Sabtu, 14 Maret 2015

Cantik!


Akibat ngoprek blog mbak Leija dan menemukan ini,saya jadi kepingin nulis, hehehe. Jangan serius-serius ya bacanya, hahaha

Bicara tentang make up, saya ini apalah, nggak mudheng sama sekali. Padahal seharusnya kaum hawa identik dan gandrung ya dengan 'senjata' yang satu ini, tapi saya..emm..sebenarnya suka juga, tapi biasa aja, haha. Dibandingkan dengan teman-teman saya yang sudah biasa ber make-up dalam keseharian, saya tipe orang yang cenderung 'polos'. Cukup dengan pelembab, macam krim siang gitu lah..bedak tipis puk-puk dan lip gloss saya sih sudah pede saja ke mana-mana. Ibu saya bahkan sering komentar: "Kamu nggak bedakan ya?" saking nggak niatnya nempelin bedak ke muka.

Beneran nggak pernah make up-an? Eyeliner dan eyebrow? hmm..kadang pakai sih di acara tertentu, tapi beresinnya itu alamaaak..malesi. Makin cantik sih, (pede banget) tapi nggak tahan repot bersihinnya. Lipstick? pakai yang warna bibir jadi nggak kelihatan, haha..nggak guna tapi ya sudahlah. Saya punya lho lipstick warna pink gitu, dulu beli karena pengen aja beli. Hasilnya, nganggur sampai sekarang. Abis, saya selalu merasa aneh dan nggak saya banget pakai lipstick pink, nggak cuma pink sih sebenarnya..semua lipstick. Kaya nggak saya banget gitu.

Dari dulu memang citra saya (citraa..body lotion kali) mbak-mbak tomboy, slebor, dan natural (suka ke laut, ke gunung, yang nature nature gitu ;p).  Yang mainnya kebanyakan sama cowok-cowok, low maintenance, yang setiap saya dandan pasti menjadi buah bibir, haha. Jadi kesannya anti make-up, padahal enggak lho! seslebor-slebornya wanita, tidak ada yang bisa lepas sama sekali tanpa make up, ya kecuali karena alasan kesehatan seperti tulisan pada link yang saya tulis di atas. Suka kok dandan, tapi ya dandan ala saya. Kalau kalian berharap (ditujukan untuk teman-teman sepermainan saya yang kadang guyon:" Mbok ya kamu ini dandan biar cantik") saya pas hangout dengan kalian full make up, sepertinya akan sulit terpenuhi. Karena saya sangat tahu dengan pasti, kalian juga tahu saya dengan pasti, aslinya saya bagaimana. Percuma kan dandan pas bareng kalian, buang-buang stock, bedak mahal heyy, hahaha!

Untunglah dan untungnya, teman-teman saya ini demokratis sekali. Mau saya pas pakai kaos belel jaketan dan bergo-an pas jalan bareng juga nggak masalah. Sebenernya pernah sih berusaha sedikit niat dandan apa gitu pas jadwal main bareng mereka, tapi ujung-ujungnya: hapusin make up, ganti baju sama kaos. Enakan gitu sih, daripada diledekin kaya lenong ntar, hahaha. Lagipula, saya yakin mereka nggak akan ninggalin saya atau pura-pura nggak kenal saya pas di mall gara-gara muka saya 'polos' (nggak tahu ya kalau dalam hati sebenarnya mereka nggak pengen mengakui saya sebagai teman, ahh, nggak mungkin!)

Balik lagi, apa sih definisi cantik? dan perlu nggak sih make up?
Cantik menurut saya (yang sudah terkontaminasi kata orang), atau dirubah saya merasa cantik ketika..
1. Ketika nggak ada jerawat merah merona di pipi kanan, kiri, kening atau dagu. Untungnya saya nggak terlalu berjerawat, jadi setiap hari merasa cantik, haha.
2. Ketika pakai baju baru! hahaha, meski cuma tigapuluh rebu harganya, udah pede banget merasa paling cantik sedunia. Boros dong!beli baju terus? baru bukan berarti baru beli banget, saya sering excited sendiri ketika memakai baju dengan mix and match baru. Dalam hati selalu bilang: "huahhhh..ternyata bisa juga ini di mix sama ini!", lalu girang, dan dipakai terus-terusan.
3. Ketika sedang bahagia. Otomatis banyak senyum, dan ketika saya senyum dengan ikhlas saya merasa cantik banget. Kenapa saya tuliskan senyum ikhlas? karena kadang saya juga memiliki dan melakukan senyum bisnis. Apa itu senyum bisnis? senyum bisnis adalah senyum sekedarnya, formalitas dan tanpa hati. Jadi yang seperti itu bukannya membuat merasa cantik tapi merasa eneg.
4. Ketika selesai pakai masker dan sticker komedo. Rasanya menyenangkan, dan orang senang pasti senyum, dan senyum pasti bikin cantik!

