Rabu, 31 Oktober 2012

Langit Biru

Langit cirebon, Maret 2012

Langit di atas Suramadu, 2010

Langit di atas Suramadu, 2010

Langit di atas Suramadu, 2010

Selasa, 30 Oktober 2012

Titik Hujan Terakhir

Hujan.

Musim yang paling kusukai sekaligus kubenci. Tahu kenapa? karena hujan akan selalu mengingatkanku kepadamu. Malam ini Bandung kembali diguyur hujan, deras sekali. Seperti saat terakhir kali aku bertemu denganmu tahun lalu. Aku selalu suka hujan sekaligus membencinya. Aku selalu suka ketika lelehannya membasahi setiap inci tubuhku ketika aku menangis menggigil, menyamarkan setiap kepingan hatiku yang ikut luruh jatuh menghantam tanah. Aku benci karena hujan selalu datang bersamaan ketika hatiku hancur.

Tahun lalu, Oktober juga kita sempat bertemu. Kau terdiam lama terpekur menatap tanah, mendiamkanku yang menatap penuh tanya. "Maafkan aku," katamu. Kata pertama yang terbata kau ucapkan sejak pukul tiga kita bertemu. Aku masih menatapmu dengan penuh tanda tanya, saat itu kurasa akan terjadi sesuatu yang salah. Benar saja, sepuluh menit kemudian semuanya selesai. Mengakhiri setahun penuh penantianku dalam percakapan-percakapan tengah malam kita, rindu-rindu yang terdiam di udara, dan tentunya cerita-cerita sejak tiga tahun lalu, sebelum kau memutuskan mengejar mimpimu di ibukota. Tahukah kau satu yang kusesali, harusnya saat itu aku bilang saja, aku cemburu pada ibu kota, nyatanya kini ia benar-benar merenggutmu. Tahukah kau? untuk pertemuan kita sore itu, aku mematut lama di depan kaca. Lima kali mengganti baju, lima kali pula mengganti kerudung. Aku menduga-duga, pasti ada yang istimewa hingga kau mengajakku bertemu di taman kota di hari Sabtu. Bukan long weekend, saat itu aku menduga pasti kau sangat merindukanku. Aku bahkan disangka gila karena beberapa kali terpergok tersenyum simpul sendiri di dalam angkot tanpa lawan bicara, tapi siapa peduli? aku akan segera bertemu lagi denganmu.

Benar saja. Rupanya benar ada yang istimewa sore itu. Selain hujan pertama sepanjang tahun mengakhiri kemarau panjang, ada yang lain yang juga turut berakhir. Aku, kamu dan empat tahun pertemuan kita juga turut berakhir bersama dengan hujan pertama di bulan Oktober. 

"Kenapa.."

Hanya satu kata yang waktu itu bisa keluar dari bibirku yang bergetar, kerongkonganku seketika terasa kering, mataku berkedut menahan air mata yang semenit kemudian tumpah ruah tanpa suara. 

"Kurasa, aku tidak bisa lagi membendung jarak di antara kita..." ucapmu pelan masih tanpa menatapku.

Aku begitu heran dan tidak mengerti, jarak Bandung-Jakarta hanya sepelemparan batu. Dan ya, harusnya aku mulai menyadari berapa kali kau rela menyempatkan datang menemuiku dalam jarak sepelemparan batu itu. Yang nyatanya seingatku bahkan lebih sedikit dari berapa kali aku mengganti bajuku untuk menemuimu sore ini. Aku bahkan tidak sempat berpikir untuk menuntut penjelasan lebih darimu. Aku terlalu sibuk berkata pada diriku jangan menangis sekarang, tidak ketika kau masih di depanku. Dan saat itupun aku gagal menahan tangisku yang pecah tepat ketika kau menatap mataku untuk pertama kalinya sore itu.

Kita tidak pernah menyelesaikan pembicaraan yang seharusnya akan menjadi panjang. Hujan mengakhirinya lebih cepat dari yang kubayangkan, atau mungkin juga yang kau bayangkan. Rintik yang perlahan menjadi deras seperti menjadi jeritan peluit yang menandakan waktu kita telah habis. Aku bahkan tidak ingat apa yang kuteriakkan untuk mengusirmu dari hadapanku. Sepertinya aku sempat memintamu untuk tidak pernah kembali menemuiku. Dan kau menepatinya hingga hari ini, setahun lebih dua puluh hari. Aku menghintungnya? ya, tentu saja. Hujan memberiku cukup waktu untuk berdiam dan menghitung berapa lama aku menangisi dan mengutukimu.

Hujan berangsur mereda. Berarti sudah hampir habis waktuku mengingatmu malam ini. Untung saja hujan di sini tidak pernah lama. Sejenak deras sejenak reda, setidaknya hujan masih berbaik hati untuk tidak lebih lama lagi memaksaku mengingat dirimu. Bersama titik hujan terakhir malam ini, aku menghitung hari. Membiarkanmu benar-benar pergi.

