Minggu, 20 Oktober 2019

Seminar Parenting: Meningkatkan Minat Belajar dan Prestasi Anak

Sabtu kemarin saya berkesempatan menghadiri seminar nasional parenting yang mendatangkan Mira Julia atau yang lebih akrab disapa Mbak Lala yang bertajuk sangat ambisius : Meningkatkan Minat Belajar dan Prestasi anak. Singkat mengenai mbak Lala, beliau adalah salah satu legend di kalangan keluarga penganut mahzab Home Schooling (HS) dimana putra pertamanya yang semenjak kecil tidak pernah bersekolah formal tetapi berhasil masuk FE UI dan merupakan pendiri rumahinspirasi.com, yaitu sebuah media belajar online.

Dalam sesi seminar mbak Lala banyak bercerita tentang hal-hal yang mempengaruhi proses belajar yang tentu saja berdampak pada prestasi belajar anak. Tapii..yang saya garis bawahi adalah kalimat mbak Lala yang berbunyi

" Kita mempersiapkan anak kita untuk hal-hal yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya"

Nah. Lho. Sebagai generasi era 90-an yang dulu cita-citanya seputar dokter, guru, polisi dan pilot, tentu saja bahkan situasi pendidikan dan perkembangan keprofesian saat ini saja sudah jaaauh berbeda dengan era saya dulu. Jadi jangan heran kalau anak sekarang ditanya apa cita-citanya? Lalu menjawab: youtuber, vlogger, food photographer, dan banyak lagi istilah 'asing' lainnya. Kesemuanya itu bahkan tidak terbayang bagi saya sebelumnya..apalagi nanti 20 tahun memdatang? Seperti apa lagi perkembangannya? Ragam potensi dan lapangan kerja yang bisa bermunculan?

Sedikit kembali pada cerita HS yang dipilih oleh keluarga mbak Lala. Keluarga mbak Lala sepakat untuk menerapkan HS Bagi anak-anak karena bangku sekolah formal dinilai kurang relevan dengan kebutuhan anak mereka. Mudahnya, ya buat apa mempelajari hal-hal yang kita nggak tau ngapain harus belajar itu. Well said sih, saya sekolah belasan tahun juga yang terpakai ilmunya hanya sekian persen saja. Lalu mengenai standar prestasi, kebanyakan sekolah formal menilai dengan indikator prestasi yang sama bagi seluruh siswa. Padahal, setiap anak itu dilahirkan dengan potensi berbeda yang tentu saja berarto bisa saja prestasinya bentuknya juga nggak sama. 

"Tugas orang tua adalah mengantakan anaknya menjadi bintang di langit. Dan bintang di langit itu banyaaak banget. Jafi setiap anak itu sejatinya adalah bintang" begitu kata beliau.

Uhuk. Tertohok lagi. 

Kebanyakan orang tua saat ini menuntut anaknya memiliki kredit yang baik dalam bidang akademis. Padahal..tentu tidak semua anak memiliki kelebihan dalam bidang tersebut. Kebanyakan orang tua juga mudah sekali 'baper' dengan 'prestasi' anak lain, lalu tanpa sadar membandingkan dan menginginkan anak mereka menjadi berprestasi seperti anggapan orang tuanya tersebut. Salah? Hmm..nggak salah banget sih kalau anak memginginkan anaknya berprestasi. Tapi apa sih makna anak yang  berprestasi?

Prestasi menurut mbak Lala adalah ketika:
1. Anak nyaman dengan dirinya sendiri
2. Anak mampu memahami kekuatan dan kelemahan dirinya
3. Anak memiliki kapasitas untuk menjalani keseharian dengan baik
4. Anak memiliki keterampilan untuk berkarya dan berkontribusi
5. Anak memiliki kapasitas untuk bertumbuh
6. Anak memiliki daya juang dan persistensi

Nah, beda banget kan dengan gambaran prestasi era 90an? Rangking 1 di kelas? Masuk sekolah favorit? Lulus dengan nilai sempurna? Trus blank nggak tau mau ngapain ...wkwkwk..

