Kamis, 30 Januari 2014

Perjalanan: Tidung di Bulan Desember

Heeeeuuuu!ini adalah postingan pertama saya di bulan Januari, setelah tahun baru yang besok akan menjadi sooo..yesterday. Tulisan ini ditulis sembari rerebahan di kasur di depan komputer, di ruangan yang lebih mirip kosan daripada back office studio. Here we go, sedikit cerita akhir dan awal tahun saya yang nano-nano kaya rujak buah di alun-alun!

Di penghujung tahun 2013 kemarin saya mendapatkan dua buah perjalanan yang luar biasa. Bukan hanya luar biasa randomnya, tapi juga luar biasa ngaconya. Sebenarnya saya ingin menceritakan dua perjalanan tersebut satu persatu, tapi gimana ya? yasudah satu satu saja lah! *nyengir takut ditimpuk.
Jadi cerita pertama adalah tentang perjalanan ke pulau Tidung, di bulan Desember. Yaak, yang ingin mencaci maki kebodohan penulis dengan melaut di bulan desember boleh teriak sekarang. Semua ini memang karena saya yang keras kepala ingin ke Pulau Tidung dulu sebelum pulang ke Madiun. Lha gimana lagi, kan nanti jauh kalau harus berangkat dari Madiun. Sempat beberapa kali diagendakan sebelum bulan Desember sebenarnya, tapi karena kesibukan kantor tidak memungkinkan saya untuk cuti jadilah belum kesampaian sampai Desember. Maka sekarang lah saatnya, sebelum saya semakin jauh dari wilayah barat, saya harus berangkat!


Awalnya anggota rombongan perjalanan ini tentu saja hanya saya dan Niken. Dengan rencana perjalanan seadanya, ngeteng ga jelas, nginep dimana ga jelas. Tapi ya kita berdua memang sudah sering berada dalam situasi yang tidak jelas, jadi yasudahlah..nothing to worry. Sampai saya menceritakan rencana tersebut di grup kelas bunga matahari, semuanya antusias ingin ikut lalu tercengang atas kebodohan kami berdua terhadap rencana yang tidak jelas di atas. Dari komentar "Ini Desember woy, serius mau ke laut?", " Kalian beneran mau tidur di masjid aja?? berdua cewe-cewe???",
Akhirnya Imon, menengahi dengan menawarkan jasa mencari biro perjalanan agar perjalanan ini one step closer dari rencana ngawang-awang khas pemuda labil.


Info biro perjalanan sudah di tangan. Sekarang perdebatan siapa yang jadi ikut menjadi agenda baru. Yang awalnya antusias ikut satu persatu mengurungkan niat. Dari yang alasan tiket tidak di acc, bentrok jadwal ko ass sampai berbagai alasan indah lainnya. Oke baiklah, saya mendongkol. Saya sudah bertekad, mereka berangkat atau tidak saya akan tetap berangkat. Kengawuran saya kambuh.
Ancaman tersebut berhasil. Akhirnya formasi rombongan terbentuk. Imon dan ibunya menjadi tamu istimewa jauh-jauh dari Surabaya. Yang lain tentunya penghuni wilayah barat: Emon, Ocha, Niken dan saya sendiri. Sampai hari H, saya dan Niken sudah siap sedia menunggu travel yang ternyata telat hampir dua jam karena perbaikan jalan tol. Rencana sampai sebelum gelap otomatis batal. Yang lebih parah lagi, rupanya Ocha juga berangkat dari Bandung selesai dinas luar. Hampir menjelang jum'atan bahkan dia belum memastikan apakah bisa menyusul.

Dalam situasi yang semakin tidak terduga, saya dan Niken bersikeras menggunakan bus transjakarta menuju Sunter, pos pertama tempat menginap malam ini yang tidak lain adalah rumah budhe Imon. Dan rupanya, rute yang harus kami tempuh luar biasa panjang. Akhirnya hampir pukul 22.00 kami sampai di Sunter, disusul Emon 15 menit kemudian yang berjalan kaki, lalu Ocha yang masih menyeret koper dengan setelan rapi. Anggota lengkap. Siap berangkat esok pagi.

