Senin, 27 April 2020

Eco Enzyme, Salah Satu Solusi Sampah Rumah Tangga

Sudah pernah dengar tentang eco enzyme? Atau jangan-jangan sudah membuat dan menggunakannya? Cairan dengan segudang manfaat ini belakangan mulai banyak disebut, bahkan di klaim bisa digunakan untuk membunuh virus covid -19. Lalu apa sih eco enzyme itu sebenarnya? Yuk simak sedikit cerita perkenalan saya dengan cairan ajaib ini!

Pertama kali mendengar istilah eco enzyme adalah dari seorang teman yang kebetulan senang bertanam. Konon, tanamannya subur-subur berkat disiram air campuran eco-enzyme. Saya yang waktu itu sama sekali belum tertarik hanya mendengarkan sepintas lalu. Sampai akhirnya nyemplung ke rumbel Green, yang sepertinya semua anggota rumbelnya ngefans sama khasiat eco enzyme. Jadilah mulai penasaran, dan akhirnya memutuskan ikut workshopnya yang kebetulan berlokasi di dekat rumah. 

Workshop dibuka dengan pemaparan singkat mengenai sampah rumah tangga oleh mbak Erli Oktania, seorang praktisi zero waste yang sudah sekitar dua tahun membuat dan menggunakan eco-enzyme. Beliau memaparkan bahwa sampah rumah tangga kita yang berakhir di TPA, jika bereaksi dapat menghasilkan gas metana yang 21 kali lebih berbahaya dibanding dengan CO2 yang jika terbakar akan sangat sulit untuk dipadamkan. Jadi alangkah lebih bijak jika sampah terlebih dahulu diolah oleh masing-masing rumah. 
Mengolah sampah di rumah? Gimana caranya? Eco enzyme bisa menjadi salah satu jawabannya.

Lalu..apa sih eco enzyme itu sebenarnya?

Eco enzyme adalah larutan zat organik kompleks yang dihasilkan dari proses fermentasi gula coklat dan air. Fermentasi memerlukan bakteri sebagai katalisator dan gula sebagai makanannya. Sekitar 30 tahun lalu eco enzyme ditemukan oleh seorang pendiri komunitas agriculture di Thailand. Awalnya eco enzyme hanya digunakan di bidang peternakan dan pertanian. Namun, saat ini manfaatnya semakin meluas bahkan dapat digunakan sebagai anti bakteri.

Kenapa sih harus repot-repot membuat eco enzyme? Emang penting banget ya?

Jawabannyaaa...menurut saya penting! Untuk saat ini eco enzyme merupakan cara tercepat dan teroptimal untuk mengolah sampah rumah tangga.

Selain itu, Asam asetat yg dihasilkan dlm proses fermentasi eco enzyme memecah karbohidrat (pati), protein dan lemak shg menghasilkan O3 (ozone). Dari satu ember cat 25 kg setelah panen eco enzyme hasilnya setara dg 5 pohon, luar biasa kan!

Dengan membuat eco enzyme kita akan mendapatkan banyak manfaat antara lain:

- Save money : mengubah sampah rumah tangga menjadi multi purpose cleaner.
Cairan mengepel, pembersih kamar mandi, penyegar udara, bahkan bisa menghilangkan bau ompol!

- Mengurangi polusi terutama gas metana. Gas Ozone (O3) yg dihasilkan akan membantu mengurangi CO2 di udara.

- Bisa menjadi anti bacterial dan antiseptik dengan mencampurkan 1ml : 400ml air bersih.

Eco enzyme yg bening tanpa sisa  bisa digunakan utk pengganti detergen, mouthwash, dan cairan pencuci piring. Sedangkan bagian keruh yang terdapat ampas halus, jika didiamkan 2-3 minggu ampas halusnya akan turun bisa digunakan utk membersihkan lubang wc.

 - Eco enzyme dapat memurnikan air tanah lho! Gunakan perbandingan campuran 1:1000 eco enzyme dengan air untuk memurnikan air tanah.

