuma meminta dimudahkan saja, jangan manja!


Kamis, 11 April 2013

Manusia: Perempuan

picture: www.ourvoice.org
Kartini. Dimana namanya diabadikan dalam sebuah hari perayaan. Emansipasi, persamaan derajad, bergaung hingga puluhan tahun sekalipun Kartini telah tiada. Akankah Kartini, jika Ia kini masih ada, menangis atau tesenyum menang melihat para perempuan setelah ditinggalkannya?

Emansipasi. Pembebasan dari perbudakan, persamaan hak di berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dalam konteksnya sebagai seorang pahlawan bagi kaum perempuan, Kartini menyadari betapa kaum perempuan pada masanya tak lebih dari makhluk rendah yang dipandang sebelah mata. Lantas jika Kartini telah berupaya membebaskan para perempuan, akankah kini para perempuan benar-benar telah terlepas dari penjajahan? apakah para perempuan yang diperjuangkannya kini memaknai dengan bijaksana kebebasan yang Kartini dapatkan berpuluh tahun silam itu?

Tidak hendak menggugat perjuangan Kartini. Tapi apakah Kartini menyangsikan peran dan tugas perempuan sebagai seorang istri, seorang ibu? Apakah lantas Kartini merelakan dirinya dieksploitasi zaman, menghambakan diri dalam kejayaan masanya, pada tuan penjajah yang kini disebut modernitas? 

Perempuan. Sayangnya betapa banyak dari jumlahnya yang konon diciptaka lebih banyak dari lelaki menyadari kedudukan dan kehormatannya. Yang sadar siapa dirinya, untuk apa dia ada dan diciptakan sebagai perempuan. Untuk menjadi pemimpin bangsakah? Untuk menjadi komoditas dibalik topeng keindahankah? Atau justru menjadi objek yang menyerahkan diri untuk dieksploitasi?

Perempuan, dengan kekuatannya yang tidak disangsikan dan persamaan derajadnya yang juga diagungkan dalam kitab suci, seringkali lupa akan siapa dirinya. Lupa betapa berbahayanya kekuatan yang Ia miliki, lupa akan betapapun kuatnya Ia adalah porselen rapuh, lupa bahwa dalam segala bentuk aturan yang hanya tampak sebagai kekangan merupakan upaya penyelamatan akan dirinya?

Lantas apakah Kartini akan bangga atas penafsiran emansipasi yang diperjuangkannya berubah menjadi sebuah arogansi dan pengagungan terhadap kata 'perempuan' itu sendiri? Benarkah perempuan seperti kini yang diinginkan oleh Kartini? Perempuan yang tidak mampu menghormati dirinya sendiri dengan alasan kebebasan, perempuan yang merusak dirinya sendiri karena alasan kesetaraan antara dirinya dan lelaki. Perempuan yang merasa paling berhak dibenarkan dan diagungkan tanpa merasa sadar ada perbedaan hakiki yang mengistimewakannya dari makhluk bernama lelaki.

Kesetaraan yang tidak serta merta setara, yang jarang ditelaah dengan sempurna apa maknanya. Digunjing, dicaci, dicurangi demi mendapatkan makna kesetaraan yang entah tepat untuk siapa. Perempuan dan emasnipasinya. perempuan dengan segala anggapan kesetaraannya. Sedang kini, dimana kalian berpijak wahai para perempuan?

Selasa, 26 Maret 2013

Anak-anak (Zaman Sekarang)


Mungkin sudah bukan zamannya anak-anak akrab dengan kelereng atau untaian karet gelang, congklak? apa pula itu. Bukan zamannya lagi anak-anak berkeliaran di ladang, bersembunyi rapat di semak-semak, atau berlarian menghindari bola kasti. Kampungan katanya, jika anak-anak hanya bermain mobil-mobilan atau tembak-tembakan dari pelepah pisang. Kenapa mesti repot-repot kepanasan? sekarang, dalam satu genggaman layar, anak-anak sibuk bermain. Apakah ini era keemasan atau malah justru kehancuran?

Saya belum pula menjadi seorang ibu. Jadi seorang anak pun, tidak sangat baik juga. Tapi rasanya di dalam hati saya yang terdalam miris rasanya melihat anak-anak zaman sekarang. Mungkin ini adalah pendapat anak era 90-an semata. Yang seringkali dibilang gaptek dan nggak gaul, tapi apakah harus menjadi gaul kalo itu berarti hanya menuju ambang jurang kehancuran?

Sudah hampir tiga tahun terakhir saya tinggal di Bandung. Kota besar yang bagaimanapun sama sekali berbeda dengan kota kelahiran saya nun jauh di Jawa Timur sana. Apalagi saya tinggal di desa, sudah di kota kecil, di desa pula..hahaha. Namun rupanya waktu tiga tahun sama sekali tidak bisa meredam culture shock saya terhadap banyak hal di kota ini, apalagi tentang anak muda-nya. Kosan saya yang berada dekat dengan komplek perumahan padat penduduk cukup ramai oleh anak-anak remaja tanggung usia belasan tahun. Kalau dilihat dari seragamnya, masih antara biru tua dan abu-abu. Tapi kelakuannya, selalu membuat saya ternganga. Adegan mesra pemuda-pemudi yang tidak jarang masih berseragam tersebut membuat geleng-geleng kepala. Belum lagi acara merokok berjamaah, sudah hampir tiga tahun, dan pemandangan perempuan dengan rokok ditangannya masih saja potongan adegan yang mencengangkan. Dasar kota besar, saya hanya bisa mengelus dada.

