Sabtu, 02 Mei 2020

Berpuasa Ketika Menyusui? Siapa Takut!

Mohon maaf judulnya sombong banget, ya :D. Padahal hingga satu minggu lalu saya setiap siang hari selalu menyeka air mata ketika menyusui. Bukan apa-apa, baru 2 hari berpuasa pola tidur Ruby sudah kacau. Tak ada satu sesi tidur siang pun yang mulus terlewati, alhasil setiap lepas isya' Ruby sudah terlelap karena sudah kenyang berbuka puasa. Volume air kencing dalam pospaknya pun sedikit sekali hingga membuat saya khawatir. Apakah Ruby akan dehidrasi? Apakah akan mempengaruhi kenaikan berat badannya? Apakah saya terlalu egois memaksakan diri untuk berpuasa sedangkan dalam agama pun ada keringanan bagi ibu menyusui?

Berbagai pertanyaan selalu saja berkecamuk di dalam pikiran saya. Apakah iya tahun ini saya harus cuti dulu puasa Ramadhan? Tapi saya kuat, Ruby juga tidak mencret atau sakit, hanya saja tidurnya memang tampak selalu tidak nyenyak. Saya lalu mencari-cari di dunia maya tentang tips mengASIhi sembari tetap berpuasa. Tentu hasilnya jamak saja, hampir semua menuliskan hal yang sama atau bahkan sepertinya dari satu sumber yang di copy paste ke berbagai laman website maupun blog. Hampir semua menyarankan untuk istirahat cukup, makan cukup di malam hari dan tentu saja menambah asupan air putih sebanyak-banyaknya. 

Semua hal yang disebutkan di atas sudah saya lakukan, kecuali istirahat cukup yang sepertinya belum maksimal. Agak sulit menemukan waktu tidur yang cukup apalagi di hari-hari ramadhan. Siang hari tidak jarang Atha dan Ruby tidur bergantian, atau Ruby tidur tapi sama sekali tidak bisa lepas dari PD dikarenakan yaa..memang kosong..song..song..dikenyot terus sampai habis bahkan hingga pedih rasanya. Ruby jadi mudah rewel, dan saya semakin tidak tahu harus berbuat apa. Dengan tangki susu yang kosong melompong ini saya bagaikan harimau yang kehilangan taring, ibu peri yang kehilangan tongkat sihir, nggak bisa membuat Ruby tidur karena kekenyangan. Sedang digendong pun tidak berpengaruh untuk memperpanjang durasi waktu tidurnya.

Lalu, tiba-tiba muncullah postingan dokter herlin di linimasa instagram saya. Beliau menuliskan tips-tips untuk sukses menyusui selama berpuasa. 

Nah ini dia...

Saya bersorak dalam hati lalu lekas membaca dan mencermati apa saja yang kira-kira berbeda dengan berbagai tips yang sudah ada. Lalu saya menemukan yang belum saya coba

Air nabeez dan kapsul daun kelor...

Ingatan saya langsung berlari pada obrolan dengan teman pengajian yang tahun lalu berpuasa dengan terus mengkonsumsi air nabeez yang diblender dengan susu setiap sahur. Juga seorang teman yang di linimasa instagramnya sempat memamerkan hasil pompa ASI-nya memenuhi seisi freezer, lantaran mengkonsumsi suplemen berbahan dasar daun kelor. Ah ini patut dicoba!!

Langsung saya mengazamkan dalam hati untuk membeli kapsul daun kelor, dan membuat air nabeez. Kebetulan di rumah kurma sangat berlimpah (yaiyalah kami dagang kurma :p), kurma hampir seperti camilan bagi kami. Meskipun sebelumnya kurma tidak pernah luput dikonsumsi saat sahur dan berbuka puasa, tapi rupanya mengkonsumsi kurma begitu saja kurang efektif. Salah satu cara mendapatkan seluruh manfaat kurma adalah dengan menjadikannya air nabeez. Cara membuatnya pun cukup mudah, yaitu dengan merendam 7 butir kurma yang sudah dipisahkan dari bijinya, cabik-cabik dengan sendok lalu didiamkan hingga 8-12 jam sebelum diminum. Bagaimana hasilnya?

Alhamdulillah ada perubahan, tapi masih belum cukup. Rasanya ASI saya sudah tidak lagi mengalir deras ketika lewat tengah hari, di sore hari PD saya kembali kempes seperti balon yang kehabisan gas. Hmm..bagaimana kira-kira ya mengatasinya?

