Tampilkan postingan dengan label Pantai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pantai. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 April 2015

Bukan Travelogue: Menyusuri Tiga Gili

Kami berkumpul menikmati sepiring banana pancake dan segelas teh hangat di pelataran Baleku. Ransel-ransel sudah terpacking rapi. Hari ini hari terakhir kami berada di Pulau seribu masjid.

Tujuan terakhir sebelum pulang hari ini tentu saja adalah 3 gili: Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air. Seharusnya kami sudah harus check out dan meninggalkan penginapan pagi-pagi. Tapi setelah pembicaraan antara Fajar dan pemilik penginapan, kami diperkenankan untuk menggunakan satu kamar untuk menaruh seluruh barang dan untuk mandi sepulangnya dari tiga gili nanti. Setelah urusan titp menitip ini selesai, Fajar meminta kami bersiap di depan.

Rupanya di depan kejutan sudah menunggu. Bukannya Pak Imam yang siap sedia dengan travel, kami dikejutkan dengan sebuah mobil macho berwarna merah, tanpa atap. Awalnya saya kira hanya numpang parkir, dan Jojo ini ngapain pede banget udah stand by aja di jok depan? yang lebih mengejutkannya lagi, ternyata mobil itulah yang akan mengangkut kami semua menuju Senggigi! Man, 8 orang dalam sebuah mobil sejeni Jeep kecil itu sesuatu banget. Err..sebenarnya saya setngah kesenangan karena penasaran sih! ahaha.

Mobil melaju kencang di jalanan menurun yang ternyata berada tepat di tepi pantai Senggigi. Saya sih dari kemarin nggak nyadar, haha. Tidak lama kemudian kami sampai di pantai untuk menyeberang. Di Pantai ini, Fajar membeli makan siang dan menyewa snorkle dan fin. Setelah deal dengan salah satu pemilik kapal, kami segera berangkat menuju Gili Trawangan, destinasi pertama kami.

Perjalanan mengarungi laut sekitar dua jam kami tempuh sebelum akhirnya kapal berhenti di Gili Trawangan. Di luar bayangan saya tentang sebuah pulau sepi penghuni lengkap dengan spot snorkling cantik, Gili Trawangan ini lebih mirip dengan 'dunia lain'. Bagaimana tidak, pulau kecil ini dipenuhi dengan cafe, bar, diving center, lengkap dengan bule di segala penjuru pulau. Cottage-cottage cantik, musik yang berdentum-dentum membuat suasana semakin nggak Indonesia banget. Baiklah, ada ATM Mand*iri sih setidaknya, yang membuat Gili Trawangan masih terlihat Indonesia. Siang semakin panas, lagipula kami tidak bisa berlama lama. Saya bersama Niken, Imon, Supri dan Ocha menyewa sepeda untuk berkeliling sedangkan Ina dan Jojo menyusuri jalanan untuk berburu foto.

Sekitar 45 menit akhirnya kami menyudahi acara berkeliling. Saatnya kembali ke kapal yang..sama sekali tidak terlihat di tepian. Dari jauh kapal kami malah terlihat semakin menjauh. Kami kebingungan mengikuti arah kapal. Belum lagi gelombang di tepi laut cukup besar, berkali-kali kami harus meloncat dan mencari tempat yang lebih tinggi agar tidak terseret arus. Saya sendiri sudah hampir basah kuyup mengejar sandal yang hampir terbawa ombak. Kan nggak keren nanti saya nyeker di bandara kak..

Akhirnya setelah cukup lama terombang-ambing kapal berhasil menepi. Kami bergegas melanjutkan perjalana ke Gili Air. Ya, kami sepakat untuk tidak mampir ke Gili Meno karena waktu yang semakin sempit, jam 3 nanti kami harus segera bertolak ke bandara. Kapal segera mengarah menuju Gili air, dan kembali kesulitan menemukan tempat melempar jangkar. Ombak cukup besar, mendung mulai datang. Sepertinya bukan ide bagus untuk snorkling di saat seperti itu. Tapi bagaimanalah sudah di Gili Air masa nggak nyemplung?? Sikat lah gaaas!

Satu persatu kami mulai nyemplung. Benar saja, gelombang cukup besar dan sempat membuat saya gentar. Duh, berani nggak ya, setelah kemarin saya pun gagal snorkling mandiri. Supri sudah terlebih dahulu mengurungkan niat snorkling, tapi akhirnya saya nekat. Pokoknya harus snorkling di Gili Air! Saya mengikuti pergerakan Ina, entah kemana pokoknya saya ngikut. Kali ini saya sudah nggak nebeng, melainkan berenang sendiri karena pakai fin juga, hehe. Berkali-kali saya masih harus mengeluarkan air dari goggle, juga melakukan mask clearing. Pemandangan bawah lautnya juga belum tampak jelas. Akibat gelombang yang besar juga saya dan Ina malah memutuskan untuk menepi, disusul jojo dengan insiden tangan berdarah-darah.

Ada apa dengan insiden berdarah? rupanya Jojo tidak sadar terantuk besi di salah satu bagian kapal hingga terluka. Dan doi sama sekali tidak ssadar sampai melihat air disekitarnya memerah. Ocha yang memang paling jagoan berenang diantara kami bolak-balik ke kapal untuk mengambil hansaplast dan pelampung. Sementara itu saya nebeng Ocha juga untuk ikutan slulup-slulup ke tengah. Ocha mengkode saya, memastikan nggak akan jauh-jauh dan memberi isyarat untuk mengikuti arah berenangnya. Saya sempat was-was karena tadi ketika lewat bersama ini terdapat bagian yang cukup dalam, tapi ternyata di dekat situ terdapat rangka besi yang sengaja diletakkan untuk rumah ikan. Ocha menebar roti yang sengaja dibawa daaaan.....ikannya berdatangan! cantik-cantik, macem-macem, unyu-unyu! saya terpana sekaligus rempong karena berkali-kali harus mengeluarkan air dari masker. 

