Sabtu, 06 Juli 2013

Precaution :)

Assalammu'alaikum.
Terimakasih telah berkunjung dan menyimak corat-coret buah pikiran di Menggapai Awan. Selanjutnya saya akan memohon maaf sebelumnya apabila terdapat postingan yang tidak tersusun rapi karena kemungkinan diunggah dari telepon selular dan tidak dapat diedit secara maksimal agar lebih mudah dan nyaman dibaca. Dalam rangka meningkatkan produktivitas dan upaya mendokumentasikan setiap kilatan pikiran yang seringkali muncul tiba-tiba, mohon dimaklumi apabila postingan hanya penggalan paragraf atau tulisan panjang tanpa gambar dan tidak rata kiri kanan. Terimakasih banyak :') *latihan jadi penulis dengan banyak pembaca. sok eksis punya fans gini saya. ahaha

Sabtu, 25 Mei 2013

Manja


Hari ini, kalender rupanya berwarna merah. Bukan lagi kejutan karena memang sudah sejak lama sengaja diingat-ingat. Satu minggu terakhir, ah tidak..sepertinya satu bulan terakhir alhamdulillah didera kesibukan yang rasanya tidak bertepi. Lelah?lelah sekali, hingga tanpa sadar membuat sesumbar berbagai reward apa yang harus diberikan pada diri sendiri atas aksi 'jungkir balik' belakangan.

Semudah itu rupanya untuk menjadi lelah. Lelah terhadap rutinitas dunia, lelah dengan kondisi yang menjemukan, lelah membimbing diri sendiri. Belakangan, di dalam deraan kesibukan, rupanya keluhan terlalu mudah diratapkan. Mengeluh betapa 'sibuk' nya satu hari duduk-sampai-capek di kantor juga 'sibuk' memanajeri mata yang melek-sampai-burem di depan komputer, yang bukan saja pedas bukan main tapi juga mengantuk bukan main. Mengeluh betapa sedikit-nya jatah "me-time" yang tersisa sembari diam-diam mengutuki berbagai macam orang dan keperluan yang tidak sudi meninggalkan kesunyian di kamar.  Mengeluh betapa waktu begitu cepat bergulir tanpa mampu menikmatinya, bahkan untuk sekedar tidur siang. Wah, panjang juga rupanya daftar keluhan ini.

Sampai di tengah siang bolong, sembari duduk merosot di kursi tulisan seorang sahabat  menampar pipi saya. Sakitnya di hati, tertohok antara malu dan. .malu lagi. Betapa sang sahabat, yang hidupnya didedikasikan untuk umat masih mampu menuliskan dengan semangat betapa nikmatnya mengurus banyak hal. Kepentingan jamaah, umat, misi dakwah, yang diprinsipkan menjadi lebih utama dari 'nafsu' pribadi menjadi spirit booster yang luar biasa. Beliau hampir tidak memiliki waktu bagi dirinya untuk sekedar menikmati waktu luang, "teringat ada banyak hal yang harus diselesaikan. ." tulisnya. Betapa luar biasa? bagaimana bisa? Seketika, di kepala muncul berbagai kelebat pikiran dan pertanyaan:
Jika yang seperti ini saja, yang selalu disibukkan oleh urusan jamaah, tanpa peduli siang-malam,liburan atau tidak libur. Selalu dan selalu memikirkan umat, pekerjaan mulia yang begitu mendasar dari seorang manusia saja, tidak kenal dengan kata lelah. Lantas, dapat hak prerogatif dari mana seorang manusia sok sibuk-pengejar eksistensi semu-penuh sesumbar hedonisme dunia ini mengeluh pada pada Tuhannya?


Oh, tidak juga sekedar mengeluh. Bahkan juga merengek lewat doa-doa kilat selepas sholat yang jiwanya terbagi. Merengekkan dunia dan isinya, mengeja keinginan yang boro-boro menyangkut umat. Betapa memalukannya, yang mengeluh lelah hanya karena seminggu terakhir kurang tidur karena -proyek-entah-apa dan sumpah-demi-apa-itu. Betapa memalukannya, yang mengeluh karena satu dua tanggal merah terinterupsi acara silaturahmi, yang mengeluhkan dua jam halaqah untuk peningkatan kualitas diri. Betapa egoisnya diri ini sebagai seorang manusia? Betapa manjanya? menuntut dan terus menuntut pada Sang Pencipta tanpa terlebih dulu melaksanakan kewajiban.
Ah, iya terlalu manja. Sedikit saja diberi kesibukan mengeluh. Sedikit saja diberi tanggung jawab melenguh. Takut menanggung resiko lah, tidak mau ambil pusing lah, dan entah berapa juta alasan lagi yang akan dilontarkan. Tapi sebenarnya hanya satu: Manja. Badan yang tidak lagi dinavigasi oleh jiwa yang sehat ini harus segera direvitalisasi! bergerak, bergerak, bergerak! bukan hanya badan tapi juga pikiran. Bukan sekedar lari pagi melainkan kontribusi. Tersedia banyak pintu untuk menuju perbaikan diri, juga dari aksi 'sok manja' ini. 

Bukankah pula Tuhan telah berjanji takkan menguji di luar kesanggupan seorang manusia? menjadi manja hanya akan mematahkan langkah menjadi seorang yang lebih luar biasa.  Jadi, jangan cuma meminta dimudahkan saja, jangan manja!