Sejatinya kita orangtua memiliki PR yang lebih besar dari itu. Daripada berfokus pada prestasi di atas kertas, akan lebih bijak jika orangtua mampu menyiapkan amunisinya, membentuk mental, kebiasaan dan perilaku dimana kelak nanti si anak mampu berjuang dan bertahan dalam kondisi apapun dengan 3 cara:
(1) Membangun budaya belajar untuk mengasah inisiatif dan komitmen anak terhadap proses.
(2) Membangun keterampilan belajar pada anak. Karena kalau anak terampil belajar maka kelak insyaaAllah dalam kondisi apapun anak terbiasa untuk beradaptasi hingga mampu menyesuaikan diri.
(3) Mengajarkan manajemen diri, sehingga anak mampu memahami tujuan, rencana, manajemen waktu yang sesuai serta dapat mengevaluasi diri.

Degg..wah terdengar beraaat ya. Tapi ya memang itulah tugas orang tua. Baik sekolah formal maupun non formal oran yua saja tidak bisa serta merta melepaskan diri dari tanggung jawab tersebut karena pengajarannya tentu bersifat kontinyu. Nggak cukup dengan menyerahkan pada lembaga pendidikan atau kepada gurunya di sekolah thok.

Orang tua merupakan fasilitator utama dalam proses belajar anak, baik dalam hal akademis maupun non akademis. Terlebih dalam ketuntasan emosi dan pembentukan karakter anak, tentu saja orang tua memiliki peran yang sangaaaat besar. Jangan sampai orang tua lah yang justru mematikan potensi anak dengan salah merespon ketika anak menunjukkan minat atau periode sensitif. Karena anak itu sangat perlu diberi ruang untuk bereksplorasi lalu diapresiasi sembari didampingi. Dengan begitu insyaAllah anak-anak kita akan mampu bertumbuh menjadi anak-anak bahagia yang berprestasi dengan apapun ragam potensinya. 

Jadi kemarin pulang seminar itu rasanya langsung bertekad untuk lebih bersabar mendampingi Atha bereksplorasi, main-main dan selalu berusaha memberi respon positif terhadap apa yang ditunjukkannya. Tentu taaak semudah teori..tapi insyaAllah ummi selalu berusaha ya nak. Semoga bermanfaat :D

Jumat, 05 April 2019

Talents Mapping bersama Bunda Dayah

Hari Minggu di akhir bulan Maret lalu saya berkesempatan untung hadir dalam seminar Talents Mapping yang diselenggarakan oleh Komunitas Ibu Profesional Batam.  Apa sih Talents Mapping?  Talents mapping adalah metoda pemetaan bakat yang ditemukan oleh Abah Rama Royani,  yang memiliki 34 indikator untuk mengukur kekuatan dan kelemahan kita melalui serangkaian tes yang harus dijawab. Selengkapnya silahkan cari tahu sendiri yaa :)

Buat apa sih mak ikutan Talents Mapping?  Udah telat nggak sih?  Ada yang nanya begitu? 

Baiklah. Tes temu bakat ini efektif digunakan dengan usia minimal 12 tahun dan tanpa batas maksimal usia. Jadi bisa dikatakan saya sama sekali tidak terlambat karena mengetahui bakat itu ternyata manfaatnya banyak sekali seperti untuk memilih pendidikan, karir,  memasang strategi untuk berharmonisasi bersama pasangan hidup,  bahkan mengarahkan pendidikan anak.

Pertama memang awalnya saya iseng ya, saya sekedar penasaran apa sih sebetulnya bakat saya?  Jujur,  sejak dulu saya merasa nggak punya bakat.  Saya nggak expert di bidang apapun, nggak sangat mencintai sesuatu hal apapun,  jadi serba tanggung.. Nggak ada yg jadi highlight lah dalam profil saya.  Jadi ketika ada judul pemetaan bakat,  spontan saya berhenti sejenak dan berpikir: Aha! Kayanya boleh di dicoba!