Dulu, di era 90-an, siang hari seringkali disibukkan oleh karet-karet gelang atau kelereng. Batang kayu bahkan menjadi mainan seru, sepeda adalah harta yang mewah. Sekarang, lihat saja, mainan dalam kepala anak zaman sekarang adalah teknologi. Tapi teknologi yang tidak tepat guna. Buat apa anak SMP sudah punya Android, Blackberry, masih minta iPhone segala? "buat gahul dongs tante," mungkin adalah jawaban yang akan meluncur cepat dari muluk adik-adik saya yang lebih betah di depan layar daripada berpanas-panasan bertemu dalam dunia nyata dengan teman-teman sebayanya. Buat apa?, toh di jejaring sosial mereka bisa berbincang dan bercanda akrab. berlama-lama, tanpa membuang tenaga, apalagi tanpa kepanasan pula. Adakah tawaran yang lebih menarik?

Permainan bagi anak-anak zaman sekarang begitu beragam tersedia. Tinggal colek-colek layar, mau apa juga ada. Ingin berdiskusi? ada grup di jejaring sosial, hiburan juga tersedia banyak di layar televisi. Mau cerita yang seperti apa? anak SMP patah hati atau rebutan pacar ada, mau cerita geng cewek cantik dan cowok ganteng banyak. Hasilnya, tuh..adik-adik saya yang baru semester kemarin masuk SMP update-an statusnya galau terus. Apalagi kalau bukan curcol tentang pacarnya,? apakah benar sudah saatnya mereka galau oleh masalah seperti itu?

Miris sekali lagi. Kalau sudah begini saya jadi bertanya-tanya sendiri. Apakah para orang tua di zaman sekarang tahu bagaimana kelakuan anak-anaknya? bagaimana perasaan mereka?hancurkah?  biasa-biasa saja kah? Lantas berganti dengan pertanyaan tentang diri saya, Bagaimana bapak dan ibu dulu bisa cukup berhasil mendidik anak perempuannya yang sebenarnya bandel ini? bagaimana caranya ibu berhasil menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik pada saya? lantas bagaimana kelak saya akan membesarkan anak-anak saya dalam dunia yang sudah kacau balau ini?.

Anak-anak, kelak yang akan menjadi pemimpin, penjadi penegak hukum, menjadi penggerak sektor ekonomi, menjadi aktivis politik. Anak-anak yang kelak akan melahirkan generasi-generasi baru pula, menggulirkan perubahan zaman. Anak-anak adalah investasi yang besar bagi keluarga, bagi bangsa dan bagi agama. Presiden dulu juga anak-anak, bahkan Nabi pun juga pernah menjadi anak-anak. Nasib masa depan peradaban sesungguhnya ada di tangan anak-anak, remaja-remaja tanggung yang sering galau itu, siapa tahu salah satunya digariskan untuk menjadi pemimpin umat. Lantas bagaimana nanti umatnya kalau pemimpinnya tidak memiliki bibit, bebet dan bobot yang berkualitas?.

Anak-anak zaman sekarang, nantinya mungkin anak saya akan menjadi generasi anak-anak 'zaman sekarang' di masanya. Ketika itu saya akan mendapat amanah dan tantangan yang paling besar. Berusaha agar anak-anak 'zaman sekarang' kelak bukan anak-anak yang nongkrong merokok di pinggir jalan sepanjang siang. Bukan yang berangkulan mesra dalam seragam biru-putih di atas motor. Bukan anak anti sosial yang lebih dekat dengan layar daripada kakak. adik, kakek, nenek, sepupu atau tetangga di kompleks perumahan. Bukan juara balap mobil atau lari cepat di layar gadget teranyar. Tanggung jawab yang besar bagi ibu anak-anak untuk menghasilkan generasi yang berkualitas. Anak-anak yang tahu untuk apa hidup, bagaimana hidup dan menikmati kehidupan yang sesungguhnya. Semoga, semoga anak-anak dapat menjadi semestinya anak-anak.





Kamis, 07 Maret 2013

Ceracau Siang Seorang Pekerja


Oke, baiklah. Saya mendompleng sedikit dari jam kerja untuk membuat tulisan ini. Maafkan saya pak kepala RND, tapi kalaupun tidak,sepertinya selama lima belas menit ke depan saya masih belum juga membuka file riset saya. *nyengir.

Titik Nol milik Agustinus Wibowo tergeletak di meja kerja. Belum ada separuh perjalanan hingga lembar terakhir. Dan ini juga bukan lapak yang seharusnya saya gunakan untuk mengoceh panjang lebar tentang sebuah buku ataupun penulisnya. Tapi saya tidak tahan untuk tidak berkomentar secara subjektif, sebagai pembaca yang tersentil bukannya sebagai tukang resensi. Dan yang saya tuliskan ini yakinlah bukan rangkuman ataupun spoiler buku yang membuat Anda semua kecewa, tapi hanya sekelumit pertanyaan-pertanyaan dan perasaan-perasaan yang muncul begitu tiba-tiba.