Acara slulup dilanjut hingga kembali ke dekat perahu di jangkar. Rupanya pemandangan di bawah perahu nggak kalah bagusnya! Nggak perlu jauh-jauh ke tepian, ikannya sudah banyak. Saya lanjut slulup sambil sesekali bergelantungan pada bagian kapal. Ocha yang masih membawa sisa roti kembali memancing ikan berdatangan. Rasanya saya nggak rela gitu mau mentas, masih pengen melihat ikan-ikan berenang. Maklum ya, justru di hari terakhir itu saya menikmati acara snorkling. Sebelum-sebelumnya saya nggak rilek blas. Tapi apa mau dikata, waktu juga yang memaksa kami untuk segera mengakhiri acara slulup.

Perjalanan pulang selama dua jam kembali kami tempuh dalam keadaan lapar, lelah, ngantuk dan lunglai. Untuk mengusir bosan bahkan saya sudah menyanyi-nyanyi random segala macam lagu dari S07 hingga Tanah Airku. Lumayan membunuh waktu sih, diselingi dengan obrolan ringan. Seperti biasa, Supri dan Ini memilih terlelap daripada nggeje bersama kami.
***

Kami kembali ke Senggigi sedikit terlambat. Akibatnya acara bersih-bersih dan makan siang harus dirapel dan dilaksanakan seefektif dan secepat mungkin. Setibanya di Baleku, kami langsung membagi giliran siapa yang makan dulu siapa yang mandi dulu. Semuanya dilakukan cepat, kilat dan rusuh. Sekitar pukul 15.30 akhirnya kami kembali berkumpul dan kembali memasukkan ransel yang bertambah berat ke dalam mobil. Setelah mengucapkan terimakasih kepada pemilik penginapan, kami diantar Pak Imam dan Fajar menuju bandara Lombok Praya. 

Perjalanan darat sekitar dua jam kami tempuh kembali. Pesawat rombongan madiun akan terbang pukul 18.00 WITA. Segera setelah sampai di bandara, Jojo segera bergegas mengambil tas dan mempersiapkan keperluan untuk check in. Setelah selesai dengan urusan bawaan, kami berpisah di ruang tunggu dengan dadah-dadah dan cipika-cipiki *yang cewe-cewe aja tentunya. Dan tepat sesuai jadwal, pesawat yang kami tumpangi tinggal landas, melintasi langit menuju Surabaya. (Selesai)

Gili Trawangan, rasa mancanegara (keliatan sepi karena memang cari spot yang sepi)
Slulup asik pakai fin dan pelampung

*Foto Piko, Niken. Dan memang nggak banyak foto karena habis energi. Di bandara pun nggak sempat foto barenga karena buru-buru.

Perjalanan memang selalu melelahkan. Tapi bukankah dengan menempuh perjalanan kita memaknai arti pulang? Bukankah dalam berperjalanan kita memberhentikan waktu untuk saling mendengar satu sama lain, melihat lebih lekat satu sama lain? 
Dan saya gagal move on dari segala hal tentang perjalanan. Tertambat pada lelah dan semangatnya, dalam hal baru dan asingnya. 
Sampai jumpa lagi di perjalanan berikutnya.

Bukan Travelogue: Pink Beach dan Senja di Bukit Mandalika (2)

Perjalanan berlanjut setengah tergesa. Rencananya sore ini kami akan mengejar matahari terbenam dari sekitar wilayah Pantai Batu Payung. Obrolan cukup berat mengenai regulasi migas di tanah air membuat saya mati kutu. Ah, kali ini saya hanya akan membuang pandangan ke jalanan yang rupanya sudah dekat dengan pantai.

Terik matahari sore segera menyambut kami sesampainya di Pantai Batu Payung. Pasir putih dengan butiran hampir sebesar merica menggelitik kaki dan memperberat langkah. Ombak cukup besar mengayun-ngayun kapal yang akan membawa kami ke lokasi Batu Payung. Adalah Anton, kapten kapal yang akan membawa kami menuju pulau di tepian Samudera Hindia sana. Dan kisah ini akan diwarnai oleh sekilas cerita tentang Anton.

Anton meneriaki kami agar menyingsingkan celana dan melepas alas kaki. Kontur pasir memang menyulitkan kami untuk bergerak. Dengan sigap Anton menaikkan sandal-sandal, meminta kami segera naik ke kapal lalu melepas sauh. Anton mengambil alih kendali, ayahnya tampak mengurus permesinan di belakang. Bersama kakak perempuannya, Anton duduk di ujung buritan kapal, mengambil posisi santai memandang lautan lepas. Mungkin saja hal ini sudah ratusan kali dilakukannya, menyeberangkan wisatawan untuk melancong. Dan saya berfikir, anak-anak macam Anton ini apakah memiliki kehidupan lain? Pertanyaan saya semakin memudar diterpa angin bercampur air. Kapal meloncat-loncat mengarungi gelombang menuju pulau yang dipenuhi batuan raksasa.