Sebelum acara,  saya sudah melakukan assesment dan mengantongi hasilnya. Meskipun ada panduan cara membaca hasilnya,  tetap saja saya nggak ngerti maksudnya apa.  Dalam talents mapping ini ada 34 bakat yang dibagi dalam 4 warna :
1. Merah : Sangat Kuat
2. Kuning : Kuat
3. Putih: Netral
4. Abu-abu: lemah
5. Hitam: Sangat lemah

Berlainan dengan berbagai asesmen lain yang fokus pada kelemahan,  talents mapping ini justru fokus pada kekuatan/potensi masing-masing individu dengan jargon: Asah kekuatan,  abaikan kelemahan (begitu kurang lebihnya).  Jadi metoda ini dinilai sangat humanis,  menganggap setiap orang telah diinstall fitrah kebaikan dan kekuatan.  Maka fokus mengembangkan potensi kekuatan akan melahirkan individu unggul dengan spesialisasi yang unik dan khusus.  Nggak ada anak bodoh,  yang ada dia nggak bakat di bidang tersebut dan pasti berbakat di suatu bidang lain.

Jadi bakat mamak apa?

Baiklah,  berkat kegigihan mamak mengejar ibu narasumber untuk membacakan secara personal hasil asesmen saya,  maka ketahuanlah bahwa sebenarnya banyak sekali bakat saya yang masih terpendam.  Mungkin karena sebelumnya saya kurang banyak memiliki pengalaman bekerja ya,  karena lingkungan sangat mempengaruhi perkembangan bakat.  Intinya selama ini saya kurang berani mencoba sesuatu. Jadi oleh bunda Dayah saya disarankan untuk lebih banyak mencoba dan proaktif. Banyak bakat kuat yang masih belum keluar begitu beliau berkata.

Jadi bakatnya apa mak?

Jadi 7 bakat terkuat saya adalah:
1. Connectedness
Saya cenderung sering merenung,  berkontemplasi. Meyakini adanya hubungan sebab akibat antara satu hal dengan hal yang lain.
2. Harmony
Nggak suka sama masalah. Bagi yang kenal saya pasti merasa nggak sesuai ya karena kayanya selama ini saya orangnya cenderung mudah emosi dan kayanya ngajak ribut terus,  wkw.
3. Significance
Senang menjadi pusat perhatian,  senang tampil.
4. Includer
Berusaha membuat semua merasa penting
5. Belief
Senang melayani orang
6. Empathy
Peka/perasa dengan kondisi maupun emosi di sekitar.
7. Relator
Menikmati hubungan dekat dengan orang lain secara mendalam beserta kepo terhadap impian dan hasrat orang terdekat.

Anda kaget?
Saya pun kaget.  Jadi berdasarkan hasil tersebut bisa dibilang saya ini tipe pekerja sosial,  senang melayani,  peka terhadap situasi maupun lingkungan,  dan sama sekali tidak mau terikat. Dikatakan juga bahwa saya memerlukan pengakuan terhadap diri saya alias senang tampil,  senang dipuji.  Dan karena itu saya harus berkomunitas. 

Selain itu ternyata potensi saya di bidang grafis ternyata menunjukkan warna merah alias sangat kuat. Berarti sudah sah dong ya kalau saya bilang salah jurusan?  Kira-kira 84% peserta asesment salah jurusan,  jadi saya nggak sendirian.

Dari hasil tersebut bunda Dayah juga menjelaskan bahwa jika saya dulu sempat tidak betah bekerja di pabrik salah satunya memang bakat saya sama sekali tidak disitu.  Nah,  jadi memang feeling saya sudah sesuai.. Saya nggak cocok jadi karyawan.. Haha.

Lalu sekarang setelah mengetahui hasil asesment nya gimana mak?

Saya memiliki PR untuk lebih berani mencoba banyak hal,  terutama di area merah yang menjadi potensi kuat yang salah satunya adalah selling alias jualan.  Lagi-lagi minat saya ternyata nggak jauh dari bakat yang memang sudah diinstall di dalam diri saya. Selain itu saya juga memiliki bakat developer yang berarti senang memajukan orang lain,  nah ini tentunya menjadi senjata ampuh untuk membantu pendidikan Atha di rumah. 