Terbersit di pikiran saya bahwa sepertinya saya harus menggandakan dosis air nabeez yang saya konsumsi. Selain itu saya tidak pernah melupakan kapsul kelor, meminum air putih setiap saat sebanyak yang saya bisa. Setiap sebelum salat, setelah salat, sebelum da sesudah tilawah, pokokonya sesering mungkin mengkonsumsi air putih. Ada sedikit yang khusus saya bedakan dari puasa tahun-tahun sebelumnya, jika sebelumnya saya selalu berbuka dengan air dingin maka tahun ini saya selalu mengusahakan untuk meminum air putih hangat ketika berbuka puasa. 

Kira-kira begini pola konsumsi saya selama ramadhan untuk sekarang:
1. Buka puasa dengan 1-3 butir kurma dan segelas air putih hangat, dan mengkonsumsi kapsul ekstrak daun kelor. Hal ini dikarenakan aturan konsumsi kapsul dianjurkan diminum 30 menit sebelum makan.

2. Makan makanan kecil, buah/gorengan (jangan ditiru ya bagian gorengan ini)

3. Minum air putih sebelum dan sesudah salat magrib

4. Makan nasi dan lauk, minum air putih.

5. Meminum segelas air nabeez setelah slat tarawih atau menjelang tidur malam.

6. Minum air putih saat bangun tidur, meminum kapsul kelor, makan secukupnya ketika sahur dan kembali meminum segelas air nabeez sebelum imsak. 

7. Berdoa setiap setelah sholat dan di waktu-waktu mustajab agar Allah memudahkan puasa dan memberikan kekuatan baik kepada saya maupun Ruby. 

Lalu apakah saya berhasil?

Alhamdulillah, setelah saya menerapkan hal di atas hingga sekarang hari ke- 9 berpuasa kuantitas ASI saya meningkat secara signifikan! Jika biasanya siang hari tong susu sudah kosong sekarang hingga menjelang buka puasa saya masih bisa mendengar suara Ruby menelan ASI..glek..glek..glek..

Perlahan tapi pasti, volume dan warna air kencing di pospaknya kembali normal. Durasi tidur siangnya juga mulai bertambah dan bisa ditinggalkan tanpa nenen terkulum dalam mulut. Ahh..saya lega sekali, akhirnya saya bisa berpuasa tanpa terus merasa bersalah karena menzhalimi Ruby. Bisa dibilang ASI saya kini mengalir deras seharian, hingga Ruby tidak lagi kelaparan. Oh iya satu hal yang bagi saya tidak boleh dilewatkan adalah tidur siang, saya merasa tidur siang sangat membantu saya untuk mengisi kembali ASI di PD. Dan bonus dari mengkonsumsi air nabeez ini adalah saya hampir tidak merasakan lemas sama sekali dibsiang hari meskipun harus menyusui, mengerjakan pekerjaan rumah sembari mengasuh dua orang anak lho! 

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Jadi bagi ibu-ibu menyusui yang juga ingin berpuasa, mungkin cara ini dapat dicoba juga. Semoga bermanfaat! :D

Senin, 27 April 2020

Eco Enzyme, Salah Satu Solusi Sampah Rumah Tangga

Sudah pernah dengar tentang eco enzyme? Atau jangan-jangan sudah membuat dan menggunakannya? Cairan dengan segudang manfaat ini belakangan mulai banyak disebut, bahkan di klaim bisa digunakan untuk membunuh virus covid -19. Lalu apa sih eco enzyme itu sebenarnya? Yuk simak sedikit cerita perkenalan saya dengan cairan ajaib ini!

Pertama kali mendengar istilah eco enzyme adalah dari seorang teman yang kebetulan senang bertanam. Konon, tanamannya subur-subur berkat disiram air campuran eco-enzyme. Saya yang waktu itu sama sekali belum tertarik hanya mendengarkan sepintas lalu. Sampai akhirnya nyemplung ke rumbel Green, yang sepertinya semua anggota rumbelnya ngefans sama khasiat eco enzyme. Jadilah mulai penasaran, dan akhirnya memutuskan ikut workshopnya yang kebetulan berlokasi di dekat rumah. 

Workshop dibuka dengan pemaparan singkat mengenai sampah rumah tangga oleh mbak Erli Oktania, seorang praktisi zero waste yang sudah sekitar dua tahun membuat dan menggunakan eco-enzyme. Beliau memaparkan bahwa sampah rumah tangga kita yang berakhir di TPA, jika bereaksi dapat menghasilkan gas metana yang 21 kali lebih berbahaya dibanding dengan CO2 yang jika terbakar akan sangat sulit untuk dipadamkan. Jadi alangkah lebih bijak jika sampah terlebih dahulu diolah oleh masing-masing rumah. 
Mengolah sampah di rumah? Gimana caranya? Eco enzyme bisa menjadi salah satu jawabannya.