Sekitar 15 menit kemudian Anton memberikan tanda pada ayahnya untuk mematikan mesin. Kami memang sudah sampai di sebuah pulau yang dipenuhi dengan tebing batu berukuran besar-besar. Kapal tidak bisa berhenti di tepian karena koral-koral di perairan dangkal. Kami terpaksa nyemplung ke perairan dengan baju bersih yang baru saja di ganti-nggak rela banget rasanya- berjalan berjingkat meniti batuan. Semua kerepotan itu terbayar lunas sejak dari tepi, berbagai macam hewan dan rumput laut beraneka warna begitu memanjakan mata. Batu dengan ukuran besar-besar kami lewati sepanjang perjalanan menuju letak batu payung yang ternyata adalah batu yang menjulang tinggi yang bayangannya bisa menjadi tempat berlindung, seperti payung. Tapi memang eksotis banget sih, kami berasusmsi mungkin saja dulunya batu ini adalah serupa tebing yang akhirnya terkikis ombak. Terlepas dari itu semua yang paling ajaib adalah, ada penjual es kelapa muda di tengah pulau batu yang harus dijangkau dengan perahu. 

Anton memberi kode pada temannya untuk menyiapkan kami beberapa butir kelapa muda. Rasanya sungguh bagai oase di siang yang terik dan silau. Kami bertujuh memang sudah mulai lelah dengan agenda selam menyelam sepagi tadi. Setelah puas berfoto dan menghabiskan air kelapa, akhirnya Anton membawa kami kembali ke daratan untuk melanjutkan perjalanan untuk mengejar matahari tenggelam..
***
Perjalanan diteruskan setelah perdebatan mengenai dari mana seharusnya kami menyaksikan matahari tenggelam. Ada dua pilihan spot, Bukit Mandalika yang hanya sekitar beberapa kilo dari Batu Payung atau satu lagi saya lupa apa namanya yang masih agak jauh lagi baik berkendaranya atau berjalan kakinya. Tentu saja kami semua memilih opsi Bukit Mandalika yang tidak perlu ada acara jalan kaki sekitar dua kilometernya -_-, capek hidup kami kaka..

Tanpa ada bayangan setinggi apa bukit ini, saya mengayun langkah dengan malas. Menapaki tanjakan yang puncaknya sudah hampir dipenuhi oleh bule-bule yang sedang hore-hore. Hari itu para penganut agama Hindu memang sedang melaksanakan ibadah Nyepi, jadi para bule dari Bali sepertinya banyak juga yang ngungsi ke Lombok.

Rupanya bukit Mandalika ini tidak seterjal dan setinggi yang saya bayangkan, ya saya bayanginnya mendaki Ijen sih ;p, lumayan lah..kami menemukan spot yang cukup longgar. Hari masih sore, dari kejauhan garis pantai terlihat berkilap seperti minyak. Sebenarnya dari sini kami tidak akan bisa melihat matahari benar-benar tenggelam karena di depan kami masih terdapat beberapa lapis bukit yang berderet. Meskipun begitu pemandangan ini tetap saja luar biasa indah. Kami duduk berjajar membentuk dua shaf dan mengisi waktu dengan kegiatan masing-masing. Imon, Niken dan Supri di barisan terdepan asyik berbincang, Jojo sibuk mengambil foto, dan saya awalnya asyik bengong. Entah siapa yang memulai, obrolan tentang matahari tenggelam mulai bergulir. Ohya, Fajar sudah mengajak kami untuk turun, padahal matahari belum benar-benar menghilang. Padahal saya ingin sekali menunggu hingga langit berubah gelap. Rupanya tidak hanya saya, Ocha juga demikian. Well, kami ingin melewatkan senja di puncak bukit ini, bukit Mandalika. 

Bagi saya pribadi senja selalu memberikan perasaan sentimentil. Kalau kata Ocha, perasaan sendu. Kalau kata saya, bertemu dengan senja seperti mengucapkan perpisahan pada kawan lama, sedih tapi ya mau bagaimana lagi. Lalu Jojo mengingatkan kembali sebuah kalimat dari Spongebob tentang senja: 

"Mengapa harus ada matahari tenggelam di hari yang cerah?"

Ya, kenapa. Bisik saya dalam hati.

"Karena akan ada malam penuh bintang yang tidak kalah indah",

itu katamu Ko, Jojo mengingatkan.

Ah, ya, benar. Memang benar, kalimat ini menggambarkan dengan baik, apa yang tidak akan pernah terucap di antara kami masing-masing. Dan kami pun akhirnya menuruni bukit Mandalika, tepat ketika matahari senja beranjak turun ke peraduan untuk mempersilakan langit ditemani bintang-bintang. 
Anton, tampak cool di atas buritan kapal
Yah, ketauan di foto langsung pose >.<
Batu Payung
Kapan lagi minum kelapa muda di tengah samudera?
Batu-batu besar nan cantik di sepanjang pulau
Menyaksikan matahari beranjak tenggelam dari bukit Mandalika

*Foto by Jojo, Piko

Rabu, 22 April 2015

Bukan Travelogue: Pink Beach dan Senja di Bukit Mandalika (1)

Hari ketiga. Pink beach menjadi salah satu destinasi yang ditunggu-tunggu selama kunjungan ke Lombok. Hari masih gelap ketka Fajar mengetuk pintu kamar kami satu persatu. Dingin segera menyergap, kami berangkat bahkan sebelum matahari muncul di ufuk timur.

Perjalanan menuju dermaga pemberangkatan ditempuh selama kurang lebih dua jam. Kami tiba dengan muka lusuh di sebuah pasar ikan yang begitu riuh. Di sana sini tumpukan ikan segar memanjakan mata, bahkan ada yang ukurannya luar biasa besar! Imon, Ina, Jojo dan Ocha sibuk menebak-nebak antara Cumi atau Sotong. Saya hanya mengedarkan pandangan ke sekitar. Pagi ini ramai sekali.

