Minggu, 21 Juni 2015

Weekend Trip: Rafting di Akhir Pekan (1)

Tanggal merah berderet di bulan Mei sudah menjadi incaran dan topik bahasan sejak lama. Tapi manusia hanya bisa berencana. Dari 4 hari total hari libur (plus hari kejepit), akhirnya tetap saja perginya pas weekend. Lagipula, anggaran jalan-jalan sudah terkikis oleh beberapa liburan mendadak di bulan-bulan sebelumnya. Liburan jarak pendek, ke Malang menjadi pilihan yang tidak kalah menyenangkan!

Setelah beberapa  kali galau menentukan itinerary, akhirnya liburan kali ini Malang menjadi tujuan liburan. Ada apa di Malang? sebelum-sebelumnya saya tidak terlalu tertarik sebenarnya dengan Malang, tapi beberapa waktu yang lalu saya sempat mendapatkan info dari seorang teman kalau ada spot rafting yang sedang naik daun. 

Yak Rafting! sudah sejak tingkat 3 saya ingin sekali menjajal rafting, sampai ditempel pakai sticky notes di cermin. Tahunya baru terwujud sekarang, yang notabene 4 tahun kemudian. Sempat mencari-cari info rafting di Mojokerto (Obech rafting), di Magelang (Ello Rafting) juga, tapi setelah ditimbang-timbang yang paling memungkinkan dituju adalah yang di Malang (Kasembon Rafting). Selain jaraknya tidak terlalu jauh, di Kasembon, Kabupaten Malang yang paling barat, mepet banget dengan Kediri, Malang juga menawarkan penginapan gratis a.k.a rumah Niken kalau kepepet malas pulang. Tapi sebenarnya, kami berencana untuk camping di Coban Rondo untuk melewatkan Sabtu malam, anak hits banget nggak sih, haha.

Sekitar satu minggu sebelumnya saya sudah memesan dan membayar uang muka untuk jaga-jaga karena kebetulan bertepatan dengan long weekend. Biaya untuk rafting per orangnya 175.000, dengan fasilitas peralatan rafting, asuransi dan makan siang. Asiknya Kasembon Rafting ini adalah sistemnya cukup fleksibel, booking via CP, dan di hari -H tinggal tunjukkan bukti transfer. Tidak ada minimal orang pula, pengurangan jumlah peserta juga tidak masalah. Hal ini sangat melegakan karena awalnya saya booking untuk 6 tapi ternyata yang bisa berangkat hanya 4 orang. Saya kira pelunasan harus dilakukan untuk 6 orang eh ternyata tidak, kami hanya perlu membayar sejumlah yang bisa datang. 

Jarak tempuh Madiun-Kasembon sekitar 3 jam dengan mobil pri badi, nyetir santai tentunya. Sekitar jam 06.30 kami sudah masuk Kasembon dengan perut keroncongan. Karena jadwal rafting masih pukul 08.30, maka kami menyempatkan diri untuk sarapan terlebih dahulu. Selesai mengisi perut, kami meluncur ke basecamp Kasembon Rafting. Jangan bingung mencari basecamp ini ya, sesuai banget kok sama peta yang dicantumkan di Website, ada Indomaret di kanan jalan (dari arah Kediri), belok kanan dan ikuti jalan. Nantinya di setiap belokan akan ada penunjuk jalan lagi. Jalannya memang masuk ke areal persawahan, dan akhirnya kami di sambut oleh gapura Selamat Datang di Kasembon Rafting setelah menyusuri jalanan selama sekitar 10 menit. (Bersambung)

***

In Memoriam, Kadek Andana


Saya sedang membaca baik-baik petunjuk metode pengumpulan data alumni tracer di Whats*App, tentang jika ada yang DO, mengundurkan diri, atau meninggal maka silahkan ditandai. Ah, tidak ada yang perlu ditandai, kami lulus lengkap sesuai daftar absen. Semuanya baik-baik saja hingga saya menggulirkan mouse dan menemukan nama Kadek Andana.

Hati saya berdesir sesaat. Sampai sekarang rasanya masih tidak percaya dengan kepergian Kadek, rasanya seperti mimpi. Ya, Kadek adalah satu teman sekelas saya semasa kuliah. Kadek adalah seseorang yang memiliki kredit baik: Ramah, rajin, ringan membantu, murah senyum, punya adik cantik yang bahkan jadi presiden KM dan hobi beraktivitas di luar ruangan. 

Beberapa bulan lalu Kadek menikahi Alma, yang baru sekali saya temui di studio TA semasa rajin mengerjakan di studio dulu. Keduanya sama-sama mencintai kegiatan luar lapangan, sebut saja mendaki. Beberapa saat sebelum gempa Nepal terjadi, Kadek juga sempat nongol di grup Whats*App dengan riang gembira.