Itu aja sih sepertinya,momen-momen dimana saya merasa cantik. Dikit ya? lack of confident banget? hahaha. Enggak kok! itu nggak dikit, momen-momen itu datang silih berganti, lagipula kalau untuk bersama-teman-teman saya saja saya tidak perlu merasa cantik. Since they're my comfort zone, otomatis saya jadi bahagia, dan jadi cantik kan? *maksa,  jadi saya nggak pernah pusing mikirin semua variabel untuk jadi cantik.

Udah ah, cukup curcol tentang make up dan cantik. Perlu digaris bawahi bahwa saya bukan orang yang anti make-up atau nggak mementingkan cantik. Nanti saya didemo karena pakai produk kecantikan padahal sok anti dandan. Make up, bedak, pembersih muka, sunscreen atau apapun itu sejatinya tetap kita perlukan. Tapi karena semua amalan dikembalikan pada niatnya, mari kita sama-sama ingat mengingatkan untuk kembali pada niatan yang benar. Bukan untuk tabarruj, menarik perhatian khalayak, tapi untuk menghargai diri kita sendiri. Menghargai kecantikan yang ditakdirkan oleh Tuhan kepada kita. Menjaga agar tetap sehat terawat kan nggak ada salahnya, jaga makanan, rajin membersihkan dari kotoran, toh kebersihan juga sebagian dari iman. Jadi cantik bagi saya adalah bagian dari menyayangi diri sendiri, dan menjaga pemberian Allah, hehe. Gimana? pingin cantik juga nggak? *langsung pengen  maskeran.

Selasa, 24 Februari 2015

Curhat Anak Petani

foto: http://kabupatenmadiun.blogspot.com/

Harga beras naik sekitar 30%, mari nanti kita lihat apakah harga gabah juga naik. Disitu para petani menggantungkan nasib. Menanti  penuh harap tiga bulan dari menyebar benih hingga menunggu bulirnya menguning.

Saya tumbuh dan besar sebagai cucu seorang petani, anak petani, hidup di lingkungan petani. Setiap pagi, membuka pintu depan rumah akan langsung terlihat hamparan hijau sejauh mata memandang. Juga ketika membuka pintu belakang, masih disambut hijau batang-batang padi yang tegak tapi merunduk. Ini rumah apa gubuk pak tani kok ditengah sawah? hehe, begitulah nyatanya.

Tiga kali dalam satu tahun, bapak ibu saya dipusingkan oleh masa tanam-semprot pupuk-menyiangi rumput-hingga panen. Mahalnya air yang amu tidak mau harus dibayar per jam untuk mengairi selama beberapa minggu sekali. Padahal rumah saya termasuk daerah yang cukup bagus air tanahnya, yang masih bisa mengalir deras meskipun disedot oleh beberapa mesin diesel sekaligus. Bagaimana yang didaerah sulit air? bisa tanam-panen tiga kali dalam satu tahun?

Tidak sampai di situ. Sekarang ini, mencari orang untuk mengerjakan sawah susah-susah gampang kata orang-orang. Ketika musim tanam, tenaga untuk menanam padi -tandur, istilahnya, sangat sulit dicari. Yang biasa tandur pasti kelarisan, akhirnya ya terpaksa impor tenaga dari daerah lain. Menggarap sawah memang tidak lagi hits bahkan di desa sekalipun. Kotor, berjibaku dengan lumpur, nggak keren, nggak intelek. Sadis? lha memang tampilan dan kenyataannya seperti itu. Yang intelek kebanyakan pindah ke kota, caru duit gede alasannya. Lah, nyari yang segede apa? yang paling lebar ya yang lima puluh ribuan itu to?