Setelah menunggu Fajar tawar menawar kapal, akhirnya kami berangkat menuju Pink Beach. Bekal nasi goreng yang tadi dibawa Fajar belum juga tersentuh. Bapak pemilik perahu yang menemani kami hari ini sangat baik. Sepanjang jalan beliau menerangkan pulau-pulau kecil yang kami lewati. Konon, di tengah kawasan tersebut terdapat sampungan listrik bawah air yang sangat panjang. Ah, sayang sekali saya sudah lupa nama-nama spesifiknya! Satu yang saya ingat adalah Pulau Pasir, yang memang berupa gundukan pasir jika air sedang surut. Sayangnya pagi itu air cukup tinggi sehingga permukaan Pulau Pasir hanya tampak sekitar 50 cm saja. 

Kami melanjutkan perjalanan, di tengah jalan beberapa kali Bapak pemilik perahu menunjukkan spot-spot potensial. Tapi dasar kami ini tipikal manusia-manusia tidak sabaran, akahirnya kami memilih untuk menuju spot snorkling utama. Ah lupakan namanya apa. Spot ini berada tidak jauh dari daratan kecil berpasir putih. Bapak pemilik perahu dengan sigap mengeluarkan semacam kasur air yang ternyata fungsinya adalah untuk...latihan snorkling! Supri yang memang sama sekali tidak sempat belajar berenang menepi untuk mengambil kelas latihan. Saya juga dengan senang hati nebeng kesana kemari karena memang ketika di lautan, massa tubuh terasa lebih ringan sehingga sedikit sulit untuk mempertahankan posisi.

Beberapa saat berpegangan di pelampung membuat kepercayaan diri saya naik. Dengan keyakinan mulai bisa mengendalikan pergerakan saya pun gaya banget melepas pelampung karena memang 'ngabot-ngaboti'. Untuk berenang jarak dekat, disambung dengan berpegangan pada perahu, saya ngider jarak dekat untuk menikmati pemandangan bawah air. Sampai akhirnya Ocha menawarkan untuk melihat lebih ke tengah untuk melihar ikan yang lebih beragam. Yuhuu! saya sih semangat 45, sembari ancang-ancang ambil nafas karena jaraknya cukup jauh.  Melihat saya hendak ke tengah tanpa pelampung, Niken sudah lebih dulu mengingatkan: "Kamu yakin nggak mau pakai pelampung?" saya mengangguk sambil nyengir dan mulai meluncur. 

Setengah grogi saya mengikuti Ocha yang berenang santai. Hingga beberapa menit kemudian saya merasakan air mulai merembus ke dalam goggle. Perihnya nek, juga akhirnya saya kehabisan nafas karena repot mengeluarkan air, pergerakan kacau daaan...saya mulai tenggelam. Untung saja Ocha masih siaga dan segera menangkap tangan saya. Akhirnya saya menyerah dan kembali memakai pelampung, hehe..dengan sesekali nebeng Ina akhirnya bisa juga menikmati pemandangan bawah laut! Kereeen! setidaknya kali ini saya lebih berhasil daripada sewaktu di Tidung dulu :D
***
Perjalanan kami ke Pink Beach kembali dilanjutkan. Rencananya makan siang nanti akan diisi dengan menu ikan bakar dan sari laut lain. Sampai di Pink Beach, hari sudah mulai siang. Fajar dan Bapak pemilik perahu segera mempersiapkan bahan makanan dan tungku pembakaran, Tak lama kemudian, terlihat Bapak pemilik perahu sudah sibuk memasak ikan dan Fajar kembali menyusul kami yang asik bermain pasir -yang warnanya beneran pink- dan air. 

Pink Beach adalah lokasi wisata yang masih cukup sepi meskipun ya nggak sepi-sepi banget. Sesuai dengan namanya, pantai ini memiliki pasir berwarna merah muda dengan butiran halus. Di sepanjang tepian pantai ombaknya cukup besar hingga merusak mainan pasir yang kami buat -yes, kami masinan pasir-. Serpihan batu karang juga dengan mudah ditemukan di sepanjang tepi pantai, kalau si Pipit ikut pasti dikarungin deh itu batunya, haha. 

Sepanjang siang kami melakukan hal-hal nggak penting di Pink Beach. Mulai dari membuat kue yang ceritanya mau difoto untuk Izul, tahan-tahanan dalam posisi duduk di pinggir pantai, hingga mengubur Ocha di pasir. Yang terakhir asli random banget, dan kami semua begitu semangat menimbun Ocha yang sudah terlebih dahulu dipaksa terlentang dengan pasir pantai disekujur tubuh. Beneran puas ketawa-tawa sampai lapar! Untung saja, tak lama kemudian Fajar menginstruksikan agar segera menepi. Ikan bakar untuk kami sudah hampir siap.

Asap pekat dari pembakaran berkali-kali menerpa wajah hingga membuat mata berair. Kami menunggu dengan kelaparan kapan jatah kami siap disantap. Bapak pemilik perahu sudah siap dengan setermos nasi. Ikan, cumi dan udang akhirnya dipindahkan ke piring. Kami dengan khidmat menyantap sari laut yang..yang..Enaknyaaaa...enak banget! Udangnya manis, cuminya gurih, ikannya..ya rasa ikan, hehe. Saya memang kurang suka ikan dengan ukuran besar, jadi yasudah skip ya, lanjut cumi segede gaban dan udang yang manis segar luar biasa.

