Jumat, 30 Oktober 2020

Zona 3 Cerdas Emosional & Spiritual : Memulai di Hari ke- 2 Bersama Sahabat Terbaik

Awal zona ketiga kali ini bertepatan dengan kami berempat ambruk diterpa demam. Akhirnya baru bisa mengejar setoran di hari ke-2. Semakin lama, tantangan di setiap zona membuat saya garuk-garuk kepala..heheh. Menantang..apalagi bagian mendokumentasikan. Bismillah, siap mencoba!

Hari 1

RENCANA
Kegiatan : Membacakan buku untuk adek Ruby.
Waktu :  Siang atau sore hari (tergantung situasi)
Perlengkapan : Buku koleksi pribadi

AKTUAL DAN KENDALA
Di sini banyak hal di luar rencana terjadi..wkwk. Aktualnya, hari ini kegiatan membaca ternagi menjadin2 sesi. Yang awalnya rencana mau baca siang atau sore, habis di tanya Atha langsung ajak baca buku kesukaannya. Saya mengiyakan dengan syarat tidak terlalu lama karena adek belum mandi. Satu bab, dua bab..Atha nggak mau berhenti dan memaksa umi membaca buku padahal umi harus memandaikan adek. Akhirnya harus melalu drama kumbara, kegiatan membaca pagi didelegasikan bersama mbahkung.

Sesi ke-2 berlangsung setelah sholat isya. Atha memilih buku-buku yang ingin dia baca. Banyak banget..wkwkw. Dan rencana membacakan buku untuk adek tentu saja gagal karena adeknsudah mengantuk sejak lepas sholat maghrib. Jadilah sesi membaca berubah menjadi belajar bersama umi.

Kendala

Pemilihan waktu yang kurang tepat sehingga adek sudah tertidur lebih dahulu. 
Briefing di awal.yang kurang jelas jam nya sehingga umi pun lupa mengalokasikan waktu. Juga insiden membaca pagi-pagi karena tidak ada briefing waktu yang jelas.


REFLEKSI

Kondisi adek sudah tidur justru lebih menguntungkan bagi saya dan Atha untuk menikmati quality time. Selain membaca buku kami bahkan sempat belajar hijaiyah, dan huruf melalui flashcard hingga larut malam. Kami berdua menikmati waktu belajar dengan senang, meskipun saya harus belajar banyak lagi bagaimana bersabar mengajari Atha. Karena dorongan untuk membuat Atha belajar 'baik' lebih besar daripada menghadirkan suasana belajar 'menyenangkan'. Masih keceplosan jurus ancam mengancam meskipun dengan ekspresi bercanda. 

PROSENTASE KEBERHASILAN
90%
Ternyata jauh lebih menyenangkan dan berkualitas dari yang saya bayangkan. Besok sudah janjian mau diulang lagi!
inisiatif tinggi belajar tanpa ditemani, meski hanya melihat-lihat gambarnya saja :D.

Kamis, 22 Oktober 2020

Surat Untuk Mas Atha: Terimakasih Sudah Mengajari Umi

Assalammualaikum mas Atha, 
Semoga ketika kelak mas Atha mampu membaca surat ini Mas Atha selalu dalam kondisi sehat dan bahagia, kapanpun, dimanapun, dan dengan siapapun itu.

Sayang, mungkin belakangan mas Atha menganggap umi menyebalkan? Mungkin mas Atha bertanya-tanya kenapa tiba-tiba tidak ada angin ataupun hujan, umi memaksa mas Atha untuk belajar makan sendiri? Membereskan mainan sendiri? Juga memakai pakaian sendiri?

Umi mengerti, pada awalnya terasa berat ya nak? Apalagi umi selalu menambah dengan marah-marah. Maafkan umi nak, sejatinya umi sama sekali yidak ingin menambahkan bagian marah-marah dalam proses belajar kita setiap hari. 

Tahukah mas Atha, umi takjub. Sebelumnya tidak terpikir oleh umi hanya kurang dari dua pekan mas Atha sudah terbiasa mau untuk makan sendiri dan memebereskan mainan sendiri. Meskipun terkadang, masih merajuk meminta bantuan umi. Berpindah dari zona nyaman menuju kemandirian melelahkan ya nak? Mas Atha merasa umi tidak sayang lagi kah dengan menolak membantu mas Atha?

Sesungguhnya sama sekali tidak, Nak.