Tidak ingin menyalahkan pihak manapun. Memang mungkin belum saatnya saja petani berjaya. Pertanian beken disebut dan dimanfaatkan. Meskipun katanya Indonesia negara agraris tapi sepertinya percepatan, perkembangan di bidang pertanian belum terlihat secara nyata. Setahu saya, petani masih harus berjuang sendiri, ada sih KUD Tani yang saya belum tahu benar kalau yang petani kecil seperti bapak saya mendapat manfaat apa. Da perasaan mah, air, pupuk, upah tenaga juga dibayar sendiri. Kadang bapak saya juga 'nyemplung' sendiri, secara bapak saya ini memang dasarnya hobi nyawah. 

Ah kapan ya, pertanian mendapatkan giliran seperti sektor perikanan sekarang. Bu Semmenteri mulai bergerak mengamankan aset perairan. Ramai disebut di media, langkahnya tepat, menguntungkan para nelayan. Bagaimana Pak Menteri? kapan para petani ini mendapat giliran? Kenaikan harga beras yang sepagi tadi ramai dibahas di televisi apakah akan diikuti kenaikan harga gabah? Memang, petani bisa hidup dengan 'cukup'. Kalau kata bulik saya,"Lha memang adanya itu, ya dicukup-cukupkan", meskipun beliau juga sempat curhat betapa pusingnya memutar uang untuk bisa tetap tanam di musim berikutnya. 

Saya nulis begini memangnya mau apa sih? hmmm..curhat saja kali ya. Belum bisa mencari apalagi memberikan solusi. Tapi sepertinya kalau para lulusan institut pertanian itu diberi kesempatan untuk mengeksplorasi lahan dengan ilmunya hasilnya akan lebih baik? iya nggak sih? berapa banyak yang benar-benar berkiprah secara nyata untuk mengolah lahan pertanian? kalau takut kotor ya bagaimanalah caranya biar nggak kotor-kotor banget. Selain panca usaha tani, ada lagi kah terobosan yang bisa diaplikasikan?

Dan, saya tidak bisa menjawabnya sendiri.

*jangan serius-serius bacanya, saya nulisnya biasa aja sih :D

Selasa, 27 Januari 2015

Gunung dan Laut, Lagi!

Saya berjalan lambat-lambat di belakang Imon dan Ocha. Jojo masih berjalan pelan meniti turunan di belakang. Sembari menahan agar tidak terpeleset saya melangkah tertahan, melempar pandangan sekali lagi ke sisi jurang menganga. Warna hangus dan lumut di sepanjang jalan menjadi teman saya menyepi di tempat yang jauh dari sepi.

Akhir Minggu lalu, saya randomly terjebak dalam sebuah perjalanan mendadak ke Banyuwangi: Ijen dan Red Island. Berangkat dengan persiapan seadanya, tanpa itinerary dan budget plan yang jelas, Sabtu sore Saya bersama Imon dan Jojo turun tergesa di Setasiun Sepanjang. Langit sudah berubah pekat ketika kami tiba. Benar saja, hujan segera datang tak lama kemudian.

Perjalanan panjang kami tempuh menuju Banyuwangi. Kawah Ijen menjadi tujuan pertama malam ini. Sekitar pukul 02.00 WIB kami sampai di lokasi. Para om-om segera menyiapkan peralatan dan perbekalan, ohya, perkenalkan teman seperjalanan saya kali ini: Imon, Jojo, Ocha, Sarip, Zainul, Lingga, dan Rosip. Lima diantaranya baru saja saya temui sore itu. Perjalanan panjang kali ini dihabiskan dengan segerombolan om-om ajaib yang ternyata sama serunya dengan anggota kelas bunga, setipe dan sama nggak jelas nya dengan mereka! haha!

Perjalanan menuju puncak ijen ternyata lumayan juga. Saya yang memang sejak awal tidak menyiapkan sandal gunung harus ekstra hati-hati menahan keseimbangan agar tidak terpeleset. Untung saja malam itu cerah. Meskipun dengan terengah-engah dan berkali-kali hampir menyerah karena medan yang semakin sulit akhirnya kami berhasil sampai kawah pada pukul 04.00 WIB. 

Kami memandang blue fire dari kejauhan, sejujurnya saya tidak menemukan yang istimewa dari blue fire ini. Padahal saya sudah berkacamata, tapi masih terlihat blur dan ..entahlah, tidak semenarik ceritanya saja. Tapi ketika pagi tiba, seketika kami disuguhi pemandangan yang luar biasa! Subhanallah, kawah besar berwarna hijau diselimuti asap kuning belerang, dengan bayang-bayang siluet bukit di permukannya membuat saya menganga. Allah memang tidak pernah gagal dalam menjadikan kata indah dan luar biasa untuk saling menerangkan satu sama lain. 