Selesai makan, Fajar meminta kami untuk bergegas. Tujuan selanjutnya adalah Batu Payung. Hanya saja, jaraknya cukup jauh sehingga kami tidak boleh terlalu lama mengabiskan waktu untuk mandi sperti kemarin. Sepanjang jalan kami menyusun strategi untuk menghemat waktu. Salah satunya dengan sigap di kamar mandi, haha. Begitu bertemu dengan kamar mandi, saya bergegas membersihkan diri dan sholat. Cepat! hanya sekitar 30 menit rasanya dan kami bertuju sudah duduk manis lagi berada di mobil. Pak Imam segera melaju membawa kami menuju Batu Payung. (Bersambung)

Ini nih bapak pemilik perahu yang baik hatinya dan suka menolong :D

Dalam imajinasi kami ini adalah wedding cake yang unyu, untuk dear Izul

Pink Beach!

Karang di tepian pantai menuju Pink Beach

Masih sambungan dari karang di sepanjang jalur menuju Pink Beach

 *Foto oleh Niken Yusnita, karena pada hari itu hanya dia yang free willy membawa kamera sedangkan yang lain asik bermain air dan pasir.


Jumat, 27 Maret 2015

Bukan Travelogue: Piknik!

 Ransel-ransel sudah tertumpuk di bagasi belakang. Hujan tak kunjung reda masih ditemani kilat petir. Tersendat-sendat saya menginjak pedal gas. Kami berangkat, menuntaskan pertengkaran beberapa bulan terakhir, menunaikan janji perjalanan menuju timur: Lombok!

OKTOBER 2014

Mari kita mundur sebentar, kembali ke titik mula semua kehebohan ini dimulai. Awalnya, Saya, Niken, Imon dan Jojo yang selanjutnya akan disebut dengan geng Madiun berencana untuk trip ke Banyuwangi. Idealnya, rombongan kecil kami akan lebih mudah ditangani dan direalisasikan hingga entah karena apa..rencana perjalanan bocor ke telinga geng kelas bunga. Rencana seketika berubah, jumlah peserta bertambah. Destinasi dialihkan. Lombok, kami memilih satu pulau. 2015 adalah waktu yang sama-sama kami sepakati untuk berperjalan bersama.

DESEMBER 2015

Banyak hal terjadi dalam jeda hingga Desember 2014. Mulai dari perubahan destinasi hingga tanggal yang tiba-tiba berubah. Tidak cukup sampai disitu, kenaikan harga BBM di akhir tahun juga sempat meresahkan. Kami belum mendapatkan kepastian dari agen hingga awal tahun dikarenakan harga-harga yang belum stabil. Tapi yang paling absurd adalah kami sudah mebooking 8 tiket pesawat PP: 3 Jakarta-Lombok dan 5 Surabaya-Lombok. Tidak ada kata mundur untuk liburan kali ini.

JANUARI 2015

Wacana untuk berperjalanan selalu menimbulkan sensasi berbeda. Kami menunggu dan menunggu dalam kesibukan masing-masing. Seperti nunggu jodoh deh rasanya, haha. Saya Niken Imon intensif berlatih berenang karena tidak mau melewatkan pemandangan bawah air nantinya. Waktu seperti berjalan lambat-lambat. Tahu banget kalau kami sedang menunggu-nunggu bulan Maret. Ya, akhirnya di awal tahun kami mulai memastikan satu persatu bagian dari perjalanan ini. Tiket bertanggal 19 Maret, juga agen perjalanan untuk 4 hari 3 malam. Tinggal printilan kecil lah nantinya yang harus diurus mendekati hari-H. Untungnya, Sebuah trip mendadak ke Banyuwangi mampu mengalihkan perhatian saya. Meskipun tidak ke Baluran, agenda ke Banyuwangi malah lebih dahulu tercapai!  (Klik di sini untuk tulisan tentang perjalanan singkat ke Banyuwangi)

MARET 2015

Bulan Maret dibuka dengan sebuah kabar mengejutkan: Etis, salah satu peserta piknik salah memprediksi jatah cuti. Kehebohan kembali terjadi karena seluruh biaya perjalanan sudah lunas dibayarkan. Pilihannya sama-sama sulit, mencari pengganti dalam waktu beberapa minggu saja, atau merelakan tiket dan biaya perjalanan hangus. Hingga H-7, upaya lobi untuk mendapatkan cuti masih saja gagal. Begitu pula dengan pencarian pengganti, tidak membuahkan hasil. Dengan berat hati, Etis memilih untuk tidak ikut dalam perjalanan, pertaruhannya karir.

Tahu apa yang lebih mengejutan di bulan Maret? H-2 perjalanan, Ocha menerima pesan singkat dari maskapai penerbangan yang nantinya kami tumpangi bahwa penerbangan dari Surabaya menuju Lombok akan mengalami keterlambatan. Telatnya nggak tanggung-tanggung, dari jadwal semula pukul 07.00 WIB, ditunda hingga pukul 15.30! Nggak jadi liburan pak kalau gini caranya sih *Nangis panik.

Kehebohan kembali terjadi, upaya pembatalan, dan keterangan kemungkinan refund tiket masih simpang siur. Hawa di grup seketika panas karena Jojo dan Imon panik. Saya yang masih disibukkan dengan deadline yang harus tuntas sebelum berangkat tidak sempat ikut bingung. Yang jelas, akhirnya kami memesan tiket baru *Sigh. Berat pak hidup ini, mau liburan aja ribet.

