Kamis, 24 September 2020

Pantulan Warnaku


15 hari sudah saya melewati hari berjibaku dengan tantangan untuk menggunakan komunikasi produktif. Beberapa hari sudah berselang sejak hari terakhir. Hari ini saya masih kelepasan membentak Atha, tapi hari ini juga saya mengucapkan kata maaf. Saya masih jauh dari sempurna. 

Kemarin ditengah tumpukan aktivitas domestik saya berhasil mengajak diri saya untuk mengubah masalah menjadi tantangan. Saya membayangkan sedang bermain game bersih-bersih rumah. Saya membayangkan akan mendapatkan beelian-berlian jika berhasil menyelesaikan setiap tantangan. Mencuci piring, menyapu, memandikan dan menyuapi anak-anak, merapikan mainan, hingga men uci baju dan menjemurnya. Alhamdulillah, hingga babak terakhir saya masih bisa tersenyum, bersemangat. Meskipun capek tetap terasa, apalagi perut sudah meronta-ronta. 

Saya berusaha terus belajar mengubah sudut pandang, mengatur nada bicara, memilih kata yang terbaik. Berpikir sebelum bertindak. Mungkin saya belum merona seperti pelangi, tetapi perlahan namun pasti akan berubah secerah mentari. Semangat, aku!

Kamis, 17 September 2020

Hari ke-15 Komunikasi Produktif : Akhir Zona Pertama

Lima belas hari sudah tantangan komunikasi produktif berlangsung. Hari inj menjadi titik persinggahan pertama perjalanan panjang bab komunikasi yang tantangannya tak pernah ada habisnya. Belum sempurna memang, tapi ada kemajuan...

Masih lekat di ingatan saya dua minggu lalu saya menuliskan temuan demi temuan:

Atha susah mandi.
Drama bangun tidur.
Drama makan.
Dan episode episode drama lainnya yang entah harus diberi judul apa.

Di minggu awal saya menempatkan Atha sebagai Objek. Sumber temuan, permasalahan. Tetapi di tengah perjalanan saya menyadari bahwa saya lah yang 'belum selesai' dengan diri saya sendiri. Saya menciptakan ekspektasi, yang berujung kecewa karen Atha tidak bisa memenuhi.

Untung saja saya segera menyadari. Bahwa sebelum menerapkan komunikasi produktif kepada Atha, saya harus berdialog dengan diri saya terlebih dahulu. Lalu saya mencoba berdiskusi dengan diri, mengungkapkan apa yang saya resahkan..lalu mencoba mengubah cara berpikir. Menjadikan masalah menjadi tantangan, adalah sebuah kata kunci.

Saya mulai mencoba untuk berdialog dengan diri sendiri. Me-reset bayangan tentang bagaimana bereaksi ketika Atha melakukan hal-hal yang tidak sesuai harapan. Saya melakukan re- framing, mencoba melihat masalah dari sudut pandang berbeda. Tidak berlarut fokus pada masalah, tetapi fokus pada mencari solusi. 

Ternyata memang menjadi lebih mudah. Segalanya tampak tak semenakutkan sebelumnya. Agaknya, saat ini saya tidak akan bisa menjadi perfeksionis yang mamlu membereskan semua. Saya mulau menerima bahwa ada hal-hal di luar kendali, dan tidak semua harus diselesaikan saat itu juga dengan paripurna.

Saya mulai bisa menerima rumah yang berantakan karena mainan. 
Saya mulai bisa menerima bahwa saat ini fokus pada anak-anak lebih penting daripada memikirkan cucian.
Saya mulai menerima perasaan lelah yang saya rasakan, sehingga saya memberikan waktu bagi diri saya beristirahat sejenak.

Lalu berusaha mencari solusi

Saya berusaha bangun lebih pagi.
Saya berusaha fokus menyelesaikan satu hal dalam satu waktu.
Saya mulai membuat prioritas.
Saya belajar bersabar mengikuti proses Atha.
Saya belajar menahan emosi, ketika Atha belum berfokus pada apa tang saya sampaikan.
Saya belajar menggunakan kalimat produktif dibanding berteriak dan mengancam.
Saya belajar 'menikmati' waktu bersama anak-anak, daripada sekedar menjalani rutinitas harian dan menyelesaikan semua pekerjaan.