Umi hanya ingin mas Atha menyadari bahwa mas Atha bisa melakukan banyak hal hebat tanpa selalu umi bantu.
Lihat saja, sekarang mas Atha sudah pandai mengerjakan banyak hal sendiri. Tak lagi harus menunggu umi selesai menggendong Ruby agar bisa membantu kebutuhan mas Atha. 

Dalam proses belajar ini sesungguhnya bukan hanya mas Atha yang belajar. Melainkan umi yang banyak belajar. Belajar bersabar, menghargai, mengapresiasi, dan tidak memaksakan. Yang mana kesemuanya sungguh sulit untuk umi lakukan karena dalam pikiran umi, seringkali selalu imgin cepat, segera, dan mudah. Padahal tak ada yang seperti itu dalam proses belajar bukan?

Umi harus banyak-banyak berkata pada diri umi bahwa proses belajar memerlukan waktu. Untuk terbiasa, harus diulangi berkali-kali. Untuk terbiasa harus diingatkan berkali-kali. Jika bagi umi begitu, apalagi bagimu ya sayang ..ketika bermain adalah duniamu. Maafkan umi yang seringkali kurang bijak dan mengabaikan perasaanmu. Maafkan umi yang terkadang kurang sabar menemani prosesmu. Maafkan umi, yang seringkali marah..kepdamu dan terlebih kepada diri umi sendiri.

Jika umi katakan bahwa sesungguhnya ada cinta dalam kemarahan itu maka umi berbohong. Karena cinta ridak akan pernah menyakiti hati orang yang kita cintai, nak. Hanya umi yang kurang bersabar untuk menerima segala kerepotan proses belajar ini. 
Maafkan umi yang terkadang membuatmu menangis untuk mencapai harapan dalam angan-angan umi. 
Meskipun setelahnya, setelah kamu tertidur umi melakukan hal yang sama: menangisi perbuatan umi yang membuatmu menangis.
Semoga kita berhasil melalui proses belajar seumur hidup ini ya, Nak.

Semoga kita selalu menyayangi hingga kapanpun nanti. Cinta umi kepadamu tidak akan pernah terganti, sulungku. Pelita hatiku, guru pertamaku dalam menjadi orang tua. Semoga dirimu selalu dalam lindungan Allah SWT. 




Senin, 12 Oktober 2020

Zona 2 Hari ke- 11: Akhir Lembar Cerita Makan Sendiri

Saya memutuskan untuk mengakhiri tabtangan kemandirian dengan tema makan sendiri hari ini. Karena selama 11 hari terakhir, Atha audah bersedia dan berinisiatif makan sendiri meskipun sesekali masih minta dibantu. Meskipun begitu, ini adalah kemajuan yang sangat signifikan. Sesuatu yang bahkan di luar dugaan..

Tadi, diam-diam saya meninggalkan Atha dengan piring makanan. Saya masuk ke dalam kamar untuk menidurkan Ruby. Tidak seperti sebelumnya, hari ini saya tidak berharap apapun. Saya mengintip keluar sebentar, ternyata Atha makan sendiri sesuai apa yang kami sepakati sebelumnya, meskipun perlahan. 

Saya bersorak dalam hati. Selama 11 hari ini Atha pandai sekali. Mau makan sendiri, dihabiskan pula, bahkan tidak perlu ditunggu. Maka saya memutuskan untuk berganti topik kemandirian di hari ke-12 besok. Apa topiknya? Tunggu saja besok, semoga sama berhasilnya seperti 11 hari belakangan. Semangat!

Zona 2 Hari Ke -12: Tantangan Baru

Hain ini adalah hari ke-12. Secara umum, Atha sudah dapat melakukan aktivitas makan sendiri. Maka , inilah saatnya berganti topik bahasan tantangan kemandirian.

Setelah kegian makan sendiri dapat Atha lakukan dengan baik, maka saya mencoba mengambil topik 'membereskan mainan setelah selesai bermain'. Saya terlambat menyadari bahwa membereskan mainan dapat menjadi indikator kemandirian anak. Maka, mulailah tadi sebelum tidur siang saya meminta Atha membereskan mainannya alih-alih membiarkan dia tidur tanpa merapikan mainan yang berserakan di lantai.

Awalnya, sepertu biasa ada penolakan. Kenapa harus Atha yang beresin? Kenapa nggak umi aja? Dan sebagainya.
Saya berusaha mengarahkan jawaban pada perlunya mandi, dan menawarkan untuk membantu. Akhirnya Atha luluh juga. Akhirnya Atha mulai memunguti mainan atu persatu dan menyusunnya di atas kabinet. Misi berhasil!