18 MARET 2015, D-DAY

Saya sengaja pulang lebih awal karena sangat mengantuk. Nanti malam, saya akan menjajal rute Madiun-Surabaya secara penuh tanpa disubstitusi. Jujur saya sangat menanti-nanti malam ini! haha, nggak penting sih misinya..tapi saya kepengin banget nyetir Madiun-Surabaya. Kami berencana untuk berangkat jam 20.00 WIB setelah Jojo menyelesaikan pekerjaannya. Hujan masih saja tidak berhenti sejak sore, menemani saya yang masih berusaha merem tapi gagal. Hingga kabar di grup kembali membuat saya lemes: Pesawat kembali mengalami penundaan keberangkatan. Ahhh...seketika pengen krubutan slimut dan tidur sampai pagi. (Bersambung)

Selasa, 27 Januari 2015

Gunung dan Laut, Lagi!

Saya berjalan lambat-lambat di belakang Imon dan Ocha. Jojo masih berjalan pelan meniti turunan di belakang. Sembari menahan agar tidak terpeleset saya melangkah tertahan, melempar pandangan sekali lagi ke sisi jurang menganga. Warna hangus dan lumut di sepanjang jalan menjadi teman saya menyepi di tempat yang jauh dari sepi.

Akhir Minggu lalu, saya randomly terjebak dalam sebuah perjalanan mendadak ke Banyuwangi: Ijen dan Red Island. Berangkat dengan persiapan seadanya, tanpa itinerary dan budget plan yang jelas, Sabtu sore Saya bersama Imon dan Jojo turun tergesa di Setasiun Sepanjang. Langit sudah berubah pekat ketika kami tiba. Benar saja, hujan segera datang tak lama kemudian.

Perjalanan panjang kami tempuh menuju Banyuwangi. Kawah Ijen menjadi tujuan pertama malam ini. Sekitar pukul 02.00 WIB kami sampai di lokasi. Para om-om segera menyiapkan peralatan dan perbekalan, ohya, perkenalkan teman seperjalanan saya kali ini: Imon, Jojo, Ocha, Sarip, Zainul, Lingga, dan Rosip. Lima diantaranya baru saja saya temui sore itu. Perjalanan panjang kali ini dihabiskan dengan segerombolan om-om ajaib yang ternyata sama serunya dengan anggota kelas bunga, setipe dan sama nggak jelas nya dengan mereka! haha!

Perjalanan menuju puncak ijen ternyata lumayan juga. Saya yang memang sejak awal tidak menyiapkan sandal gunung harus ekstra hati-hati menahan keseimbangan agar tidak terpeleset. Untung saja malam itu cerah. Meskipun dengan terengah-engah dan berkali-kali hampir menyerah karena medan yang semakin sulit akhirnya kami berhasil sampai kawah pada pukul 04.00 WIB. 

Kami memandang blue fire dari kejauhan, sejujurnya saya tidak menemukan yang istimewa dari blue fire ini. Padahal saya sudah berkacamata, tapi masih terlihat blur dan ..entahlah, tidak semenarik ceritanya saja. Tapi ketika pagi tiba, seketika kami disuguhi pemandangan yang luar biasa! Subhanallah, kawah besar berwarna hijau diselimuti asap kuning belerang, dengan bayang-bayang siluet bukit di permukannya membuat saya menganga. Allah memang tidak pernah gagal dalam menjadikan kata indah dan luar biasa untuk saling menerangkan satu sama lain. 

Saya dan Imon memilih lebih dahulu untuk meninggalkan para om-om untuk melanjutkan perjalanan menuju kawah yang memang masih harus turun ke bawah lagi. Kami berdua kembali menyusuri jalanan yang tadinya gelap tetapi kini menyuguhkan pemandangan yang luar biasa indah. Di sepanjang jalur pendakian, rupanya lereng yang ditumbuhi lumut membujur panjang, berdampingan dengan jurang landai berpasir. Sedari tadi banyak para pengangkut belerang berlalu lalang sembari memikul dua buah keranjang penuh-penuh, bersimbah keringat, menantang bahaya mendaki dan menuruni jalanan sempit dan curam. Saya terpekur sesaat, sembari bertanya kepada Imon,

"Kenapa di tahun 2015 masih saja ada orang-orang dengan kondisi seperti itu ya Mon?"

"Terkadang mereka bukannya tidak memiliki pilihan, tapi mungkin karena hanya itulah pilihan terbaik yang mereka miliki,"

Obrolan siang tadi di kereta tentang kondisi sosial masyarakat di Indonesia bersama Jojo memang masih melekat di kepala saya. Tentang kesenjangan, tentang prinsip hidup dan pendangan terhadap materi dan ilmu. Bagaimana di zaman sekarang uang memiliki kendali penuh terhadap banyak hal, banyak orang. Bahkan di tempat seperti ini, yang jauh dari hiruk pikuk kota besar. Uang masih saja memaksa manusia melakukan apapun, bahkan menantang bahaya. 

Perjalanan menuruni Ijen memang tidak seberat ketika mendaki. Beberapa saya hampir terpeleset krikil dan pasir, untung saja tidak sampai terjatuh. Hampir tiba di ujung rute saya sesaat melamun, sembari memandang kedua punggung teman saya yang perlahan menjauh. Sudah satu tahun sejak terakhir kami berperjalanan bersama. Suatu saat nanti, tidak akan lagi semudah ini pergi begitu saja dengan ransel lalu mengarungi jalanan yang asing. 