Adzan subuh belum lagi terdengar, Imon sudah semangat 45 membangunkan kami. Setelah bersiap, jam 5 pagi kami berangkat menuju Muara Angke. Sesampainya di sana, wangi khas pasar ikan menusuk hidung. Kapal-kapal yang hendak memuat penumpang menuju kepulauan seribu sudah siap berjajar. Langit sempurna abu-abu. Hujan turun gerimis. Kami sibuk foto-foto norak.
Bagi saya dan Niken yang memang menjadikan perjalanan ini misi akhir tahun tentu saja luar biasa. Saya menatap puas ke lautan yang semakin lama berubah menjadi hijau-biru. Cuaca cukup menyenangkan, kami melewatkan setengah jam perjalanan pertama dengan membicarakan banyak hal. Maklum, ini semacam reuni kecil. Hampir satu tahun kami tidak bertemu satu sama lain.

Reuni syahdu kami terhenti mendadak. Tiba-tiba hujan turun gerimis. Laut yang semula tenang mulai bergolak. Saya terpaksa mengungsi ke lambung kapal karena goncangan yang semakin kuat. Saya masih sok cool dan sok asyik. Berdiri menjaga keseimbangan lama-lama membuat saya pusing juga. Cuaca tak kunjung membaik, padahal sudah hampir satu setengah jam perjalan. Nahkoda kapal akhirnya memutuskan untuk berhenti sejenak menunggu cuaca membaik, kapal ditambat di dekat pulau Burung. Saya yang sedari tadi bosan dan mual berada di bawah menyusul Emon dan Ocha yang sekarang basah kuyup karena tadi sok keren tidak bergeming di bagian depan. Kami akhirnya berpindah ke sisi samping hingga kapal kembali diberangkatkan.

Cuaca rupanya memang tidak bisa diajak kompromi. Gelombang kembali meninggi, kapal berkali-kali dihantam ombak dari samping hingga oleng. Saya, Emon dan Niken yang semula di luar sekarang mulai mlipir ke dalam kabin nahkoda. Suasana di kabin nahkoda ternyata lebih horor, terdapat penumpang ibu-ibu yang sudah mulai merapal doa-doa. Nahkoda tampak gugup, berkali kali menyalakan rokok dan membuangnya ketika masih separuh. Saya juga tidak kalah panik dalam hati. Membisu sambil berdoa dalam hati adalah satu-satunya hal yang saya bisa. Nahkoda kembali menghentikan kapal, kali ini rupanya beliau kehilangan arah. Rute yang diambilnya memang berbeda dari biasanya, apalagi kalau bukan demi mengakali gelombang besar. Perjalanan baru separuhnya ketika asisten nahkoda berteriak knalpot kapal meleleh, situasi semakin tidak menentu sepertinya. Nahkoda sudah berkali kali berterial kesal, dia kehilangan arah petunjuk menuju pulau. Dari jauh sebenarnya pulau Tidung sudah tampak, tapi tetap saja, kapal belum bisa melanjutkan perjalanan karena gelombang besar. Kabin semakin riuh oleh surat-surat pendek. Niken tetdiam pucat, saya dan Emon sesekali berpandangan, Ocha masih bertahan di luar. Saya merapal doa apapun yang saya bisa ketika ombak kembali menghantam kapal, Emon tampak membaca kutipan dari Al Kitab. Waktu itu pikiran saya sudah kemana-mana. Antara takut dan pasrah. Kalau kapal ini terbalik, saya akan berakhir di sini. Apalagi yang bisa saya harapkan, pelampung jauh di bawah sana, berenang saya tidak bisa. Ah..saya bahkan tidak pamit bapak dan ibu sebelum pergi, saya tidak akan sempat mengucapkan selamat tinggal.