Kamis, 11 April 2013

Manusia: Perempuan

picture: www.ourvoice.org
Kartini. Dimana namanya diabadikan dalam sebuah hari perayaan. Emansipasi, persamaan derajad, bergaung hingga puluhan tahun sekalipun Kartini telah tiada. Akankah Kartini, jika Ia kini masih ada, menangis atau tesenyum menang melihat para perempuan setelah ditinggalkannya?

Emansipasi. Pembebasan dari perbudakan, persamaan hak di berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dalam konteksnya sebagai seorang pahlawan bagi kaum perempuan, Kartini menyadari betapa kaum perempuan pada masanya tak lebih dari makhluk rendah yang dipandang sebelah mata. Lantas jika Kartini telah berupaya membebaskan para perempuan, akankah kini para perempuan benar-benar telah terlepas dari penjajahan? apakah para perempuan yang diperjuangkannya kini memaknai dengan bijaksana kebebasan yang Kartini dapatkan berpuluh tahun silam itu?

Tidak hendak menggugat perjuangan Kartini. Tapi apakah Kartini menyangsikan peran dan tugas perempuan sebagai seorang istri, seorang ibu? Apakah lantas Kartini merelakan dirinya dieksploitasi zaman, menghambakan diri dalam kejayaan masanya, pada tuan penjajah yang kini disebut modernitas? 

Perempuan. Sayangnya betapa banyak dari jumlahnya yang konon diciptaka lebih banyak dari lelaki menyadari kedudukan dan kehormatannya. Yang sadar siapa dirinya, untuk apa dia ada dan diciptakan sebagai perempuan. Untuk menjadi pemimpin bangsakah? Untuk menjadi komoditas dibalik topeng keindahankah? Atau justru menjadi objek yang menyerahkan diri untuk dieksploitasi?

Perempuan, dengan kekuatannya yang tidak disangsikan dan persamaan derajadnya yang juga diagungkan dalam kitab suci, seringkali lupa akan siapa dirinya. Lupa betapa berbahayanya kekuatan yang Ia miliki, lupa akan betapapun kuatnya Ia adalah porselen rapuh, lupa bahwa dalam segala bentuk aturan yang hanya tampak sebagai kekangan merupakan upaya penyelamatan akan dirinya?

Lantas apakah Kartini akan bangga atas penafsiran emansipasi yang diperjuangkannya berubah menjadi sebuah arogansi dan pengagungan terhadap kata 'perempuan' itu sendiri? Benarkah perempuan seperti kini yang diinginkan oleh Kartini? Perempuan yang tidak mampu menghormati dirinya sendiri dengan alasan kebebasan, perempuan yang merusak dirinya sendiri karena alasan kesetaraan antara dirinya dan lelaki. Perempuan yang merasa paling berhak dibenarkan dan diagungkan tanpa merasa sadar ada perbedaan hakiki yang mengistimewakannya dari makhluk bernama lelaki.

Kesetaraan yang tidak serta merta setara, yang jarang ditelaah dengan sempurna apa maknanya. Digunjing, dicaci, dicurangi demi mendapatkan makna kesetaraan yang entah tepat untuk siapa. Perempuan dan emasnipasinya. perempuan dengan segala anggapan kesetaraannya. Sedang kini, dimana kalian berpijak wahai para perempuan?

Senin, 08 April 2013

Hello World!


Selamat malam semesta! aku tidak lagi mau curiga konspirasi apa yang sedang kau rencanakan untukku. Bentangan jarak antara aku dan mimpiku yang kini seluas tujuh samudra bisa saja menipis selarik garis dalam sekejap. Siapa yang tahu?

Ada banyak hal yang terbenak di kepala. Tapi tidak satu larik pun berhasil saya rangkum. Tulisan ini setengah dipaksakan kalau tidak mau dibilang terpaksa. Satu kata: Rindu. Entah kepada apa, tapi rasanya begitu buncah. Sesak dan menghimpit. 

Apa kabar? lama tidak bersua. Bukan karena sedang berkontemplasi bukan terbentangnya jarak ini? bukankah jarak terkadang hanya merupakan sebuah ilusi? ah..saya mulai berbicara yang bukan-bukan. 

Kepada malam yang terhormat atas sunyi yang tidak pernah lelah kau genggam. Mengapa kau tega membungkuskan selimut sepi pada aku yang hanya bertumpu pada mimpi ini? 

Apa saya jadi penulis saja? penulis macam apa yang bisanya hanya nyampah dan merandom seperti ini heu?

Angin mengombang-ambingkan sepotong hati yang telah ia tahu begitu rapuh.  

Oh well, pantas saja karir saya sebagai penulis dan editor tidak pernah menjadi cemerlang. Menyusun kerangka saja tidak becus. 

Meniupkan mimpi ditengah tidur yang gelisah, membangunkan mata ditengah dunia yang selalu membara.

Oh apa deh. Saya setengah menceracau dan tidak tahu sedang berbicara apa.

Jika semesta benar-benar bisa berkonspirasi. Bolehkan sebuah permohonan diajukan dengan mengharap iba?

Selamat malam semesta. 

Selamat menyusuri kolong langit bagi para pengembara. Tunjukkan jalan melalui bintang-bintang. Berikan penerangan lewat cahaya bulan..