Saya dan Imon memilih lebih dahulu untuk meninggalkan para om-om untuk melanjutkan perjalanan menuju kawah yang memang masih harus turun ke bawah lagi. Kami berdua kembali menyusuri jalanan yang tadinya gelap tetapi kini menyuguhkan pemandangan yang luar biasa indah. Di sepanjang jalur pendakian, rupanya lereng yang ditumbuhi lumut membujur panjang, berdampingan dengan jurang landai berpasir. Sedari tadi banyak para pengangkut belerang berlalu lalang sembari memikul dua buah keranjang penuh-penuh, bersimbah keringat, menantang bahaya mendaki dan menuruni jalanan sempit dan curam. Saya terpekur sesaat, sembari bertanya kepada Imon,

"Kenapa di tahun 2015 masih saja ada orang-orang dengan kondisi seperti itu ya Mon?"

"Terkadang mereka bukannya tidak memiliki pilihan, tapi mungkin karena hanya itulah pilihan terbaik yang mereka miliki,"

Obrolan siang tadi di kereta tentang kondisi sosial masyarakat di Indonesia bersama Jojo memang masih melekat di kepala saya. Tentang kesenjangan, tentang prinsip hidup dan pendangan terhadap materi dan ilmu. Bagaimana di zaman sekarang uang memiliki kendali penuh terhadap banyak hal, banyak orang. Bahkan di tempat seperti ini, yang jauh dari hiruk pikuk kota besar. Uang masih saja memaksa manusia melakukan apapun, bahkan menantang bahaya. 

Perjalanan menuruni Ijen memang tidak seberat ketika mendaki. Beberapa saya hampir terpeleset krikil dan pasir, untung saja tidak sampai terjatuh. Hampir tiba di ujung rute saya sesaat melamun, sembari memandang kedua punggung teman saya yang perlahan menjauh. Sudah satu tahun sejak terakhir kami berperjalanan bersama. Suatu saat nanti, tidak akan lagi semudah ini pergi begitu saja dengan ransel lalu mengarungi jalanan yang asing. 

Tapi bukankah memang perubahan adalah sebuah keniscayaan? kita tidak bisa menghindari perubahan, tapi bisa berkompromi dengannya bukan? 

Turun ke bawah dengan sedikit perasaan sendu. Ah, tapi rasa kantuk yang lebih dahsyat memaksa mood saya turun. Setelah beberapa kali berfoto saya bergegas menggelar ponco dan terlelap (sesaat) diantara obrolan Jojo, Ocha dan Imon. Ah sudahlah, saya tidak bisa lebih lama lagi menahan kedua mata untuk tidak tertutup.
***

Rupanya rasa kantuk yang mendera begitu mudah terkalahkan oleh lapar. Sambil memicingkan sebelah mata, saya mendapati Jojo mengelap lensa kamera, Imon dan Ocha juga sedang ngobrol ringan. Imon menawarkan sisa kue bekal kemarin siang melihat saya mencari-cari makanan. Maklum, semua sudah hapal kalau saya bisa 'rewel' banget kalau mulai lapar, haha. Disumpal sepotong brownies dan cemilan akhirnya saya bergabung bersama om-om yang mulai terbangun dan bersiap melanjutkan perjalanan. Red Island, kami datang!

Perjalanan menuju Red Island kami tempuh dengan susah payah. Lagi, ide perjalanan dari gunung ke laut dengan mengandalkan GPS memang tidak bisa diandalkan, haha! Kami berkali-kali bertanya dan mendapati rute dengan jalanan yang rusak parah. Gimana saya bisa lanjut tidur kalau mobilnya gerak-gerak kaya kora-kora macem ini, heeyyy?? akhirnya hanya bisa merem-merem nyender dengan badan berkali-kali terguncang, sembari becanda menghibur diri *melas.

Sudah hampir dua jam dan belum terlihat ada jalanan bagus dan meyakinkan. Saya sempat turun untuk numpang ke kamar mandi di salah satu rumah warga ketika Sarip berhenti untuk bertanya. Dan ketika kembali saya disambut oleh es potong dan cilok! hahahaha, ini om-om ngeborong jajan di depan rumah orang! Another random action yang kocak, saya sih bahagia saja menerima sepotong es dari Ocha dilanjut seplastik cilok, laparnya kakaaaa..belum sarapan padahal abis hiking.

