Minggu, 21 Oktober 2012

Your Portfolio Is YOU


Hampir tiga bulan sejak saya resmi menggugurkan gelar mahasiswa terhitung sejak 14 Juli lalu. Feel free? Yes, absolutely!, selanjutnya pandai-pandai saja bersilat lidah menjawab pertanyaan yang bertubi-tubi seputar keprofesian: "Sudah kerja di mana sekarang?", "Rencana kedepannya mau ngapain?", pertanyaan yang cukup wajar sebenarnya. Hanya saja, lama-lama kecut juga memikirkan jawaban terbaik ;p.

Pada dasarnya saya sangat ingin menjadi jobmaker, bukannya jobseeker. Guess why, tentu saja karena itu pasti akan terdengar sangat keren bukan? haha, bercanda. Tapi nyatanya, atas pertimbangan banyak hal, akhirnya saya mencoba menghalalkan upaya mencari kerja sembari terus berusaha menjadi jobmaker. Menjadi jobmaker itu benar-benar sangat tidak mudah, bold and underlined. Lantas apakah saya berarti telah menyerah? oh..tunggu dulu, ini hanya langkah yang cukup bijak untuk mendulang modal dari sektor lain. Hati saya sudah tertambat pada cerita lain saudara-saudara..

Dan..yang paling penting bagi seorang desainer untuk mendapatkan perkerjaan tentu saja adalah portfolio, P-O-R-T-F-O-L-I-O. Kumpulan karya ini bisa dibilang merupakan rekam jejak dari sepak terjang seseorang di dunia per-desain-an. Terus gue mesti koprol sambil bilang "Wow" gitu? 
ya tentu saja tidak, yang harus dilakukan adalah harus membuat porto (portfolio.red) dengan baik dan benar. Oh wait, BAIK DAN BENAR?

Nah, ini masalahnya. Ketika kembali dibenturkan dengan kata sifat baik dan benar, muncullah sedikit kebingungan di kepala saya. Ya, memang  porto harus dibuat sebagus dan sejelas mungkin. Ada patokan dasar tentang apa yang harus ditampilkan dan apa yang sebaiknya tidak ditampilkan. Tapi mengenai gaya penyusunan, posisi gambar dan printilan lainnya ya bolehlah dimainkan sedikit. Belakangan saya mendapat sedikit kritikan dari seorang senior. Katanya porto saya kurang bermain, cenderung cari aman, tampak kurang percaya diri dan monoton. Errr...OK, terimakasih, masukan yang sangat bagus. Dalam hati saya berkata "WOW, benar sekali tebakan mas ini," karena memang pada dasarnya saya tidak cukup percaya diri dengan porto saya, yang seharusnya merupakan cermin dari diri saya sebagai  (calon?) desainer. Selama ini saya selalu merasa tidak cukup keren jika disebut sebagai mantan mahasiswa jurusan desain-mendesain. Boleh dibilang ini standar dan yaudah sih, mungkin rupanya salah jurusan, meskipun tidak bisa dipungkiri, kuliah saya sangat mengasyikkan. Tapi pelajaran penting yang bisa dipetik dari kisah porto ini adalah : 

Your Portfolio is YOU.

Portfolio menjadi bagian penting untuk bisa mendapatkan pekerjaan sebagai desainer, siapapun butuh bukti nyata apa saja yang telah kita lakukan bukan? bukan hanya racauan konsep tertulis yang bisa betah saya karang hingga dua lembar halaman folio. Porto akan memaparkan secara gamblang karakter seseorang, karakter desain seseorang, seberapa besar passionnya dalam desain dan banyak lagi yang saya tidak tahu sebenarnya, hehe. Hal ini merupakan kenyataan yang tidak bisa diingkari oleh siapapun, termasuk pemalas ambisius yang selalu mimpi jadi bos seperti saya ;p.

Yeahh..saatnya kembali membenarkan porto untuk bisa menaikkan harga jual. Setidaknya harus diusahakan sepenuh hati, kalaupun harus disesuaikan dengan keinginan calon perusahaan, semoga saja saya tidak kehilangan jati diri. 