Beberapa lama kemudian, saya mengetahui kabar pendakian Kadek ke Himalaya melalui Facebook di jejaring sosial. Wow, bulan madu nih ceritanya..mendaki Himalaya, super anti-mainstream. Di Facebook pula, Kadek menyampaikan bahwa ia memulai pendakian melalui Nepal. Nepal, negara yang masuk wishlist kunjungan saya suatu hari nanti, makin..jawdropping.

Hingga kabar bencana gempa dengan kekuatan 7.9 SR memporak-porandakan Nepal bulan Mei lalu membuat kami semua terkejut. Grup WhatsApp, Line, ribut. Facebook gempar.

Bagaimana dengan Kadek dan Alma? Apakah keduanya selamat? 

Saya hanya mengikuti perkembangan pencarian tim evakuasi dari media online dan televisi. Alumni melakukan penggalangan dana untuk memberangkatkan tim pencarian ke Nepal. Hari berganti, minggu berganti hingga bahkan bulan berganti. Laman Facebook Kadek dipenuhi dengan doa-doa agar mereka selamat. Ibu Kadek, Lundi Farida masih bersikukuh bahwa Kadek baik-baik saja hanya tidak mendapatkan akses untuk menghubungi keluarga maupun kolega. Penyisiran dilakukan, harapan terus disemai hingga ditemukan KTP atas nama Alma di Langtang Village yang telah luluh lantak oleh tim SAR asal Spanyol. Setelah itu, kabar terakhir yang saya dengar adalah Sang ibu, telah mengikhlaskan putra tercintanya. 

Kabar terakhir yang saya baca di Facebook adalah sebuah komunitas menggelar penyelenggaraan shalat jenazah ghaib untuk Kadek dan Alma. Dan grup kami pun berhenti membicarakan Kadek selain mengiring doa dalam hening. Ah Kadek dan Alma, siapa yang menyangka kalian berdua akan pergi secepat ini?

Semoga Allah mengampuni dosa keduanya dan memberikan tempat yang terbaik. Dan jika keduanya hingga saat ini masih selamat, semoga segera ditemukan dan dapat berkumpul kembali dengan keluarga.

In memoriam, Kadek dan Alma.


Sabtu, 13 Juni 2015

*Untitled*

Hanya satu waktu.
Ketika kalimat-kalimat berlalu lalang di dalam kepala.
Ketika obrolan hanya tersampaikan lewat karakter-karakter yang berterbangan di udara.
Ketika hidup serasa melodrama.
Ketika enggan membersitkan penyesalan. 

Pertanyaan demi pertanyaan menguar. 
Ah, benarkah pertanyaan? Toh tidak terjawab juga tidak masalah.
Dalam riuh mengaharapkan hening.
Dalam hening mencari-cari asal suara. 
Ini pertanda apa? 

Satu waktu.
Ingatan melompat-lompat tak tentu arah.
Teringat seulas senyum.
Teringat tawa-tawa renyah.
Teringat langkah-langkah yang terseok berat.

Merindukan biru laut dan angin lembut yang membelai ombak.
Merindukan hijau pepohonan dan dingin yang menusuk tulang.
Merindukan haru biru mencium tanah menyungkur sujud di atas dataran tertinggi.
Merindukan rasa penuh dan takjub.

Sepi bukan tidak ada yang menemani.
Hening bukan berarti tiada yang peduli.
Hanya satu waktu.
Yang niscaya akan silih berganti.


Senin, 18 Mei 2015

10 Hal yang Perlu Diingat Suatu Hari Nanti


Setiap perjalanan bagi saya memiliki ceritanya sendiri-sendiri. Repotnya, nyebelinnya, serunya, nyenenginya, pegel-pegelnya..semua berbeda. Dan masih dalam edisi perjalanan -yang sebentar lagi harus dihentikan sejenak dalam rangka melengkapi cerita hidup lainnya- maka kali ini saya ingin menuliskan hal-hal random yang dapat saya simpulkan selama perjalanan. Sepotong-dua potong kalimat yang perlu dicatat untuk diingat, atau untuk tidak dilakukan kembali.

1. Meninggalkan krim pereda nyeri ketika bepergian adalah benih penyesalan yang baru akan disadari di akhir hari, menjelang tidur di tempat asing.

Beneran deh, bawa aja kalau memang ada persediaan di rumah. Aktivitas outdoor yang kamu kira ringan-ringan kapas bisa berubah menjadi semacam olahraga kesiangan yang bikin pegal-pegal leher, pundak atau kaki. Dan kalau kamu kebagian shift nyetir, krim pereda nyeri pasti sangat..sangat membantu.

2. Coba lihat orang-orang yang naik Bianglala, wajahnya sumringah banget kan? padahal dia tahu bakal di puter, kadang di atas kadang di bawah. Hidup tuh gitu aja, simple, kaya orang naik Bianglala.