Dua puluh tiga tahun. Belum ada sebuah perjalanan besar yang pernah saya lakukan. Iri? tentu saja. Tapi saya belum leleah menghibur diri bahwa semua orang telah memiliki jatah cerita masing-masing. Tapi ada satu kesamaan: Makna. Apakah makna yang telah ditemukan ataukah yang sedang dicari?
 "Gue lagi ngapain dan mau ngapain?"

Beberapa orang terdekat saya begitu gemar sekali menimba ilmu. Lulus sarjana, mengambil pendidikan pasca sarjana. Lalu menyambung lagi dengan pasca pasca sarjana alias doktoral. Bahkan yang lebih luar biasa, ada juga yang menempuh pascasarjana-nya dua kali sebelum mengambil program doktoral. Ya Saudara-saudara, dua kali mengerjakan thesis. Itu berita buruknya.

Oh, sudah mulai terasa penuh emosi dan bau-bau curahan perasaan yang menggelora ya? 
Bagaimanalah. Saya masih seringkali goyah dengan apa yang saya pilih. Apa yang mau saya lakukan, untuk apa yang telah saya lakukan, bagaimana melakukannya. Pusing? Ya..ya..saya mengerti. Mungkin kalau Carl Jung tanpa sengaja menemukan link tulisan ini di direktori Google, pasti saya akan dikatai belum beraktualisasi diri. Tapi nyatanya, percaya tidak percaya, saya memang..labil.

Catatan perjalanan Agustinus Wibowo kembali menusuk-nusuk dan mengoyak bungkusan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini terpendam entah dimana, yang sekali dua kali muncul selama satu jam perjalanan Tamansari-Ujung Berung yang penuh dengan kentut bus-bus kota yang dengan tidak sopannya tetap merayap perlahan. Apa sih yang saya kejar? apa yang saya ingin temukan dengan segala ketidaknyamanan ini? kebimbangan antara "mending gue stay di jalur profesi, kerja sampai mabok, " atau "Gue pengen lanjutin sekolah gue, sampai muka gue kaya laporan," atau "Mending gue nikah aja dan semuanya, selesai." 
Ups, yang terakhir jangan  di perpanjang.

Saya kehilangan banyak sekali quality time. Berjibaku dengan rutinitas dan segala hal yang belakangan disebut dengan pekerjaan. Bukan hanya di kantor, tapi juga di kamar kosan. Pekerjaan saya tidak ada habisnya. Lha kenapa masih mau dikerjain?

Jangan tanya. Saya rasa semua orang memerlukan pekerjaan untuk mempertahankan eksistensi. Minimal untuk menjawab pertanyaan adik kelas yang tidak sengaja berpapasan di jalan depan kampus. Lantas pekerjaan ekstra? upaya jadi entrepreneur kecil-kecilan ini, anggap saja tabungan. Lantas dimanakah bingungnya? bukankah semuanya sudah terjawab? Nah lo..

Manusia. Saya ini manusia biasa. Tapi rasanya porsi berpikir saya sedikit tidak biasa. Saya sering capai sendiri meladeni pikiran-pikiran yang melantur meminta jawaban. Tentang buat apa saya hidup di dunia? Apa peran besar yang bisa diambil? Apakan benar jalan ini yang akan saya tempuh kedepannya? Untuk siapa semua keterkekangan, perasaan terbebani yang kadang silih berganti dengan syukur yang buncah, keamanan, dan keterjaminan? Slot kosong yang kadang terisi oleh makna selintas, "saya ada untuk ini". Saya kehilangan makna. Makna yang sampai detik ketika menuliskan ini menghilangkan faktor manusia dengan Penciptanya. Menghilangkan variabel makhluk dan Tuhannya. Yang rupanya begitu rumit dan menyakitkan. Yang tidak terpikirkan dan tidak akan sampai jika dicari-cari dengan logika. Kepercayaan pada Tuhan yang memegang peta, rute kendali akan kemana hidup saya ini menjadi satu-satunya tali pegangan yang membuat saya bertahan untuk tetap waras. Entah apa jadinya jika Tuhan pun ikut berlalu pergi, bisa gila? bahkan sepertinya saya akan langsung tiada. 

Bagian terbaik dari semua ini adalah saya masih  bisa percaya, akan ada banyak hal yang tidak terduga. Yang tidak selalu sesuai estimasi, yang kadang tidak bisa dikalkulasi apakah akan terjadi atau tidak. Yang menjadi satu-satunya harapan ketika sepertinya sama sekali tidak ada harapan. Semoga Tuhan tidak lelah menahkodai kapal kehidupan saya. Selalu menggiring sesuai peta yang entah seperti apa, melalui jalur mana. Masalah tujuan akhir, sepertinya Tuhan masih membuka kesempatan untuk nego. Tentang akna hidup, yang ini juga Tuhan..masih bisa di nego bukan? Beri saya waktu untuk terus bisa berbincang dengan-Mu ;)