Setelah selesai ngemil, perjalanan kembali dilanjutkan. Adegan sasar menyasar masih berlanjut hingga beberapa jam kemudian, Akhirnya menjelang tengah hari, kami menemukan sign system menuju lokasi dan sampai dengan bahagia tiada terkira *mulai alay ya bahasanya.

Pasir putih dan angin laut menyambut kami seketika. Aaahhhh..lautan! Saya selalu tidak bisa tidak cinta dengan pasir putih dan ombak. Dari kejauhan terlihat tenda berwarna merah dan kursi malas yang berjejer rapi. Lumayan ramai sih, maklum hari Minggu. Ocha, Jojo dan geng Om-om segera bergegas melepaskan alas kaki dan menghambur ke pantai, lalu rebahan manis di kursi malas. Saya dan Imon memisahkan diri untuk sesi foto-foto sembari menikmati pemandangan. Ini sih sebanding dengan perjalanan setengah hari tadi. Saya lupa pegal-pegal akibat terguncang di jok belakang sepanjang hari.

Acara standar sih ya di pantai, minum es kelapa muda, foto-foto, bermain air, capek, lalu pulang. Dan coba tebak takdir apa yang harus saya terima setelah ini? Menyetiri om-om tadi sepanjang jalan pulang, sekuatnya deh sampai mana. Hahahaha, saya sih ngakak miris, ujung-ujungnya saya nyopir lagi..Serius nih kalian? tanya saya lagi. Tapi muka Sarip sudah kucel ngantuk setengah mati, yamanalah saya tega. Serem juga kali dibonceng mas-mas yang ngantuk berat. Oke baiklah, lagipula mengemudi lebih menyenangkan daripada dikocok di jok belakang. Hari itu saya mendapatkan gelar sopir Pantura.

Menyusuri jalur Pantura di malam hari melenakan rupanya. Jalanan sepi dan gelap membuat saya tanpa sadar memacu kecepatan tinggi. Beberapa kali sempat diprotes "jangan ganas-ganas, Kooo!", juga sempat membuat dag-dig-dug karena gagal putar balik, nyasar di halaman rumah orang. Sampai malam saya ditemani Imon dan Rosip yang masih siaga di setiap persimpangan. Jam 21.00 dan saya menyerah, upaya duet, trio hingga choir acapella sudah tidak mempan. Saya mulai mengantuk. Permen dan cemilan sudah tidak membantu. Imon menggantikan saya segera setelah berhenti untuk mengisi bahan bakar di Situbondo.

Kami kembali melaju di jalanan antar kota. Jok belakang mulai sepi. Sudah sejak tadi Jojo menyalakan MP3 dari ponsel untuk menghalau rasa kantuk saya dan Imon. Kami mulai mencari-cari lagu apapun dan diulang berapa kalipun hanya agar tidak tercipta keheningan. Beberapa kali Ocha sempat mengecek dari belakang kami ngantuk apa tidak sampai akhirnya dia tertidur juga. Jojo bertahan sambil sesekali kehilangan kesadaran, tidur-bangun-tidur-bangun. Saya mulai kehilangan fokus, saya mulai meracau. Mengobrol setengah bermimpi, berusaha mempertahankan kesadaran. Imon dan saya sudah mulai mengeluh satu sama lain, ngantuk berat! 

Demi mengusir kantuk, saya bernyanyi keras-keras lagu apapun yang terlintas. Hening, lalu saya mendengar Imon memanggil, 'Ko," Iya Mon! siap, saya harus kembali terjaga sambil sesekali mengambilkan Imon camilan. Dan bagian paling epic adalah ketika saya randomly menyanyikan sepotong lirik dari Donna Donna, lagu soundtrack film Gie. Kok ternyata Zainul dan Jojo ikut menyahut, belakangan saya menyadari kalau mereka turut prihatin terhadap kami yang setengah mati menahan kantuk. Rosip masih siaga beberapa kali ketik kami hampir salah jalan.