Sama banget kaya kehidupan manusia, kejayaan, kesedihan, kebahagiaan, dipergilirkan. Jadi buat apa suntuk mikirin masalah hidup. Toh, bersama kesulitan ada kemudahan.

3. Ketenangan itu sumbernya dari dalam diri. Nyari jauh-jauh ke gunung, ke laut atau ke air terjun juga nggak akan nemu kalau di dalam diri masih rusuh.

Udah mendaki capek-capek tapi nggak nikmat. Nyetir jauh-jauh cuman dapet capek. Berenang sampai gosong juga nggak gembira. Lari ke gunung atau laut nggak akan menyelesaikan masalah, jadi jangan jadikan acara piknik buat pelarian dari beban hidup. Hadapi dulu baru liburan jadi reward!

4. Perjalanan berjam-jam bisa jadi memang membosankan. Tapi bukankah saat itu pula muncul kesempatan untuk berbincang lebih lama? 

Perjalanan selama menuju destinasi adalah bonus waktu ngobrol yang kadang susah banget didapatkan. It ones of quality time beetwen friends or family, lho! Plis, buang gadget jauh-jauh kalau kamu nggak mau jadi super nggak asik.

5. Menambah koleksi foto wefie atau selfie bukan satu-satunya tujuan mulia untuk berperjalanan.

Simpan sebentar gadget kamu, stop online kalau nggak perlu-perlu banget. Take a deep breath, tebarkan pandangan, dengar suara sekeliling, hayati. Emang sih, seneng kalau lihat foto bagus-bagus selama perjalanan, dan melihatnya pasti bikin kangen kerena ingat semua cerita seru. Tapi, jangan sibuk sendiri ambil gambar tanpa sempat menikmati 'gambar' aslinya. Karena apa yang bisa ditangkap mata, nggak akan bisa semuanya tertangkap kamera.

6. Sabar itu nggak ada batasnya. Semakin bersabar, semakin mudah kok ngejalanin apapun.

Pesawat delay. Telat makan. Rencana gagal. Jalanan macet. Duit habis. Yang sabar..mau marah ke siapa? marah nggak akan menyelesaikan masalah. Better bicara baik-baik dan segera cari solusi.

7. Jawaban TERSERAH itu sama sekali nggak membantu.

Serius. Tapi emang sering males mikir sih ya. Jadi yasudah, jangan ngambek kalau hasil terserahnya nggak sesuai ekspektasi.

8. Coba sesekali mengambil inisiatif, dalam hal apapun.

Sesekali nggak ada salahnya buat memulai pembicaraan, memperkenalkan diri, atau sekedar nawarin cemilan. Karena kalau semua sama-sama gengsi dan jaim minta disapa duluan, yang ada kamu hanya akan ngobrol sama isi kepala, alias monolog. Ya gapapa sih kalau niatnya emang pengen kontemplasi.

9. Bertemu orang baru, tempat baru dan suasana baru itu semacam tantangan yang juga memerlukan taktik untuk menyikapinya.

Hal ini akan mengasah insting, meningkatkan skill adaptasi, dan menambah wawasan sosial-budaya kalau bisa dilakukan dengan tepat. Ada sih resiko tengsin, semisal sok-sokan ngajak ngobrol pakai bahasa Sunda tapi ternyata pas dijawab pakai full Sunda cuma bisa mlongo. Tapi serius, hal-hal baru itu meskipun agak bikin ketar-ketir sejatinya asyik buat dieksplor.

10. Sadari kondisi sendiri, jangan pernah memaksakan apa yang nggak bisa dipaksakan.

Jangan pernah lupa menganalisa dan mengenali kondisi diri biar nggak repot sendiri. Pantangan makan, bisa atau nggak bisa berenang, takut apa nggak sama ketinggian, tahan atau nggak sama dingin. Bilang kalau nggak bisa, karena bisa saja fatal akibatnya.

Hahaha, sedikit nggak penting sih tulisannya. Tapi, kadang kita menemukan banyak hal yang harus di hightlight, diingat-ingat, justru ketika kita berada di saat yang tak terduga. Semacam tiba-tiba merenung dan mendapat hikmah, atau juga nyeplos di tengah-tengah obrolan geje. Waktu-waktu seperti itu yang kadang bisa menjadi wake up alarm, jawaban dari langit atas pertanyaan yang berputar-putar di kepala.

Jadi, nggak ada salahnya kan menuliskan sebagian? mungkin akan ada lagi beberapa wangsit yang bisa ditulis setelah perjalanan atau kejadian selanjutnya.

"Tuhan memberikan jawaban atas setiap pertanyaan di waktu yang tepat, dengan cara yang tepat. Hanya saja manusia kadang tidak bisa membaca kalimat-Nya. Maka diperlukan tambahan waktu dan kesabaran, dalam perjalanan mencari jawaban"
***