Saya sudah tahu bakat saya,  bagaimana dengan kamu? :))

Senin, 25 Maret 2019

Parentsharing: Masjid Sebagai Bagian dari Penanaman Keislaman

Disclaimer: Parentsharing insyaaAllah akan menjadi hastag terbaru saya mengenai sharing dan cerita terkait dunia pengasuhan anak.  Banyak tulisan akan bersumber dari buku yang saya baca dan pengalaman yang saya alami :)

Dunia pendidikan anak adalah 'hal baru' bagi saya. Dan puji syukur Allah telah membukakan hati saya untuk menyadari bahwa pendidikan anak adalah sebuah hal pentung yang harus sangat diperhatikan terutama dari dalam rumah dan tentunya sangat memerlukan keterlibatan penuh orang tua.  Semenjak menjadi ibu,  saya mulai mencari tahu banyak hal tentang dunia pengasuhan anak baik yang berkiblat pada pendapat barat maupun yang bersumber dari sunnah nabi (parenting nabawiyah). Sudah selesaikah proses belajar saya?  Oh tentu masih jauh sekali.. Hihi..
Tapi setidaknya dengan memulai menulisakan topik #parentsharing ini saya bisa sedikit berbagi cerita.

Pada tulisan pertama ini saya ingin bercerita sedikit tentang masjid.  Dan sebuah kekecewaan yang sempat terbersit beberapa hari yang lalu. Sebetulnya bukan hal yang baru, Atha sejak bayi sudah sering kami ajak ke masjid.  Selain karena ketika dalam perjalanan,  juga memang dalam rangka kami sangat ingin membuat anak laki-laki mengenal dan mencintai masjid. Tetapi,  nggak semua orang sepaham ya dengan konsep 'anak-anak di masjid' ini.  Bagi beberapa orang,  kehadiran anak di masjid merupakan hal yang sangaaat mengganggu. Sehingga kalau bisa masjid steril dari anak-anak agar para jamaah bisa khusyuk beribadah. Sama sekali nggak salah sih.. Tapi bagi seseorang yang punya anak balita agak bingung juga kalau bocahnya g boleh diajak ke masjid trus gimana saya sholatnya??

Sama seperti beberapa hari lalu.  Pada waktu sholat dhuhur berjamaah,  kebetulan kami sedang berada dijalan.  Seperti biasa,  suami langsung mencari masjid terdekat untuk bergabung dengan sholat jamaah. Atha adalah yang pertama bertanya: Sholat dimana kita?  (MasyaaAllah, semoga Allah menjaga kecintaanmu untul beribadah kepadaNya ya nak :)) mampir lah kami ke sebuah masjid di sebuah perumahan.  Seperti biasa juga Atha setelah wudhu lebih memilih ikut saya di barisan jamaah wanita. Kebetulan siang itu jamaah perempuan tidak terlalu ramai.  Hanya ada 3 orang nenek dan beberapa anak-anak,  ditambah saya dan Atha. Sejak masuk ke dalam ruangan,  seorang nenek terlihat mewanti-wanti para anak-anak agar tidak berisik.  Ya wajar,  juga ketika beliau melihat ke arah Atha dan saya mengisyaratkan hal yang sama. Sepanjang shalat berlangsung Atha berperilaku baik,  sesekali menirukan gerakan dan bacaan shalat. Menurut saya sama sekali tidak mengganggu dan wajar. Hanya saja, ketika saatnya berdoa atha sedikit merengek, entah karena apa saya lupa.  Saya membiarkannya hingga imam selesai membaca doa lalu lanjut bersalaman dengan ketiga nenek tersebut.  Tapi ada yang aneh,  di akhir doa kedua nenek sibuk berbicara seperti menenangkan salah seorang nenek, sayup saya mendengar: "namanya juga anak kecil". Saya yang merasa tidak terjadi apa-apa pun mengulurkan tangan untuk menyalami beliau yang ternyata.. Dicuekin sembari menggerundel yang tidak bisa saya dengar dengan jelas.  Oh ternyata,  rupanya perilaku Atha barusan sangat tidak berkenan di hati beliau sehingga bahkan beliau enggan menerima jabat tangan saya.  Baiklah, tak papa.. Meskipun sebenarnya dalam hati saya sedih banget lho. Dalam hati saya mengulang ngulang mantra dari emak safithrie bahwa ' respon orang lain terhadap aktivitas anak kita sama sekali bukan urusan kita dan kita sama sekali nggak perlu memikirkannya'. Pasti akan ada orang yang nggak sependapat dan itu sepeenuhnya hak mereka dan kita sama sekali tidak berurusan dengan hal tersebut.  Berkali kali saya mengulang-ulang hal tersebut dalam hati agar kekecewaan saya segera reda. Jadi sebenarnya point nya apa?  Lama ya muternya?  Hehehe..

