Tak cukup hanya dengan mencapai puncak eiffel, tapi hingga ke batas langit. Seperti halnya sabda Rasul, Capai jarak terjauh untuk menggapai mimpi.
Kamis, 30 Januari 2014
Perjalanan: Tidung di Bulan Desember
Jumat, 27 Desember 2013
Hati yang Penuh Cinta
Hari ini tinggal menghitung hari saja kapan saya akan mengangkat kaki meninggalkan kamar tercinta saya. Meninggalkan jalanan yang dulu sering menjadi teman merenung sembari menatap gedung hotel di ujungnya. Meninggalkan rindu-rindu yang entah apakah cukup dimasukkan dalam kotak sepeti baju dan buku yang telah lebih dahulu kembali. Meninggalkan segala hal pertama dan terakhir dalam perantauan.
Allah sudah terlampau baik, dan bagaimanapun saya sangat berharap Dia akan selalu baik. Disini Dia menitipkan banyak cerita untuk didengar, dibaca dan dirasakan. Membuat burung, angin, dedaunan seakan selalu berbisik lembut menemani saat sendiri. Dia membawakan sahabat dari yang lalu hingga yang akan datang. Menguji cinta dan kesabaran yang seringkali tertinggal.
Allah menitipkan banyak cinta di dalam hati. Yang bagaimanapun akan ada yang datang juga pergi. Dalam rintangan Dia menunjukkan cinta-Nya, rindu munajat dengan buliran air mata. Dalam bahagia Dia merengkuh hati yang lemah, tertawa dalam tawa kita. Datang dan pergi, kembali atau selamanya aemua adalah rahasia-Nya. Juga hati yang telah terbawa oleh siapa saja, kemana saja. Saya masih belum tahu juga bagaimana mengotaki semua ini agar tidak ada yang tertinggal. Tapi sayang, jejak kaki telah berkalang tanah. Menjadi satu dengan debu, menempel di segala penjuru. Tempat ini sudah sedemikian lekat, saya telah terlambat.
Dan di penghujung pekan yang tidak lama lagi, syukur begitu membuncah di dalam dada. Apalagi yang akan saya bawa? selain cinta dari mana-mana. Bukankah dalam cinta yang jauh akan selalu terasa dekat? bukankah dalam cinta yang sulit akan menjadi mudah? bukankah dalam cinta tidak lagi ada sendiri? bukankah kelak orang-orang yang saling mencintai, mencintai karena-Nya akan dihimpun bersama di salah satu sisi-Nya? maka tidakkah saya ingin menjadi bagian dari cinta-cinta tersebut, yang kelak abadi disebut di antara para malaikat.
Cinta-Nya telah membawa saya berada di sini, hingga kini sebentar lagi akan pergi. Cinta-Nya membuat saya jatuh hati padamu, pada kalian, pada segala hal yang telah saya bagi cinta. Di sini, tempat saya menghayati, mencoba mengerti dalam sepi dan sendiri yang antara maya dan nyata. Dan disini juga ada akhir dan mula.
Ya Allah, atas nikmat yang begitu tak terhitung, atas bahagia yang membuat hati begitu buncah, atas air mata yang membuat dada lapang kembali, juga atas setiap hati yang Kau pertemukan dalam perjalanan ini, terimakasih. Syukur macam apa lagi yang bisa dipanjatkan oleh seorang hamba yang sering terlupa. Semoga Engkau tidak hilang percaya menitipkan segala, dalam asa, doa-doa dan hati yang penuh oleh cinta-cinta. Dan hingga akhirnya nanti kaki ini melangkah, pasti bukan sesal atau kesedihan yang mengiris dada. Jadikan syukur dan kerinduan atas segala yang luar biasa.
Bandung, 26 Desember 2013
Jumat, 01 November 2013
SPN #4: Melestarikan Umat di Muka Bumi
Salah satu tujuan penting yang tidak dapat ditinggalkan dalam membangun pernikahan adalah memperbanyak keturunan yang nantinya akan terus mengakkan agama di muka bumi. Sejak di bangku sekolah kita semua pasti sudah memahami adanya proses yang dilalui oleh makhluk hidup untuk menghasilkan keturunan. Manusia, yang didaulat menjadi khalifah di muka bumi pun demikian, secara alami memiliki naluri untuk melestarikan keturunan. Bagi sebagian orang, membicarakan seks seringkali masih dianggap tabu. Dalam pertemuan terakhir SPN, pemateri menjabarkan bahwa urusan hubungan suami istri tidak jarang menjadi akar permasalahan dalam rumah tangga. Oleh karena itu, sebenarnya hal ini tidak kalah penting juga untuk dipelajari dan dipahami.