Sulit nggak sih membuat eco-enzyme?

Saya sendiri saat ini sedang menanti panenan pertama yang insyaAllah akan bisa dipanen pada akhir bulan Juli nanti. 
Prosesnya cukup mudah dan bahannya pun tidak banyak. Mungkin hanya molases (gula tebu) saja yang sulit didapatkan di Batam ini. Sisanya hanya bermodalkan ember, air galon, kulit buah serta niat yang kuat dari dalam hati 🤣.

Trus gimana cara bikinnya?

Yuk ikuti langkah-langkah berikut:

Siapkan bahan-bahan yang dibutuhkan dan pahami aturan rasio. Untuk membuat eco enzyme terdapat aturan rasio bahan agar proses fermentasi dapat terjadi, yaitu 1bagian molases: 3 bagian sampah organik: 10 bagian air. 

Bahan yang dibutuhkan antara lain:

1. Ember (boleh baru atau bekas), saya menggunakan ember berkapasitas 5 L yang akan saya gunakan untuk membuat 3L eco enzyme.

2. Molases dari gula tebu, meskipun banyak sumber mengatakan bisa menggunakan gula apa saja, tetapi bahan terbaik untuk membuat eco enzyme adalah gula tebu, dan sebisa mungkin hindari penggunaan gula pasir. Untuk 3L eco enzyme yang akan saya buat maka memerlukan sebanyak 300 gr molases.

3. Sampah organik, akan lebih baik jika kulit buah meskipun tidak masalah menggunakan sayuran tetapi berakibat pada hasil eco enzyme yang berbau kurang sedap. Jika ingin harum, perbanyak kulit buah jeruk atau nanas, bisa juga ditambah daun pandan lho :D. Saya menggunakan 900gr kulit buah apa saja yang saya konsumsi dicampur sedikit kulit sayuran.

4. Air galon atau air tetesan AC. Hindari penggunaan air PDAM karena mengandung klorin.

5. Selanjutnya, larutkan molases dengan air, setelah tercampur masukkan sampah organik. Tutup rapat dan tuliskan tanggal pembuatan eco enzyme agar nanti tidak lupa ketika akan dipanen. Proses fermentasi memerlukan waktu kurang lebih 3 bulan. Setelah 3 bulan, eco enzyme siap dipanen dan dimanfaatkan.

Lalu berikut hal yang sering ditanyakan dalam proses pembuatan eco enzyme:

1. Apakah kuota sampah organik harus sudah sesuai kuota ketika kita mulai mencampurkan air dan molase? 
Tidak, memasukkan sampah organik bisa dicicil, proses fermentasi baru akan dimulai ketika perbandingan air, molases dan bahan organik terpenuhi.

2. Selama proses fermentasi, bagaimana jika ternyata larutan berbau busuk? Jangan khawatir, tambahkan molases sebanyak jumlah awal dan diamkan selama 1 bulan untuk menyelamatkannya.

3. Boleh nggak menggunakan bahan sayuran? Boleh, tetapi baunya kurang sedap, jika ingin mencampurkan sayur pastikan jumlahnya ridak lebih dari 20%.

Nah, mudah bukan? Yuk mulai mengolah sampah di rumah dengan menjadikannya eco enzyme. Minim modalnya, luar biasa manfaatny. Semoga bermanfaat :D





Jumat, 10 April 2020

Mini Project : Memanfaatkan Lahan di Rumah Untuk Berkebun

Mini project ini seperti tugas akhirnya orientasi kampung komunitas. Setelah sebelumnya ada parade ide dan diskusi di grup, akhirnya saya memilih berkebun di halaman depan rumah sebagai mini project saya.