Nahkoda sekuat tenaga menyesuaikan arah kapal dengan gerakan ombak. Sesekali kami masih di hantam gelombang. Tapi rupanya badai berhasil dilalui, kami sampai setelah 5 jam terombang ambing di tengah laut. Tepat sebelum pukul dua belas siang waktu Tidung. Kami beriringan menuju penginapan dengan perasaan lega luar biasa. Tuhan memberikan kesempatan untuk sampai di pulau kecil yang ternyata ramai ini.

Penginapan kami tepat di pinggir laut. Dari teras terlihat lautan lepas biru toska. Subhanallah sangat indaaaah! saya sempat menuntaskan satu juz sembari menikmati semilir angin laut. Menghadap ke hamparan biru toska. Menjelang sore kami bersiap menuju area snorkling. Saya tidak sabar menunggu- nunggu bagian ini. Saya ingin membuktikan perkataan teman-teman saya: Siapapun bisa snorkling!. Benarkah? saya ingin membuktikannya.

Peralatan lengkap sudah terpasang. Ocha, Emon, Niken, sudah lebih dulu loncat ke laut. Tinggal saya yang dipaksa-paksa Imon untuk segera turun. Waittt!!! saya takut setengah mati, tapi masa sudah jauh-jauh kesini saya melewatkan kesempatan untuk snorkling? bulankah saya sudah pakai pelampung? bukankah semua orang pasti bisa mengambang? baiklah saya loncat!dan apa yang terjadi? saya rupanya tidak bisa snorkling saudara saudaraaa...penonton kecewa, saya juga kecewa dan memilih segera naik ke perahu. Menikmati angin sore sembari menatap iri semua teman saya yang asyik memandangi ikan dan karang. Tapi Niken dengan bijak menghibur: "Seenggaknya kamu udah nyoba kan, Ko. Bahkan aku nggak nyangka kamu mau ikutan nyebur," . Oke, cukup menghibur.
Sisa sore setelah bermain air kami diajak bersepeda menuju pantai dengan agenda melihat matahari terbenam. Kami menyusuri jalanan perkampungan yang hampir semuanya dijadikan homestay menuju lokasi. Perjalanan yang cukup mengasyikkan kecuali kenyataan bahwa matahati terbenam tidak terlihat karena tertutup mendung.

Keesokan paginya hujan sudah mengguyur pulau sejak subuh. Padahal masih ada satu agenda lagi sebelum meninggalkan pulau jam sepuluh pagi: mengunjungi jembatan cinta. Akhirnya di bawah gerimis kami mengayuh sepeda menuju jembatan cinta. Saya penasaran dengan namanya, ada apa sih di sana kok disebut sebagai jembatan cinta?. Kami memarkir sepeda di tepi pantai dan dilanjutkan berjalan kaki menuju jembatan cinta. Jadi ini toh jembatan cinta yang tersohor itu. Jembatan melengkung berwarna merah muda disambung jembatan panjang yang mebentang di antara Pulau Tidung dan Pulau Tidung Kecil. Dibeberapa tepiannya terdapat beberapa shelter dengan atap, hujan yang semakin deras tetap saja membuat kami basah meskipun di bawah shelter yang padahal sudah mirip payung raksasa. Angin kencang menusuk-nusuk badan saya yang waktu itu masih kurus hingga ke tulang.

Akhirnya setelah hampir satu jam terjebak hujan kami memutuskan untuk kembali ke pantai. Hujan tidak kunjung reda hingga kami kembali ke jembatan merah muda. Ocha, emon dan mbak Anin malah menyempatkan diri loncat dari jembatan cinta tanpa pelampung, saya yang sejak tadi sudah kedinginan semakinembeku bergidik ngeri setengah pengen melihat kelakuan mereka. Iri hati lagi.
Hampir pukul sembilan kami kembali ke penginapan dengan baju basah kuyup. Satu jam lagi kami sudah harus meninggalkan penginapan. Kami terburu buru mandi dan berkemas sebelum menuju pelabuhan.