Lalu..apa sih eco enzyme itu sebenarnya?

Eco enzyme adalah larutan zat organik kompleks yang dihasilkan dari proses fermentasi gula coklat dan air. Fermentasi memerlukan bakteri sebagai katalisator dan gula sebagai makanannya. Sekitar 30 tahun lalu eco enzyme ditemukan oleh seorang pendiri komunitas agriculture di Thailand. Awalnya eco enzyme hanya digunakan di bidang peternakan dan pertanian. Namun, saat ini manfaatnya semakin meluas bahkan dapat digunakan sebagai anti bakteri.

Kenapa sih harus repot-repot membuat eco enzyme? Emang penting banget ya?

Jawabannyaaa...menurut saya penting! Untuk saat ini eco enzyme merupakan cara tercepat dan teroptimal untuk mengolah sampah rumah tangga.

Selain itu, Asam asetat yg dihasilkan dlm proses fermentasi eco enzyme memecah karbohidrat (pati), protein dan lemak shg menghasilkan O3 (ozone). Dari satu ember cat 25 kg setelah panen eco enzyme hasilnya setara dg 5 pohon, luar biasa kan!

Dengan membuat eco enzyme kita akan mendapatkan banyak manfaat antara lain:

- Save money : mengubah sampah rumah tangga menjadi multi purpose cleaner.
Cairan mengepel, pembersih kamar mandi, penyegar udara, bahkan bisa menghilangkan bau ompol!

- Mengurangi polusi terutama gas metana. Gas Ozone (O3) yg dihasilkan akan membantu mengurangi CO2 di udara.

- Bisa menjadi anti bacterial dan antiseptik dengan mencampurkan 1ml : 400ml air bersih.

Eco enzyme yg bening tanpa sisa  bisa digunakan utk pengganti detergen, mouthwash, dan cairan pencuci piring. Sedangkan bagian keruh yang terdapat ampas halus, jika didiamkan 2-3 minggu ampas halusnya akan turun bisa digunakan utk membersihkan lubang wc.

 - Eco enzyme dapat memurnikan air tanah lho! Gunakan perbandingan campuran 1:1000 eco enzyme dengan air untuk memurnikan air tanah.

Sulit nggak sih membuat eco-enzyme?

Saya sendiri saat ini sedang menanti panenan pertama yang insyaAllah akan bisa dipanen pada akhir bulan Juli nanti. 
Prosesnya cukup mudah dan bahannya pun tidak banyak. Mungkin hanya molases (gula tebu) saja yang sulit didapatkan di Batam ini. Sisanya hanya bermodalkan ember, air galon, kulit buah serta niat yang kuat dari dalam hati 🤣.

Trus gimana cara bikinnya?

Yuk ikuti langkah-langkah berikut:

Siapkan bahan-bahan yang dibutuhkan dan pahami aturan rasio. Untuk membuat eco enzyme terdapat aturan rasio bahan agar proses fermentasi dapat terjadi, yaitu 1bagian molases: 3 bagian sampah organik: 10 bagian air. 

Bahan yang dibutuhkan antara lain:

1. Ember (boleh baru atau bekas), saya menggunakan ember berkapasitas 5 L yang akan saya gunakan untuk membuat 3L eco enzyme.

2. Molases dari gula tebu, meskipun banyak sumber mengatakan bisa menggunakan gula apa saja, tetapi bahan terbaik untuk membuat eco enzyme adalah gula tebu, dan sebisa mungkin hindari penggunaan gula pasir. Untuk 3L eco enzyme yang akan saya buat maka memerlukan sebanyak 300 gr molases.

3. Sampah organik, akan lebih baik jika kulit buah meskipun tidak masalah menggunakan sayuran tetapi berakibat pada hasil eco enzyme yang berbau kurang sedap. Jika ingin harum, perbanyak kulit buah jeruk atau nanas, bisa juga ditambah daun pandan lho :D. Saya menggunakan 900gr kulit buah apa saja yang saya konsumsi dicampur sedikit kulit sayuran.