Cerita tersebut hanya mukaddimah dari pentingnya kembali menumbuhkan kesadaran bahwa pendidikan anak muslim itu selain dari rumah adalah dari masjid.  Bahwa seharusnya masjid adalah 'rumah kedua' bagi anak-anak, dimana mereka bebas mengenal,  mengeksplorasi tempat yang nanti harus mereka cintai tersebut (terlebih untuk anak laki-laki) . Dan kitalah,  para orang tua yang harus menciptakan kenyamanan bagi anak-anak di dalam masjid,  tanpa menafikan pengenalan adab-adab di dalam masjid. Ya gimana mau cinta masjid kalau dia 'dilarang' ke masjid sejak kecil? Seperti yang dikatakan Khalid as-Syantut dalam bukunya "Mendidik Anak Laki-laki" bahwa seharusnya masjid adalah menjadi tempat yang paling dicintai anak-anak kita. Karena disitulah pusat kegiatan masyarakat muslim seharusnya berlangsung. Untuk mewujudkan 'impian' tersebut memang diperlukan pemahaman dan dukungan dari banyak pihak. 

Berbicara mengenai masjid ramah anak,  rasanya rindu sekali dengan Masjid Salman.  Dulu saya belum sepenuhnya paham kenapa banyak sekali unit-unit yang dibuat YPM Salman untuk mewadahi berbagai aktivitas dari pendidikan anak,  perpustakaan,  pendidikan remaja,  aktivitas sosial bahkan pendidikan pra nikah.  Ternyata memang itulah misi besar masjid, bahwa memang sudah seharusnya masjid menjadi pusat kegiatan pendidikan umat. Hal ini seringkali tidak kita dapati dalam masjid kebanyakan, yang programnya merangkul anak dan remaja. Ah semoga semakin banyak masjid yang 'membuka diri' kepada anak dan remaja. Kalau tidak kita dekatkan ke masjid,  maka harus kemana mereka mendekat?  Dikhawatirkan malah lebih mencintai bilik-bilik game online bukan?  Naudzubillah.. Semoga kita dimampukan untuk menjaga anak anak kita kelak dari segala macam fenomena akhir zaman.

Seminar Parenting: Membangun Kemandirian dan Disiplin Pada Anak

Baiklah,  sebetulnya agak nggak yakin juga mau menuliskan judulnya: Khawatir disangka notulensi acara nih saya.  Tapi saya rasa bahasan kemarin yang saya dapat cukup menarik untuk ditulis dan dibagikan.

Topik membangun kemandirian dan disiplin ini mungkin bagi sebagian orang mudah dilakukan ya,  tapi bagi saya yang nggak disiplin sungguh sulit mengimplementasikannya (ketawa). Bagaimana enggak?  Disaat bukibuk yang lain sudah membangun rutinitas, mengenalkan jadwal bangun pagi,  makan tepat waktu,  saya setiap pagi malah berdoa sambil harap-harap cemas si bocah bangun agak siangan, biar sempat masak buat siang sekalian. Kalau nggak ya apakabar jadwal makan siang tepat waktu.. Hihi.. Byebyeee..