My Portfolio is Me, and no one can asked me to be someone else. But, I can do better, and make it better. Semangat!! :D

Jumat, 12 Oktober 2012

Broken Leg, NOT Broken Heart

source:http://inklover.wordpress.com

"And the currency for relationship is called sincerity."
..dan mata uang ini berdenominasi tunggal: Ketulusan. (Rene Suhardono)

Kemarin, tanpa diduga dan dinyana saya mengalami kecelakaan kecil. Tertebak dari judulnya, saya mengalami sedikit fraktura di pergelangan kaki yang sampai jam setengah enam petang masih saya kira -retak dikit gapapa lah ya- yang ternyata diklarifikasi dokter sebagai: patah tulang. Memang, nyeri dan bengkak di sekujur kaki saya tidak terlalu parah meskipun cukup membuat saya duduk tidak tenang, apalagi berjalan yang tentu saja tidak bisa, dibumbui sedikit air mata di sela-sela tawa getir ketika harus menggantung kaki untuk ke kamar mandi. Alhamdulillah, dokter yang saya temui sangat menyenangkan dan cukup melegakan ketika saya hanya harus bersabar hingga dua minggu ke depan untuk terbebas dari balutan gips keras dan juga 'lompat kodok' ini.

Lantas, apa hubungannya dengan relationship? -lagi, setelah terakhir saya juga memposting tentang topik ini-

And the currency for relationship is called sincerity.

Ya, ketulusan yang merupakan nilai tukar dari sebuah silaturahmi benar-benar menjadi faktor dominan dalam keselamatan saya kemarin. Terimakasih sebesar dunia dan seluas lautan yang mungkin belum cukup bagi kedua sahabat saya yang setia menemani sejak pagi hingga lepas isya'. Bukan perkara mudah untuk bisa sabar mendorong kursi roda dan menunggui sambil mengantuk di rumah sakit. Siapa yang mau membuang waktunya yang tentu saja sangat berharga kalau bukan karena niat mulia yang tulus dari dasar hati? 

Banyak pelajaran dan hal-hal luar biasa. Tentu saja karena ini adalah pengalaman pertama yang semoga juga terakhir saya mengalami kecelakaan yang berujung pada cedera fisik. Bahkan dengan bodohnya saya masih bisa berpikir: "Bagaimana bisa saya benar-benar jatuh? toh, biasanya Allah selalu membuat saya bisa menghindari situasi bahaya seperti ini," Err..tidak apa-apa, silahkan tertawa. Tapi saya benar-benar sempat berpikiran seperti itu. Kejadian ini membuat saya berkenalan dengan hal-hal baru, excited bermain-main dengan kursi roda, amaze dengan cara kerja gips yang ternyata awalnya berupa selembar busa, dan terlebih mengendalikan emosi jiwa. 

Yang paling luar biasa adalah dalam situasi seperti ini, saya baru menyadari dan mencamkan baik-baik betapa berharganya orang-orang di sekitar saya. Dengan kondisi di perantauan, jauh dari keluarga-yang tentu saja khawatir setengah mati tapi saya sok cool melarang untuk datang ke Bandung- siapa sih yang saya nggak gentar? untung saja, Allah masih membukakan mata hati sahabat-sahabat saya untuk tetap survive ketika saya selalu memanfaatkan situasi dan memasang muka lemah seraya berkata  "ambilin, gue minum," atau "beliin gue makan,". Oke, meskipun dengan beberapa statement "Gue mau ngungsi ahh dua minggu," atau "Lo mesti nemenin gue nonton JKT48 kalo udah sembuh," serta "Awas aja ya ntar kalo lo udah sembuh..tunggu pembalasan gue," Haha, thank's for being Allah's hands to keep me full and peace. 

Ada lagi, kemarin saya disarankan untuk memakai kruk selama dua minggu. Dan dengan baik hatinya Sang dokter mencarikan pinjaman untuk saya. Meskipun pada akhirnya saya tidak jadi meminjam karena kruk punya bapak yang mau dipinjamkan ke saya itu juga pinjaman, maka lebih baik saya mencari pinjaman ke teman saya yang kebetulan punya. Tapi saya tahu, Sang dokter dan Sang bapak begitu tulus ingin membantu, bahkan ketika akhirnya saya bertemu dengan bapak yang juga mengalami patah tulang..beliau sempat memaksa saya untuk memakai kruk-nya dan menitipkannya kembali ke rumah sakit satu bulan kemudian ketika beliau kembali kontrol. 
Ketulusan itu, tampak begitu saja dan dengan mudahnya terbaca lewat rona wajah dan senyuman mereka.Dan saya pun dapat mengenali bentukannya tanpa harus berpikir dua kali, apalagi berasumsi.