Mungkin ini adalah salah satu berkah Work From Home (WFH) dalam masa pandemi Covid-19. Salah satu hal positif yang keluarga kami rasakan adalah adanya lebih banyak waktu di rumah, yang menimbulkan adanya upaya untuk menjadikannya lebih berfaedah. Pak suami yang sekian lama meninggalkan lahan depan rumah kembali tertarik untuk menggarapnya kembali. Jadilah, sebuah proyek keluarga ala-ala yang sudah dimulai beberapa hari yang lalu ini. Sebuah kebun sayur di halaman depan :D.


Kenapa kebun sayur? Bukan kebun bunga atau kebun buah atau kebun lain? 

Kebun sayur dipilih sebagai upaya memenuhi mencapai ketahanan pangan di masa karantina akibat adanya pandemi yang sedang terjadi. Tsahh..macam betul aja kan tagline nya. Yaa..intinya kami ingin hasilnya bisa dimanfaatkan nantinya, lagipula jenis sayuran waktu panennya relatif lebih cepat jika dibandingkan dengan buah.

Lalu apa saja yang kami persiapkan? Tidak banyak sih, hanya niat, semangat dan bibit bayam, sawi, kangkung, kacang panjang, dan terong. Bibit dibeli dari toko pertanian seharga 10 ribu rupiah setiap jenisnya, kecuali kacang panjang dan terong yang dikumpulkan dari sisa memasak. Ketua (dan) pelaksana diampu oleh pak suami, saya sebagai controller, dan Atha sebagai penyemangat..hahaha. 
Controller tugasnya ngapain mak? Yaa..ngontrol-ngontrol udah disiram apa belum, gitu lah. Oiya, saya juga sedang berupaya membuat kompos yang semoga nanti bisa dipanen dan dimanfaatkan untuk menambah nutrisi tanah :D.

Bertanam dan berkebun sebetulnya buka hal yang 'saya banget', karena tentu membutuhkan banyak energi untuk terjun ke lapangan. Tapi karena pak suami selalu bersemangat dalam hal bertanam tanam - apalagi setelah beliau tahu kalau belanja sayur tuh nggak murah, jadi saya juga ikut bersemangat! paling asyik kalau sudah melihat semaian mulai tumbuh, lalu tiba masa panen. Dulu kami pernah sampai bagi-bagi sawi dan cabe ke tetangga karena ngga habis hasil panennya dimakan sendiri. Sementara ini, selain bertanam sayur kami juga mencoba menanam beberapa rimpang seperti kunyit dan jahe. Serai, cabai dan daun jeruk sudah lebih dahulu tertanam rapi di depan agar nanti kalau perlu saat masak nggak kudu ngibrit ke pasar.  Oiya, sekilas info serai cukup mudah lho menumbuhkannya! Cukup ditanam aja batang serai yang dibeli dari pasar, selanjutnya serahkan pada keajaiban alam dan kuasa Tuhan :'D.

Nah, dalam satu minggu terakhir proses penanaman sudah berlangsung. Halaman rumput di depan disulap menjadi hamparan berlapis gundukan tanah hitam yang sudah tercangkul rapi. Pupuk kandang juga sudah dicampur, penyiraman rutin dilakukan setiap pagi dan sore hari.
Semoga dalam dua bulan ke depan hasilnya sudah mulai terlihat, tinggal PR nya adalah menjaga dari serangan tikus.

Semoga harapan kami untuk mulai bisa memenuhi kebutuhan pangan dari kebun sendiri bisa terwujud. Meskipun nggak bisa sepenuhnya (nggak bisa nanam padi di depan rumah ya soalnya kakau di Batam, haha) minimal ada jenis sayuran, bumbu dan rimpang yang kelak bisa dimanfaatkan. Ah rasanya nggak sabar untuk segera panen!