Tapi bukankah memang perubahan adalah sebuah keniscayaan? kita tidak bisa menghindari perubahan, tapi bisa berkompromi dengannya bukan? 

Turun ke bawah dengan sedikit perasaan sendu. Ah, tapi rasa kantuk yang lebih dahsyat memaksa mood saya turun. Setelah beberapa kali berfoto saya bergegas menggelar ponco dan terlelap (sesaat) diantara obrolan Jojo, Ocha dan Imon. Ah sudahlah, saya tidak bisa lebih lama lagi menahan kedua mata untuk tidak tertutup.
***

Rupanya rasa kantuk yang mendera begitu mudah terkalahkan oleh lapar. Sambil memicingkan sebelah mata, saya mendapati Jojo mengelap lensa kamera, Imon dan Ocha juga sedang ngobrol ringan. Imon menawarkan sisa kue bekal kemarin siang melihat saya mencari-cari makanan. Maklum, semua sudah hapal kalau saya bisa 'rewel' banget kalau mulai lapar, haha. Disumpal sepotong brownies dan cemilan akhirnya saya bergabung bersama om-om yang mulai terbangun dan bersiap melanjutkan perjalanan. Red Island, kami datang!

Perjalanan menuju Red Island kami tempuh dengan susah payah. Lagi, ide perjalanan dari gunung ke laut dengan mengandalkan GPS memang tidak bisa diandalkan, haha! Kami berkali-kali bertanya dan mendapati rute dengan jalanan yang rusak parah. Gimana saya bisa lanjut tidur kalau mobilnya gerak-gerak kaya kora-kora macem ini, heeyyy?? akhirnya hanya bisa merem-merem nyender dengan badan berkali-kali terguncang, sembari becanda menghibur diri *melas.

Sudah hampir dua jam dan belum terlihat ada jalanan bagus dan meyakinkan. Saya sempat turun untuk numpang ke kamar mandi di salah satu rumah warga ketika Sarip berhenti untuk bertanya. Dan ketika kembali saya disambut oleh es potong dan cilok! hahahaha, ini om-om ngeborong jajan di depan rumah orang! Another random action yang kocak, saya sih bahagia saja menerima sepotong es dari Ocha dilanjut seplastik cilok, laparnya kakaaaa..belum sarapan padahal abis hiking.

Setelah selesai ngemil, perjalanan kembali dilanjutkan. Adegan sasar menyasar masih berlanjut hingga beberapa jam kemudian, Akhirnya menjelang tengah hari, kami menemukan sign system menuju lokasi dan sampai dengan bahagia tiada terkira *mulai alay ya bahasanya.

Pasir putih dan angin laut menyambut kami seketika. Aaahhhh..lautan! Saya selalu tidak bisa tidak cinta dengan pasir putih dan ombak. Dari kejauhan terlihat tenda berwarna merah dan kursi malas yang berjejer rapi. Lumayan ramai sih, maklum hari Minggu. Ocha, Jojo dan geng Om-om segera bergegas melepaskan alas kaki dan menghambur ke pantai, lalu rebahan manis di kursi malas. Saya dan Imon memisahkan diri untuk sesi foto-foto sembari menikmati pemandangan. Ini sih sebanding dengan perjalanan setengah hari tadi. Saya lupa pegal-pegal akibat terguncang di jok belakang sepanjang hari.

Acara standar sih ya di pantai, minum es kelapa muda, foto-foto, bermain air, capek, lalu pulang. Dan coba tebak takdir apa yang harus saya terima setelah ini? Menyetiri om-om tadi sepanjang jalan pulang, sekuatnya deh sampai mana. Hahahaha, saya sih ngakak miris, ujung-ujungnya saya nyopir lagi..Serius nih kalian? tanya saya lagi. Tapi muka Sarip sudah kucel ngantuk setengah mati, yamanalah saya tega. Serem juga kali dibonceng mas-mas yang ngantuk berat. Oke baiklah, lagipula mengemudi lebih menyenangkan daripada dikocok di jok belakang. Hari itu saya mendapatkan gelar sopir Pantura.

Menyusuri jalur Pantura di malam hari melenakan rupanya. Jalanan sepi dan gelap membuat saya tanpa sadar memacu kecepatan tinggi. Beberapa kali sempat diprotes "jangan ganas-ganas, Kooo!", juga sempat membuat dag-dig-dug karena gagal putar balik, nyasar di halaman rumah orang. Sampai malam saya ditemani Imon dan Rosip yang masih siaga di setiap persimpangan. Jam 21.00 dan saya menyerah, upaya duet, trio hingga choir acapella sudah tidak mempan. Saya mulai mengantuk. Permen dan cemilan sudah tidak membantu. Imon menggantikan saya segera setelah berhenti untuk mengisi bahan bakar di Situbondo.

Kami kembali melaju di jalanan antar kota. Jok belakang mulai sepi. Sudah sejak tadi Jojo menyalakan MP3 dari ponsel untuk menghalau rasa kantuk saya dan Imon. Kami mulai mencari-cari lagu apapun dan diulang berapa kalipun hanya agar tidak tercipta keheningan. Beberapa kali Ocha sempat mengecek dari belakang kami ngantuk apa tidak sampai akhirnya dia tertidur juga. Jojo bertahan sambil sesekali kehilangan kesadaran, tidur-bangun-tidur-bangun. Saya mulai kehilangan fokus, saya mulai meracau. Mengobrol setengah bermimpi, berusaha mempertahankan kesadaran. Imon dan saya sudah mulai mengeluh satu sama lain, ngantuk berat! 