Sabtu, 10 November 2012

Terimakasih Sudah Berkunjung :D


Terimakasih sudah mengunjungi rafikahasna.blogspot.com. Berkat kunjungan Anda semua, hari ini pengunjung blog saya mencapai 4000 orang! Norak ya sampai diposting segala? hehehe..tapi bagaimanapun saya terharu. Meskipun sudah dua tahun dan baru 4000 orang, yang berarti tidak banyak dilirik ini, tetap saja rasanya sesuatu banget.  Yang lebih mengherankan adalah ternyata saya masih bertahan untuk menulis, meskipun lebih sering bertopik "apapun" dan "menyampah" selama hampir dua tahun. Hmm..insyaAllah akan selalu ditingkatkan baik kualitas maupun kuantitasnya. Semangat blogging! :D

Karya iseng: AVATAR GALAU


Sudah lama sekali tidak iseng seperti ini. Hampir lupa rasanya excited diapresiasi dengan sekedar ucapan "lucuuu,", atau "aku mau dibikinin" yang meskipun semakin merepotkan, haha. Kemarin tiba-tiba kangen teman-teman lama. Menggambar avatar mereka, sambil membayangkan bentuk muka, senyum mereka, potongan rambut, warna kesukaan, rasanya "seneng-seneng miris". Betapa tidak? pertemuan kami biasanya tak lebih dari setahun dua kali. Bertukar kabar pun sering tak sempat, hmm..teman macam apa saya ini..hehe

Beberapa tengah atau telah berkutat dengan tugas akhir. Beberapa sudah menjadi sarjana, ada pula yang sedang menjalani fase peralihan menuju keprofesian, dan ada pula yang...sedang memiliki banyak sekali waktu luang untuk membuat avatar sahabat-sahabatnya. Yang jelas, hampir semuanya terpisah dalam kota yang berbeda, menghadapi permasalahan berbeda dan berbagai perbedaan-perbedaan lainnya. Seru bukan? 

Semoga Allah melindungi kalian semua dimanapun kalian berada temans. :D

Selasa, 23 Oktober 2012

Garam Mandi

Hari ini adalah kunjungan kedua saya ke dokter tulang, yang seharusnya masih dua hari lagi. Terlalu rajin bukan? haha, bukan apa-apa..hanya saja balutan kain di kaki sudah mulai longgar dan rasanya useless saja, buat apa memakai perban kalo masih gerak-gerak nggak terkontrol.

Awalnya, berpegang pada ucapan pak dokter hampir dua minggu lalu "dua minggu lagi bisa dilepas, ya", saya dengan semangat '45 berharap segera lepas dari cengkeraman berat gips di kaki. Seminggu terakhir saya sudah penuh inisiatif belajar napak-napak, jalan pakai satu kruk dan terapi-terapi sotoy lainnya termasuk mengabaikan teori elevasi ketika tidur harus diganjal dua bantal -ini sama sekali nggak inget dan nggak pernah saya lakukan- 

Coba tebak apa yang pak dokter bilang sore tadi..

" Wah, memangnya sudah dua minggu ya?"
"Eh, belum sih, Dok..dua hari lagi harusnya,"
"Hmm..ini pertumbuhan jaringan lunaknya baru bisa dilihat dua minggu lagi, mulai sekarang belajar jalan pakai dua kaki ya. Kruk kedepanin, kaki kiri maju, kaki kanan maju, harus sejajar, " ucap Beliau sambil mencontohkan.

Glek. Ehh..
"Cobain ya,"

Percobaan jalan pertama pakai kruk udah gagal total. Metode yang saya gunakan selama ini sangat salah, hahaha. Berkali kali saya diingatkan, "Kruk kedepanin, kaki kiri maju, kaki kanan maju, harus sejajar, "
"Yah, dok..kemarin saya sudah belajar-belajar napak, dan beberapa kali sempat jatuh pula," sambil mengkerut takut dimarahin.
Pak dokter cuma tersenyum agak aneh yang mungkin kira-kira sambil bilang dalam hati "yaelah nak, apaan deh sok-sokan banget belum waktunya kaliiii," lantas menyahut sambil masih tersenyum, "nggak papa, area patahannya nggak terlalu luas,"
Huffft..saya menarik nafas lega.

Beberapa menit kemudian Pak Dokter menyahut, "Ini seminggu lagi belajar pakai satu kruk ya,"

Heee...kenapa seminggu lagi masih pake kruk juga?? bengong dalam hati."Kira-kira satu bulan lah, bisa mulai dilepas buat jalan," sambungnya lagi.Saya tersenyum agak takjub sambil berpikir, "Lama amat sebulan lagi baru bisa belajar jalan lagi. Pupus deh harapan mau pulang akhir bulan,"

Adegan di Rumah sakit berakhir. Lantas di mana bagian garam mandi-nya?
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kosan.

Saya sudah mencapai anak tangga teratas di depan kamar. Niken masuk ke kamar dan beberapa saat kemudian keluar sambil berseru "Hey, lihat aku beli apa!" ucapnya sambil senyum-senyum tengil. 
"Apaan???,"

"Garem mandiiii!! kan katanya minggu ini gips-mu udah boleh dilepas. Jadi kemarin aku beli garam mandi buat ntar merendam kaki," Ucapnya sambil senyum-senyum.

Dan setelah itu saya tersenyum. Melting.