Kembali lagi ke seminar,  pemateri nya adalah Emak Safithrie Sutrisno. Seorang ibu dari 3 orang putri, founder komunitas Rumah Emak,  praktisi parenting sekaligus seorang parents coach, juga pengamat masalah anak dan keluarga (khusunya terkait narkoba dan pornografi).  Mantab kan profilnya? 

Lalu apa yang di dapat?  Buanyak!

Saya tarik ke awal dulu ya sebelum masuk ke materi. Apa sih yang sebenarnya membuat saya tertarik mengikuti seminar? 

Saya selalu merasa kurang disiplin dalam menjalankan pengasuhan dan pendidikan. Saya ni sering bingung harus dari mana dulu,  dan ikut-ikutan tetangga sebelah kalau 'kayanya' anaknya 'lebih pinter' jadi coba bisa nggak sih Atha kaya gitu? Yang.. Dari lubuk hati terdalam pun saya tahu itu salah. Lalu tanpa sadar muncullah judgement-judgement di dalam pikiran saya terhadap Atha: kok begini kok begitu?

Ah.. Rasanya begitu fakir ilmunya saya dalam menapaki dunia pengasuhan ini.  Begitu ada kesempatan mengikuti seminar,  langsung saya gercep daftar.  Ternyata memang beda ya kalau bisa mendengarkan langsung,  diskusi langusng dibandingkan hanya menyerap ilmu dari buku-buku.  Metode parenting kurang lebih sama saja, tetapi begitu diucapkan di depan muka kita.. Rasanya.. Seperti ditampar. Ya Allah.. Amanah yang luar biasa ya seorang anak itu. Baru seorang padahal,  bagaimana kalau sudah ditambah lagi?

Kembali lagi pada membangun disiplin pada Anak,  ada 4 hal yang diperlukan untuk mencapainya:

1. Komunikasi
2. Disiplin
3. Negosiasi
4. Unconditional love

Diskusi selama kurang lebih 4 jam rasanya kurang kalau sudah 'curhat' tentang anak.  Tetapi dari kesemua pembicaraan,  memang ke 4 hal di atas yang harus dilakukan secara konsisten.

Untuk berkomunikasi dengan anak,  ada 3 hal yang harus diperhatikan: Nada suara,  pilihan kata,  dan bahasa tubuh. Gunakan bahasa yang dimengerti anak,  dan yang paling penting adalah lihat kebaikan anak, jangan hanya terfokus pada kekurangannya. Yang penting dipahami adalah,  perilaku anak didorong oleh perasaan/emosi daripada pemikiran (ya kita berharap anak mau 'mikir' gimana juga ya?) dan yang terpenting jadikan momen berkomunikasi dengan anak itu sebuah hal yang menyenangkan!  Perhatikan apa yang dikatakan anak,  berikan tanggapan yang sesuai,  kurangi kritik dan judgment biar anak nggak males ngobrol sama kita.

Ada pertanyaan,  kalau misal anak saya berbuat sesuatu misal berlarian atau bermain-main sehingga membuat orang lain 'merasa' terganggu. Apa yang harus saya lakukan?

Dan jawabannya mencengangkan bukibuk!  Pikiran orang lain itu bukan urusan kita,  jadi cuek aja dan fokus pada perasaan anak. Well noted.

Lalu, bagaimana dengan menanamkan disiplin?

Kuncinya adalah dengan menumbuhkan dari dalam diri anak. Karena jika sudah tertanam maka akan muncul pengendalian diri,  bahkan membentuk kepribadian. Caranya gimana?  Apalagi bocah baru 2 tahun?

Ada tahapannya lho ternyata!
Untuk anak 1- 2 th gunakan konsep role model.
Untuk anak 3-5 tahun bangun kebiasaan baik sesuai umurnya
6-7 th lakukan dengan rutin dan jika luoa ingatkan dengan lembut
8 th ke atas, diharapkan anak sudah memiliki disiplin yang baik dan sudah melakukan secara otomatis tanpa diperintah.

Saya fokus pada rentang usia Atha,  metode yang paling cocok adalah dengan memberikan contoh,  dan Emak memberikan tips: Lakukan sambil sebutkan apa yang sedang kita lakukan.  Ajak dia untuk mengikuti!