Pukul 10 lewat sedikit kami akhirnya angkat kaki. Kapal sudah berjajar rapi. Pihak biro menjanjikan kapal dengan tempat duduk untuk kali ini, bukan seperti kapal yang kemarin kami tumpangi. Saya yang sebenarnya masih agak ngeri diam-diam menyiapkan mental. Semoga kali ini perjalanan lancar.
Pukul 12 kapal akhirnya berangkat. Saya meringkuk menahan mual di lambung kapal. Orang-orang sudah mengambil posisi bergelimpangan memenuhi lantai. Lho, katanya kapalnya berkursi??, good question. Tadi kami disuruh pindah kapal tanpa alasan yang jelas, sepertinya ada oknum yang tidak bertanggung jawab. Imon sudah berkali-kali komplain tentang hal ini, tapi apa daya. Toh kapal sudah berangkat sekarang. Kami kembali menuju Muara Angke. Di luar dugaan laut hari ini cukup tenang, biarpun gerimis sepanjang siang. Saya bisa tidur nyenyak nyaris bermimpi ketika di kapal. Pukul empat sore kami sudah kembali berada di Sunter.

What a relief. Akhirnya saya kembali ke daratan. Ocha dan Emon berpisah dengan kami dari Sunter. Emon kembali ke kosan, Ocha ke Cilegon. Saya, Niken, Imon, tante dan mbak Anin akan melanjutkan perjalana ke Bandung esok harinya. Akhirnya perjalanan ke Tidung berakhir. Dan saya punya cerita seru tentang banyak hal baru. Tepat di penghujung tahun, di bulan Desember.

Jumat, 27 Desember 2013

Hati yang Penuh Cinta

Hari ini tinggal menghitung hari saja kapan saya akan mengangkat kaki meninggalkan kamar tercinta saya. Meninggalkan jalanan yang dulu sering menjadi teman merenung sembari menatap gedung hotel di ujungnya. Meninggalkan rindu-rindu yang entah apakah cukup dimasukkan dalam kotak sepeti baju dan buku yang telah lebih dahulu kembali. Meninggalkan segala hal pertama dan terakhir dalam perantauan.

Allah sudah terlampau baik, dan bagaimanapun saya sangat berharap Dia akan selalu baik. Disini Dia menitipkan banyak cerita untuk didengar, dibaca dan dirasakan. Membuat burung, angin, dedaunan seakan selalu berbisik lembut menemani saat sendiri. Dia membawakan sahabat dari yang lalu hingga yang akan datang. Menguji cinta dan kesabaran yang seringkali tertinggal.

Allah menitipkan banyak cinta di dalam hati. Yang bagaimanapun akan ada yang datang juga pergi. Dalam rintangan Dia menunjukkan cinta-Nya, rindu munajat dengan buliran air mata. Dalam bahagia Dia merengkuh hati yang lemah, tertawa dalam tawa kita. Datang dan pergi, kembali atau selamanya aemua adalah rahasia-Nya. Juga hati yang telah terbawa oleh siapa saja, kemana saja. Saya masih belum tahu juga bagaimana mengotaki semua ini agar tidak ada yang tertinggal. Tapi sayang, jejak kaki telah berkalang tanah. Menjadi satu dengan debu, menempel di segala penjuru. Tempat ini sudah sedemikian lekat, saya telah terlambat.

Dan di penghujung pekan yang tidak lama lagi, syukur begitu membuncah di dalam dada. Apalagi yang akan saya bawa? selain cinta dari mana-mana. Bukankah dalam cinta yang jauh akan selalu terasa dekat? bukankah dalam cinta yang sulit akan menjadi mudah? bukankah dalam cinta tidak lagi ada sendiri? bukankah kelak orang-orang yang saling mencintai, mencintai karena-Nya akan dihimpun bersama di salah satu sisi-Nya? maka tidakkah saya ingin menjadi bagian dari cinta-cinta tersebut, yang kelak abadi disebut di antara para malaikat.