Bagi saya, itu sangat so sweet

Minggu, 21 Oktober 2012

Your Portfolio Is YOU


Hampir tiga bulan sejak saya resmi menggugurkan gelar mahasiswa terhitung sejak 14 Juli lalu. Feel free? Yes, absolutely!, selanjutnya pandai-pandai saja bersilat lidah menjawab pertanyaan yang bertubi-tubi seputar keprofesian: "Sudah kerja di mana sekarang?", "Rencana kedepannya mau ngapain?", pertanyaan yang cukup wajar sebenarnya. Hanya saja, lama-lama kecut juga memikirkan jawaban terbaik ;p.

Pada dasarnya saya sangat ingin menjadi jobmaker, bukannya jobseeker. Guess why, tentu saja karena itu pasti akan terdengar sangat keren bukan? haha, bercanda. Tapi nyatanya, atas pertimbangan banyak hal, akhirnya saya mencoba menghalalkan upaya mencari kerja sembari terus berusaha menjadi jobmaker. Menjadi jobmaker itu benar-benar sangat tidak mudah, bold and underlined. Lantas apakah saya berarti telah menyerah? oh..tunggu dulu, ini hanya langkah yang cukup bijak untuk mendulang modal dari sektor lain. Hati saya sudah tertambat pada cerita lain saudara-saudara..

Dan..yang paling penting bagi seorang desainer untuk mendapatkan perkerjaan tentu saja adalah portfolio, P-O-R-T-F-O-L-I-O. Kumpulan karya ini bisa dibilang merupakan rekam jejak dari sepak terjang seseorang di dunia per-desain-an. Terus gue mesti koprol sambil bilang "Wow" gitu? 
ya tentu saja tidak, yang harus dilakukan adalah harus membuat porto (portfolio.red) dengan baik dan benar. Oh wait, BAIK DAN BENAR?

Nah, ini masalahnya. Ketika kembali dibenturkan dengan kata sifat baik dan benar, muncullah sedikit kebingungan di kepala saya. Ya, memang  porto harus dibuat sebagus dan sejelas mungkin. Ada patokan dasar tentang apa yang harus ditampilkan dan apa yang sebaiknya tidak ditampilkan. Tapi mengenai gaya penyusunan, posisi gambar dan printilan lainnya ya bolehlah dimainkan sedikit. Belakangan saya mendapat sedikit kritikan dari seorang senior. Katanya porto saya kurang bermain, cenderung cari aman, tampak kurang percaya diri dan monoton. Errr...OK, terimakasih, masukan yang sangat bagus. Dalam hati saya berkata "WOW, benar sekali tebakan mas ini," karena memang pada dasarnya saya tidak cukup percaya diri dengan porto saya, yang seharusnya merupakan cermin dari diri saya sebagai  (calon?) desainer. Selama ini saya selalu merasa tidak cukup keren jika disebut sebagai mantan mahasiswa jurusan desain-mendesain. Boleh dibilang ini standar dan yaudah sih, mungkin rupanya salah jurusan, meskipun tidak bisa dipungkiri, kuliah saya sangat mengasyikkan. Tapi pelajaran penting yang bisa dipetik dari kisah porto ini adalah : 

Your Portfolio is YOU.

Portfolio menjadi bagian penting untuk bisa mendapatkan pekerjaan sebagai desainer, siapapun butuh bukti nyata apa saja yang telah kita lakukan bukan? bukan hanya racauan konsep tertulis yang bisa betah saya karang hingga dua lembar halaman folio. Porto akan memaparkan secara gamblang karakter seseorang, karakter desain seseorang, seberapa besar passionnya dalam desain dan banyak lagi yang saya tidak tahu sebenarnya, hehe. Hal ini merupakan kenyataan yang tidak bisa diingkari oleh siapapun, termasuk pemalas ambisius yang selalu mimpi jadi bos seperti saya ;p.

Yeahh..saatnya kembali membenarkan porto untuk bisa menaikkan harga jual. Setidaknya harus diusahakan sepenuh hati, kalaupun harus disesuaikan dengan keinginan calon perusahaan, semoga saja saya tidak kehilangan jati diri. 

My Portfolio is Me, and no one can asked me to be someone else. But, I can do better, and make it better. Semangat!! :D

Jumat, 12 Oktober 2012

Broken Leg, NOT Broken Heart

source:http://inklover.wordpress.com

"And the currency for relationship is called sincerity."
..dan mata uang ini berdenominasi tunggal: Ketulusan. (Rene Suhardono)

Kemarin, tanpa diduga dan dinyana saya mengalami kecelakaan kecil. Tertebak dari judulnya, saya mengalami sedikit fraktura di pergelangan kaki yang sampai jam setengah enam petang masih saya kira -retak dikit gapapa lah ya- yang ternyata diklarifikasi dokter sebagai: patah tulang. Memang, nyeri dan bengkak di sekujur kaki saya tidak terlalu parah meskipun cukup membuat saya duduk tidak tenang, apalagi berjalan yang tentu saja tidak bisa, dibumbui sedikit air mata di sela-sela tawa getir ketika harus menggantung kaki untuk ke kamar mandi. Alhamdulillah, dokter yang saya temui sangat menyenangkan dan cukup melegakan ketika saya hanya harus bersabar hingga dua minggu ke depan untuk terbebas dari balutan gips keras dan juga 'lompat kodok' ini.

Lantas, apa hubungannya dengan relationship? -lagi, setelah terakhir saya juga memposting tentang topik ini-

And the currency for relationship is called sincerity.