Ah..sebenarnya saya agak bingung juga bagaimana menuliskan materi ini di blog. Terlepas dari berbagai penjelasan yang bersifa teknis, keberhasilan dalam hubungan antara suami istri sebenarnya tidak bisa lepas dari penerimaan dan pengertian antara satu sama lain. Seorang suami harus dapat mengerti kondisi istrinya, begitupun dengan istri. Kondisi di sini berarti luas, mulai dari kondisi fisiknya maupun psikisnya. Dengan begitu, terjadinya kesalah pahaman bisa dihindari dan kedua belah pihak tidak akan merasa dirugikan. Secara anatomi pria dan wanita memiliki anatomi yang berbeda. Fase-fase yang dicapai dalam hubungan seksual antara pria dan wanita pun berlangsung dalam titik dan durasi yang tidak sama. Berbeda dengan pria yang hanya mengalami puncak dalam durasi waktu sekitar lima menit, wanita cenderung lebih lama sebelum mencapai puncak dalam hubungan seksual. Oleh karena itu disunahkan untuk melakukan foreplay atau pemanasan terlebih dahulu, bahkan Rasul pun menganjurkan agar pria terlebih dahulu merayu wanita yang tidak lain adalah bagian dari foreplay tersebut.
Dijabarkan sedikit tentang pria yang dalam perjalanannya sebelum menikah menanggung keadaan harus menahan syahwatnya. Oleh karena itu, setelah menikah hasrat seksualnya begitu besar sehingga pemateri mengibaratkan seperti keran air yang terbuka pintunya. Dalam awal pernikahan tidak mengherankan jika pria memiliki hasrat seksual yang sangat besar bahkan tidak tertahankan. Berkaitan dengan hal tersebut, dianjurkan agar wanita tidak segera hamil sebelum hasrat tersebut reda.
Selanjutnya adalah sedikit mengenai kehamilan dan janin. Diterangkan bahwa sejak dalam kandungan janin telah memiliki ikatan yang kuat dengan ibu. Kondisi lingkungan yang buruk atau suasana hati yang buruk dapat berpengaruh langsung terhadap janin di dalam kandungan. Janin dapat merasakan apa yang ibu rasakan, maka jika kondisi mental sang ibu buruk janin akan stress bahkan mati. Sebaliknya jika kondisi ibu baik dan di dukung dengan lingkungan yang baik pula, janin akan tumbuh dengan baik. Yang paling penting untuk diketahui adalah, kondisi janin saat kehamilan rupanya sangat mempengaruhi pertumbuhan karakter. Jadi jika ibu terbiasa marah-marah ketika sedang mengandung maka karakter tersebut akan terbawa pada janin, sebaliknya jika janin dilatih untuk sabar dan selalu dalam kondisi positif kelak dia pun akan memiliki karakter positif.
Sebagai penutup kita harus kembali pada konsep awal bahwa pernikahan merupakan sarana yang diberikan Allah untuk menghindari zina, bahkan mengubah apa yang dilarang menjadi berpahala.Yang perlu diingat lagi adalah niat di awal, bahwa menikah merupakan salah satu upaya untuk menyempurnakan agama. Dengan begitu, kita akan bisa memahami bahwa setiap orang memang tidak sempuna. Namun karena ketidaksempurnaan itulah pria dan wanita dipersatukan. Perbedaan dan kekurangan satu sama lain tidak seharusnya menjadi sumber keretakan rumah tangga. Jika salah satu dari pasangan memiliki masalah, sudah seharusnya hal tersebut dipecahkan bersama.
Semoga yang sedikit ini bermanfaat, dan mohon maaf jika tulisan ini lebih banyak tidak jelasnya daripada penjelasannya. Referensi lain mengenai materi ini dapat di buka di tumblr Kurniawan Gunadi yang juga telah menuliskan tentang materi SPN. Semoga bermanfaat :D