4. Air galon atau air tetesan AC. Hindari penggunaan air PDAM karena mengandung klorin.

5. Selanjutnya, larutkan molases dengan air, setelah tercampur masukkan sampah organik. Tutup rapat dan tuliskan tanggal pembuatan eco enzyme agar nanti tidak lupa ketika akan dipanen. Proses fermentasi memerlukan waktu kurang lebih 3 bulan. Setelah 3 bulan, eco enzyme siap dipanen dan dimanfaatkan.

Lalu berikut hal yang sering ditanyakan dalam proses pembuatan eco enzyme:

1. Apakah kuota sampah organik harus sudah sesuai kuota ketika kita mulai mencampurkan air dan molase? 
Tidak, memasukkan sampah organik bisa dicicil, proses fermentasi baru akan dimulai ketika perbandingan air, molases dan bahan organik terpenuhi.

2. Selama proses fermentasi, bagaimana jika ternyata larutan berbau busuk? Jangan khawatir, tambahkan molases sebanyak jumlah awal dan diamkan selama 1 bulan untuk menyelamatkannya.

3. Boleh nggak menggunakan bahan sayuran? Boleh, tetapi baunya kurang sedap, jika ingin mencampurkan sayur pastikan jumlahnya ridak lebih dari 20%.

Nah, mudah bukan? Yuk mulai mengolah sampah di rumah dengan menjadikannya eco enzyme. Minim modalnya, luar biasa manfaatny. Semoga bermanfaat :D





Jumat, 10 April 2020

Mini Project : Memanfaatkan Lahan di Rumah Untuk Berkebun

Mini project ini seperti tugas akhirnya orientasi kampung komunitas. Setelah sebelumnya ada parade ide dan diskusi di grup, akhirnya saya memilih berkebun di halaman depan rumah sebagai mini project saya.

Mungkin ini adalah salah satu berkah Work From Home (WFH) dalam masa pandemi Covid-19. Salah satu hal positif yang keluarga kami rasakan adalah adanya lebih banyak waktu di rumah, yang menimbulkan adanya upaya untuk menjadikannya lebih berfaedah. Pak suami yang sekian lama meninggalkan lahan depan rumah kembali tertarik untuk menggarapnya kembali. Jadilah, sebuah proyek keluarga ala-ala yang sudah dimulai beberapa hari yang lalu ini. Sebuah kebun sayur di halaman depan :D.


Kenapa kebun sayur? Bukan kebun bunga atau kebun buah atau kebun lain? 

Kebun sayur dipilih sebagai upaya memenuhi mencapai ketahanan pangan di masa karantina akibat adanya pandemi yang sedang terjadi. Tsahh..macam betul aja kan tagline nya. Yaa..intinya kami ingin hasilnya bisa dimanfaatkan nantinya, lagipula jenis sayuran waktu panennya relatif lebih cepat jika dibandingkan dengan buah.

Lalu apa saja yang kami persiapkan? Tidak banyak sih, hanya niat, semangat dan bibit bayam, sawi, kangkung, kacang panjang, dan terong. Bibit dibeli dari toko pertanian seharga 10 ribu rupiah setiap jenisnya, kecuali kacang panjang dan terong yang dikumpulkan dari sisa memasak. Ketua (dan) pelaksana diampu oleh pak suami, saya sebagai controller, dan Atha sebagai penyemangat..hahaha. 
Controller tugasnya ngapain mak? Yaa..ngontrol-ngontrol udah disiram apa belum, gitu lah. Oiya, saya juga sedang berupaya membuat kompos yang semoga nanti bisa dipanen dan dimanfaatkan untuk menambah nutrisi tanah :D.

Bertanam dan berkebun sebetulnya buka hal yang 'saya banget', karena tentu membutuhkan banyak energi untuk terjun ke lapangan. Tapi karena pak suami selalu bersemangat dalam hal bertanam tanam - apalagi setelah beliau tahu kalau belanja sayur tuh nggak murah, jadi saya juga ikut bersemangat! paling asyik kalau sudah melihat semaian mulai tumbuh, lalu tiba masa panen. Dulu kami pernah sampai bagi-bagi sawi dan cabe ke tetangga karena ngga habis hasil panennya dimakan sendiri. Sementara ini, selain bertanam sayur kami juga mencoba menanam beberapa rimpang seperti kunyit dan jahe. Serai, cabai dan daun jeruk sudah lebih dahulu tertanam rapi di depan agar nanti kalau perlu saat masak nggak kudu ngibrit ke pasar.  Oiya, sekilas info serai cukup mudah lho menumbuhkannya! Cukup ditanam aja batang serai yang dibeli dari pasar, selanjutnya serahkan pada keajaiban alam dan kuasa Tuhan :'D.