Ya, ketulusan yang merupakan nilai tukar dari sebuah silaturahmi benar-benar menjadi faktor dominan dalam keselamatan saya kemarin. Terimakasih sebesar dunia dan seluas lautan yang mungkin belum cukup bagi kedua sahabat saya yang setia menemani sejak pagi hingga lepas isya'. Bukan perkara mudah untuk bisa sabar mendorong kursi roda dan menunggui sambil mengantuk di rumah sakit. Siapa yang mau membuang waktunya yang tentu saja sangat berharga kalau bukan karena niat mulia yang tulus dari dasar hati? 

Banyak pelajaran dan hal-hal luar biasa. Tentu saja karena ini adalah pengalaman pertama yang semoga juga terakhir saya mengalami kecelakaan yang berujung pada cedera fisik. Bahkan dengan bodohnya saya masih bisa berpikir: "Bagaimana bisa saya benar-benar jatuh? toh, biasanya Allah selalu membuat saya bisa menghindari situasi bahaya seperti ini," Err..tidak apa-apa, silahkan tertawa. Tapi saya benar-benar sempat berpikiran seperti itu. Kejadian ini membuat saya berkenalan dengan hal-hal baru, excited bermain-main dengan kursi roda, amaze dengan cara kerja gips yang ternyata awalnya berupa selembar busa, dan terlebih mengendalikan emosi jiwa. 

Yang paling luar biasa adalah dalam situasi seperti ini, saya baru menyadari dan mencamkan baik-baik betapa berharganya orang-orang di sekitar saya. Dengan kondisi di perantauan, jauh dari keluarga-yang tentu saja khawatir setengah mati tapi saya sok cool melarang untuk datang ke Bandung- siapa sih yang saya nggak gentar? untung saja, Allah masih membukakan mata hati sahabat-sahabat saya untuk tetap survive ketika saya selalu memanfaatkan situasi dan memasang muka lemah seraya berkata  "ambilin, gue minum," atau "beliin gue makan,". Oke, meskipun dengan beberapa statement "Gue mau ngungsi ahh dua minggu," atau "Lo mesti nemenin gue nonton JKT48 kalo udah sembuh," serta "Awas aja ya ntar kalo lo udah sembuh..tunggu pembalasan gue," Haha, thank's for being Allah's hands to keep me full and peace. 

Ada lagi, kemarin saya disarankan untuk memakai kruk selama dua minggu. Dan dengan baik hatinya Sang dokter mencarikan pinjaman untuk saya. Meskipun pada akhirnya saya tidak jadi meminjam karena kruk punya bapak yang mau dipinjamkan ke saya itu juga pinjaman, maka lebih baik saya mencari pinjaman ke teman saya yang kebetulan punya. Tapi saya tahu, Sang dokter dan Sang bapak begitu tulus ingin membantu, bahkan ketika akhirnya saya bertemu dengan bapak yang juga mengalami patah tulang..beliau sempat memaksa saya untuk memakai kruk-nya dan menitipkannya kembali ke rumah sakit satu bulan kemudian ketika beliau kembali kontrol. 
Ketulusan itu, tampak begitu saja dan dengan mudahnya terbaca lewat rona wajah dan senyuman mereka.Dan saya pun dapat mengenali bentukannya tanpa harus berpikir dua kali, apalagi berasumsi.

Semuanya pada akhirnya menjadi sebuah rangkaian pengalaman yang luar biasa. Sungguh Luar biasa. Terimakasih untuk para tokoh utama dalam kisah ini, Niken dan Pipit. Silahkan menikmati  kesempatan membully saya selama beberapa minggu ke depan, hanya tunggu saja akibatnya setelah ini,  muah-haha. Hanya Allah yang bisa membalas ketulusan dan segala yang telah kalian lakukan :).


Selasa, 09 Oktober 2012

Relationship Is The New Currency

picture taken from:http://aisforteenagedream.blogspot.com
Kalau di jejaring sosial Anda mengubah status dari "single" menjadi "in a RELATIONSHIP", bisa ditebak Anda akan menuai banyak notifikasi. Mulai dari ucapan selamat sampai pertanyaan-pertanyaan kepo dengan 5W 1H ala kuli tinta pasti muncul berdesakan di kolom komentar. Tapi tunggu..ini bukan tentang relationship yang itu. Ini lebih down to earth lah ya..nggak bikin ngiri para jombloers sejati ;p.

Belum lama, seorang senior sempat bercerita singkat bahwa di kehidupan nyata begitu sulit mencari sebentuk hubungan yang murni atas dasar ketulusan, kasih sayang dan keikhlasan antara sesama manusia- ceileh. Benarkah? Bisa jadi benar. Tidak bisa dipungkiri, setiap orang dewasa ini memiliki kepentingan yang sangat beragam. Bukannya ingin berburuk sangka, tapi berapa banyak orang yang kita temui yang masih memiliki niat yang pure hanya untuk berteman sehidup semati tanpa ada embel-embel kepentingan koneksi, administrasi, maupun pribadi? 