Minggu, 28 Oktober 2012

Sajak Bangun Tidur

Sajak-sajak gelisah menyelinap pelan lewat gemerisik angin.
Ada banyak lalu lalang ceracauan yang membuat pagi indah ini menjdai sontak tidak tenang.
Seliweran patahan asumsi dan kekhawatiran memblokade jalanan yang semula ramai lancar.
Satu dua larik cerita kepahlawanan, ambisi, dan pertanyaan-pertanyaan tentang jati diri.
Satu persatu melekat merapat membungkus erat membuat sesak.

Sejenak aku berontak meminta waktu untuk sejenak berhenti.
Meminta sedikit saja ruang yang lebih besar agar dapat beringsut barang satu sepersekian milimeter.
Tarikan napas dalam pelan terhembus seiring lalu lalang kalimat yang mereda di kepala.
Setengah terkaget aku melihat ada yang tiba-tiba terjulang.
Dengan pijakan rapuh yang sedikit demi sedikit minta ditambal dengan keyakinan.

Sajak-sajak kemenangan tetiba mengalun meyelinap di antara lipatan-lipatan daun yang bergemerisik.
Mendengung di kepala menguntai notasi yang semakin lama dapat dicerna.
Aku mengenalinya justru dalam gelap sesaat ketika memejamkan mata.
Menghentak jantung memekakkan hati yang sejenak lalu tergagu dalam bisu.
Untuk bangkit, dan kembali melaju.

Sabtu, 27 Oktober 2012

DIY Bracelets: Chains, Charms and Suede!

Yeaa...sudah sejak lama sebenarnya memendam keinginan untuk membuat gelang-gelang sendiri. Pada dasarnya saya suka memakai gelang. Mulai dari yang cuma sehelai benang warna-warni, manik-manik kayu, kulit, sampai terakhir mencoba rantai. Acara berburu gelang sebenarnya tidak pernah ada dalam agenda, tapi kalau sedang bepergian dan berada di toko souvenir entah kenapa hasrat untuk membeli barang satu biji gelang tidak pernah bisa dihindari! Jangan salah menduga akhirnya gelang saya bertumpuk, karena saking cerobohnya saya kebanyakan hasil perburuan tersebut justru lebih sering hilang tertinggal entah dimana.

Nah, beberapa minggu lalu terbersit sebuah ide untuk membuat gelang sendiri. Saya sedang memiliki waktu luang, kenapa tidak mencoba membuat gelang sendiri? akhirnya dengan semangat '45 saya berangkat dan membeli beberapa bahan :D.

Dapat! setelah berkeliling, saya memutuskan untuk membeli beberapa jenis rantai dengan warna yang agak sulit didefinisikan, hehe. Beberapa bandul berbentuk aneh, serta tali kulit warna-warni. Setelah seharian mengutak-atik dan memadu-padankan seluruh bahan-bahan, akhirnya jadilah beberapa gelang yang cukup oke juga, lho! Berikut adalah beberapa foto Do-it-yourself bracelets yang sudah saya buat :D

Yang ini hanya bermain dengan bahan rantai dengan dua ukuran yang berbeda. Charms yang dipakai berbentuk gajah, agak narsis ya? haha..cuma lucu-lucuan kok ;p.


Charms berbentuk gajah ini saya beli satu paket dengan isi dua set. Masing-masing set terdiri dari satu buah gajah besar, satu buah gajah kecil serta satu bentuk ornamen yang entah merujuk pada apa. Alhasil pada gelang berikutnya saya masih ayik bermain dengan charms berbentuk gajah. Masih juga dengan rantai, kali ini saya mengkombinasikan bahan rantai yang berukuran besar dengan tali kulit berwarnah merah hati. Hasilnya adalah sebuah perpaduan yang sangat saya suka! Perpaduan warna rantai dan kulit merah hati menghasilkan image yang cukup elegan, hehe. Pada gelang kedua ini, yang cukup sulit adalah merapikan kepangan yang menyatukan kedua rantai. Berkali-kali saya membongkar tali kulit karena ada yang terlewat atau sekedar tidak rapi hingga akhirnya benar-benar memuaskan.



Meskipun memakan waktu yang cukup lama untuk membuat gelang sendiri, serta harus kerepotan dengan berbagai perintilannya seperti tang dan kuncian, tapi tentu saja bisa membuat gelang sendiri adalah sebuah kepuasan tersendiri. Bahan ekstra yang harus disediakan dalam ber-DIY ria adalah tentu saja stok kesabaran yang tak terbatas, hehe. Apalagi bagi saya yang selama ini ogah repot, dan super malas ribet, membuat pernak-pernik DIY seringkali hanya wacana. Tapi, nyatanya, kalau ada niat dan dimulai dengan tindakan nyata, susah berhenti karena terlanjur asyik. Jadi, tertarik untuk mencoba membuat DIY bracelets juga? Selamat mencoba! :D