Semuanya pada akhirnya menjadi sebuah rangkaian pengalaman yang luar biasa. Sungguh Luar biasa. Terimakasih untuk para tokoh utama dalam kisah ini, Niken dan Pipit. Silahkan menikmati  kesempatan membully saya selama beberapa minggu ke depan, hanya tunggu saja akibatnya setelah ini,  muah-haha. Hanya Allah yang bisa membalas ketulusan dan segala yang telah kalian lakukan :).


Selasa, 09 Oktober 2012

Relationship Is The New Currency

picture taken from:http://aisforteenagedream.blogspot.com
Kalau di jejaring sosial Anda mengubah status dari "single" menjadi "in a RELATIONSHIP", bisa ditebak Anda akan menuai banyak notifikasi. Mulai dari ucapan selamat sampai pertanyaan-pertanyaan kepo dengan 5W 1H ala kuli tinta pasti muncul berdesakan di kolom komentar. Tapi tunggu..ini bukan tentang relationship yang itu. Ini lebih down to earth lah ya..nggak bikin ngiri para jombloers sejati ;p.

Belum lama, seorang senior sempat bercerita singkat bahwa di kehidupan nyata begitu sulit mencari sebentuk hubungan yang murni atas dasar ketulusan, kasih sayang dan keikhlasan antara sesama manusia- ceileh. Benarkah? Bisa jadi benar. Tidak bisa dipungkiri, setiap orang dewasa ini memiliki kepentingan yang sangat beragam. Bukannya ingin berburuk sangka, tapi berapa banyak orang yang kita temui yang masih memiliki niat yang pure hanya untuk berteman sehidup semati tanpa ada embel-embel kepentingan koneksi, administrasi, maupun pribadi? 

Bagaimanapun, sebuah hubungan baik mampu membawa seseorang pada hal-hal tidak terduga. Masih ingat kalimat "Kalau ingin mengenal seseorang lihat saja siapa sahabatnya"? sedikit banyak cara tersebut berhasil. Tentu saja, seseorang akan cenderung berkumpul dengan orang-orang yang memiliki karakter yang sama, kepentingan yang sama, visi yang sama dan hal-hal yang sama lainnya. Bukan hal baru ketika seorang soleh memiliki teman yang mayoritas soleh semua atau maling memiliki sohib yang mayoritas seprofesi. Disinilah sebuah relationship antar pribadi menjadi sebuah kunci. Selanjutnya yang akan terjadi adalah proses mewarnai, diwarnai, atau harmonis menjadi warna-warni.

Lantas, apa masalahnya dengan hubungan atau relationship ini? tidak ada masalah kok ketika kita mampu menempatkan diri dengan benar dalam sebuah bentuk hubungan. Hanya yang perlu digaris bawahi adalah bahwa tidak semua bentuk relationship perlu dikomoditaskan. Tidak salah jika yang diharapkan dalam sebuah kerjasama dan hubungan adalah adanya keuntungan, tapi akan lebih adil jika keuntungan tersebut dapat dinikmati kedua belah pihak. Yah..seperti prinsip silaturahmi yang diajarkan Rasulullah lah. Barang siapa yang menyambung silaturahmi dengan saudaranya maka akan dipanjangkan umurnya, dibukakan pintu rezekinya, perdagangan yang menguntungkan bukan? 

Benturan antar kepentingan yang semakin besar bisa jadi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi. Pernah berpikir :Kenapa sulit ya menemukan teman seperti teman-teman saat kuliah dulu?, jawaban sederhananya adalah ya ketika kuliah dulu kepentingannya bisa jadi hanya sekedar tugas kuliah ataupun kegiatan organisasi, latar belakang, motivasi, tujuan, serta kondisi yang hampir seluruhnya seragam akan membuat kita merasa senasib sepenanggungan. Sedangkan kini setelah nyemplung ke dunia nyata? it's totally different. Semua orang memperjuangkan kepentingan masing-masing, bahkan ada yang rela sikut-sikutan untuk mendapatkan apa yang diinginkan. 