Demi mengusir kantuk, saya bernyanyi keras-keras lagu apapun yang terlintas. Hening, lalu saya mendengar Imon memanggil, 'Ko," Iya Mon! siap, saya harus kembali terjaga sambil sesekali mengambilkan Imon camilan. Dan bagian paling epic adalah ketika saya randomly menyanyikan sepotong lirik dari Donna Donna, lagu soundtrack film Gie. Kok ternyata Zainul dan Jojo ikut menyahut, belakangan saya menyadari kalau mereka turut prihatin terhadap kami yang setengah mati menahan kantuk. Rosip masih siaga beberapa kali ketik kami hampir salah jalan.

Lewat tengah malam dan kami baru sampai Bondowoso. Ah entah berapa lama lagi saya harus menahan kantuk. Kami berdua masih saling bahu membahu melakukan apa saja agar tidak tertidur. Ngobrol ngalor ngidul, menyanyi tidak jelas, hingga akhirnya mulai masuk tol dalam kota menuju Bungurasih. Beberapa orang mulai terjaga mencari-cari uang kecil untuk membayar tol, lalu tertidur kembali. Imon semakin kehilangan fokus, berkali-kali bertanya, "Ada motor di depan??" dengan nada panik. Saya yang sedari tadi menjawab, kosong, salip, ambil kiri, jangan turun dari jalan seperti kernet Sumber Sla*met, sempat keki juga. Ini di jalan tol kaka Imon, mana ada motor??

Hampir pukul 01.30 dini hari akhirnya kami masuk pelataran parkir Bungurasih. Saya sudah tidak sabar turun dan segera membereskan barang di bagasi. Rencana pulang isya sudah gagal total, haha. Prediksi kami, subuh nanti baru akan sampai Madiun. Kami semua, kecuali Ocha harus bekerja pula hari ini *lemes. Setelah dadah-dadah dan bertukar ucapan terimakasih kami akhirnya berpisah. *Ohya, sebelumnya Sarip menawarkan untuk ikut trip lagi minggu depan ke Madura. Kali ini saya harus menahan diri, tidak Ko, ingat Maret. Masih perlu nabung lagi buat bekal, hahaha. 

Setelah sholat di pelataran mushola *moshola di Bungurasih tutup pukul 21.00 dan baru buka lagi pukul 03.00, kami bergegas mencari bus. Ocha sempat menengok dan bertanya, "mau makan dulu nggak?", karena sedari tadi saya heboh kelaparan, mencari-cari sisa roti kismis di mobil. Saya menggeleng ngantuk, kode "Nggak, langsung aja cabut deh,". Kami segera menuju Sumber Sla*met dan mencari tempat duduk. Sesaat kemudian saya berpamitan kepada mereka bertiga sembari mengucap salam, "Mon, Jo, Cha, duluan ya, Assalammu'alaikum". Akhirnya, saya bisa tidur dengan tenang.

Badan saya terguncang-guncang dan beberapa kali melorot akibat bus yang melaju kencang. Baru satu jam-an dan Imon berkata sudah sampai Kertosono. Wah, cepat, gumam saya sambil mengantuk. Saya melanjutkan tidur hingga kembali terbangun ketika kernet berteriak, "Madiun, Madiun..siap-siap." Saya berdiri dengan mata setengah terpejam membangunkan Jojo yang masih tertidur di depan. Akhrnya, jam 04.00 pagi, kami tiba di Terminal Purabaya, Madiun. Dadah-dadah pada Ocha yang masih melanjutkan perjalanan ke Maospati dan Jojo yang segera mencari ojek, lalu saya dan Imon menunggu di jemput di pintu depan. Tidak berapa lama kemudian, Ibu Imon datang menjemput. Kami berdua menghempaskan badan ke jok mobil, dan menuju rumah.

Saya sampai di rumah ketika adzan subuh sayup-sayup terdengar dari masjid. Bapak sedang mengeluarkan motor hendak ke masjid ketika saya turun dari mobil. Setelah mengucapkan terimakasih pada Ibu Imon saya bergegas masuk, melempar tas, ganti baju dan sholat subuh. Akhirnya sampai juga di kasur. Senin pagi, dan saya jatuh tertidur seperti orang pingsan sepanjang pagi. Perjalanan penuh ke-random-an ini berakhir bahagia.

Tulisan mengenai perjalanan ini juga ditulis oleh Imon di Banyuwangi: Ijen, Bayuwangi: Ijen Part 2 , dan Banyuwangi: Ijen Part 3 dalam versi lebih detail dan lebih panjang *dan konon masih bersambung.

Mendaki Ijen bersama Om-om
(Masih) Bersama om-om di Red Island
Setiap perjalanan menawarkan cerita yang berbeda. Menghadirkan sensasi yang berbeda. Laut dan gunung memang selalu berjauhan. Tapi bukan berarti tidak bisa dihampiri dalam satu waktu. Setelah Papandayan-Rancabuaya kini Ijen-Red Island. Dari kereta hingga bus kota, mulai topik sejarah nusantara hingga pertanyaan 'Kapan' dan 'Siapa'. Waktu akan terus berjalan, semakin cepat tanpa pernah melambat. Tak menawarkan penghapus tapi menjanjikan banyak lembar baru. Perjalanan memberikan makna terhadap banyak hal yang sering kita lupa. Tuhan menyelipkan banyak hal untuk membuat kita mengingat bahwa selalu ada campur tangan-Nya dalam setiap peristiwa. Juga dalam pertemuan dan perpisahan.

*Foto diambil dari Flickr Yohanda Mandala a.k.a Jojo (jokidz90)

***