Cinta-Nya telah membawa saya berada di sini, hingga kini sebentar lagi akan pergi. Cinta-Nya membuat saya jatuh hati padamu, pada kalian, pada segala hal yang telah saya bagi cinta. Di sini, tempat saya menghayati, mencoba mengerti dalam sepi dan sendiri yang antara maya dan nyata. Dan disini juga ada akhir dan mula.

Ya Allah, atas nikmat yang begitu tak terhitung, atas bahagia yang membuat hati begitu buncah, atas air mata yang membuat dada lapang kembali, juga atas setiap hati yang Kau pertemukan dalam perjalanan ini, terimakasih. Syukur macam apa lagi yang bisa dipanjatkan oleh seorang hamba yang sering terlupa. Semoga Engkau tidak hilang percaya menitipkan segala, dalam asa, doa-doa dan hati yang penuh oleh cinta-cinta. Dan hingga akhirnya nanti kaki ini melangkah, pasti bukan sesal atau kesedihan yang mengiris dada. Jadikan syukur dan kerinduan atas segala yang luar biasa.

Bandung, 26 Desember 2013

Jumat, 01 November 2013

SPN #4: Melestarikan Umat di Muka Bumi

Bismillahirrahmaanirrahiim..
Akhirnya saya diberi kesempatan untuk menyicil janji untuk menuliskan ilmu yang diperoleh dalam Sekolah Pra-Nikah. Materi hari ini ssebenarnya merupakan materi pertemuan ke-4 meskipun kelas SPN baru terlaksana sebanyak 3 kali selama bulan Oktober. Agar tidak terlalu banyak yang terlupa maka saya akan menuliskan yang paling baru terlebih dahulu baru menyusulkan materi dari dua pertemuan sebelumnya. Semoga bermanfaat :)



“(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” [QS. Asy Syuro (42):11]

Salah satu tujuan penting yang tidak dapat ditinggalkan dalam membangun pernikahan adalah memperbanyak keturunan yang nantinya akan terus mengakkan agama di muka bumi. Sejak di bangku sekolah kita semua pasti sudah memahami adanya proses yang dilalui oleh makhluk hidup untuk menghasilkan keturunan. Manusia, yang didaulat menjadi khalifah di muka bumi pun demikian, secara alami memiliki naluri untuk melestarikan keturunan. Bagi sebagian orang, membicarakan seks seringkali masih dianggap tabu. Dalam pertemuan terakhir SPN, pemateri menjabarkan bahwa urusan hubungan suami istri tidak jarang menjadi akar permasalahan dalam rumah tangga. Oleh karena itu, sebenarnya hal ini tidak kalah penting juga untuk dipelajari dan dipahami.

Ah..sebenarnya saya agak bingung juga bagaimana menuliskan materi ini di blog. Terlepas dari berbagai penjelasan yang bersifa teknis, keberhasilan dalam hubungan antara suami istri sebenarnya tidak bisa lepas dari penerimaan dan pengertian antara satu sama lain. Seorang suami harus dapat mengerti kondisi istrinya, begitupun dengan istri. Kondisi di sini berarti luas, mulai dari kondisi fisiknya maupun psikisnya. Dengan begitu, terjadinya kesalah pahaman bisa dihindari dan kedua belah pihak tidak akan merasa dirugikan. Secara anatomi pria dan wanita memiliki anatomi yang berbeda. Fase-fase yang dicapai dalam hubungan seksual antara pria dan wanita pun berlangsung dalam titik dan durasi yang tidak sama. Berbeda dengan pria yang hanya mengalami puncak dalam durasi waktu sekitar lima menit, wanita cenderung lebih lama sebelum mencapai puncak dalam hubungan seksual. Oleh karena itu disunahkan untuk melakukan foreplay atau pemanasan terlebih dahulu, bahkan Rasul pun menganjurkan agar pria terlebih dahulu merayu wanita yang tidak lain adalah bagian dari foreplay tersebut.