Langsung dicoba ya kemarin sepulang ngaji,  saya contohkan melepas sepatu sambil berkata: "Umi melepas sepatu,  kemudian menaruhnya di tempat sepatu. Ayo,  Atha juga ikut yaa!  Atha lepas sepatu,  sudah?  Lalu taruh di tempat sepatu! " dan berhasil!  Anaknya senang,  emaknya apalagi :'D.

Yang terpenting dari membangun disiplin ini adalah menetapkan tujuan,  batasan yang logis sesuai umur dan tentu saja rutinitas. Dan yang perlu digaris bawahi dalam menjalankan disiplin ini adalah justru penguasaan diri kita yang utama lho!  Kita harus mampu menyampaikan dengan kata-kata yang baik sehingga midah dimengerti hingga akhirnya dilakukan oleh anak.

Selanjutnya adalah Negosiasi. Siapa yang anaknya sedang dalam fase 'ngebantah terus apa yang emaknya bilang'? *ngacung paling tinggi.  Ternyata memang masa-masa golden age ini anak 'diprogram' untuk penasaran agar bosa mengeksplorasi lingkungan dengan maksimal yang akhirnya terkesan rebel.
Jadi selama bisa dinegosiasikan,  ajak anak diskusi.  Jika sudah ada kesepakatan dan ternyata anak masih melanggar (biasanya gitu sih)  dare to say no!  Konsisten meskipun anak menangis,  gunakan intonasi datar dan katakan apa yang ibu inginkan hingga emosi anak reda.  Selain membantu meregulasi emosi,  juga bantu anak mengenali bentuk emosinya. Yang ini sungguh berat untuk dijalani ya buk. Ada kalanya ingin menyerah saja demi berhentinya tangisan yang menyayat hati itu,  tapi sayangnya bocil juga harus belajar. Kita harus membantunya menghadapi kenyataan hidup *tsahh.

Dan yang terakhir adalah Unconditional love. Saya rasa ini adalah fitrah setiap ibu ya,  menyayangi anaknya tanpa memerlukan alasan apapun,  memafkan semuaaa kesalahannya bahkan sebelum minta maaf,  juga tidak ingin menekan atau meyakiti.  Kasih sayang kita,  cinta kita dan tentunya kesabaran kita adalah kunci. Bahwa setiap anak dilahirkan dari ibu yang juga diberikan kemampuan oleh Allah untuk mengasuh dan mendidiknya. Anak adalahtitipan yang kelak dimintai pertanggungjawaban. Maka,  bagaimanapun sabar dan sabar adalah kunci kedua dalam menjalankan proses pengasuhan. Dengan cinta tak bersyarat, muncullah kekuatan dari diri kita untuk terus bertekad mendidik anak agar menjadi sebaik-baik generasi.

Setelah mengikuti seminar tersebut rasaya saya seperti di refresh kembali.  Stress level menurun,  tuntutan menurun. Belakangan saya memang sedikit 'perfeksionis' ingin segala sesuatu berjalan sesuai keinginan. Dan hal tersebut rupanya juga berdampak kepada Atha. Sulit diajak bekerja sama,  merajuk,  membuat emosi,  itulah yang saya lihat karena saya berfokus pada kekurangan.
Akhirnya saya mencoba untuk melihat kelebihan,  bahwa Atha ingin selalu dekat dengan saya adalah salah satu indikator bahwa dia nyaman bersama saya. Saya mencoba menanamkan perkataan Emak bahwa diri ibu itu terbuat dari kesabaran,  jadi tidak akan ada istilah habis kesabaran. MasyaaAllah.. Sebuah PR yang berat untuk dikerjakan bagi saya.

Mendidik seorang anak adalah amanah,  langkah awal dari membangun peradaban. Saya hanya ingin berikhtiar agar kelak Atha mampu menjalankan misi hidupnya dengan maksimal,  bahkan jika Allah mengijinkan mampu membuat Atha seorang yang menebar manfaat bagi sekitar.