Lewat tengah malam dan kami baru sampai Bondowoso. Ah entah berapa lama lagi saya harus menahan kantuk. Kami berdua masih saling bahu membahu melakukan apa saja agar tidak tertidur. Ngobrol ngalor ngidul, menyanyi tidak jelas, hingga akhirnya mulai masuk tol dalam kota menuju Bungurasih. Beberapa orang mulai terjaga mencari-cari uang kecil untuk membayar tol, lalu tertidur kembali. Imon semakin kehilangan fokus, berkali-kali bertanya, "Ada motor di depan??" dengan nada panik. Saya yang sedari tadi menjawab, kosong, salip, ambil kiri, jangan turun dari jalan seperti kernet Sumber Sla*met, sempat keki juga. Ini di jalan tol kaka Imon, mana ada motor??

Hampir pukul 01.30 dini hari akhirnya kami masuk pelataran parkir Bungurasih. Saya sudah tidak sabar turun dan segera membereskan barang di bagasi. Rencana pulang isya sudah gagal total, haha. Prediksi kami, subuh nanti baru akan sampai Madiun. Kami semua, kecuali Ocha harus bekerja pula hari ini *lemes. Setelah dadah-dadah dan bertukar ucapan terimakasih kami akhirnya berpisah. *Ohya, sebelumnya Sarip menawarkan untuk ikut trip lagi minggu depan ke Madura. Kali ini saya harus menahan diri, tidak Ko, ingat Maret. Masih perlu nabung lagi buat bekal, hahaha. 

Setelah sholat di pelataran mushola *moshola di Bungurasih tutup pukul 21.00 dan baru buka lagi pukul 03.00, kami bergegas mencari bus. Ocha sempat menengok dan bertanya, "mau makan dulu nggak?", karena sedari tadi saya heboh kelaparan, mencari-cari sisa roti kismis di mobil. Saya menggeleng ngantuk, kode "Nggak, langsung aja cabut deh,". Kami segera menuju Sumber Sla*met dan mencari tempat duduk. Sesaat kemudian saya berpamitan kepada mereka bertiga sembari mengucap salam, "Mon, Jo, Cha, duluan ya, Assalammu'alaikum". Akhirnya, saya bisa tidur dengan tenang.

Badan saya terguncang-guncang dan beberapa kali melorot akibat bus yang melaju kencang. Baru satu jam-an dan Imon berkata sudah sampai Kertosono. Wah, cepat, gumam saya sambil mengantuk. Saya melanjutkan tidur hingga kembali terbangun ketika kernet berteriak, "Madiun, Madiun..siap-siap." Saya berdiri dengan mata setengah terpejam membangunkan Jojo yang masih tertidur di depan. Akhrnya, jam 04.00 pagi, kami tiba di Terminal Purabaya, Madiun. Dadah-dadah pada Ocha yang masih melanjutkan perjalanan ke Maospati dan Jojo yang segera mencari ojek, lalu saya dan Imon menunggu di jemput di pintu depan. Tidak berapa lama kemudian, Ibu Imon datang menjemput. Kami berdua menghempaskan badan ke jok mobil, dan menuju rumah.

Saya sampai di rumah ketika adzan subuh sayup-sayup terdengar dari masjid. Bapak sedang mengeluarkan motor hendak ke masjid ketika saya turun dari mobil. Setelah mengucapkan terimakasih pada Ibu Imon saya bergegas masuk, melempar tas, ganti baju dan sholat subuh. Akhirnya sampai juga di kasur. Senin pagi, dan saya jatuh tertidur seperti orang pingsan sepanjang pagi. Perjalanan penuh ke-random-an ini berakhir bahagia.

Tulisan mengenai perjalanan ini juga ditulis oleh Imon di Banyuwangi: Ijen, Bayuwangi: Ijen Part 2 , dan Banyuwangi: Ijen Part 3 dalam versi lebih detail dan lebih panjang *dan konon masih bersambung.

Mendaki Ijen bersama Om-om
(Masih) Bersama om-om di Red Island
Setiap perjalanan menawarkan cerita yang berbeda. Menghadirkan sensasi yang berbeda. Laut dan gunung memang selalu berjauhan. Tapi bukan berarti tidak bisa dihampiri dalam satu waktu. Setelah Papandayan-Rancabuaya kini Ijen-Red Island. Dari kereta hingga bus kota, mulai topik sejarah nusantara hingga pertanyaan 'Kapan' dan 'Siapa'. Waktu akan terus berjalan, semakin cepat tanpa pernah melambat. Tak menawarkan penghapus tapi menjanjikan banyak lembar baru. Perjalanan memberikan makna terhadap banyak hal yang sering kita lupa. Tuhan menyelipkan banyak hal untuk membuat kita mengingat bahwa selalu ada campur tangan-Nya dalam setiap peristiwa. Juga dalam pertemuan dan perpisahan.

