Selasa, 10 Juli 2012

Cerita Kampus: Rindu

Akhirnya, setelah sempat dua minggu rehat dan pulang ke rumah, saya kembali lagi ke Bandung. Janji-janji untuk minggu ini sudah mendahului mampir ke handphone saya sejak minggu lalu. Saatnya kembali bertemu dunia nyata, batin saya sambil nyengir lebar.

Bisa dibilang rasanya..ada yang berbeda ketika pertama kali menengok gerbang depan. Kampus memang tidak pernah sepi pengunjung. Hawa-hawa keramaian seolah menyentak saya dari istirahat. Ya, tentu saja..dua minggu terakhir yang terasa seperti satu bulan kemarin hanya diisi kegiatan -liburan- hehehe. Rindu kampus kalau boleh diaku-aku.

Sebenarnya apa istimewanya ngomongin kampus? tiba-tiba pula? tentu saja tak lepas dari sisa waktu berapa hari lagi yang segera tiba. Saat melepas gelar prestisius 'mahasiswa' dari institut terbaik bangsa bisa jadi tinggal hitungan hari. Tiba-tiba banyak nostalgia yang lewat di depan mata. Hari pertama masuk kampus dengan adegan nyaris tercebur ke Plaza Widya itu ternyata sudah 4 tahun yang lalu. Cepat..cepat sekali waktu berlalu. Ada yang berdesir ketika menengok gerbang depan, menatap TPB-TPB yang baru mendapatkan jahim, dan tentunya mahasiswa baru yang berlalu lalang. Muka-muka familiar tentu saja semakin sedikit. Orang-orang yang biasa saya sapa "Kak," sambil sekedar senyum ataupun nyengir juga sudah sangat jarang ditemui. Dominasi wajah baru yang masih tersa asing membuat sore ini semakin berbeda. 

Sudahkah? berhenti sampai di sini? saya berjalan sambil sesekali menerawang melintasi gerbang depan. Spanduk bertuliskan "TODAY IS YOURS" itu kini sibuk saya simak. Isinya tentang tanggal booking paket foto, hehehe..yah, hari ini giliran saya yang menyimak. Saya menikmati jalanan yang menunggu diperbaiki sepanjang gelap nyawang. Menyusuri jalanan Taman Sari dan Kebon bibit dengan terdiam. Aston Tropicana sore ini belum berpendar, hanya saja..matahari senja masih mampu mempesona saya seperti hari-hari sebelumnya. Akan ada banyak hal yang membuat rindu nantinya. Rindu cerita-cerita, rindu paving-paving yang bergeser ketika diinjak, juga daun-daun jatuh dan bunga-bunga merah muda di sepanjang kanopi. Bagaimanapun, sudah banyak yang terjadi di sini, akan ada sebagian hati lagi yang tertinggal di sepanjang jalanan.

Selasa, 19 Juni 2012

Seri Buku TEMPO: Bapak Bangsa. Tagih saya segera untuk bercerita tentang Hatta ! :D

Ular Naga Panjangnya Bukan Kepalang...

Usai sudah masa ini. Aku tidak mau lagi mengikuti punggungmu lagi. Permainan ular naga panjangnya di halaman setiap sore, hanya menyisakan satu hal pada diriku. Bahwa aku..selalu berada di belakangmu, menatap punggungmu, mengikutimu kemanapun kau melangkah. 

Usai sudah masa ini. Aku lelah berlari mengikuti langkah-langkah panjangmu. Mengikuti dengan nafas tersengal. Berjalan terpatah-patah, mencoba menggapai punggungmu. Tanganku lelah menggapai-gapai, aku kehabisan tenaga. Dan aku hilang arah. Dan kau..terus berjalan, tanpa sekalipun menengok ke belakang. Tak pernah kau sadari pula, aku melepaskan peganganku dari pundakmu.

