Minggu, 05 Februari 2012

Sebagian LD'08

Sebagian LD'08 pas hari pelantikan LD'10
Dari kiri ke kanan:
 (atas) Teknik Sipil, Teknik Lingkungan, Teknik Elektro, Geodesi, Teknik Industri, Desain Produk, Arsitektur, Desain Produk, Teknik Geofisika.
(bawah) Teknik Perminyakan, Teknik Mesin.

Bhinneka Tunggal Ika,
Inilah Indonesia

Jumat, 03 Februari 2012

Ah..sepertinya saya haus untuk berjalan-jalan. Meyusuri bentangan tanah nusantara dari ujung barat ke ujung timur, merentang jarak dari utara ke selatan. Saya iri sekali dengan para pelaku perjalanan yang menceritakan betapa luar biasanya nusantara ini, betapa bersahajanya kearifan lokalnya, betapa banyaknya ilmu yang bisa diperoleh. Dan sebaris doa selalu terselip pada Tuhan Sang Pemilik Segalanya, tentang waktu yang dititipkan-Nya. Semoga sempat menelaah makna Bhinneka Tunggal Ika yang menautkan hati-hati yang berbeda. Menikmati cercah mentari di bumi timur, menyesap hangat di tanah barat. Belum sempat diwujudkan keinginan ini ya Allah, harus puas dengan cerita-cerita dari seberang. Tapi tidak apa-apa..setidaknya aku mulai mengenal rumahku ini perlahan-lahan, namun mimpi ini masih akan terus dibumbungkan.

Janji Untuk Ladya

Firasat yang dinyanyikan Dewi Lestari masih berdengung menyeruak di antara udara dingin kamarku. Aku masih melamun menatap layar..tercenung membaca email terakhir darinya. Sudah hampir tiga bulan yang lalu, email terakhir yang kuterima adalah satu-satunya hal yang tersisa darinya.
"Ladyaaaa...", 
aku masih mengingat bagaimana Ia memanggil namaku setiap pagi. Menyunggingkan senyum renyah di sela lambaian tangannya.

Tetes hangat di pipi menyadarkanku tiba-tiba. Aku menangis lagi.
Sudah tiga bulan juga, aku selalu menangis ketika mengingat kepingan fragmen tentang dirinya. 

"Kita akan mengunjungi Paris suatu hari nanti, mewujudkan impianmu Ladya," 

sebaris kata yang selalu diucapkannya ketika aku memandang lekat foto Eiffel yang terpampang besar di dinding kamarnya. Ia juga ingin pergi ke paris, seperti diriku. aku semakin tergugu dalam diam.

Gemerisik angin mempermainkan kelambu di tepian jendela. Malam semakin dingin meremas kulit. Aku tak kuasa lagi menatap layar di depanku. Membaca lagi deret kalimat darinya. Ia menyertakan beberapa file foto yang entah didapatnya dari mana, Eiffel dan Paris..tempat yang selalu kami angankan di setiap menjelang libur.

"Aku tidak bisa menepati janjiku padamu Ladya, hanya ini..anggap saja sedikit usahaku untuk memenuhinya."

Saat itu aku marah dan tidak mengerti kelakuannya.

"Berjanjilah padaku, kau akan mengunjungi Paris kita Ladya, meskipun tanpa diriku,"

Aku semakin marah kepadanya. Ia tak pernah memberi kabar lagi setelah itu. Lenyap bersama jejaknya yang tertimpa hujan. Ia mengingkari janjinya kepadaku.

"Ucapkan selamat jalan padaku Ladya, mereka bilang tidak lama lagi,"
baris itu membuat duniaku tiba-tiba menjadi gelap. 

Ia tersenyum, hanya berdiri mengambil jarak dariku. Aku mencoba menggapai tangannya namun tidak sampai. Aku berteriak-teriak memanggil namanya, memintanya mendekat dan mengikutiku. Tapi ia tak bergeming, mematung dengan menyungging seulas senyum. 
"Aku akan pergi Ladya, bukan ke Paris..tapi lebih jauh lagi. Mungkin lama lagi baru kita akan bertemu. Kau akan membiarkanku pergi bukan? iya kan Ladya? 

Lalu aku hanya bisa memandangnya perlahan menghilang dari pandangan.......dan tak berbekas ketika aku berucap lirih 
"Sampai jumpa Cempaka..aku merelakan dirimu pergi,"

Sedikit Cerita tentang CinTA


Hari ini adalah pertemuan pertama kelas penuh cinTA setelah tertunda sejak Rabu dan sejak pagi tadi. Dosen pertama yang masuk hari ini adalah pak Susanto, yang biasanya memunggawai permasalahan manajemen. Beliau banyak menjelaskan tentang desain yang berorientasi pasar, memang basic beliau adalah pemasaran. Meskipun pada awalnya saya bosan setengah hidup mendengarkan teori pemasaran, namun akhirnya pada hal ini lah saya jatuh cinta.

Desain adalah hidup saya selama hampir 3,5 tahun terakhir. Kadang salah disebut seniman, dicibir karena selalu santai dan selalu tidak dipercaya jika juga punya waktu sibuk. Intinya, masih sering dipandang sebelah mata lah
Tapi yasudahlah, toh saya sangat bersyukur dengan semua ini. Namun entah kenapa, untuk menjadi seorang desainer beneran rasanya masih sangat jauh. Dan passion saya pun sejak awal..perlu ditanyakan kembali. Orientasi saya bukan jadi top desainer seperti alvin atau theo, tapi pada sociopreneur seperti singgih. Saya tidak pernah menolak menjadi desainer, saya juga sangat kepengin menjadi desainer top, tapi tidak semata-mata sendiri. Saya ingin mengajak serta para tetangga, saudara-saudara..pemberdayaan masyarakat menjadi cita-cita saya. 

Kembali pada Pak Susanto, tanpa beliau yang memaksa kami untuk mencoba berwirausaha mungkin saya hingga kini belum lagi jatuh cinta. Dunia wirausaha memang penuh dengan hal-hal yang serba tidak pasti. Tapi itu berarti membuat kita terus berpacu. Satu titik lagi menuju passion yang saya cari. Deklarasi ini mungkin kelak bisa mengingatkan ketika tengah terpuruk. Betapa cinta bisa menjadi sumber keyakinan. Cinta pada Rabb akan membawa kita pada keyakinan teguh. Cinta adalah langkah awal, untuk memulai perjalanan. Ya Rabb, aku mencintai jalan ini untuk mendekat lagi ke jalan-Mu. Jalan bakti untuk menegakkan tugas menjadi khlaifah di muka bumi.