Bagaimanapun, sebuah hubungan baik mampu membawa seseorang pada hal-hal tidak terduga. Masih ingat kalimat "Kalau ingin mengenal seseorang lihat saja siapa sahabatnya"? sedikit banyak cara tersebut berhasil. Tentu saja, seseorang akan cenderung berkumpul dengan orang-orang yang memiliki karakter yang sama, kepentingan yang sama, visi yang sama dan hal-hal yang sama lainnya. Bukan hal baru ketika seorang soleh memiliki teman yang mayoritas soleh semua atau maling memiliki sohib yang mayoritas seprofesi. Disinilah sebuah relationship antar pribadi menjadi sebuah kunci. Selanjutnya yang akan terjadi adalah proses mewarnai, diwarnai, atau harmonis menjadi warna-warni.

Lantas, apa masalahnya dengan hubungan atau relationship ini? tidak ada masalah kok ketika kita mampu menempatkan diri dengan benar dalam sebuah bentuk hubungan. Hanya yang perlu digaris bawahi adalah bahwa tidak semua bentuk relationship perlu dikomoditaskan. Tidak salah jika yang diharapkan dalam sebuah kerjasama dan hubungan adalah adanya keuntungan, tapi akan lebih adil jika keuntungan tersebut dapat dinikmati kedua belah pihak. Yah..seperti prinsip silaturahmi yang diajarkan Rasulullah lah. Barang siapa yang menyambung silaturahmi dengan saudaranya maka akan dipanjangkan umurnya, dibukakan pintu rezekinya, perdagangan yang menguntungkan bukan? 

Benturan antar kepentingan yang semakin besar bisa jadi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi. Pernah berpikir :Kenapa sulit ya menemukan teman seperti teman-teman saat kuliah dulu?, jawaban sederhananya adalah ya ketika kuliah dulu kepentingannya bisa jadi hanya sekedar tugas kuliah ataupun kegiatan organisasi, latar belakang, motivasi, tujuan, serta kondisi yang hampir seluruhnya seragam akan membuat kita merasa senasib sepenanggungan. Sedangkan kini setelah nyemplung ke dunia nyata? it's totally different. Semua orang memperjuangkan kepentingan masing-masing, bahkan ada yang rela sikut-sikutan untuk mendapatkan apa yang diinginkan. 

Jadi serem?

Nggak juga kok, Syukurnya masih ada banyak orang di luar sana yang memiliki nilai pribadi yang luhur. Nilai-nilai PPKn yang diajarkan oleh bapak ibu guru sewaktu SD serta bimbingan orang tua agaknya belum luntur seluruhnya. Fitrahnya setiap manusia itu baik, sehingga selalu ada kebaikan meskipun sedikit. Ketulusan dalam membangun hubungan berawal dari fitrah manusia untuk berbuat baik tanpa pamrih sehingga membentuk sebuah relationship yang manfaat bagi banyak pihak. Terbukti, saya begitu tersentuh melihat beberapa potong adegan berjudul 'ketulusan' di ibukota yang konon katanya lebih kejam daripada ibu tiri tersebut. Seorang mbak-mbak dengan senang hati menawarkan bantuan pada ibu-ibu yang tampak sangat kelelhan menaiki tangga jembatan penyeberangan dengan belanjaan yang terlihat berat. Ada lagi, ketika di kopaja, seorang lelaki paruh baya merelakan tempat duduknya bagi ibu-ibu dan seorang kakek yang harus dibantu tongkat ketika berjalan, yang kemudian kakek tersebut dengan sangat baik hati menunjukkan arah dan mencarikan kopaja untuk kami yang nyasar ketika mencari Menara Palma. See, ibukota yang lebih kejam dari ibu tiri pun masih memiliki orang-orang baik dan tulus kok.

RelatIonship is the new currency. And the currency for relationship is called sincerity. (Rene Suhardono, Your Journey to be the #UltimateU)

Membangun sebuah relationship dengan siapapun memang gampang-gampang susah. Namun pembelajaran harus tetap berjalan bukan? apakah kita akan takut dalam memulai bentuk hubungan dengan orang lain karena takut sakit hati, takut dicurangi? Hmm..saya pun masih sering terbayangi oleh ketakutan-ketakutan tersebut. Tapi saya masih percaya, meskipun sedikit ataupun sulit, sebuah relationship- ala sahabat semasa sekolah-bisa kita jalin dengan siapapun, kapanpun dan dimanapun. Niatkan tulus untuk menjalin silaturahmi kerena Allah, Bismillah..dan kita tidak akan pernah rugi kok ketika memperlakukan seseorang dengan baik. Dalam bentuk hubungan apapun InsyaAllah terdapat banyak pembelajaran, meskipun begitu tidak berarti kita boleh sembarangan dalam membentuk relationship dong. Kewaspadaan, serta perilaku kita menjadi kunci penting untuk membentuk sebuah hubungan baik atau tidak baik. 

Kamis, 14 Juni 2012

Memutuskan.


Memutuskan, adalah hal yang selama ini sungguh berat untuk saya lakukan. Takut menyesal? hmm..mungkin salah satunya. Tapi bukan berarti saya meragukan takdir-Nya untuk saya..tidak, tidak sama sekali :).

Sudah bukan rahasia lagi bahwa istikharah adalah jalan terbaik untuk berdiskusi dengan Allah. Jalan terbaik untuk menuntaskan kebimbangan yang menyesak di dalam dada. Namun, bagi saya itu bukan perkara mudah. Setan selalu menyelipkan sebersit ketakutan di hati, hingga terkadang saya enggan menjemput keputusan terbaik-Nya.