Usai sudah masa ini. Aku terdiam sesaat, menerawang mengusap peluh. Punggungmu semakin menjauh, jauh..dan perlahan menghilang. Permainan ini tak pernah kusangka begitu menyesakkan. Ular-naga-panjangnya..bukan kepalang. Aku tak pernah membayangkan begitu panjang jalannya. Berbelok-belok, kadang naik turun jalanan curam dan terjal. Dan aku tidak pernah menyangka untuk memutuskan berbalik arah.

Ya, usai sudah masa ini. Entah mengapa aku justru tertawa lega meninggalkan barisan kita. Aku lega tanganku tidak lagi erat memegang pundakmu. Aku lega mataku tidak terpaku pada punggungmu. Tahukah kau, dari sini aku bisa melihatmu, dirimu. Dari depan, samping, belakang. Daru ujung rambut hingga ujung jemari. 

Ular-naga-panjangnya-bukan kepalang...selamat tinggal. 

Kamis, 14 Juni 2012

Memutuskan.


Memutuskan, adalah hal yang selama ini sungguh berat untuk saya lakukan. Takut menyesal? hmm..mungkin salah satunya. Tapi bukan berarti saya meragukan takdir-Nya untuk saya..tidak, tidak sama sekali :).

Sudah bukan rahasia lagi bahwa istikharah adalah jalan terbaik untuk berdiskusi dengan Allah. Jalan terbaik untuk menuntaskan kebimbangan yang menyesak di dalam dada. Namun, bagi saya itu bukan perkara mudah. Setan selalu menyelipkan sebersit ketakutan di hati, hingga terkadang saya enggan menjemput keputusan terbaik-Nya.

Sedikit lucu. Selama ini saya selalu 'titip' pada ayah saya untuk meminta pada Allah jalan yang terbaik. Saya selalu meminta bapak untuk mewakili saya untuk melakukannya. Bodoh? memang, hahaha..saya hanya terlalu takut untuk menghadapi kenyataan. Namun, beberapa terakhir ada banyak hal yang mengganjal di hati saya. Mau tidak mau, berani tidak berani..langkah terbaik ini pun saya ambil.

Istikharah. Banyak orang berkata bahwa setelah memohon pada Allah melalui shalat ini, kita akan bermimpi. Memimpikan sebuah petunjuk yang dapat dijadikan referensi untuk mengambil keputusan. Nahh..ini juga yang saya takutkan. Saya selalu merasa tidak paham dengan mimpi saya, bahkan mengingatnya saja sulit, bagaimana nanti saya bisa mendapatkan petunjuk?? yang ada makin sesat.

Bapak selalu tertawa jika saya menolak untuk istikharah dengan menceritakan alasan tersebut. Kata beliau, isyarat itu bukan hanya melalui mimpi. Tapi bisa juga melalui kemantapan hati. Ya..kemantapan hati, itu yang mungkin belum saya dapatkan.

Namun sepertinya kali ini Allah menunjukkannya dengan gamblang kepada saya. Bukan lewat mimpi seperti yang selalu saya khawatirkan. Tapi nyata dan konkrit melalui apa yang bisa saya cerna dengan akal sehat. Dan sepertinya ini..ini jawaban atas doa saya selama ini :D. Jangan bertanya tentang apa dan apa jawabannya..ini RAHASIA. Saya hanya ingin bercerita bagaimana hebatnya hasil diskusi dengan Yang Maha Tahu. Ya..Dia Maha Tahu..saya harus mengingat itu lekat-lekat.

Dan, inilah yang terbaik..inilah yang terbaik :D Bagaimanapun, saya justru merasa tenang dan lega dengan apa yang Dia putuskan untuk perkara ini. Sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah..menjelang yang terbaik. Bismillah dan ..insyaAllah..

"Kebaikan adalah apa yang membuat hati tenang dan nafsu tenang, keburukan adalah apa yang membuat hati gelisah dan menimbulkan keraguan," (H.R Ahmad)