Jadi serem?

Nggak juga kok, Syukurnya masih ada banyak orang di luar sana yang memiliki nilai pribadi yang luhur. Nilai-nilai PPKn yang diajarkan oleh bapak ibu guru sewaktu SD serta bimbingan orang tua agaknya belum luntur seluruhnya. Fitrahnya setiap manusia itu baik, sehingga selalu ada kebaikan meskipun sedikit. Ketulusan dalam membangun hubungan berawal dari fitrah manusia untuk berbuat baik tanpa pamrih sehingga membentuk sebuah relationship yang manfaat bagi banyak pihak. Terbukti, saya begitu tersentuh melihat beberapa potong adegan berjudul 'ketulusan' di ibukota yang konon katanya lebih kejam daripada ibu tiri tersebut. Seorang mbak-mbak dengan senang hati menawarkan bantuan pada ibu-ibu yang tampak sangat kelelhan menaiki tangga jembatan penyeberangan dengan belanjaan yang terlihat berat. Ada lagi, ketika di kopaja, seorang lelaki paruh baya merelakan tempat duduknya bagi ibu-ibu dan seorang kakek yang harus dibantu tongkat ketika berjalan, yang kemudian kakek tersebut dengan sangat baik hati menunjukkan arah dan mencarikan kopaja untuk kami yang nyasar ketika mencari Menara Palma. See, ibukota yang lebih kejam dari ibu tiri pun masih memiliki orang-orang baik dan tulus kok.

RelatIonship is the new currency. And the currency for relationship is called sincerity. (Rene Suhardono, Your Journey to be the #UltimateU)

Membangun sebuah relationship dengan siapapun memang gampang-gampang susah. Namun pembelajaran harus tetap berjalan bukan? apakah kita akan takut dalam memulai bentuk hubungan dengan orang lain karena takut sakit hati, takut dicurangi? Hmm..saya pun masih sering terbayangi oleh ketakutan-ketakutan tersebut. Tapi saya masih percaya, meskipun sedikit ataupun sulit, sebuah relationship- ala sahabat semasa sekolah-bisa kita jalin dengan siapapun, kapanpun dan dimanapun. Niatkan tulus untuk menjalin silaturahmi kerena Allah, Bismillah..dan kita tidak akan pernah rugi kok ketika memperlakukan seseorang dengan baik. Dalam bentuk hubungan apapun InsyaAllah terdapat banyak pembelajaran, meskipun begitu tidak berarti kita boleh sembarangan dalam membentuk relationship dong. Kewaspadaan, serta perilaku kita menjadi kunci penting untuk membentuk sebuah hubungan baik atau tidak baik. 

Sabtu, 29 September 2012

Menukar Sudut Pandang

"No one ever injured his eyesight by looking at the brightside."
90% dari kekahawatiran tidak pernah terjadi. Dan 10% sisanya memang di luar kontrol kita. Bila demikian, kenapa harus ambil pusing? Kenapa tidak mengisi pikiran dengan harapan dan keceriaan? -Rene Suhardono.

Noted. Bagi seseorang dengan kadar kekhawatiran berlebih seperti saya, ini perlu ditanam di kepala. Yang sering luput dari kesadaran otak adalah kita selau punya tempat kembali, tempat bersandar, yang menuliskan dengan cermat dan hati-hati seluruh cerita kita. Dan menjadi terlalu pusing terhadap sesuatu hal bisa berkembang menjadi tindak penyangsian terhadap kekuatan Tuhan. Ya Allah, jadikan saya seorang hamba yang sadar bahwa sudah jauh dari lebih cukup untuk mengandalkan-Mu.
Target selanjutnya: Positif setiap saat. Toh sudah jelas dan tidak terbantahkan bahwa Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Harus (terus) meyakinkan diri bahwa Dia selalu ada untuk kita. Jika kita sudah memiliki-Nya sebagai tim sukses, apa sih yang nggak bisa?: D