Sedikit lucu. Selama ini saya selalu 'titip' pada ayah saya untuk meminta pada Allah jalan yang terbaik. Saya selalu meminta bapak untuk mewakili saya untuk melakukannya. Bodoh? memang, hahaha..saya hanya terlalu takut untuk menghadapi kenyataan. Namun, beberapa terakhir ada banyak hal yang mengganjal di hati saya. Mau tidak mau, berani tidak berani..langkah terbaik ini pun saya ambil.

Istikharah. Banyak orang berkata bahwa setelah memohon pada Allah melalui shalat ini, kita akan bermimpi. Memimpikan sebuah petunjuk yang dapat dijadikan referensi untuk mengambil keputusan. Nahh..ini juga yang saya takutkan. Saya selalu merasa tidak paham dengan mimpi saya, bahkan mengingatnya saja sulit, bagaimana nanti saya bisa mendapatkan petunjuk?? yang ada makin sesat.

Bapak selalu tertawa jika saya menolak untuk istikharah dengan menceritakan alasan tersebut. Kata beliau, isyarat itu bukan hanya melalui mimpi. Tapi bisa juga melalui kemantapan hati. Ya..kemantapan hati, itu yang mungkin belum saya dapatkan.

Namun sepertinya kali ini Allah menunjukkannya dengan gamblang kepada saya. Bukan lewat mimpi seperti yang selalu saya khawatirkan. Tapi nyata dan konkrit melalui apa yang bisa saya cerna dengan akal sehat. Dan sepertinya ini..ini jawaban atas doa saya selama ini :D. Jangan bertanya tentang apa dan apa jawabannya..ini RAHASIA. Saya hanya ingin bercerita bagaimana hebatnya hasil diskusi dengan Yang Maha Tahu. Ya..Dia Maha Tahu..saya harus mengingat itu lekat-lekat.

Dan, inilah yang terbaik..inilah yang terbaik :D Bagaimanapun, saya justru merasa tenang dan lega dengan apa yang Dia putuskan untuk perkara ini. Sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah..menjelang yang terbaik. Bismillah dan ..insyaAllah..

"Kebaikan adalah apa yang membuat hati tenang dan nafsu tenang, keburukan adalah apa yang membuat hati gelisah dan menimbulkan keraguan," (H.R Ahmad)

Kamis, 13 Oktober 2011

Kali Ini Cerita Pendek Tentang Rembulan

http://eriek.wordpress.com/2008/04/24/bulan-purnama/

Mengapa pungguk merindukan bulan? apakah mereka pernah bertemu sebelumnya? kesimpulan yang jelas bisa diambil dari pertanyaan tersebut hanyalah "sebenarnya saya lupa ceritanya.."

Sebenarnya yasudahlah..lewati saja bagian pungguk merindukan bulan. Malam ini Bandung cerah. Tidak seperti kemarin-kemarin yang selalu diguyur hujan. Sekilas, tadi saya sempat terprovokasi status seorang  teman. Kurang lebih isinya, "yang di Bandung, coba deh liat keluar sebentar. Bulannya bagus,
Saya beranjak mengintip ke luar, huaah..benar. Malam ini, bulannya bagus, meskipun belum bulat benar..tapi cahaya kuningnya selalu terkesan "minta difoto banget", hehe.

Untuk apa bulan diciptakan? teori satelit-orbit-keseimbangan semesta dan segala ilmu yang pernah saya pelajari dulu sepertinya, semakin tipis bekasnya. Hmm..yang penting bagi saya, pasti semua orang boleh membangun persepsinya sendiri bukan? untuk apa bulan terlihat malam ini, oleh saya.

Langit Bandung memang sudah tidak seindah kampung halaman saya. Urusan pemandangan bulan yang paling spektakuler yang pernah saya ingat adalah ketika berada di Bantul beberapa bulan lalu. Sepertinya bulan yang itu sama bulan yang ini masih sama juga kan ya? tapi yang di Bantul, Subhanallah...saya terpaku menatap ufuk timur sore itu. Bundar dengan cahaya kuning lembut. Muncul dengan anggun senja itu, sepertinya masih sore, bahkan maghrib belum menjelang. Bagus sekali..saya memelankan laju motor agar bisa menikmatinya lebih lama. Indah..indah sekali..

Satu lagi tentang bulan yang pernah saya lihat. Yang ini di Madiun, jauh dari Bantul, apalagi Bandung, hehe. Bulan yang di sana memiliki halo waktu itu. Pendaran cahaya nya luaaaaas sekali..bapak selalu meminta saya mematikan lampu jalan ketika bulan purnama. Yang edisi spesial halo super indah lah..ada lingkaran seperti border yang berpendar, gugusan bintang kelap-kelip keren terlihat sangat jelas. Hal yang tidak pernah saya lihat di langit Bandung yang hampir selalu merah. (*sighs, pengen pulang)

Dulu, saya sering sekali menghabiskan waktu barang semenit dua menit duduk di teras memandangi bulan. Galau ya? mungkin...tapi hal itu menjadi sebuah zona nyaman tersendiri bagi saya. Hmmm..mmm...memandangi langit malam tidak pernah membuat saya bosan. 
Jadi sebenarnya, mengapa bulan begitu indah?
Semua orang memiliki jawabannya masing-masing bukan?