Dijabarkan sedikit tentang pria yang dalam perjalanannya sebelum menikah menanggung keadaan harus menahan syahwatnya. Oleh karena itu, setelah menikah hasrat seksualnya begitu besar sehingga pemateri mengibaratkan seperti keran air yang terbuka pintunya. Dalam awal pernikahan tidak mengherankan jika pria memiliki hasrat seksual yang sangat besar bahkan tidak tertahankan. Berkaitan dengan hal tersebut, dianjurkan agar wanita tidak segera hamil sebelum hasrat tersebut reda.

Selanjutnya adalah sedikit mengenai kehamilan dan janin. Diterangkan bahwa sejak dalam kandungan janin telah memiliki ikatan yang kuat dengan ibu. Kondisi lingkungan yang buruk atau suasana hati yang buruk dapat berpengaruh langsung terhadap janin di dalam kandungan. Janin dapat merasakan apa yang ibu rasakan, maka jika kondisi mental sang ibu buruk janin akan stress bahkan mati. Sebaliknya jika kondisi ibu baik dan di dukung dengan lingkungan yang baik pula, janin akan tumbuh dengan baik. Yang paling penting untuk diketahui adalah, kondisi janin saat kehamilan rupanya sangat mempengaruhi pertumbuhan karakter. Jadi jika ibu terbiasa marah-marah ketika sedang mengandung maka karakter tersebut akan terbawa pada janin, sebaliknya jika janin dilatih untuk sabar dan selalu dalam kondisi positif kelak dia pun akan memiliki karakter positif.

Sebagai penutup kita harus kembali pada konsep awal bahwa pernikahan merupakan sarana yang diberikan Allah untuk menghindari zina, bahkan mengubah apa yang dilarang menjadi berpahala.Yang perlu diingat lagi adalah niat di awal, bahwa menikah merupakan salah satu upaya untuk menyempurnakan agama. Dengan begitu, kita akan bisa memahami bahwa setiap orang memang tidak sempuna. Namun karena ketidaksempurnaan itulah pria dan wanita dipersatukan. Perbedaan dan kekurangan satu sama lain tidak seharusnya menjadi sumber keretakan rumah tangga. Jika salah satu dari pasangan memiliki masalah, sudah seharusnya hal tersebut dipecahkan bersama.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat, dan mohon maaf jika tulisan ini lebih banyak tidak jelasnya daripada penjelasannya. Referensi lain mengenai materi ini dapat di buka di tumblr Kurniawan Gunadi yang juga telah menuliskan tentang materi SPN. Semoga bermanfaat :D

Jumat, 25 Oktober 2013

Suatu Hari Nanti

Bicara tentang cita-cita, jika dingat-ingat lagi rasanya cukup menggelikan. Dulu sekali, ketika masih kecil, jika ditanya tentang cita-cita saya akan menjawab: "Pengen jadi pedagang semangka", kenapa? karena saya sangat menggandrungi semangka saat itu. Setelah duduk di bangku sekolah, mulailah konsep cita-cita sedikit demi sedikit saya kenal. Masih ingat kan, waktu zaman SD dulu sedang sangat nge-trend buku diary lucu-lucu? Pilot, astronot, dokter, menjadi profesi yang paling sering di tulis di bagian biodata ketika mengisi diary baru seorang teman. Hingga ketika SMP dan SMA cita-cita secara spesifik tidak lagi bisa saya katakan. Apa yang saya inginkan di masa depan nanti? ingin jadi apa? sesaat menjadi pertanyaan yang kalau bisa sih dihindari jauh-jauh. Astronot, pilot, dokter menguap. Pikiran tentang jurusan apa yang harus diambil di PTN mendominasi kepala. Tidak ada lagi 'mau jadi apa' yang ada adalah 'masuk jurusan apa', 'universitas mana'. Saya tetap tidak bisa memutuskan sampai di akhir bangku SMA Hingga di awal semester terakhir saya memutuskan, saya akan masuk ke Fakultas Seni Rupa dan Desain, di Institut yang katanya Terbaik Bangsa.