Minggu, 15 Maret 2020

Menjelajah Yogyakarta (2): Borobodur, Warisan Budaya yang Mendunia

Hari berganti, candi Borobudur adalah tujuan kami berikutnya. Ditemani seorang teman yang juga sebagai pemandu jalan, kami meluncur menuju Magelang. Jalanan cukup lengang di pagi hari. Mobil yang kami tumpangi meluncur di atas jalanan beraspal mulus, dengan sesekali naik turun ketika mendekati tujuan. Saya cukup bersemangat waktu itu, penasaran seperti apa 'wajah' Borobudur sekarang. Dulu waktu kecil saya sering ikut rombongan karya wisata sekolah tempat ibu mengajar ke Borobudur, tetapi tak ada satupun kesan mendalam yang saya ingat kecuali kenangan digendong oleh seorang kawan ibu saya karena terlalu lelah berjalan dalam keadaan mabuk perjalanan.

Candi Borobudur merupakan candi yang didirikan oleh dinasti Syailendra 800 tahun yang lalu. Borobudur memiliki koleksi relief terlengkat dan terbanyak di dunia dengan 2.672 panel relief yang menghiasi dinding-dindingnya. Stupa utamanya berada di tengah-tengah dengan dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca Buddha yang bersila. Konon menyentuh arca di dalam stupa dipercayai dapat mendatangkan rezeki. Belakangan saya ketahui aksi tersebut rupanya berbahaya untuk dilakukan karena dapat merusak candi.

Suasana masih sepi ketika kami sampai ke Borobudur. Setelah mengantri tiket kami mendapatkan selembar kain batik berwarna biru untuk dikenakan untuk menghormati candi. Kawasan wisatanya bersih dan teratur, dengan sign system berbahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Mungkin karena pengunjungnya selain wisatawan lokal juga banyak wisatawan mancanegara sehingga dibuat sedemikian rupa.

Selain candi Borobudur yang sudah mendunia itu, terdapat pula museum yang bisa dikunjungi. Di museum tersebut kita dapat mengetahui informasi terkait sejarah pembangunan dan pemugaran candi Borobudur. Kami tidak menghabiskan waktu lama di museum dan langsung menuju candi untuk naik hingga ke puncak. Matahari mulai merangkak naik mengiringi langkah kaki meniti anak tangga yang terbentang. Sesekali kami berhenti untuk menarik napas, berfoto dan mengamati relief candi yang bersambungan membentuk rangkaian peristiwa. Saya berdecak kagum dengan detail dan susunan bebatuan yang bisa berbentuk sedemikian rupa. Dari puncak teratas candi bentang alam Magelang yang masih asri memanjakan mata, membuat betah berlama-lama kalau saja matahari tidak bersinar terik.

Setelah turun dari candi, kami beristirahat sejenak lalu beranjak mencari jalur keluar. Rupanya jalur keluar lokasi candi diarahkan untuk melewati area pasar yang menjual berbagai macam souvenir. Di sepanjang jalur keluar pedagang berjajar rapi berdempetan dengan berbagai macam jenis oleh-oleh khas dari kaos hingga berbagai macam pajangan. Dulu, ibu saya sering membeli guci tanah liat, salak pondoh, hingga cobek batu di Borobudur. Saya pun menyempatkan diri untuk membeli kaos sebagai oleh-oleh. 

Hampir tengah hari kami meninggalkan Borobudur. Semakin siang pelataran parkir dipadati oleh bus-bus pariwisata dari berbagai kota. Akhirnya kami kembali menyusuri kelok jalanan Magelang meninggalkan Borobudur yang berdiri megah di tengah riuh rendah pengunjung.

Selasa, 03 Maret 2020

Menjelajah Yogyakarta: Wisata Jalanan hingga Warisan Budaya Dunia


Tulisan ini saya temukan di draft, ditulis sekitar akhir tahun 2014. Akan ada beberapa tulisan lama ataupun tulisan pelengkap yang akan saya post karena ternyata ada beberapa tulisan yang belum selesai. Rasanya mungkin seperti akan menjelajah lorong waktu, kembali pada cerita-cerita masa lalu.

Untuk kedua sahabat perjalanan yang selalu asik untuk diajak jalan.