Perlahan, saya merasakan memang ada yang berubah. Semuanya memerlukan proses, dan konsistensi. Semoga meskipun tantangan ini berakhir, penerapamnya bisa terus saya lakukan. Practice makes perfect, right?

Bintang untukku hari ini
🌟🌟🌟🌟

Siap melaju ke tantangan berikutnya, Bismillah!

Hari ke -14 Komunikasi Produktif

Tantangan zona pertama sudah hampir berakhir. Empat belas hari sudah trial and error mempraktekkan poin-poin komunikasi produktif. Ternyata, kuncinya ada pada kelapangan hati.. 

Hari ini saya sudah mulai terbiasa untuk berbicara kepada Atha dengan intonasi rendah, kalimat pendek dan to the point. 
Dibandingkan berkata-kata panjang lebar karena kesal melihat tumpahan air, saya memilih untuk meminta Atha mengambil lap dan membersihkannya. Meskipun sesekali, emosi saya masih sedikit 'meletup' tapi saya cukup puas dengan kemajuan yang saya dan Atha alami. Dua hari belakangan, Atha tidak terlalu sering marah-marah. Mungkin karena saya lebih tenang, membuatnya terbawa lebih tenang dan frekuensi merengeknya berkurang drastis.

Saya juga menyadari, Atha lebih mudah menyampaikan kata 'maaf' dan lebih mendengarkan apa yang saya ucapkan. Lebih mudah diajak bernegosiasi tentunya. Hal ini tentu saja sangat membantu dalam proses tawar -menawar yang hampir selalu saja terjadi ketika mau mandi, makan, juga tidur. 

Bintang Untukku Hari Ini
🌟🌟🌟🌟

Selasa, 15 September 2020

Hari ke-13 : Mulai Bisa Mengendalikan Emosi Diri

Hari demi hari berganti seperti biasa. Hari ini saya berusaha bangun lebih pagi agar bisa memulai rutinitas lebih awal, tanpa gangguan.

Pagi hari berjalan seperti biasa, hanya saja hari ini saya bangun lebih awal. Belum pukul 07.00 kegiatan dapur sudah saya tuntaskan. Lumayan, pikir saya.

Ruby dan Atha bangun seperti biasa, kegiatan berjalan seperti biasa. Yang luar biasa, sudah 3 hari ini frekuensi marah-marah saya berkurang drastis. Saya berusaha menerapkan komunikasi produktif ketika berbicara dengan diri saya, memberi sugesti positif, menyusun prioritas, dan menurunkan ekspektasi terhadap apapun. Intinya, saya menyiapkan diri saya untuk segala kemungkinan terburuk. 

Dan ternyata, cukup berhasil! 
Pikiran lebuh ringan, pekerjaan lebih banyak yang terselesaikan. Frekuensi tangisan berkurang, saya mencoba tidak memaksakan semua sesuai dengan harapan saya. Saya mencoba mendengar pendapat Atha,bernegosiasi, dan mengambil jalan tengah. Bukan seperti dahulu, negosiasi terselubung untuk memenangkan keinginan saya.

Seperto hari ini, sudah hampir pukul 11.30 ketika mau mandi. Tiba-tiba Atha mengajak saya bermain layang-layang. 
Hmm..baiklah, saya berpikir sejenak.
Hari terik, angin tidak bertiup. Tetapi jika saya tolak pasti Atha akan terus merengek dan berujung menangis. Akhirnya saya tawarkan untuk bermain sebentar saja, karena umi mau mandi. Untungnya, Atha setuju.

Saya pun menyeret kayang-layang plastik ke depan rumah. Mencoba menerbangkannya, yang tentu saja..gagal! Hahahah..saya memang belum pernah berhasil menerbangkan layang-layang sendiri. Pun, siang begitu terik. Angin hanya berhembus sesekali, tak mampu mbawa lanyang-layang kami terbang tinggi. Saya kembali menawarkan,bagaimana kalau Atha bermain layang-layang bersama abi nanti sore. Atha mengangguk setuju, dan kami masuk ke dalam rumah dengan tentram. Hore!

Sebuah penyelesaian kasus yang cukup baik bagi saya. Saya tidak marah-marah, Atha juga tidak histeris. Hari ini saya memberikan 4 bintang bagi diri saya!

Bintang untukku hari ini
🌟🌟🌟🌟

Semoga besok dan seterusnya menjadi lebih baik!