Nah, dalam satu minggu terakhir proses penanaman sudah berlangsung. Halaman rumput di depan disulap menjadi hamparan berlapis gundukan tanah hitam yang sudah tercangkul rapi. Pupuk kandang juga sudah dicampur, penyiraman rutin dilakukan setiap pagi dan sore hari.
Semoga dalam dua bulan ke depan hasilnya sudah mulai terlihat, tinggal PR nya adalah menjaga dari serangan tikus.

Semoga harapan kami untuk mulai bisa memenuhi kebutuhan pangan dari kebun sendiri bisa terwujud. Meskipun nggak bisa sepenuhnya (nggak bisa nanam padi di depan rumah ya soalnya kakau di Batam, haha) minimal ada jenis sayuran, bumbu dan rimpang yang kelak bisa dimanfaatkan. Ah rasanya nggak sabar untuk segera panen!




Minggu, 15 Maret 2020

Menjelajah Yogyakarta (2): Borobodur, Warisan Budaya yang Mendunia

Hari berganti, candi Borobudur adalah tujuan kami berikutnya. Ditemani seorang teman yang juga sebagai pemandu jalan, kami meluncur menuju Magelang. Jalanan cukup lengang di pagi hari. Mobil yang kami tumpangi meluncur di atas jalanan beraspal mulus, dengan sesekali naik turun ketika mendekati tujuan. Saya cukup bersemangat waktu itu, penasaran seperti apa 'wajah' Borobudur sekarang. Dulu waktu kecil saya sering ikut rombongan karya wisata sekolah tempat ibu mengajar ke Borobudur, tetapi tak ada satupun kesan mendalam yang saya ingat kecuali kenangan digendong oleh seorang kawan ibu saya karena terlalu lelah berjalan dalam keadaan mabuk perjalanan.

Candi Borobudur merupakan candi yang didirikan oleh dinasti Syailendra 800 tahun yang lalu. Borobudur memiliki koleksi relief terlengkat dan terbanyak di dunia dengan 2.672 panel relief yang menghiasi dinding-dindingnya. Stupa utamanya berada di tengah-tengah dengan dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca Buddha yang bersila. Konon menyentuh arca di dalam stupa dipercayai dapat mendatangkan rezeki. Belakangan saya ketahui aksi tersebut rupanya berbahaya untuk dilakukan karena dapat merusak candi.

Suasana masih sepi ketika kami sampai ke Borobudur. Setelah mengantri tiket kami mendapatkan selembar kain batik berwarna biru untuk dikenakan untuk menghormati candi. Kawasan wisatanya bersih dan teratur, dengan sign system berbahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Mungkin karena pengunjungnya selain wisatawan lokal juga banyak wisatawan mancanegara sehingga dibuat sedemikian rupa.

Selain candi Borobudur yang sudah mendunia itu, terdapat pula museum yang bisa dikunjungi. Di museum tersebut kita dapat mengetahui informasi terkait sejarah pembangunan dan pemugaran candi Borobudur. Kami tidak menghabiskan waktu lama di museum dan langsung menuju candi untuk naik hingga ke puncak. Matahari mulai merangkak naik mengiringi langkah kaki meniti anak tangga yang terbentang. Sesekali kami berhenti untuk menarik napas, berfoto dan mengamati relief candi yang bersambungan membentuk rangkaian peristiwa. Saya berdecak kagum dengan detail dan susunan bebatuan yang bisa berbentuk sedemikian rupa. Dari puncak teratas candi bentang alam Magelang yang masih asri memanjakan mata, membuat betah berlama-lama kalau saja matahari tidak bersinar terik.

Setelah turun dari candi, kami beristirahat sejenak lalu beranjak mencari jalur keluar. Rupanya jalur keluar lokasi candi diarahkan untuk melewati area pasar yang menjual berbagai macam souvenir. Di sepanjang jalur keluar pedagang berjajar rapi berdempetan dengan berbagai macam jenis oleh-oleh khas dari kaos hingga berbagai macam pajangan. Dulu, ibu saya sering membeli guci tanah liat, salak pondoh, hingga cobek batu di Borobudur. Saya pun menyempatkan diri untuk membeli kaos sebagai oleh-oleh. 

Hampir tengah hari kami meninggalkan Borobudur. Semakin siang pelataran parkir dipadati oleh bus-bus pariwisata dari berbagai kota. Akhirnya kami kembali menyusuri kelok jalanan Magelang meninggalkan Borobudur yang berdiri megah di tengah riuh rendah pengunjung.