Menjadi desainer selalu saya pikir adalah pilihan yang menyenangkan. Dengan tekad bulat dan kekerasan kepala yang luar biasa, saya memilih untuk berada di sini. Meskipun dari awal tujuan di kepala saya adalah ingin memiliki offset, percetakan. Yang bisa mencetak buku-buku dengan cover lucu, yang selalu ketika disebut oleh bapak saya terdengar tidak bergengsi, "pengen punya offset cetak undangan". Saya selalu dongkol dalam hati dan memilih menghindar jika obrolan tentang offset itu diangkat ke permukaan. Dan nyatanya, kini saya tertarik juga untuk nyemplung di usaha percetakan undangan, meskipun bukan dalam skala industri.

Dan suatu hari nanti itu telah menjadi hari ini. Saya yang sekarang adalah seorang desainer produk di perusahaan di bidang art-craft. Meskipun begitu, saya selalu saja segan menyebut diri seorang desainer. Dan hari ini, saya selalu saja kesulitan menjelaskan pada orang-orang yang bertanya apa pekerjaan saya, apa yang saya kerjakan. Masih sedikit orang yang bisa mengerti bahwa profesi tidak hanya menjadi dokter, insinyur, guru, maupun pilot. Apalagi desainer yang tidak hanya mendesain iklan, poster, iklan, film, kereta api, interior, mobil dan pesawat. Ada desainer yang mendesain art-craft, craft, kerajinan. Barang-barang kecil yang masih saja dianggap sebelah mata, tidak disadari keberadaannya. Saya desainer art-craft, yang selalu dibilang orang pekerjaan mudah dan ditanyai, "mengapa tidak mendesain yang lebih hebat seperti mobil atau kereta?". Jawabannya mudah, "Saya tidak suka,", dan apakah berarti pekerjaan saya ini tidak penting di muka bumi? bukankah Allah menyukai keindahan? dan desianer menciptakan keindahan dan kemudahan. Biarpun hanya lewat sebiji plakat, sebuah kotak, ini adalah salah satu jenis profesi.

Terlepas dari tentang hanya desainer, ada lagi yang tentang hanya perajin. Jika suatu hari nanti saya berpindah hati menjadi seorang perajin, apakah pula hal ini menjadi sesuatu yang sangat disayangkan? Mungkin bagi beberapa orang. Bagi saya menjadi perajin adalah menjadi seorang yang rajin *yah.., hehe. Akan sangat seru sepertinya menjadi seorang perajin. Dan demi untuk mengawinkan hobi kumpul-kumpul saya yang selama ini jarang terealisasi, sepertinya akan menjadi hal yang luar biasa menyenangkan. Satu lagi cita-cita saya setelah kini berusia kepala dua, sederhana saja, crafty days di kota kelahiran. Craft comunity, crafty days, entrepreneur community, bersama para teman-teman di sana nantinya, saya akan mengejar cita-cita menjadi designpreneur, istilah yang jika tidak ada ini harus diada-adakan, hehe. Dikepala saja bertumpukan ide-ide seru tentang hal ini, meskipun pasti dalam pelaksanaannya tidak aka sedikit halang-rintang. Tapi apa asyiknya jalanan tol lurus mulus tanpa belokan? insyaAllah apapun akan bisa jika berusaha.

Suatu hari nanti, di hari minggu yang cerah. Crafty days itu akan ada, bersama saya, bersama kita. Kita membuat, kita mendesain, kita berkumpul, kita berbagi, kita bercerita. Yah, dari pada nonton FTV kan ibu-ibuuu..yuk ah mari kita buat saja ini crafty days. Boleh jika dberi kesempatan saya menjadi ketua panitia, catet, amini ya malaikat :).