Jadi ceritanya kami bertiga (saya, Niken, Imon) sedang senang-senangnya menyetir. Saya pribadi bahkan rela menjadi sopir ke mana-mana bahkan hanya sekedar mengeluarkan atau memasukkan mobil bapak.  Sejak awal tahun saya memang kembali mencoba lebih intens berada di balik kemudi. Setelah lama sekali tidak mengemudi, satu dua kali tentu saja masih belum lancar. Tapi alhamdulillah, setelah beberapa bulan akhirnya sudah diizinkan mengemudi, bahkan minggu lalu hingga ke Yogyakarta.

Perjalanan Yogyakarta ini sebenarnya cukup melenceng dari rencana. Awalnya kami bertiga ingin melihat pertunjukan sendratari Ramayana yang digelar di kawasan wisata Candi Prambanan. Karena jadwal pementasannya malam hari, akhirnya kami memutuskan perjalanan menginap. Pikir kami toh perjalanan jauh, tidak mungkin juga tengah malam kami akan pulang ke Madiun.

Akhirnya setelah mengalami perdebatan tanggal yang alot akhirnya kami sepakat memilih sebuah tanggal. Yang ternyata pada tanggal tersebut kami kehabisan tiket sendratari, juga penginapan yang sama sekali tidak bisa dipesan. Rupanya waktu itu bertepatan dengan minggu pertama liburan sekolah, dan tentu saja kami sama sekali tidak concern akan hal itu.

Tapi rencana harus tetap berjalan. Kami berangkat juga ke Yogyakarta pagi-pagi sekali dari Madiun. Alhamdulillah tidak ada hambatan berarti di perjalanan. Hanya saja jalanan memang agak ramai, sehingga waktu tempuh menjadi lebih panjang. Kami tiba di Yogyakarta hampir pukul 12 siang. Untung saja kami juga segera menemukan penginapan. 

Perjalanan dilanjutkan ke Tamansari. Kolam pemandian ini konon dulu digunakan oleh para gadis-gadis yang disukai oleh Raja. Di salah satu sisi kolam terdapat sebuah bangunan menyerupai menara intai yang tidak terlalu tinggi. Dari situlah nantinya Sang Raja menunjuk targetnya.

Tamansari dikelilingi oleh perumahan padat penduduk. Entah bagaimana dulu ceritanya tapi perumahan ini seperti berada di dalam area Tamansari. Ketika berkeliling kita serasa berjalan-jalan di depan pelataran rumah penduduk. Memanfaatkan posisi tersebut, banyak juga warga yang menjual pernak-pernik dari kerajinan, kain batik hingga lukisan di beranda rumahnya. 

Agak jauh di sisi yang lain, ada sebuah jalur seperti lorong yang menghubungkan Tamansari dengan sisa reruntuhan bangunan yang tampak seperti benteng. Sayang sekali, saya lupa mencatat namanya. Reruntuhan ini selain ramai oleh pengunjung, juga ramai dengan anak-anak dari lingkungan sekitar yang bermain bola. 

Perjalanan kami menjelajahi Tamansari terhenti karena hari yang semakin sore. Kami melanjutkan perjalanan untuk mengisi perut dan menuju ke tujuan selanjutnya: Malioboro!

***
Malioboro di musim liburan memang tidak pernah sepi pengunjung. Disisi kanan dan kiri jalan, pejalan kaki menyemut menikmati malam dengan berbelanja atau sekedar melihat-lihat. Kami bertiga menyusuri jalanan untuk sekedar mencari wedang ronde. Di depan pasar Beringharjo kami menemukan gerobak ronde yang tidak terlalu ramai. Segera kami memesan, dan menikmati semangkok wedang ronde sembari menatapi jalanan malioboro yang ramai bukan main. Setelah tandas, kami menyempatkan diri menikmati festival tarian di taman benteng Vredeburg. Belum sampai tuntas, mata saya sudah berat minta diistirahatkan. Apalagi saya mendapat jatah menyetir malam itu, jadilah sebelum semakin ngantuk akhirnya kami memutuskan kembali ke penginapan.
(Bersambung)