*Foto diambil dari Flickr Yohanda Mandala a.k.a Jojo (jokidz90)

***

Sabtu, 17 Januari 2015

Baca, Baca, Baca!

Tahun lalu, menulis bagi saya adalah hal yang sangat berat untuk dilakukan. Kenapa? karena setahun belakangan saya nomaden, tidak memiliki kamar tetap yang bisa digunakan untuk menyepi. Sedangkan saya sama sekali tidak bisa menulis jika dalam kondisi ramai, rasanya nggak bisa lepas bebas. Padahal sebenarnya juga tidak ada yang mengintip sih..

Jadi setahun belakangan, saya menyebut diri saya sedang 'kehilangan kesaktian'. Tidak bisa menulis di Tumblr, apalagi di blog. Rasanya was-was dan khawatir, nanti kalau dibaca ini tulisan nyampah banget deh ya. Tapi tahun ini saya memutuskan untuk kembali menulis. Ah, biarkan saja orang berkata apa. Saya akan menulis, bahkan hal-hal yang random sekalipun.

Sebenarnya saat-saat ini, tidak ada kejadian berkesan apa gitu sih. Jadi untuk menulis seperti kehabisan bahan. Biasanya membaca merupakan jurus ampuh untuk memancing ide sehingga banyak ide bisa mengalir. Tapi beginilah, buku yang sedang saya baca inspiratif sebenarnya, sangat inspiratif malah. Tapi entah kenapa saya merasa topiknya agak berat, bahkan untuk mengikuti nya saja saya harus pelan-pelan. Efek lama tidak belajar juga berpengaruh mungkin ya. Ingin tahu buku apa yang saya anggap berat ini? Jangan tertawa kalau sebenarnya bukunya nggak 'seberat' itu. Saya sedang berusaha menikmati, 'Habis Galau Terbitlah Move On' karya J. Sumardianta. Bahkan tidak jarang saya harus mencari penjelasan tentang istilah-istilah bahasa indonesia dalam kbbi, atau sekedar wikipedia selama membacanya. 

J. Sumardianta memiliki kosa kata yang kaya, referensi cerita yang beragam, dan sumber yang luar biasa banyak pula. Beliau ini seorang pendidik, wajar memang ya seorang pendidik harus pandai, berwawasan luas, dan tepat sasaran. Tapi beliau agaknya 'di atas rata-rata'. Saya selalu senang dan kagum kepada orang-orang yang berwawasan luas, dan pada penulis yang 'berisi', bukan hanya menjual rangkaian kata indah tapi miskin makna. Terlebih humor seronok dangkal yang banyak beredar di pasaran.

Beberapa kali saya membaca buku, novel sih tepatnya, yang nggak jelas banget apa isinya. Ya memang buku murah, diskonan gitu, tapi saya tidak habis pikir kenapa ada penerbit yang mau menerbitkan. Ceritanya absurd, bahasanya saru, dan setelah selesai membaca pun, sepertinya saya malah kehilangan setengah akal karena jengkel. Kisah cinta memang menjadi topik yang tidak habis untuk ditulis, tapi ya mbok ya jangan gitu-gitu banget sih seperti di dunia ini tidak ada hal yang perlu diurus selain masalah cinta. 

Berbeda dengan 'penulis beneran', yang kalau membaca tulisannya kita mendapatkan sensasi yang lain. Gaya bahasanya akan sangat terasa berbeda. Kandungan informasi yang lebih bergizi juga sering didapat dari para penulis bagus. Karya favorit yang bisa membuat saya ternganga dan nagis bahagia, karena masih ada penulis yang se-oke ini adalah Supernova, Selimut Debu, Bumi Manusia, dan Negeri Para Bedebah. Saya pernah mencoba membaca karya penulis kawakan macam Buya Hamka dan N.H Dini, bahasanya bagus, ceritanya simple dan mengena. Tapi untuk yang N.H Dini ini temponya lambat. Mungkin karena yang saya baca adalah memoir. Ah, apalah saya ini berani mengomentari tulisan N.H Dini? coba, tulisan saya terlihat dibuat oleh 'orang yang membaca' tidak? *toyor kepala sendiri.